Part 8: Putri yang rapuh

1689 Words
"Apa saya harus keluar dan menanyakan nya?" tanya Dimitri Alexa menggelengkan kepalanya, "Tunggu disini. Biar aku yang keluar dan menemuinya." sahut Alexa Dia keluar dari mobil dan menghampiri Brian yang berdiri di samping motor besarnya. "Ada apa?" tanya Alexa "Jika kau masih tidak mempercayaiku, aku akan menelfon paman Ryan di depan mu dan mengatakan jika kau pergi bersama ku." lanjut Alexa "Bukan. Aku kesini untuk memastikan jika kau pulang dengan selamat." sahut Brian datar "Kau meragukan Dimitri? Dia menjagaku sejak aku kecil." tanya Alexa sedikit sarkas "Pulanglah. Aku sudah sampai ke rumah dengan utuh." perintah Alexa sebelum akhirnya pergi beranjak masuk ke dalam rumah Dia enggan bertemu dengan Brian untuk sementara waktu. Mengingat wajah pria itu membuat Alexa kembali mengingat ciuman nya dengan Sarah di taman tadi. Alexa terdiam dan menghela nafasnya ketika dia sudah memasuki rumah. Kaki jenjang nya langsung mengarah pada kamar nya sendiri di lantai dua. Alexa melepaskan tas kecil yang di pakainya dan meletakan benda itu diatas meja rias. Sementara dirinya langsung berlari menuju ranjang dan menidurkan dirinya disana. "Lelah." gumamnya pelan sambil menutup kedua matanya Tak lama kemudian, Alexa merasakan mata nya memanas. Dengan cepat Alexa bangkit dari tidurnya dan berlari ke arah cermin. "Apa ini? Ada bahaya?" gumam Alexa ketika melihat warna mata nya berubah menjadi semerah darah Dia melirik kecil jam dinding yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri, Alexa menghela nafasnya setelahnya. "Ternyata bukan. Tapi memang waktu dari ramuan yang ku pakai sudah habis." desah Alexa Dia mengerjapkan matanya dan mengubah iris mata nya menjadi biru. Alexa melirik pintu kamarnya yang diketuk pelan sebelum akhirnya menyerukan perintah untuk masuk. Dimitri berdiri disana dengan segelas darah segar. "Ini, Nona." ujar Dimitri sambil menyerahkan gelas itu pada Alexa Alexa meraihnya dan menyesapnya sedikit. Dia mengerutkan dahi ketika merasakan darah yang sedikit berbeda dari biasanya. "Ini... Darah apa?" tanya Alexa "Itu darah yang biasa Nona minum. Darah rusa." jawab Dimitri Alexa menipiskan bibirnya dan memberikan gelas itu pada Dimitri setelah menyesapnya sedikit. "Entah kenapa rasanya sedikit berbeda. Aku sudah cukup meminum nya sedikit." ujar Alexa pada Dimitri "Tapi Nona harus meminum nya sampai habis. Anda terlihat sedikit lebih pucat hari ini." sahut Dimitri "Tak apa. Aku sudah cukup meminumnya." tolak Alexa Dia menghela nafasnya meski tidak ada udara yang keluar dari mulutnya. "Apa kita bisa ke Kerajaan? Aku rindu kedua orangtuaku." tanya Alexa "Raja melarang kita untuk pulang, Nona. Dia mengatakan jika Nona harus benar benar beradaptasi dengan dunia Manusia." jawab Dimitri Alexa mengerutkan dahinya setelah mendengar jawaban dari Dimitri. "Tidak biasanya Ayah menolak ku untuk pulang. Apa sedang terjadi sesuatu yang gawat disana? Kenapa Ayah memintaku beradaptasi di dunia Manusia? Padahal aku tidak akan tinggal sangat lama disini." cetus Alexa yang membuat Dimitri sedikit panik "Tidak ada yang mencurigakan. Tapi Raja mengatakan padaku agar Nona fokus belajar dan segera pulang ke Kerajaan." balas Dimitri ☸⚛☸⚛☸ Alexa masuk ke dalam kelas bertepatan dengan bell yang berbunyi. Dia menghela nafas karena sesaat setelah dia mendaratkan b****g nya di kursi, seorang guru masuk ke dalam kelas. "Aku kira kau tidak datang." bisik Karina Alexa tersenyum tipis mendengarnya, "Aku hanya sedikit terlambat karena beberapa hal." balas Alexa Jawaban dari Alexa membuat Karina menipiskan bibirnya. "Aku rasa seharusnya kau tidak masuk sekalian." gumam Karina "Eh? Kenapa?" tanya Alexa sambil mengerutkan dahinya bingung "Sejak pagi Brian mencarimu. Dia terlihat sangat marah." jawab Karina serius Alexa terdiam seketika. Tangan nya yang hendak meraih buku dari dalam tas nya mendadak terhenti di udara. 'Marah? Kenapa? Aku kan tidak mengatakan apapun pada paman Ryan.' pikir Alexa "Kau tidak mencari masalah dengan nya kan?" tanya Karina "Tidak. Sejak aku mengetahui bagaimana tajam nya ucapan Brian, aku enggan untuk mencari masalah dengan nya." jawab Alexa setengah bergumam "Hello there! Apa pelajaranku terlalu membosankan dibandingkan pembicaraan kalian berdua?" Mendengar teguran halus dari guru itu membuat Alexa meringis kecil sambil menggumamkan permintaan maaf. "Kita bicarakan nanti." gumam Karina yang diangguki Alexa Tapi nyatanya, tidak ada kata 'nanti' untuk membicarakan kenapa Brian terlihat marah. Tanpa membiarkan Alexa membereskan semua buku nya di jam istirahat, Brian sudah terlebih dulu menarik lengan Alexa dan menyeretnya keluar dari kelas. "Brian! Apa apaan ini?" pekik Alexa Dia meronta pelan ketika merasakan cengkraman Brian menguat dan menyakiti lengan nya. "Brian, ada apa? Apa salahku?!" kesal Alexa karena langkah lebar Brian di depan nya membuat nya terseok Alexa menatap sekeliling nya yang mulai sepi. Keduanya menjauh dari area gedung sekolah dan mulai memasuki danau yang terdapat di belakang sekolah. Brian menghentak kan tangan nya, melepas cengkraman nya pada lengan Alexa dan menatap gadis itu dengan tajam. "Apa?" cicit Alexa setengah ketakutan Tatapan tajam Brian membuatnya merasa kecil. Alexa memundurkan langkahnya ketika melihat Brian berjalan maju mendekati nya tanpa sepatah kata pun. Deg! Alexa terdiam ketika merasakan jika langkah nya sudah buntu. Dia meraba batang pohon yang menghalanginya dan menelan ludahnya gugup. Alexa menutup mata nya ketika melihat kepalan tangan Brian terarah padanya. Tapi kemudian tubuhnya berjengkit kaget ketika pukulan Brian mengenai pohon, tepat di samping kepala Alexa. "Bukan berarti karena aku memastikan keadaan mu malam tadi, kau jadi menaruh harapan padaku." sinis Brian Alexa mengerutkan dahinya dan membuka kedua matanya dengan takut takut. "Apa maksudmu?" tanya Alexa pelan Alexa kembali memejamkan matanya ketika melihat rahang Brian yang mengeras. Pria di depan nya terlihat sangat menahan amarah nya. "Lihat ini!" sentak Brian sambil melemparkan sebuah gumpalan kertas pada Alexa Alexa meraih kertas berwarna merah muda itu dengan hati hati dan membuka nya perlahan. 'Surat cinta?' terka nya ketika sudah membaca beberapa kalimat di kertas kecil itu Alexa terbelalak ketika melihat namanya sendiri tertera disana sebagai seorang pengirim. "Tapi ini bukan tulisanku!" sahut Alexa "Aku juga datang terlambat hari ini. Bagaimana bisa aku sempat membuat surat seperti ini untukmu?" tanya Alexa Dia menyerahkan secarik kertas itu pada Brian. "Sarah melihatmu mengendap endap dan memasukan benda ini pada lokerku." tekan Brian "Dia melihatmu melakukan itu sebelum akhirnya kau kembali memasuki mobil dan pergi." sambung nya Hati Alexa mencelos ketika melihat senyuman meremehkan yang tersungging di wajah Brian. "Tidak aku kira kau sama seperti perempuan lain nya yang akan langsung melayang tinggi ketika aku berbuat baik." cemooh Brian "Seharusnya aku tidak perlu memastikan keadaan mu semalam. Mau kau mati atau bagaimana pun, bukan urusanku." lanjutnya masih dengan senyuman penuh hinaan yang dia tunjukan pada Alexa Alexa mengepalkan tangan nya. "Mungkin saja Sarah salah melihat kan? Itu bukan aku. Untuk apa aku melakukan hal seperti itu?" tanya Alexa dengan suara bergetar Dia benci keadaan ketika dirinya lemah seperti ini. Dia benci ketika Brian bahkan bisa mengintimidasinya ketika pria itu bahkan tidak mengetahui status yang terjalin diantara mereka. Dia benci karena ikatan yang dia ketahui membuatnya tidak bisa marah pada Brian, mate nya sendiri. "Kau terbawa perasaan hanya karena aku memastikan keadaan mu semalam." hina Brian "Murahan." cemooh nya Alexa tersentak kecil ketika mendengar nada penuh cemoohan itu berasal dari mulut jodohnya sendiri. "AKU TIDAK SEPERTI ITU!" seru Alexa marah "Berhenti bersikap seolah olah kau mengenalku hingga kau berani mencela ku!" tampik Alexa "Mungkin saja Sarah mu itu yang buta hingga-" Alexa tercekat ketika melihat Brian mengangkat tangan nya sendiri. Hendak menampar Alexa. Mata Alexa berkaca kaca. "Tampar aku. Tampar aku jika itu akan membuatmu puas dengan semua hinaan dan cemoohan mu yang tidak berdasar!" tantang Alexa Dia menunjuk Brian dengan geram, "Ayah dan Ibu ku bahkan tidak pernah mengangkat tangan nya untuk memukulku." Alexa mengusap air mata nya dengan kasar sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Brian sendirian. "Dimitri, aku mau pulang. Tolong pergilah ke ruang kesiswaan dan minta surat izin pulang lebih awal. Sekujur tubuhku sakit." mindlink Alexa "Tentu, Nona. Biar saya ambilkan tas anda di kelas. Tunggulah di dalam mobil." sahut Dimitri yang memang melihat semua percakapan Alexa dan Brian sejak awal dari sudut yang tidak terlihat Dia hampir saja berlari dan mendorong Brian ke dalam danau ketika pria itu dengan lancang nya hendak menampar Nona nya setelah memberikan tuduhan tak berdasar. Tapi Dimitri tahu, Sang Nona tidak akan suka jika dia ikut campur di dalam urusan keduanya. Karena itu Dimitri hanya diam memperhatikan. Dimitri hanya akan bertindak saat sang Nona memberinya perintah. ☸⚛☸⚛☸ Alexa terdiam menatap jendela di depannya. Dia memperhatikan tetesan demi tetesan air hujan yang turun sesaat setelah ia memasuki rumah. Kata kata Brian kembali terngiang di telinga nya. 'Bahkan jika aku mati... Kau juga tidak akan peduli ya?' 'Benar. Dihubungan ini, hanya aku yang akan menanggung semua perasaan aneh yang dinamakan ikatan Mate ini.' Alexa menyandarkan tubuhnya pada sofa. Dia memejamkan matanya ketika merasakan seluruh tubuhnya menjerit kesakitan. "Nona? Boleh saya masuk?" terdengar suara Dimitri dari luar kamar "Masuklah." sahut Alexa lemas Dimitri dengan cepat masuk ke dalam kamar Alexa dengan segelas darah dan meraih sebuah cairan ramuan dari dalam lemari antik yang berada di kamar Alexa. "Nona? Minum ini." pinta Dimitri ketika melihat wajah Alexa semakin pucat Bukannya meraih darah yang ada di genggaman Dimitri, Alexa malah menutup kedua matanya rapat rapat. Menahan air mata yang akan keluar dari sana karena terus menerus mendengar ucapan Brian di telinga nya. "Aku berbohong padamu, Dimitri." gumam Alexa lemah "Ya?" tanya Dimitri memastikan "Aku sudah menemukan mateku." lirih Alexa "Dia Brian. Anak dari Paman Ryan. Dia... dia menolak ku, Dimitri. Tidak secara langsung, tapi perkataan nya membuat seluruh tubuhku sakit. Merasakan penolakan tidak langsung yang dia berikan padaku." gumam Alexa parau Alexa menutup wajah nya dan menangis terisak. "Aku bertanya tanya apakah jika aku mati, maka Brian akan merasa kehilangan seperti apa yang akan aku rasakan jika dia mati?" tanya Alexa dengan suara parau nya Sementara Dimitri menghela nafasnya dan bergegas menyimpan segelas darah berserta ramuan yang sebelum nya sudah dia ambil ke atas meja. Dia berjalan mendekat pada Alexa dan mengusap rambut Nona nya itu dengan lembut. "Nona, anda tahu saya selalu ada di sini kan? Anda tahu jika saya selalu berada di belakang Nona untuk mendukung Nona." ujar Dimitri perlahan "Tak apa, Nona. Saya disini." lanjut Dimitri sambil merengkuh pelan tubuh Alexa Dia tidak ingin melihat Nona yang selalu bersamanya sejak kecil terlihat rapuh seperti ini. :: Author Note:: Mungkin, ini alesan kenapa Vampire termasuk makhluk yang setia. Perasaan mereka bakal mati kalau mate mereka mati atau nolak mereka. How sad, Alexa. Cuma kamu yang merasa tersiksa sama penolakan itu. Tapi... How bout Brian?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD