Alexa keluar dari mobilnya dengan wajah datar. Dia berjalan cepat masuk ke dalam kelas tanpa memperdulikan beberapa orang yang melihatnya dengan raut penasaran.
Dia hanya tersenyum tipis ketika mendengar beberapa teman satu kelas menyapanya.
"Alexa? Kemarin kau pulang lebih awal? Kenapa? Apa sesuatu terjadi?"
Alexa menghentikan langkah nya ketika mendengar suara Sarah yang berada di samping nya. Dia mengalihkan pandangan nya ke arah Sarah dan tersenyum tipis.
"Aku ada urusan." jawab Alexa singkat
"Urusan apa itu?" tanya Sarah lagi
"Urusan keluarga. Aku harap kau tidak bertanya lagi karena hal ini tidak bisa aku beberkan pada orang asing." sahut Alexa sambil melanjutkan langkah nya menuju ke tempatnya duduk
Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi dan memejamkan matanya.
'Seharusnya aku tidak marah pada Sarah.' pikir Alexa
'Tapi dia juga aneh. Kenapa dia bilang pada Brian jika aku menyelipkan surat cinta di loker milik Brian. Padahal kemarin aku datang terlambat dan sama sekali tidak sempat untuk berjalan jalan keliling sekolah.' lanjut Alexa
Alexa menghela nafasnya dan kembali menegakan tubuhnya. Dia membuka kedua matanya ketika merasakan seseorang duduk di kursi kosong di samping nya.
"You okay?" tanya Leon, pria itu duduk di kursi kosong milik Karina
Matanya melebar menatap penuh penasaran pada Alexa yang balik menatapnya dengan lemas.
"Memang nya kenapa?" tanya Alexa
"Sorry, tapi aku melihatmu kemarin di danau dengan Brian." gumam Leon
Alexa dengan cepat menegakan tubuhnya dan menghela nafasnya. Dia menatap Leon dengan tatapan serius.
"Rahasiakan apapun yang kau dengar. Jangan disebarkan ataupun sampai pada telinga Karina." ujar Alexa memperingati
Alexa terdiam, menipiskan bibirnya sebelum akhirnya tersenyum tipis, "Aku tak apa."
Leon menatap Alexa dengan kasihan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku melihat Brian hampir menamparmu." tanya Leon
"Sepertinya ada kesalahpahaman. Brian menemukan sebuah surat cinta di loker nya, Sarah bilang jika dia melihatku yang memberikan surat dengan cara menyelipkan nya di loker Brian." jawab Alexa
Leon mengerutkan dahinya. Dia menatap Sarah yang duduk dengan jarak cukup jauh dari keduanya.
"Hati hati dengan Sarah. Aku ingat sebelumnya kembaran Karina juga mengalami hal yang sama dengannmu." ucap Leon
"Dia juga menderita sejak insiden surat cinta." lanjut Leon
"Aku tidak memberitahu apapun pada Karina karena takut jika dia akan bertindak sembarangan. Terlebih dia membenci Brian dan Sarah. Aku yakin jika dia tahu, maka dia akan mengobrak abrik satu sekolah." gurau Leon yang disahuti dengan senyuman tipis oleh Alexa
Obrolan keduanya terhenti ketika mendengar suara Karina dari luar kelas. Tak lama kemudian, gadis itu memasuki kelas dengan cengiran lebar nya.
"Selamat pagi, Alexa." sapa Karina
"Pagi." balas Alexa
"Kenapa kemarin kau pulang lebih awal? Pengawalmu, Tuan Dimitri memasuki kelas dan mengambil tasmu kemarin. Aku bertanya apa yang terjadi tapi dia tidak mau menjawabku." ujar Karina
"Aku ada sedikit urusan." sahut Alexa
"Tapi kau baik baik saja?" tanya Karina curiga
"Ya, tentu saja. Memang nya kenapa?" tanya Alexa sambil tersenyum
"Kemarin juga... Tuan Dimitri memasuki kelas dengan wajah yang menyeramkan. Aku kira dia marah." gumam Karina
Alexa tersenyum, "Tak apa. Kemarin memang terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan. Karena itu Dimitri sedikit marah."
"Tapi malam tadi, aku sudah membereskan nya. Perasaanku sudah sedikit lebih baik dibandingkan kemarin."
☸⚛☸⚛☸
Alexa melirik Brian yang terlihat semakin dingin sejak kemarin. Pria itu bahkan terlihat seperti tidak bersalah karena akan menamparnya.
Pikiran Alexa masih mengganjal. Dia bingung dengan penglihatan Sarah.
Hanya ada dua opsi disini.
Alexa yang memiliki kembaran atau mungkin seseorang yang mirip dengan Alexa yang memberikan surat itu pada Brian. Jarak yang jauh membuat Sarah salah melihat dan mengira jika itu adalah Alexa.
