Melihat Salsa berada di ruangan UGD, tentu saja membuat Raisa semakin penasaran dengan keadaan Bagas.
"Aku harus mengetahui Siapa sebenarnya yang berada di ruang UGD?" Reisa sangat penasaran, Karena penasaran dengan keadaan pria yang sedang ditemani oleh Salsa, Raisa segera menghampirinya.
"Aku harus mengetahui Siapa nama pria tersebut, sungguh aku tidak mau jika sampai melihat Salsa lebih dekat dengannya." Karena mendapat penolakan dari Andika, membuat Raisa semakin kesal dengan sikap Salsa.
"Aku akan terus berusaha untuk membuat Salsa merasa kapok karena sudah membuatku merasa malu." Reisa berusaha untuk membuat kekacauan, mengingat rasa malu yang begitu besar.
"Gara-gara Salsa, Andika bersikap kasar denganku, sungguh aku tidak mau jika sampai aku harus kalah dengan Salsa."
Langkah kaki mengantarkan Raisa berhenti tepat di depan ruangan Bagas, saat itu juga Raisa segera memfoto Salsa saat memegang tangan Bagas.
"Mungkin foto ini bisa membuat Andika merasa kesal dengan sikap Salsa yang sudah tidak setia, aku rasakan foto ini tentu Andika akan semakin kesal dengan sikap Salsa dan akan segera memutuskan hubungan mereka."
Sambil mau foto Salsha yang sedang duduk sibuk memperhatikan Bagas, Reisa tersenyum. Bisa mendapatkan foto yang akan digunakan untuk membuat Andika kesal.
"Aku tidak akan membuang kesempatan emas ini, aku yakin jika sampai Andika mengetahui hal ini, tentu Andika akan semakin pesat dengan Salsa." Reisa terlihat sangatlah bahagia.
Karena sudah mendapatkan beberapa foto mengenai kedekatan Salsa dengan Bagas, Raisa segera pergi meninggalkan ruangan tersebut, karena tidak ingin jika sampai ada orang yang mengetahui, jika dirinya yang sudah menyebarkan rumor.
"Aku yakin melihat mereka berdua tentu Andika akan segera melepaskan Salsa, sungguh kedekatan di antara mereka sangatlah mesra." Reisa menganggap bahwa Sanya Bagas dan Salsa adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.
"Jika melihat mereka semakin dekat, tidak akan mungkin jika Andika akan mempertahankan hubungannya." Reisa tidak mengetahui jika Andika yang harus bekerja keras untuk mendapatkan hati Salsa. Meskipun Salsa mengetahui jika dirinya dilaporkan oleh Reisa, Salsa tidak akan merasa dirugikan.
"Dokter Reisa, ada pasien operasi yang sedang menunggu dokter di ruangannya," ucap Jihan memberitahu kepada Raisa bahwasanya dirinya harus melakukan operasi.
"Baiklah Jihan, Aku akan segera pergi ke sana untuk mengecek pasien." Jihan tersenyum sambil menatap dokter Reisa.
"Kalau begitu saya permisi dulu, saya akan persiapkan peralatan untuk operasi." Jihan segera pergi meninggalkan Raisa.
"Hari ini benar-benar sungguh melelahkan, padahal aku sangat ingin menemui Andika untuk memberitahukan kabar berita yang sangat menggelikan," gumam Raisa sambil tersenyum. Hari ini Raisa benar-benar merasa sangat bahagia, berharap jika impiannya akan terwujud. Meskipun dia tahu jika Andika sangat mencintai Salsa.
"Mungkin dengan cara seperti ini, aku bisa melepaskan Andika dari Salsa." Terkadang Cinta memang tidak bisa membuat seseorang berpikir secara positif, rasa ingin memiliki yang begitu besar tentu menjadikan seseorang gelap mata.
"Aku harus selalu mencari kesalahan Salsa, agar di saat itu juga aku bisa membujuk Andika untuk menjadi kekasihku."
Rasa ulat malu mulai menghilang dari tubuh Raisa, karena sangat ingin mendapatkan pria yang dicintainya, Raisa harus bekerja keras untuk mencari kesalahan seseorang.
Saat berjalan menuju ke ruang operasi tiba-tiba ada salah seorang pegawai rumah sakit yang menumpahkan air minum tepat di baju Raisa.
