Part 10: "That Rejected"

1935 Words
"SUDAH KU BILANG UNTUK MENJAUHI SARAH! KAU PEMBAWA SIAL!" Alexa memejamkan matanya ketika bentakan Brian kembali terdengar. Dia mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, berusaha menahan rasa malu dan tangisan nya. "Tapi aku hanya menemuinya sebentar." sahut Alexa pelan "DIA DATANG PADAKU UNTUK MEMBICARAKAN MU! BISAKAH KAU MENJAUH DAN BERSIKAP TIDAK MENGENALI KU?!" teriak Brian penuh amarah Karina yang hendak maju dan memarahi Brian di tahan oleh Leon. Pria itu menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan agar Karina tidak ikut campur terlebih dahulu sebelum mengetahui secara pasti apa penyebab kemarahan Brian. "Jangan karena aku pernah memastikan kau pulang dengan selamat, kau berubah menjadi perempuan yang tidak tahu malu!" desis Brian "Aku tidak. Aku langsung pergi setelah selesai berbicara singkat dengan nya." tekan Alexa "Ada orang yang melihat jika kau mengancam Sarah karena Sarah memberitahuku jika kau yang mengirim surat padaku." decih Brian Alexa menghela nafasnya dengan kesal. Berusaha menyabarkan diri dengan tingkah tidak jelas Brian. "Siapa? Beritahu aku yang mana orang nya. Seingatku, tidak ada siapapun di kelas tadi. Hanya ada Sarah dan aku." sahut Alexa "Kau yakin jika Sarah tidak mengada ngada?" sarkas Alexa kesal "Awalnya aku mengira jika Sarah tidak mungkin berbuat sesuatu yang tidak mungkin. Tapi sekarang aku tahu jika dia sangat suka mengada ngada aku-" PLAKK Satu kantin tiba tiba hening ketika mendengar suara tamparan yang dilayangkan Brian pada Alexa. Alexa terdiam setelahnya. Dia menyentuh pipi nya yang terasa panas dan perih. Mata nya berkaca kaca ketika menyadari jika hati nya jauh lebih terluka karena Brian. Sementara Brian terdiam sambil menatap tangan nya sendiri yang untuk pertama kali nya telah memukul seorang perempuan. Sementara Leon langsung berlari dan memukul wajah Brian dengan keras. Membalas perlakuan Brian pada Alexa yang sangat tidak pantas untuk seorang laki laki. "Bodoh!" umpat Leon "Sejak awal kaulah yang paling bodoh. Satu sekolah sudah mengetahui dengan jelas bagaimana kembaran Karina yang tewas dibunuh oleh Sarah. Tapi mereka semua tutup mulut karena takut padamu." desis Leon "Tapi tidak sekarang! Aku sudah muak dengan tingkah bodohmu dan Sarah." sambung Leon Dia melirik Karina yang sudah berdiri di samping Alexa. Perempuan itu merangkul Alexa yang terdiam sambil memegang pipi nya yang memerah, sangat kontras dengan kulit putih pucat Alexa. Leon kembali menoleh, menatap Brian dengan datar sebelum akhirnya mendengus meremehkan. "Kau memang cocok dengan Sarah. Kalian berdua sama sama penjahat yang bisa membunuh banyak orang. Sarah dengan tingkah sok baik nya dan kau dengan mulut dan tangan mu yang ringan." cemooh Leon Dia berbalik dan turut merangkul Alexa. Membawa perempuan itu ke tempat yang sepi untuk menenangkan diri. Kedua nya terdiam ketika melihat wajah mendung Alexa. Mata gadis itu terlihat sangat kosong, Alexa terlihat sangat terkejut dengan apa yang Brian lakukan. "Alexa..." lirih Karina, berusaha membawa gadis itu kembali ke alam sadarnya "Bicaralah, kau terlihat menyeramkan ketika diam seperti itu." gumam Karina Leon menghela nafasnya dan beranjak dari duduknya, "Aku akan mengambil minuman dan kembali." Dia berlari kecil meninggalkan keduanya di taman yang sepi. Sementara Karina menipiskan bibirnya dan menangkup wajah Alexa. Dia menatap pipi Alexa yang sangat merah dengan raut sendu. "Inilah kenapa aku memintamu untuk jauh jauh dari Sarah dan Brian." ujar Karina lembut "Mereka berdua terlalu aneh. Sarah tidak akan memperlihatkan bisa nya secara terang terangan, Alexa. Dia mungkin akan bersikap manis di depanmu, tapi tidak dibelakangmu." jelas Karina Karina menghela nafasnya dan memeluk Alexa dengan hangat, "Kau sudah seperti adikku, Alexa. Sejak awal kedatanganmu, aku sudah merasa jika kau adalah kembaranku yang sudah pergi." Alexa balik memeluk Karina. Dia menumpahkan tangisan nya disana. Rasa sakit di pipi nya tidak ada apa apa nya dibandingkan rasa sakit yang bersarang di hati nya. Alexa lagi lagi sudah kalah. Dia kalah bahkan sebelum memberitahu pada Brian jika pria itu adalah mate nya. Seseorang yang ditakdirkan untuknya. "Aku merasa melihat jiwa Irina ada padamu. Kalian sama sama nakal, tidak mau mendengarku yang khawatir karena terlalu dekat pada Brian dan Sarah." omel Karina dengan sedikit terisak "Setelah ini, tolong berjanjilah untuk tidak mendekati keduanya." pinta Karina Alexa mengangguk pelan, dia tidak ingin dekat dekat dengan Brian. Walau pria itu adalah seseorang yang diharapkan oleh Alexa untuk menerima dan selalu melindungi nya, nyatanya pria itu berkali kali menyakiti nya secara langsung dan tidak langsung. "Berjanjilah untuk tidak meninggalkan ku seperti Irina." pinta Karina dengan tegas "Jika kau pergi, setidaknya kau harus memberitahuku agar aku bisa menyusulmu." sambung Karina Alexa tersenyum dan mengangguk. Dia melepaskan pelukan nya pada Karina dan mengusap pipi nya yang basah. Alexa meringis kecil ketika merasakan sakit di pipinya ketika tersenyum. Dia terkejut ketika mendengar Alexa yang memekik kecil saat melihat wajah Alexa. "Astaga, sekeras apa Brian menamparmu hingga sudut bibir mu berdarah!" pekik Karina Alexa terdiam dan menyentuh sudut bibirnya sendiri. Perih sekali. Dia menatap jari telunjuk nya, ada bercak merah darah. Dalam diam Alexa bersyukur karena darah itu berwarna merah. Dia tidak lupa meminum ramuan dari Ibu nya. "Tunggu, diam. Biar aku telfon Leon agar dia membawakanku tissue." ujar Karina panik. Dia langsung mengeluarkan ponsel dari saku rok nya dan menelfon Leon. "Ya? Ada apa? Aku hampir sampai." ujar Leon "Putar balik! Belikan aku obat merah, kapas dan tissue." perintah Karina mutlak "Loh? Ada pertumpahan darah apa lagi? Aku hanya pergi sebentar, loh. Masa sudah ada yang berdarah lagi?" tanya Leon. Terdengar samar sama pria itu berlari dengan tergesa. "Untuk Alexa. Pria itu menamparnya dengan keras. Sudut bibirnya berdarah." jawab Karina setengah kesal mendengar celoteh Leon "Ohh, aku kira kau memukuli Brian hingga dia berdarah darah hampir sekarat." seru Leon "Kalau dia, aku tidak peduli. Akan aku pukuli dia hingga harus masuk rumah sakit. Sekalian dengan Sarah." sahut Karina emosi "Cepatlah." ujar nya sambil menutup telfon nya Karina mendengus dan menyimpan ponselnya di atas meja. Dia menatap Alexa dengan raut memperingati, "Ingat ucapanku tadi. Aku menyesal memperbolehkan mu pergi dari kantin karena menemui Sarah." Alexa hanya tersenyum tipis mendengarnya. "Aku