Dan pilihan keduanya, Sarah sengaja menulis surat itu dan memberikan nya pada Brian dengan mengatasnama kan Alexa.
Tapi dua dua nya sama sama tidak nyambung bagi Alexa. Sarah masih muda, tidak mungkin dia buta atau rabun.
Dan lagi sejauh pengamatan Alexa sejak pertama kali dia menjadi siswa di sekolah ini, tidak ada perempuan lain yang kulitnya sepucat Alexa. Perempuan yang berkulit putih mungkin memang banyak, tapi yang putih pucat hanya Alexa.
Dan Alexa kira, Sarah tidak sejahat itu hingga menulis surat dan berpura pura menjadi Alexa. Jika Sarah menyukai Brian, dia tinggal mengungkapkan nya.
Dengan begitu Alexa yakin jika status keduanya akan berubah. Tidak perlu mengatasnamakan orang lain.
'Apa aku harus menanyakan nya pada Sarah? Lagipula aku ingin hidup tenang di sekolah. Jika hal ini menganggu ku, aku akan terus menerus merasa gundah tanpa alasan yang jelas.' pikir Alexa
Alexa melihat keadaan sekeliling nya sebelum akhirnya menunduk melihat nampan makanan miliknya yang hanya tersentuh sedikit.
Dia melirik Brian yang hanya sendirian. Tidak ada Sarah yang biasanya menempel padanya seperti perangko pada amplop.
"Aku duluan ya. Ada sesuatu yang harus aku urus." ujar Alexa pada Karina dan Leon yang berada di depan nya
"Tidak mau menungguku? Aku sebentar lagi selesai." sahut Karina
"Tidak perlu, ini sedikit mendesak." ucap Alexa sambil meringis di ujung kalimat
Karina dan Leon mengangguk. Keduanya melambaikan tangan pada Alexa yang sudah beranjak pergi.
Alexa keluar dari kantin dengan langkah tergesa. Dia menatap sekitar, mencoba mencari keberadaan Sarah. Alexa tahu perempuan itu tidak memiliki teman.
Sebut saja Alexa kasar, tapi nyatanya memang iya. Sarah selalu pergi bersama Brian. Bahkan ketika seorang guru memberi tugas untuk berkelompok, maka Sarah hanya akan berdua dengan Brian.
Siswi lain terlihat kurang nyaman dengan Sarah. Mereka terlihat enggan mengajak perempuan itu berbicara. Alexa kira, mungkin itu adalah efek dari Brian yang berimbas pada Sarah.
Jadi Alexa berlari menuju kelasnya di lantai dua.
Dan benar saja. Sarah ada disana dengan sekotak minuman.
Hidung Vampire Alexa tidak bisa dibohongi. Aroma minuman yang di samping Sarah tercium sedikit anyir.
Tapi dengan cepat Alexa menggelengkan kepalanya. Sarah tidak terlihat seperti Vampire atau berbau seperti Vampire.
"Sarah." panggil Alexa
Si empunya nama mendongkak dan menyunggingkan senyuman tipis.
"Ya?" sahutnya singkat
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." ujar Alexa
Alexa mengerutkan dahinya samar ketika melihat senyuman meremehkan terlukis di bibir Sarah. Senyuman itu hanya sekilas, hingga Alexa kira jika dia hanya salah melihat.
"Padahal tadi pagi kau terlihat sangat tidak nyaman denganku. Tapi sekarang kau mencariku." cetus Sarah. Entah maksudnya meremehkan atau justru hanya bercanda.
"Maaf. Pagi tadi aku tidak dalam mood yang bagus. Jadi aku tidak sengaja melampiaskan nya padamu." ujar Alexa tulus
Sarah tersenyum dan mengangguk.
"Jadi, ada apa?" tanya Sarah
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa benar kemarin kau melihat ku menyelipkan sebuah surat di loker Brian?" tanya Alexa langsung
Sarah mengangguk, "Iya. Kau mengendap endap seperti maling kemudian menyelipkan surat di loker Brian. Lalu aku bertemu dengan Brian di kelas dan dia menanyakan asal surat berwarna pink itu."