"Kotor sekali pakaianku, Apakah kamu tidak melihat jika aku ada di depanmu?" Reisa terlihat sangat kesal sekali, menatap pakaiannya yang begitu kotor tentu membuat Raisa semakin emosi.
"Dasar kamu jika berjalan tidak mau menggunakan mata, jika pakaianku kotor seperti ini aku akan sangat malu." Raisa mengungkapkan rasa kekesalannya, apalagi saat menatap perempuan itu dengan posisi menunduk, emosi Raisa semakin meningkat.
"Seharusnya kamu meminta maaf karena sudah melakukan kesalahan, bukan harus menunduk dan tidak bersuara." Reisa setelah berjalan meninggalkan wanita itu.
"Kenapa bisa sampai sekotor ini, Padahal aku sejak tadi sudah mau upayakan agar pakaian ini bisa bersih," kekesalan sangat terlihat di wajah Raisa. Apalagi saat dirinya akan pergi ke ruangan operasi, tentu Raisa akan merasa tidak nyaman jika pakaiannya kotor.
"Sepertinya aku akan mencari pakaian ganti ku di ruangan." Raisa mengingat tempo hari dia pernah membawa pakaian ganti yang diletakkan di ruangannya.
"Aku akan segera pergi ke ruanganku untuk memastikan pakaian ganti ku ada di sana," ucap Raisa sambil bergegas berjalan menuju ke ruangannya. Waktu terus berjalan jika Raisa tidak segera datang ke ruangan operasi tentu akan membuat dokter lainnya merasa kesal karena harus menunggu kedatangan Raisa.
"Kenapa jam ini berjalan sangat cepat? Aku harus segala membawa pakaian ganti untuk bisa aku kenakan." Raisa berjalan dengan sangat cepat menuju ke ruangannya, bahkan dia tidak menghiraukan saat ada karyawan yang menyapanya.
"Selamat siang dokter Reisa," ucap salah satu karyawan yang menyapa Raisa.
Raisa bahkan tidak menatap wajahnya, Padahal dia mendengar dirinya disapa oleh karyawan itu.
"Hanya karyawan rendahan, dia tidak tahu jika aku sangat sibuk untuk pergi mengganti pakaianku."
Sikap sombong mulai terlihat saat Raisa menjadi dokter andalan rumah sakit, bahkan sikap humoris nya mulai hilang karena dia memiliki jabatan yang lumayan bagus.
"Kenapa Sekarang Reisa berubah?" Caca bertanya kepada Rere.
"Aku sangat tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu." Mereka sangat tidak menyangka jika Raisa bisa bersikap kasar saat berbicara dengan karyawan.
"Kenapa kita memikirkan Raisa, bukankah itu sangat bagus jika dia bersikap sombong." Rere akan menggunakan peluangnya untuk bisa menggeser jabatan Reisa.
"Aku sama sekali tidak mengetahui Apa rencana yang akan kamu lakukan?" Caca tidak bisa memahami kemauan yang akan dilakukan oleh sahabatnya.
"Perlahan-lahan kita akan menghapus beberapa orang untuk membenci Raisa, setelah mereka bisa membenci Raisa, tentu jabatan Raisa semakin hari semakin buruk." Caca tertawa saat mendengar ungkapan dari sahabatnya.
"Tidak ada pengaruhnya pada jabatan kita, bahkan mungkin aku akan tetap menjadi dokter yang bekerja dibawah Salsa." Caca terlihat sangat kesal ketika harus menghadapi beberapa dokter yang ada di rumah sakit ini.
"Kan aku sudah bilang padamu, jika posisi Reisa semakin turun, kita yang akan mencoba untuk menggeser posisinya." Rere memang pendiam, namun saat dirinya berpikir mengenai sesuatu yang ada di dalam kepala, pilih akan terlihat sangat pandai.
"ah kamu memang benar-benar memiliki pemikiran yang sangat buruk, Aku tidak mau mengikuti langkahmu." Caca menolak jika dirinya harus melakukan hal buruk itu.
"Jika kamu menolaknya, aku juga tidak akan berbuat licik." Rere tidak mau jika dirinya melakukan hal yang sangat buruk, karena takut jika sampai dirinya mendapatkan masalah.
"Yang terpenting saat ini kita harus fokus dengan pekerjaan kita, tidak usah memikirkan orang lain." Caca sangat lelah jika dirinya harus mengikuti kegiatan yang sangat tidak bermanfaat, apalagi jika harus berhadapan dengan orang-orang yang bersikap kritis.
"Baik, aku sangat berterima kasih dengan nasehat mu." Rere segera berjalan meninggalkan Caca, terlihat bahwasannya Rere merasa sangat kesal ketika mendapatkan nasehat dari sahabat.
"Setiap hari Jika aku bersamanya, cuaca sangat senang memberi nasehat, sungguh aku sangat kesal ketika harus mendengarkan ucapannya."
Rere tidak suka jika dirinya sering mendapatkan nasehat, Karena terbiasa hidup dengan sangat bebas.
"Tunggu saja tidak sampai Caca meminta bantuanku, Aku tidak akan pernah membantunya." Rere terlihat sangat kesal ketika harus menghadapi Caca, meskipun mereka bersahabat namun akhir-akhir ini mereka sering berdebat.
"Aku yakin dia tidak akan pernah bisa menjauh dariku, karena dia selalu meminta bantuanku saat mendapatkan masalah." Karena Persahabatan mereka sudah lama terjalin, membuat Rere menganggap jika Caca tidak akan bisa dekat dengan orang lain, apalagi jika sampai memiliki masalah, tentu mereka akan sangat saling membutuhkan.
"Gara-gara salah berbicara, sungguh kata-kata yang dikatakan oleh Caca benar-benar membuatku merasa kesal, Padahal aku memberikan solusi yang terbaik untuk bisa bersaing dengan Reisa." Rere memiliki sikap yang keras kepala, dia tidak akan pernah bisa menganggap kata yang baik dari sahabatnya adalah sebuah nasehat.
"Aku tidak akan pernah bisa mau mendengar jika orang lain menasehatiku, sungguh aku benar-benar kecewa jika harus mendengarkan nasehat yang sangat tidak berguna."
Setiap seseorang harus bekerja keras demi upaya membuat dirinya menjadi lebih baik, namun berbeda dengan Rere, Rere selalu mencari cara agar dirinya bisa jauh lebih baik dengan cara menjatuhkan lawannya.
''aku ingin kerja instan, mencari kesalahan dari temanku adalah upaya agar aku bisa naik jabatan."
"Dasar sahabat tidak berguna, Rere selalu berpikir bahwasanya dia jauh lebih baik, Aku tidak akan menyesal jika harus bertengkar dengannya, masih banyak teman yang mau bergabung dengan ku." Caca tidak ingin jaga dirinya harus berbuat buruk, mengingat bahwasanya semua orang pasti akan mengalami masalah yang bisa membuat seseorang berpikir dengan sangat kritis.
"Menjatuhkan kinerja dokter lainnya, bukan cara untuk bisa mendapatkan pangkat yang bagus, percuma saja jika Raisa turun dari jabatannya, sedangkan aku tidak bisa menaikkan kinerja ku." Caca sangat berpikir positif dalam melakukan sebuah hal, karena tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada dirinya.
"Aku justru senang jika aku sudah tidak berteman dengan Rere, waktu yang terbuang untuk hal yang tidak baik akan menghilang dari tubuh ku." Caca merasa sangat tidak suka dengan sikap Rere selama ini, Caca selalu diatur oleh Rere dalam melakukan sesuatu, tentunya hal itu membuat Caca merasa sangat kesal. Dan berharap jika suatu saat tidak pernah mau mengikuti perintah yang diberikan oleh sahabatnya.
"Hidup dengan perilaku yang buruk sungguh membuat semua orang menjadi gelap mata, jika aku selalu mengikuti ucapan Rere pasti suatu saat aku akan terpeleset masuk dalam masalah yang cukup besar."
Caca sangat paham Jika setiap tindakan yang buruk akan mendapatkan balasannya, karena tidak ingin mendapatkan balasan yang buruk tentu saja Caca ingin jika dirinya bisa menjadi lebih baik lagi.
"Kamu pikir pasti aku akan merasa kecewa saat tidak menjadi sahabat mu, sungguh aku benar-benar bahagia karena bisa menghindari hal yang tidak baik lagi," gumam Caca sambil mengingat masalah yang sedang dihadapinya.
Bersyukur jika dirinya bisa bertengkar dengan sahabatnya, karena sangat mengganggu pekerjaannya, untuk bisa menjadi dokter yang memiliki kinerja yang bagus, Caca akan lebih giat dalam bekerja.
"Bekerja secara giat, adalah cara untuk bisa maju.'' Caca sangat ingin memiliki prestasi di tempat kerjanya.