Saat Andika sedang mengobrol dengan Reza, Salsa tiba dengan diantar oleh taksi. Saat itu juga Reza segera menatap kearah wajah Salsa.
"Kamu sudah datang?" Reza bertanya kepada Salsa sambil tersenyum menatap wajahnya.
"Iya aku sudah datang, Sungguh Aku sangat ingin mengetahui bagaimana kondisi mobil Bagas," ucap Salsha dengan rasa penuh penasaran.
"Mari aku antarkan ke arah mobil milik Bagas," ucap Reza sambil mengantarkan Salsa menuju ke dekat mobil Bagas.
"Apakah aku bisa untuk turun ke sana?" Salsa sangat ragu saat dirinya akan turun menuju ke tempat kejadian.
"Aku akan membantumu, jangan khawatir Jika kamu akan terjatuh, tentu aku akan selalu menjaga dirimu agar dirimu tidak terjatuh." Reza begitu perhatian dengan Salsa.
Andika terdiam menatap wajah Salsa yang sangat bahagia saat mendapatkan perhatian dari Reza.
"Reza, bantu aku untuk turun kesana, aku takut jika sampai tergelincir." Salsa meminta bantuan kepada Reza untuk bisa segera turun ke tempat mobil Bagas terpelanting.
"Sebenarnya tempat ini sangat indah, tapi belum ada pihak yang mengolah tempat ini, Jadi terlihat sangat menyeramkan.'' Reza segera menggandeng tangan Salsa untuk bisa turun ke bawah.
Andika merasa sangat kesal ketika melihat keduanya begitu sangat dekat, sikap Salsa yang begitu manja tentu membuat Reza semakin bersemangat untuk memberikan perhatiannya.
"Dasar manja," gumam Andika saat menatap wajah Salsa yang begitu mencari perhatian pria yang ada di sampingnya.
"Tidak ada kerjaan lain selain mencari perhatian para pria." Sungguh Andika terlihat sangat kesal melihat sikap Salsa yang begitu manja.
"Jujur Jika aku harus melihatnya bersikap seperti itu, aku akan terlihat sangat benci, apalagi melihat keduanya terlihat sangat mesra." Karena tidak ingin melihat Salsa dengan Reza tampak mesra, Andika segera pergi meninggalkan mereka.
"Reza Aku sangat takut sekali," ucap Salsha sambil berjalan dengan posisi digandeng oleh Reza.
"Benarkah kamu takut? Aku melihat jika kamu sama sekali tidak merasa takut." Reza menatap wajah Salsa sambil tersenyum.
"Reza," ucap Salsha dengan nada sangat malu. Salsa tidak tahu jika Reza sangat memahami kondisi Salsa.
"Tidak usah merasa malu, jujur aku sangat senang jika kamu bersikap manja denganku." Reza terlihat sangat mendukung Salsa untuk bersikap manja dengannya, menatap wajah Salsa membuat Reza semakin jatuh cinta.
"Kamu terlihat sangat cantik, Wajar saja jika banyak pria yang menginginkan untuk menjadi kekasihmu."
Salsa tersenyum saat mendengar ucapan Reza, Reza memang sering mencari tahu keadaan Salsa, berharap jika semua yang terjadi pada Salsa bisa diketahui oleh Reza.
"Dari mana kamu mengetahui semua tentang diriku?" Salsa sangat heran ketika berhadapan dengan Reza, Reza terlihat seperti bukan orang asing yang hadir dalam hidupnya.
"Jika aku mencintai seseorang, tentu aku akan mencari biodata pribadinya, karena aku takut aja sampai melewatkan sesuatu yang sangat penting pada wanita itu."
Teman-teman Reza menatapnya, melihat kedekatan Reza dengan Salsa bukanlah hal yang biasa bagi mereka.
"Pacarmu terlihat sangat cantik," ucap salah satu teman Reza.
Salsa tidak ingin membuat Reza merasa malu, Salsa cukup tersenyum sambil menatap wajah teman-teman Reza.
"Sungguh senyawanya sangat menggoyahkan hati para pria, Wajar saja jika Reza sampai jatuh cinta dengan wanita itu.''
"Jangan kau lihat pacarku lama-lama, aku takut jika sampai kamu jatuh cinta dengan wanita yang ada di sebelah ku." Reza mengakui jika dirinya adalah kekasih Salsa, meskipun dia sama sekali tidak pernah menyatakan perasaannya untuk Salsa.
"Ternyata kamu jago menggoda wanita, Aku tidak percaya dibalik sikapmu yang pemalu, ternyata kamu sungguh romantis.'' teman Reza terus menggoda Reza, Reza tersenyum sambil berjalan menuju ke dekat mobil.
"Mobil ini terlihat sangat rusak sekali, sungguh kejadian itu begitu sangat tragis." Salsa merasa sangat sedih ketika melihat kondisi mobil Bagas.
"Jika melihat kondisi mobil ini, aku tidak sanggup menetaskan air mata ini," ucap Salsa sambil menangis.
Karena ingin mencari kesempatan, Reza segera memeluk Salsa agar Salsa bisa merasa nyaman.
"Yang terpenting saat ini, Bagas masih bisa selamat, jika melihat posisi mobil yang begitu rusak parah, tentu sangat tidak mungkin jika Bagas masih bisa hidup, tapi karena semua ini adalah kuasa Allah, Bagas masih diberikan panjang umur." Reza sangat mendukung agar bisa jauh lebih bersabar.
"Tersenyumlah Salsa, Aku berharap jika kamu bisa tersenyum seperti sedia kala.
"Aku tidak mungkin bisa tersenyum, melihat kejadian ini sungguh membuatku merasa sangat terpukul." Salsa terlihat sangat sedih saat melihat nasib yang telah diderita oleh Bagas.
Andika masih terus merasa kesal ketika melihat Salsha dekat dengan Reza, apalagi melihat keduanya begitu sangat romantis tentang membuat Andika merasa cemburu.
"Daripada aku terus mengingat Salsa, hatiku terasa sangat sakit sekali, lebih baik aku bersiap-siap untuk pergi bersama Jihan." Andika tidak ingin terus memikirkan Salsa, menatap wajah Salsa yang tidak pernah memberikan senyuman kepadanya, tentu membuat Andika merasa dirinya tidak ada artinya di mata Salsa.
"Memang Jihan bukanlah wanita berpendidikan seperti Salsa, Namun sepertinya dia bisa memberikan cinta yang tulus untukku." Tiba-tiba Andika memikirkan tentang pesona Jihan, padahal masih ada Reisa yang bekerja sebagai seorang dokter yang sangat mencintai Andika, namun Andika sama sekali tidak memiliki perasaan untuk Raisa.
"Kenapa tadi aku tidak minta nomor ponsel Jihan, padahal aku sangat membutuhkan dirinya." Andika merasa sangat kesal ketika tidak bisa memiliki nomor Ponsel Jihan.
"Kenapa Reisa menelponku?" Andika sangat terkejut ketika mendapat panggilan dari Reisa.
"Tumben Reisa menelponku, padahal sudah sangat lama sekali dia tidak menghubungi ponselku." Andika merasa ada sesuatu yang aneh ketika Reisa menelponnya.
"Baiklah aku akan segera mengangkat panggilan ini," Andika segera menghidupkan bluetooth yang ada di telinganya.
"Hallo ada apa Reisa?" Andika bertanya dengan nada santai.
"Andika, ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Reisa sambil tersenyum.
"Apa? Saat ini aku sedang berada di dalam mobil, kamu bisa menelpon ku nanti setelah aku sampai." Andika tidak pernah menganggap Reisa sebagai teman dekatnya.
"Kamu kenapa terlalu bersikap kasar denganku? Padahal aku sudah berusaha untuk bisa menjadi teman yang setia," gumam Reisa dengan penuh rasa kekesalan.
Saat menatap wajah Raisa di cermin, Reisa sama sekali tidak merasa jika dirinya jelek, wajah yang sangat cantik tidak mampu membuat Andika jatuh cinta kepadanya.
"Kenapa aku terlihat sangat bodoh sekali, Padahal aku mengetahui jika aku jauh lebih cantik daripada Salsa, Kenapa aku tidak pernah bisa mengalahkan Salsa," gumam Reisa.
Memang Salsa sangat pandai mencari perhatian pria tampan yang ada disekelilingnya, setiap ada pria yang datang menghampiri Salsa, pasti akan ada perasaan cinta.
"Mungkin karena Salsa sangat genit, sehingga banyak pria yang jatuh cinta kepadanya, jujur aku sangat tidak menyukai sikap Salsa." Reisa terlihat sangat benci Ketika Harus bersaing dengan Salsa, karena selama ini dirinya tidak pernah bisa mendapatkan perhatian dari pria yang dicintainya.
"Berulang kali aku mencoba untuk bisa mendapatkan perhatian Andika, namun Andika selalu bersikap acuh, sungguh membuat hati ini terasa sakit."
Karena tidak ingin memikirkan kembali masalahnya, Reisa segera pergi beli catatan rumah sakit.
"Aku harus segera pulang, jika aku terus berada disini, tentu aku akan merasa sangat sakit saat melihat Andika." Reisa tidak ingin menatap wajah Andika, karena ulah Andika hati Reisa terasa sangat sakit sekali.
Reisa segera pergi menuju ke sebuah diskotik, tak lupa Raisa mengenakan topeng agar tidak diketahui identitasnya.
"Aku harus mengenakan pakaian yang seksi dan topeng, biar tidak ada yang mengetahui siapa diriku sebenarnya.'' Reisa terlihat sangat senang jika dirinya bisa bersenang-senang dengan beberapa pria.
"Memang aku harus meluangkan waktuku untuk bisa bersenang-senang, jika aku terus menerus berada di rumah, tentu aku akan merasa sedih."
Mobil Raisa memutar arah menuju ke salah satu diskotik yang sangat ramai, di situ biasa di jadikan tempat untuk bersenang-senang.
"Aku akan menelepon Cindy, Aku tidak mau nikah datang sendiri." Reisa tidak ingin datang sendirian, karena akan merasa malu jika berhadapan dengan p****************g.
"Cindy, Apakah kamu sudah berangkat ke diskotik?" Reisa bertanya kepada sahabatnya.
"Belum Aku masih berada di rumah," jawab Cindy dengan sangat bingung.
"Tumben sekali Raisa meneleponku, padahal sudah beberapa hari ini ia sama sekali tidak menghubungiku." Melihat sikap Reisa, tentu Cindy sangat memahami bagaimana kondisi perasaannya.
"Pasti Raisa sedang mengalami masalah, aku yakin kita Itu semua membuat dia ingin pergi ke diskotik."
"Meskipun pekerjaan Salsa sangat banyak, Salsa selalu bersikap sangat cekatan dalam menghadapi sebuah masalah, karena Salsa sangat ingin bisa bekerja dengan baik.
"Aku harus lebih bersemangat, orang yang pernah menyayangiku, ternyata saat ini jauh lebih membutuhkan pertolongan orang." Salsa sangat berharap jika Bagas akan baik-baik saja.
"Ayo, kita kembali saja ke rumah sakit, aku akan mengantarkan kamu pulang." Reza tidak tega saat akan membiarkan Salsa pulang sendirian.
"Baiklah," jawab Salsa.
Salsa berjalan menuju ke mobil bersama dengan Reza, mereka segera menuju kembali ke rumah sakit untuk mengecek ke adaan pasien.
"Bagaimana kondisi Bagas saat ini?"
"Tadi sudah sempat agak membaik, tapi aku ada sedikit ragu saat melihatnya belum juga siuman."
Salsa tiba-tiba merasa sangat pesimis, padahal biasanya dia terlihat sangat optimis dalam menjalankan sesuatu.
"Aku berharap kamu tidak terlalu bersedih, aku yakin pasti Bagas akan sembuh seperti sedia kala." Reza tidak bersikap cemburu meskipun dirinya memiliki perasaan kepada Salsa, Reza sangat ingin memberikan kenyamanan kepada Salsa.
"Aku sangat berterima kasih, kamu selalu bisa membuatku merasa tenang dan nyaman." Salsa mulai bisa merasakan kenyamanan saat dirinya dekat dengan Reza.
"Apakah kamu sudah makan?" Reza melihat tatapan Salsa yang terlihat sangat pucat.
"Belum, aku tapi tidak sempat untuk menyantap makanan."
Benar seperti dugaan Reza, Salsa karena sibuk belum sempat menyantap makanan.
"Kenapa kepalaku sangat pusing sekali? Tidak biasanya aku merasakan pusing seperti ini." Salsa merasakan kepalanya yang begitu sangat pusing, membuat dirinya semakin tidak nyaman.
"Coba minum dulu," ucap Reza sambil memberikan minuman untuk Salsa.
Salsa segera meneguk minumannya, namun karena pusing yang tidak tertahan Salsa sangat pucat sekali.
"Tahan Sa, aku akan segera mengantarkan mu menuju ke rumah sakit,'' ucap Reza sangat panik.
Reza segera menambah kecepatan mobilnya, takut jika sampai melihat Salsa semakin sakit.
"Aku nggak papa kok, kamu tidak usah khawatir," ucap Salsa sambil menatap wajah Reza.
"Kamu terlihat sangat pucat," ucap Reza.
"Iya, meskipun aku pucat, tapi aku bisa mengecek kondisi ku sendiri, aku ingin beristirahat di apartemen saja." Salsa meminta jika dirinya untuk di antarkan pulang.
Mobil Reza segera memutar arah menuju ke apartemen Salsa, sebenarnya Reza sangat tidak tega saat melihat ada wanita yang sakit.
"Suhu badanmu tinggi sekali Sa," ucap Reza saat memegang kening Salsa.
"Aku nggak apa-apa," jawab Salsa.
Salsa tidak ingin membuat pria yang disampingnya merasa sangat khawatir.
"Aku akan mengompres mu saat nanti kita sudah sampai," ucap Reza.
Berharap jika Wanita disampingnya akan baik-baik saja. Reza mencoba untuk bisa memberikan perhatian yang terbaik.
"Sungguh kamu wanita yang sangat mempesona, aku tidak bisa membiarkan kamu sakit," ucap Reza saat mobilnya berhenti di area parkir.
"Aku berharap kamu tidak terlalu khawatir dengan ke adaan ku."
Senyuman Salsa terlihat sangat manis, membuat Reza semakin jatuh cinta.