kira Sarah tidak seburuk yang orang lain dan kau bicarakan." cetus Alexa "Dia adalah yang terburuk diantara yang paling buruk." hina Karina "Aku hanya meminta agar dia meralat perkataan nya pada Brian. Aku hanya ingin hidup tenang selama di sekolah. Dan tatapan Brian padaku sejak insiden surat yang ada di lokernya itu membuatku tidak nyaman. Dia menatapku hina seakan akan aku adalah hama." ungkap Alexa jujur "Jadi kemarin dia marah karena sebuah surat?!" kesal Karina "Kemarin kau terlambat kan? Bagaimana bisa kau sempat memasukan surat pada loker Brian sementara kau datang terlambat?" tanya Karina "Aku mendengar kemarin Tuan Dimitri meminta maaf pada penjaga gerbang karena datang terlambat." lanjut Karina Alexa akan membuka mulut ketika Leon datang dengan nafas terengah dan sebuah kantong plastik berwarna putih. "Ini. Kapas dan obat merah." ujarnya sambil menyerahkan plastik itu pada Karina Dia bergumam lelah sebelum akhirnya tiduran di atas rumput tepat di kaki Alexa. "Dan dari siapa dia mengetahui asal surat itu?" tanya Karina "Dari Sarah. Katanya dia melihatmu mengendap endap ke loker Brian dan menyelipkan surat nya." jawab Alexa Karina mengerutkan dahinya. "Aku datang jauh lebih awal. Aku juga melihat Sarah memasuki gerbang dan langsung pergi ke kelas. Kau tahu jika kelas kita menghadap lurus ke gerbang kan? Aku melihatnya berjalan lurus ke kelas. Tak lama kemudian, dia masuk dan duduk di bangku nya." ujar Karina "Aku juga melihat dia tidak beranjak sama sekali dari duduk nya hingga Brian datang dengan wajah marah nya." lanjut Karina "Aku ingat itu." seru Leon Dia beranjak dari posisi tiduran nya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi yang di duduki Karina. "Sarag menenangkan Brian dan bertanya ada apa. Brian mengacungkan surat itu pada Sarah dan Sarah mengangguk setelahnya. Dia menyebut nama Alexa, lalu setelahnya Brian mulai marah marah mencari mu, Alexa." lanjut Leon Karina berdecih. "Sudah kuduga jika Sarah adalah perempuan aneh. Bagaimana bisa dia mengatakan jika dia melihat mu di lorong loker sementara dia sendiri diam di kelas. Lorong juga terdapat di bagian belakang dekat lapang basket indoor dan kolam renang indoor. Dia halusinasi atau apa?!" gerutu Karina "Tapi percuma juga kita memberitahu Brian. Kau tahu sendiri dia mempercayai Sarah lebih dari apapun." timpal Leon Sementara Alexa hanya diam mendengarkan. Dalam hati, dia berjanji jika dia tidak akan mau berurusan dengan Sarah atau Brian lagi. Cukup hanya dengan Paman Ryan yang memang memegang peran penting di dunia manusia. Tidak perlu dengan anaknya. 'Tapi dia mate mu, bodoh!' umpat Alexa dalam pikiran nya Alexa terdiam dan menghela nafasnya. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah berderap mendekati ketiga nya. Karina berdiri memunggungi Alexa, berjaga jaga jika yang menghampiri mereka adalah Brian. Sementara Leon berdiri di hadapan Karina, hendak melindungi dua perempuan yang ada bersama nya jika yang datang adalah Brian. Tapi sesaat kemudian Leon kembali mendudukkan dirinya di tanah ketika melihat yang datang adalah Dimitri dengan wajah panik nya. "Nona?" panggil Dimitri pada Alexa Alexa berbalik dan tersenyum pada Dimitri. "Astaga, Nona." erang Dimitri sambil bergegas mendekati Nona nya "Kenapa anda tidak memberitahu apapun pada saya?" tanya Dimitri kesal "Uh, maaf. Tapi aku dan Leon yang membawa Alexa kesini. Aku kira dia akan membutuhkan tempat yang tenang untuk menenangkan diri." jelas Karina Dimitri menatap Karina dan tersenyum, "Terima kasih, Nona. Saya lihat anda juga sangat sering membantu Nona Alexa jika dia berada dalam kesulitan." ujar Dimitri Karina jadi salah tingkah mendengarnya. "Aku teman nya. Jadi sudah jelas aku harus selalu menolong nya." sahut Karina Dimitri hanya tersenyum mendengar sahutan itu. Dia kemari karena mendengar seorang siswa yang melewati mobilnya membicarakan Brian yang menampar perempuan. Entah kenapa firasat Dimitri buruk. Jadi dia langsung keluar dari mobil dan bertanya pada kedua siswa itu, siapa perempuan yang ditampar Brian. Jawaban keduanya sangat mengejutkan. Maka dari itu Dimitri langsung bergegas mencari Nona nya itu. Walau Nona nya tersenyum seperti itu, Dimitri tahu jika Nona nya tidak baik baik saja. "Nona? Bagaimana perasaanmu?" tanya Dimitri lewat telepati "Hampa. Kosong. Aku harus bagaimana, Dimitri?" sahut Alexa "Nona ingin pulang dan menenangkan diri? Saya akan meminta izin pada Ryan." tawar Dimitri "Tidak. Aku tidak bisa terus terusan melarikan diri seperti itu. Kemarin aku sudah melarikan diri, jadi kali ini aku akan tinggal dan menghabiskan pelajaran seperti jadwal biasa." tolak Alexa "Tapi bagaimana dengan anak dari Ryan itu?" tanya Dimitri Alexa terdiam, "Biarkan saja. Aku hanya perlu untuk tidak melihatnya kan?" Dimitri tersenyum tipis mendengarnya. 'Nona sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang pemimpin.' pikir Dimitri ☸⚛☸⚛☸ Setelah bell berbunyi, Alexa, Karina dan Leon segera berjalan memasuki kelas. Leon dan Karina berkali kali memapah Alexa yang terlihat sering limbung. "Tamparan Brian sepertinya sangat keras." gumam Karina yang mendapat sahutan tawa lemah dari Alexa "Kepalaku pusing karena itu." sahut Alexa "Kalau begitu jangan ke kelas. Istirahatlah di UKS." timpal Leon "Dan membiarkan Alexa satu ruangan dengan Sarah? Big no. Aku akan meminta Ayahku membangun UKS khusus Alexa." kesal Karina "Kau akan membangun UKS untuk ku dalam satu hari?" tanya Alexa geli "Aku pusing hanya hari ini. Mungkin besok sudah lebih baik." lanjut Alexa Karina berdecih kesal mendengarnya. Sementara Alexa diam diam tersenyum pahit. Kepala nya pusing, tubuhnya sakit dan ada sebuah ruang kosong berkepanjangan di dalam dirinya. Sepertinya sebuah penolakan bagi kaum Vampire tidak hanya lewat perkataan seperti klan Werewolf, tapi lewat perlakuan juga. "Alexa? You okay?" tanya seorang guru ketika melihat Karina dan Leon memapah Alexa "I'm okay." jawab Alexa sambil tersenyum tipis Guru itu menatap Alexa dengan pandangan menyelidik sebelum akhirnya menghampiri Alexa. "Oh my god." lirihnya "Bibir mu berdarah, pipi mu juga merah dan bengkak." pekiknya terkejut "Seseorang menamparmu?!" tanya nya "Katakan padaku siapa. Tidak boleh ada kekerasan di sekolah ini!" tegas guru perempuan itu Alexa melirik sekilas Brian, pria itu menatapnya dengan raut datar. Ada sebersit rasa bersalah yang dapat Alexa lihat disana. "Aku tak apa. Ini hanya karena aku terjatuh." jawab Alexa sambil tersenyum tipis :: Author Note:: Ayo masuk ke awal konflik :D
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD