kekesalan Mama

1006 Words
Melihat sikap Papa yang tidak mengerti perasaan Mama, sungguh benar-benar membuat mama merasa sangat kesal, Mama tidak menyukai jika melihat sikap suaminya yang tidak pernah bisa mengikuti semua yang di inginkan. "Kenapa Papa tidak pernah mengerti perasaan Mama, sungguh mama merasa sangat kesal dengan sikap Papa," ucap Mama sambil menatap sinis ke arah suaminya. "Sungguh aku sangat malu ketika mendengar ucapan dari Papa." Mama mulai mencoba untuk menutup pintu kamarnya, berharap jika Papa tidak akan kembali ke kamarnya. Sungguh merasa sakit hati ketika mendengar jawaban yang begitu sakit, Mama berharap jika bisa mendapatkan jawaban yang baik sehingga tidak membuat hatinya sakit, menatap wajah suaminya tentu akan memberikan luka yang mendalam. "Jika terus begini, Aku tidak akan bisa melupakan rasa sakit ini, mereka tidak mengetahui sesuatu yang sangat aku harapkan." Mama masih bersikeras untuk menjodohkan putri tunggalnya dengan salah seorang dokter yang dikenalnya. "Mama memang sangat keras kepala, aku sudah beli tahu dia berulang kali, untuk tidak memaksakan kehendaknya, Aku hanya tidak ingin jika sampai Salsa merasa sangat tertekan dengan permintaan namanya," ucap Papa. Meskipun Papa terlihat sangat kesal ketika memiliki istri yang sangat keras kepala, namun Papa mencoba untuk bersabar. "Jika aku ikut bersikeras dengan keputusanku, tentu masalah ini tidak akan bisa menjadi damai, Aku harus bisa membuat mama sadar " Papa hanya bisa berharap jika melihat istrinya bisa bersikap baik dengan keluarganya, memaksakan kehendak sangat sulit untuk bisa diterima. "Aku akan mencoba menasehati Mama, Aku tidak mau jika mendengar mama merasa sakit hati," ucap papa. Papa berusaha untuk masuk ke dalam kamarnya, namun Papa sangat terkejut ketika tidak bisa masuk ke dalam kamar. "Kenapa pintu terkunci? Sejak tadi aku melihat Mama selalu bersikap marah padaku," ucap Papa merasa sangat aneh dengan sikap istrinya. "Jika melihat sikapnya yang begitu egois, tentu aku akan merasa sangat kesal dengan sikapnya." Papa berdiam diri tepat di depan pintu yang terkunci, mencoba untuk mencari cara agar Mama mau membuka pintu untuknya. "Mama, ayo buka pintu untukku," ucap Papa sambil berharap jika pintu akan terbuka. "Biarkan saja, aku tidak akan membuka pintu untuk Papa," jawab Mama dengan nada sangat kesal. Mama terlihat sangat tidak suka ketika melihat sikap suaminya yang tidak mau mendengar semua ucapan Mama. "Mama marah?" Papa bertanya dengan nada santai, berharap jika mendengar jawaban Mama yang bisa membuatnya tersenyum. "Tidak perlu bertanya padaku, yang perlu Papa ketahui, aku tidak akan membuka pintu untuk Papa masuk." Mama mencoba untuk melarang Papa masuk ke dalam ruangan yang ada di depannya, berharap jika Mama bisa mengerti perasaan yang di rasakan oleh Papa. "Ayolah Ma, maafkan Papa," ucap Papa sambil tersenyum. Mama mulai berpikir untuk bisa memaafkan suaminya, melihat sang suami yang berusaha meminta maaf tentu membuat Mama merasa tidak tega, jika sampai tidak memaafkannya. Mama berjalan sambil mendekati pintu kamarnya, berharap jika Papa bisa tersenyum sambil menatap wajahnya. "Huh sebaiknya aku buka pintu kamar ini, aku tidak mau jika sampai Papa berpikir sesuatu yang buruk," ucap Mama sambil melangkahkan kakinya. Membuka pintu sambil menunjukkan wajah yang sangat kesal, tentu saja membuat Papa merasa sangat heran. "Kenapa Mama masih marah?" Papa bertanya