"Dan aku menjawabnya jika surat itu darimu." lanjut Sarah
"Tapi aku datang terlambat, Sarah. Lagipula aku tidak mengetahui nomor loker milik Brian." sangkal Alexa
"Yah, aku tidak tahu. Tapi aku melihat yang menyelipkan surat itu adalah kau. Padahal jika kau tertarik pada Brian, aku bisa langsung menyampaikan hal itu padanya." decak Sarah
"Bisa tolong ralat perkataan mu dan bilang pada Brian jika itu bukan aku? Jujur saja aku tidak nyaman karena dia terlihat sangat membenciku karena surat itu. Padahal aku sendiri tidak tahu darimana asal suratnya." pinta Alexa
"Aku hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang biasa saja. Jadi tolong sampaikan hal itu pada Brian." lanjut Alexa
"Sure. Akan aku sampaikan nanti." sahut Sarah sambil tersenyum lebar
"Terimakasih, Sarah." ujar Alexa lega
'Ternyata Sarah tidak seburuk yang orang lain bicarakan.'
☸⚛☸⚛☸
Sementara di dunia underworld, seorang Raja duduk memimpin diatas tahta. Dia memberikan tatapan khawatirnya pada sang Istri yang berada di samping nya.
"Bagaimana ini? Apa tindakan kita untuk menyelamatkan Alexa ke dunia manusia sudah benar?" tanya Roland
Istrinya, sang Ratu yang duduk di sampingnya tersenyum dan mengangguk.
"Alexa aman di sana. Dimitri dan Ryan pasti akan melindungi Alexa sebagai kunci dari hubungan dua dunia." jawab Shella
Roland menghela nafasnya. Dia turun dari tahta dan memasuki ruang pertemuan antar klan yang terdapat di istana.
Dia mengangguk singkat ketika semua pemimpin antar klan berdiri dan memberinya hormat.
Tatapan Roland mengarah pada semua yang ada di dalam ruangan. Dia tersenyum ketika melihat semua klan yang berada dibawah kepemimpinan nya hadir untuk rapat.
"Bagaimana kabar kalian semua?" tanya Roland berbasa basi
"Aku yakin, kalian semua sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk dalam peperangan ini." ujar Roland
Seorang Alpha, yang menjadi perwakilan klan Werewolf menghela nafasnya.
"Tentu, Yang Mulia. Aku bahkan akan segera menggelar pesta untuk mengangkat Putra ku sebagai Alpha generasi baru. Sebagai persiapan jika aku mati dalam perang." sahut Nichalas
Roland tersenyum tipis, "Aku juga akan menyerahkan Tahta ku pada Alexa. Aku harap dia bisa memimpin Kerajaan dengan baik jika aku mati."
"Kalian beruntung memiliki anak. Bagaimana dengan ku jika aku mati? Jodohku bahkan belum terlihat." ujar Apri, seorang Raja dari klan Peri
Ucapan dari Apri membuat seisi ruangan tertawa. Apri memang Raja generasi baru, umurnya masih muda sehingga dia menjadi Raja termuda yang hadir dalam pertemuan serius itu.
"Karena itu kau harus tetap hidup. Kau adalah Raja generasi baru yang menggantikan tahta kedua orang tua mu, hiduplah dengan baik dan carilah jodohmu." sahut Adril, pemimpin klan Witch
Apri berdecak kesal sebelum akhirnya menatap semua perwakilan klan dengan tatapan memusuhi.
"Mentang mentang aku termuda disini, aku menjadi korban penindasan kalian." kesalnya
"Baiklah, cukup. Aku tidak mau nanti Oliver marah padaku karena kita menindas anaknya." ujar Roland dengan sedikit tawa nya yang tersisa
"Maksudku mengumpulkan kalian kemari karena aku ingin membahas sebuah ramalan dari Klan Witch. Adrel kemarin memberitahu hal ini padaku." lanjut Roland
Adril, pemimpin dari Klan Witch itu mengangguk dan berdeham singkat. Dia bangkit dari duduknya dan memberikan sebuah gulungan kertas berwarna kekuningan pada Roland.
"Benar, Raja. Saya mengetahui kertas ini kemarin ketika sedang mencari ramuan di Perpustakaan. Saya sempat berfikit jika ini hanyalah ramalan kosong." jelas Adril
Dia memberikan salinan ramalan dari kertas itu pada Apri, Nichalas dan Carlos.
"Lihat beberapa poin yang sudah saya tandai. Beberapa dari semua ramalan itu sudah terjadi." ujar Adril
"Pemberontakan kecil yang berujung pada pemberontakan besar dan peperangan." gumam Apri
"Apa karena ini Yang Mulia mengumpulkan kami semua dengan dalih perang?" tanya Alpha Nichalas
Roland menganggukkan kepalanya.
"Kalian ingat pemberontakan yang terjadi di masing masing klan? Aku awalnya mengira itu hanya pemberontakan biasa. Tapi semakin hari, aku merasa jika ada ancaman tidak terlihat yang sedang meneror dunia bawah." jawab Roland
"Aku meminta kalian bersiap untuk kemungkinan terburuk." perintah Roland
"Yaitu peperangan dan kematian." lanjutnya serius
:: Author Note::
Ayo mulai serius