Mama datang

1047 Words
Mama sangat kangen dengan Salsa, Mama mulai berpikir untuk mengunjungi Salsa. "Papa, bolehkah aku pergi menemui Salsa," ucap Mama bertanya kepada Papa. "Boleh, besok papa akan mengantarkan Mama pergi ke Jakarta," jawab Papa sambil tersenyum. Sungguh Mama benar-benar merasakan sangat bahagia ketika mendengar jawaban dari sang suami, kali ini Papa mengizinkan istrinya untuk berkunjung ke Jakarta. "Besok papa akan mengantarkan Mama menuju ke Jakarta, Papa tidak tega jika mama berangkat sendirian." Papa tidak ingin jika sampai istrinya berangkat pergi sendirian, karena sang istri yang sangat mudah lelah, tentu akan sangat menghawatirkan jika bepergian sendiri. "Baiklah, Mama akan segera bersiap-siap untuk bisa berangkat menuju ke Jakarta." Sungguh terlihat sangat senang sekali saat hendak pergi ke Jakarta, raut wajah mama terlihat bahagia ketika dirinya bisa menghampiri putrinya yang sedang bekerja di kota. "Jika tidak aku turuti, tentu Mama akan sangat merasa marah," ucap Papa saat melihat istrinya bersiap-siap. "Aku akan membawa beberapa pakaian, karena aku tidak ingin jika hanya sebentar saja di sana," ucap Mama sambil mengemas pakaiannya. Mama mengambil ponselnya untuk mengabari Salsa, Mama tidak ingin jika sampai tiba di sana, namun Salsa tidak ada di apartemen. "Halo Salsa," ucap Mama saat menelepon Salsa. Salsa sangat terkejut sekali ketika mendapat telepon dari mama, tidak biasanya Mama menelepon semalam ini. "Ada apa Ma? Apakah Mama sedang sakit?" Salsa bertanya kepada Mama, karena Salsha takut jika sampai melihat mama dalam keadaan sakit. "Mama tidak sakit sayang, Mama sungguh baik-baik saja." Mama terlihat sangat bahagia ketika menelepon Salsa, namun Salsa masih bingung dengan tujuan mama meneleponnya. "Lalu ada apa Ma? Tidak biasanya Mama menelepon semalam ini." Salsa memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Mama, karena tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu kepada orang tuanya. "Mama dan Papa besok akan pergi ke Jakarta, Mama tidak ingin jika sampai di sana, Mama melihat kamu dengan pria lain." Mama sangat menyukai jika Salsha dekat dengan Andika, berbagai cara Mama lakukan untuk bisa melihat Salsa bersama dengan pria impiannya. "Kenapa harus begitu Ma, Salsa sangat tidak suka jika harus dekat dengan Andika," Salsa dengan nada marah. Tentu saja Salsa menolak ketika Mama meminta dirinya untuk dekat dengan Andika, Salsa sama sekali tidak memiliki perasaan cinta ataupun sayang kepada Andika. "Mama sudah pernah bilang kepadamu, Mama sangat menyukai jika dirimu menikah dengan Andika, Mama berharap jika kalian bisa menjadi sepasang kekasih." Mama mulai kesal ketika melihat anaknya tidak mau mengikuti sarannya, sungguh Mama terlihat sangat memaksakan kehendak. Salsa yang merasa tertekan dengan permintaan Mama Mencoba untuk bisa bersabar. "Aku memang harus bersabar, jika sampai aku tidak mengikuti saran Mama, tentu Mama akan terlihat sangat marah." Salsa sangat memahami bagaimana sikap Mama. "Baiklah, besok Mama akan sampai ke Jakarta, Mama harap kamu tidak membuat Mama kecewa," ucap Mama sambil mematikan ponselnya. Mama terlihat sangat kesal ketika melihat anaknya tidak mau mengikuti semua sarannya. "Kenapa Salsa sangat sulit untuk mendengarkan semua saran yang aku berikan, padahal Andika bukan pria yang jelek, Andika termasuk menjadi pria tampan." Mama merasa sungguh hal yang aneh, menatap wajah anaknya sama sekali tidak mau mengikuti sarannya, tentu membuat Mama terlihat sangat kesal. "Baiklah mungkin aku terlalu keras mengaturnya, Tapi ini semua aku lakukan demi masa depan yang indah," ucap Mama sambil menatap wajahnya di cermin. Awalnya Mama terlihat sangat bahagia ketika hendak pergi ke Jakarta, namun tiba-tiba wajahnya terlihat sangat marah ketika mendengar ucapan dari Salsa. "Baiklah aku tidak akan jadi pergi ke sana, Aku tidak mau jika sampai aku naik darah gara-gara memikirkan Salsa." Mama segera memasukkan pakaian ke dalam lemari. Papa yang melihat Mama tidak jadi berkemas, tentu merasa heran dengan sikap Mama. "Kenapa Mama tidak jadi berkemas?" Papa bertanya sambil mendekati sang istri. "Sungguh aku kecewa ketika mendengar jawaban dari Salsa, padahal aku sudah berusaha untuk mencarikan pendamping yang baik untuknya." Mama menceritakan semua kekesalan yang ada pada dirinya, namun Papa justru merasa sangat kesal dengan sikap mama. "Papa sudah bilang kepada Mama, Papa tidak ingin melihat Mama terlalu bersikap kasar dengan Salsa." Papa justru terlihat membela Salsa, karena tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada anaknya. "Seharusnya Papa membela Mama, Kenapa Bapak jadi ikut dengan keputusan yang Salsa ambil." Sungguh Mama sangat marah ketika mendengar jawaban dari sang suami, melihat sikapnya yang begitu tidak peduli dengan dirinya, membuat mama benar-benar merasa kecewa. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk Salsa, apapun yang menjadi keputusannya." Papa tidak ingin jika Salsa sampai tertekan dengan pernikahannya, mengingat dirinya yang sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan, tentu tidak ingin jika sampai hal yang tidak diinginkan terjadi. "Sungguh mama merasa kecewa, Papa selalu membela Salsa, padahal Salsa akan mengikuti semua permintaan orang tuanya." Papa menggelengkan kepala sambil mendengarkan jawaban dari istrinya. "Kita adalah orang tua kandung Salsa, Jangan sampai karena keinginan kita semata, Salsa merasa tidak bahagia dan tertekan." Papa tidak menginginkan jika sampai Salsa mengalami tekanan batin, menikah bukanlah persoalan yang sangat mudah, namun pernikahan harus dijalani dengan benar-benar ada rasa cinta. "Mama dulu menikah dengan papa tanpa dilandasi dengan cinta, sekarang mama bisa mencintai papa," ucap Mama mencoba membela dirinya, namun Papa justru tersenyum saat mendengar jawaban dari mama. "Sungguh berbeda dengan kita, dahulu tidak ada kecanggihan teknologi yang bisa kita nikmati, hanya berkirim surat kabar untuk bisa berhubungan dengan pasangan kita, berbeda dengan anak zaman sekarang, mereka memiliki beberapa kecanggihan teknologi yang bisa membuat mereka menjadi nyaman." Papa ingin mama bisa berpikir dengan baik, tidak harus memaksakan kehendaknya, Namun karena keputusan Mama sangat bulat, apapun yang mama katakan, Mama ingin mewujudkan semua impian nya. "Sungguh Mama sangat keras kepala, Apakah mama tidak kasihan jika sampai terjadi tekanan batin terhadap Putri kita satu-satunya?" Papa bertanya sambil menatap wajah mama dengan tatapan kesal. "Papa sungguh sangat membuat Mama terlihat sangat kesal, Kenapa Papa tidak pernah mengerti perasaan mama?" Mama bertanya kepada bapak dengan menunjukkan nada yang sangat kesal. "Sudah daripada kita berkelahi, lebih baik kita selesaikan masalah ini dengan baik-baik," ucap Papa mencoba menghindari pertengkarannya. "Papa selalu menghindar disaat mama merasa kesal, Tapi Papa sama sekali tidak mengetahui kondisi Mama saat ini." Papa terdiam tidak mau menjawab kemarahan Mama, karena sangat percuma Jika Papa menjawab semua kekesalan yang Mama miliki. Menatap wajah sang istri yang terlihat cemberut, membuat Papa merasa jika istrinya bersikap seperti anak kecil, sungguh Papa tidak ingin jika sampai Salsa mengalami tekanan batin dan tidak bahagia. "Apapun yang mama katakan, Aku tidak akan pernah membela ucapan mama," ucap Papa sambil meninggalkan pergi Mama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD