Rainer pun menghampiri Andika ia pun memergoki mereka sedang berciuman.
"Ehem ehem," keduanya sangat kaget dan Andika pun pergi menuju kamar namun handuk yang ia kenakan terjatuh dan Salsa melihat jelas apa yang ada dalam handuk Andika. Andika pun merasa sangat malu. Dan pergi ke kamar. Rainer pun memarahi Salsa.
"Sa kenapa sih sa kamu masih pagi pagi sudah buat kakak malu, Jaga sikap Sa," ucap Reiner. Reiner sangat kesal melihat tingkah sepupunya.
Salsa hanya terdiam merasa bersalah karena kakaknya memarahinya. Ia pun turun menuju mobilnya. Andika pun menghampiri Salsa dan Salsa pun hanya terdiam, sambil memainkan ponselnya. Andika beberapa kali melihat Salsa namun Salsa terdiam sesampai di Rumah Sakit Andika pun membuatkan Salsa roti tawar berisikan selai dan s**u. Namun Salsa menolak dan hanya terdiam. Andika pun menyadari kalau ia baru saja dimarahi kakaknya Andika pun menghampiri Rainer.
"Tolong Rainer jangan kamu memarahi Salsa, kasian dia.aku yang salah tapi kamu malah memarahinya."
Andika menjelaskan ke Reiner siapa yang salah. Reiner pun hanya terdiam. Ia pun mengajak Andika untuk pergi mengecek pasien.
"bisa kita bahas nanti, kita bisa memulai kerja dulu." Andika pun pergi menuju kamar pasien dan tidak menjawab Rainer.
Andika menatap wajah Salsa dengan senyuman sampai pasien pun menggoda mereka.
"Dokter cocok sekali kalau menikah dengan Dokter ini," ucap pasien. Andika yang mendengar pun tersenyum dan menjawab.
"Sebentar lagi pak, doa kan saja segera menikah," jawab Andika.
Salsa pun tersenyum dan Rainer pun mulai merestui hubungan sepupunya. Ia yang sudah mengenal Andika pun sudah memahami sifat Andika dengan baik. Ia pun mencoba untuk menjadi kakak yang baik untuk Salsa.
Tiba tiba Salsa pingsan. Andika lalu membawa Salsha ke ruangannya. Ia mengecek Salsa ternyata salsa demam tinggi dan tekanan darahnya rendah.
Andika sangat khawatir melihat Salsa demam, namun ia senang bisa merawat Salsa, ia berharap kalau Salsa bisa mencintainya mengingat umurnya yang sudah tak muda lagi ia ingin segera bisa memiliki pasangan yang cocok.
Andika sangat panik melihat Salsa yang sedang demam. Andika memberikan salsa obat penurun panas dan mengompres keningnya.
"Kenapa kamu tiba tiba sakit Sa, aku sangat mengkhawatirkanmu," ucap Andika yang melihat Salsa sedang terbaring di ruangannya. Andika mencoba untuk membuat Salsa nyaman dan cepat sembuh.
"Aku baik baik saja kok aku hanya merasa lelah," jawab Salsa dengan suara lemas dan wajah yang sangat pucat. Andika menatap wajah Salsa dan ia tersenyum melihat Salsa.
"Aku pergi dulu ya Sa, aku harus mengecek pasien pasien yang lain," ucap Andika.
"iya, maaf aku nggak bisa nemenin," Andika pergi untuk mengecek kondisi pasienya, ia bersama Rainer keluar dari ruangannya menuju ruangan Pasien. Setelah mengecek pasien Andika pergi ke ruangannya dan mengajak Salsa pulang.
"Sa ayo pulang," ajak Andika. Rainer yang melihat mereka pulang mengikutinya dari belakang. Andika membawa Salsha ke kamarnya Salsa pun tidur dengan nyenyak. Rainer sangat marah melihat sepupunya berada di kamar Andika. Ia lalu membuka pintu apartemen Andika matanya merah Ia sudah sangat kecewa melihat Andika yang semena-mena pada Salsa, kemarahannya pun tak bisa terhindari seperti bom mau meletus. Rainer masuk kamar Andika ia melihat Andika sedang mengompres Salsa.
"loh Reiner kamu pulang," tanya Andika dengan nada rendah. namun Reiner sangat marah melihat Andika membawa Salsha ke kamarnya.
"Andika apa apaan kamu ini, kenapa kamu membawa Salsha ke kamarmu, apa kamu sudah gila!" Reiner sangat marah ketika melihat Salsa berada di ranjang kamar Andika, Salsa yang mendengar kakaknya marah mencoba mendinginkan masalah.
"udah kak, kakak jangan marah, Andika nggak ngapa ngapain aku kok," Salsa menasehati Reiner mencoba menenangkan kemarahan Reiner, Salsa tidak ingin persahabatan mereka renggang.
"ayo Sa, kita pulang" Reiner menyeret tangan Salsha dan mengajak Salsa pulang, namun Andika tidak membiarkan Salsa pergi begitu saja. Andika coba menjelaskan kesalah pahaman diantara mereka.
"tunggu!" Andika memberhentikan langkah Reiner, Reiner pun menengok ke arah Andika.
"ada apa lagi Ka, belum puas kamu membuatku malu!" Tegas Reiner, dengan suara sedikit kesal melihat Andika.
"Aku hanya merawat Salsa, kamu jangan salah paham, bahkan kalau kau memintaku tanggung jawab aku pasti tanggung jawab!" Andika mencoba menjelaskan kepada Reiner apa yang terjadi Reiner menarik nafas panjang, ia meninggalkan Salsa dan Andika. Salsa kemudian berpamitan pulang.
"Kak aku kembali kekamarku iya kak!" Salsa meminta izin Andika untuk kembali ke kamarnya, Andika yang tak tega melihat Salsa kembali ke kamarnya. Ia memutuskan untuk mengantarkan Salsa.
"aku anterin Sa, pasti kamu di kamar sendirian," Salsa berjalan menuju kamarnya ia sangat pucat dan tubuhnya demam. Salsa menelentangkan tubuhnya di ranjang, Andika mengambil kompres untuk mengompres kening Salsa.
"Aku kompres iya Sa agar suhu badanmu turun" Reiner sangat kesal melihat kedekatan mereka ia memutuskan pergi ke cafe sesampai di cafe ia memesan minuman.
"mbak pesen minumnya satu iya," Reiner memesan minuman dan ia duduk di kursi, ia mengambil ponselnya dan membuka ponselnya.
"chat dari Raisa!" ia sangat terkejut mendapat chat dari mantan kekasihnya, meskipun mereka sudah lama putus Reiner masih mencintai Reisa.
"bagaimana kabarmu "Tanya Raisa dalam sebuah chat. Reiner tak berpikir panjang ia langsung membalasnya.
"aku baik, kamu bagaimana ?" tanya Reiner. Reiner sangat mencintai Reisa mereka putus gara gara Reisa pergi kuliah di luar negeri, sekarang Reisa sudah pulang, kuliahnya sudah selesai. Ia sangat ingin bertemu dengan Reisa ia tak ingin Reisa pergi meninggalkanmu kembali.
"aku baik, bisa kita bertemu " tanya Reisa, Reisa sangat ingin bertemu dengan Reiner. Ia sangat merindukan Reiner.
"boleh, aku sedang di cafe, tak jauh dari rumah ibumu!" jawab Reiner. Reisa mengganti pakaiannya ia mengenakan dres hitam, dan sedikit memoles wajahnya ia mengenakan sepatu. Ia segera menuju kafe, Reiner menunggu balasan chat dari Reisa ia sangat menantikan kebersamaan yang indah, ia ingin bisa memulai hubungannya kembali. Ia sudah duduk sekitar 30 menit ia memutuskan untuk pulang saat ia akan keluar dari pintu tak sengaja ada seorang wanita cantik menabraknya.
"bruk"
Reiner meraih tubuh wanita itu supaya tidak terjatuh, wanita itu memandangi wajah Reiner, ia sangat mengenal pria yang memeluknya.
"Reiner!" panggil Reisa. Reiner sangat terkejut melihat wanita yang di depannya mengenalnya. Ia sama sekali tidak mengenal wanita itu.
"siapa?" tanya Reiner yang merasa sangat asing melihat wajahnya. Ia seperti mengenal wajahnya namun dia lupa siapa wanita itu.
"aku Reisa!" jawab Reisa dengan malu malu, Reiner terkejut dengan jawabanya ia melepaskan Reisa, Reiner mengingat masa lalunya. Ia sering menghabiskan waktu bersama Raisa. Reisa adalah cinta pertama Reiner. Mereka akhirnya pergi ke dalam cafe.
"Oh Reisa, Sudah lama sekali kita tidak bertemu ayo masuk!" Reiner mengajak Reisa masuk ia sangat senang melihat Reisa yang sangat cantik.
"Boleh, Aku juga sangat ingin bersamamu!" Reisa meragukan pakaiannya ia berjalan menuju kursi. Reiner memesan makanan mereka pun makan.
Andika bersama Salsa, Salsa masih tak enak badan Ia masih demam, Andika mengompres kening Salsa.
"Belum juga turun panasnya?" Andika pergi ke dapur ia membuatkan Salsa bubur. Ia memasak bubur dan menyuapinya Salsa.
"Sa, ayo makan aku suapi!" Salsa menolak untuk makan ia sangat mual dan tak nafsu makan.
"Nggak, Aku Nggak mau makan, Aku mual!" Rengek Salsa tak mau makan, Andika mencoba untuk menggoda Salsa.
"Wah kalau kamu mual, Jangan jangan kamu hamil. Bentar lagi aku jadi Ayah dong!" Andika menggoda Salsa, Ia sangat senang melihat Salsa marah.
"Ngarang kamu, Keluar keluar!" Salsa mengusir Andika, Namun Andika tak menanggapi kemarahan Salsa justru ia memeluk Salsha dengan mesra.
"Biarkan aku bersamamu, Apakah kamu belum bisa merasakan kasih sayangku?"
Andika menggoda Salsa, Salsa sangat malu ia memutuskan untuk diam dan menutup mata. Andika mencium kening Salsa.
"Ah lepasan aku!" Salsa mencoba untuk melepaskan pelukan Andika.
"Benar-benar ya Dokter ini, Emang aku dikira apa sih" Salsa Menggerutu kesal melihat perlakuan Andika. Semakin hari Andika semakin berani mencium Salsa, Salsa merasa ia tidak dihargai Ia mencoba untuk melepaskan pelukan Andika, Andika pun melepaskan pelukannya.
Plak,,,
Salsa menampar pipi Andika, Andika sangat malu melihat perlakuan Salsa ia pun memutuskan untuk pergi keluar dari kamar Salsa, Ia benar benar kecewa melihat Salsa bertindak kasar.