kepada Mama. Senyuman yang ada di pipi Papa terlihat sangat jelas, jika dirinya sungguh merasa menyesal dengan semua yang terjadi. "Mama, maafkan ucapan Papa, Papa tidak sengaja membuat Papa kesal," ucap Mama sambil tersenyum. Karena tidak bisa melihat jika suaminya kesal, Papa berusaha untuk memberikan sebuah senyuman agar bisa membuatnya merasa lega. Mama berjalan kembali ke atas ranjangnya, berharap jika Papa tidak membuat masalah dengannya. "Aku nggak mau berbicara dengan Papa sebelum Papa bisa mengerti perasaanku," ucap Mama dengan nada sangat kesal, tentu saja Mama merasa sangat kesal, masalah yang terjadi memang sangat membuat Mama merasa malu. "Jika terus saja begini, tentu aku merasa tidak nyaman." Mama sangat ingin jika dirinya bisa mendapatkan kenyamanan dalam sebuah hubungan. Karena melihat sang istri masih terlihat kesal, Papa mencoba mendekati Mama sambil tersenyum. "Mama, aku mohon Mama jangan marah lagi," ucap Papa membujuk Mama dengan cara lain. Papa mencoba untuk memeluk Mama agar bisa mengurangi rasa kesal yang ada pada dirinya. "Kenapa Papa memeluk Mama?" Mama bertanya dengan menunjukkan wajah tidak suka dengan sikap Papa. ''Papa hanya ingin kita bisa menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai, melihat semua ini, tentu saja Papa sangat merasa bersalah." Papa terlihat sangat bersalah ketika melihat istrinya bersikap kasar dengannya, tentu saja semua itu sangat tidak diinginkan oleh Papa. "Sudahlah Pa, tidak udah bersikap seperti itu, sungguh aku kesal melihat Papa bersikap seperti anak kecil," ucap Mama dengan menunjukkan ekspresi wajah kesalnya. Karena tidak ingin membuat Papa semakin terlihat kesal, Mama mencoba untuk memaafkan Papa. "Aku minta maaf Pa," ucap Mama dengan senyuman di wajahnya. "Papa memang yang salah Ma, Papa berharap jika Papa tidak marah dengan ucapan Mama." Senyuman manis terlihat di wajah Papa, melihat sikap Mama yang mulai memberikan standar jika dirinya tidak kesal dengan suaminya tentu membuat Papa semakin bahagia. "Mana hanya ingin yang terbaik untuk Salsa, melihat Andika yang sangat cocok bisa menerima Salsa, Mama tidak ingin jika sampai Salsa mendapatkan pria yang tidak baik," ucap Mama sambil tersenyum. "Papa juga ingin yang terbaik untuk Salsa, Papa tidak mau jika sampai terjadi sesuatu pada Salsa," ucap Papa. "Mungkin kita tidak bisa memaksa Salsa untuk mencari pasangannya, padahal Mama sangat berharap jika bisa melihat Salsa memiliki pasangan yang benar-benar serius mencintainya." Papa tersenyum mendengar ucapan istrinya. "Ingat Ma, jodoh maut itu sudah menjadi ketentuan Allah, kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan semua yang sudah menjadi takdir Allah," ucap Papa sambil tersenyum. "Baiklah, aku tidak bisa memutuskan semuanya, aku berharap jika Papa bisa mendengar isi hati Mama." Sungguh Mama sangat tidak bisa jika melihat Salsa menikah dengan orang yang tidak tepat. "Yakinlah Ma, semua yang menjadi jodoh Salsa, adalah pria yang baik, Mama berdoa saja." Memberi wawasan yang baik, sangat diperlukan untuk Papa bisa menasehati Mama, sikap Mama yang egois tentu saja harus bisa luluh dalam ucapan Papa. "Baiklah Pa, meskipun itu semua sulit, tapi aku akan mencoba untuk bisa lebih bersabar dengan semua takdir yang sudah menjadi ketentuan Allah" Mama tersenyum sambil menatap wajah suaminya, melihat sang istri sudah tidak marah tentu membuat Papa Bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD