“Lu awas ya kalau nyentuh gue, gue laporin lu perbuatan tidak menyenangkan!” ancam laura agar Samuel angkat tangan dari badannya. Samuel mundur teratur. Laura sibuk mengutak-atik panel yang ada di dalam ruang kemudi truk. Suara bising kompresor truk yang serupa dengusan kuda nil mau lahiran itu semakin keras. Laura masih saja nekat memencet tombol-tombol. Dan ulahnya menjadikan mesin semakin tidak terkendali.
Seketika mobil truk bergetar makin keras. Laura yang kebingungan ditarik oleh Samuel untuk turun. Belum sempat mereka melangkah jauh, terdengar bunyi letusan dari truk.
Laura berteriak seolah terempas dari langit ke tujuh. “Tidaaaak!”
Sontak Samuel mendekap tubuh Laura ke dadanya. Melindunginya dari mara bahaya.
Duaarrrr!!
Sebuah ledakan maha epic yang menyebabkan tinja berhamburan layaknya pesta kembang api. Cairan dengan massa padat lembek berwarna dan beraroma bertaburan di udara lalu mendarat mengotori berbagai penjuru tempat.
Laura merasa itulah akhir dari segalanya. Gara-gara Kang Tinja Sialan yang terlalu memesona hingga menyedot hatinya. Dia memejamkan mata rapat-rapat. Enggan menghadapi kenyataan dirinya sekrang bermandikan kurasan tangki tinja umat seantero kota.
Aroma semerbak yang membuat orang mendadak menutup hidung tercium jelas. Bagai gerak slow motion, setiap massa ampas tubuh manusia berjatuhan dengan bunyi 'ketepuk, ketepuk' membuat siapa pun yang menonton termangap takjub. Orang-orang yang kebetulan lewat tanpa menunggu lama segera mengabadikan golden moment yang belum tentu terjadi seabad sekali. Hujan Tinja. Layaknya menyaksikan sebuah ritual sakral nan langka, mereka sangat kegirangan.
Tanpa pasangan yang berpelukan itu sadari, seorang wartawan akun gosip sudah membidikkan kameranya untuk mengabadikan Laura dan Samuel di bawah hujan tinja itu. Jika India memiliki adegan ikoniknya yaitu berlarian di bawah hujan dan menyanyi ala-ala romantis, maka tidak untuk pasangan itu. Berpelukan di bawah hujan tinja yang wanginya mampu membuat orang lain semamput.
Apa yang baru saja terjadi? Batin Laura. Dia bisa mendengar suara detak jantung Samuel bersahutan dengan debaran dalam dadanya. Aroma tinja mendobrak kesadarannya. Sejak kapan dia membiarkan lelaki songong ini memegangnya?
“Eh, apaan sih? Lepas!” Laura melepaskan pelukan Samuel dengan kasar. Keduanya bertatapan kikuk dan tidak sempat lagi memedulikan tubuh mereka yang berlumuran tinja.
“Eh, maaf, mbak.” Samuel juga nampaknya merasa sungkan karena memeluk wanita yang baru dikenalnya.
Laura menggerutu kesal. “Ah, sial! Udah hape gak ketemu, badan penuh tai. Gue gak mau tahu. Pokoknya hape gue, gue tagih lagi besok. Sekarang gue mau pulang. Sial, bau banget lagi!” Ia segera beranjak meninggalkan Samuel dan genangan tinjanya untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
“Habis ini mau gue jual ke tukang loak nih mobil! Sial amat bau gini! Awas aja tuh Kang Sedot WC!” gerutuan Laura seolah tanpa henti. Ia benar-benar kesal. Seorang model papan atas sepertinya harus bermandikan tinja? Astaga! Demi Dewi Fortuna yang sedang tidak berpihak padanya karena sedang cuti. Laura ingin membunuh laki-laki tadi.
*
Hingga pagi hari, Lola masih mengumandangkan sederet ocehan untuk bos sekaligus sahabatnya itu. Bahkan tukang laundry pun menolak untuk mencucikan pakaian Laura sebab baunya sungguh mampu merusak saraf olfaktori orang lain. Para pegawai laundry khawatir jika mereka masih mencucikan pakaian Laura, pakaian lain akan ikut mendapat aroma parfum pengundang lalat itu.
“Kamu gak capek, Lol? Dari kemarin aku perhatiin kayaknya tuh mulut gak ada tanda-tanda buat habis daya. Aku yang dengerin aja capek, loh.” Laura berseloroh sambil duduk santai berselonjor di sofa membaca majalah, yang baru disentuhnya setelah sekian lama karena tidak ada ponsel di tangan.
Lola langsung memandang Laura sinis. Bisa dibilang ia asisten yang sangat berani pada bosnya.
“Gimana mau berhenti? Gak ada yang mau nyuciin baju kamu, Lau,” tukas Lola. “Lagian kenapa gak lu bung aja sih baju itu, Lau? Baju itu sekarang senjata mematikan, tau gak? Gini ‘kan ujung-ujungnya aku juga yang nyuci. Lu tahu? Aku muntah karena baunya yang benar-benar menyiksa itu sampe tiga kali loh! Bayangkan! Tiga kali aku muntah sampai rasanya kaya orang hamil saking lemesnya. Mana aku baru aja makan semur jengkol semalem itu. Huaaaa... Semur jengkolku yang berharga ….” Tiba-tiba Lola sok mendramatisir keadaan. Ia membuat gerakan seolah menangis.
Bukannya Laura tidak tahu akan kecintaan Lola pada semur jengkol, tapi Laura merasa Lola sungguh cengeng.
“Sudahlah, Lola. Jangan lebay. Nanti aku ganti semur jengkolmu itu tiga kali lipat. Sekarang mumpung masih pagi, aku mau menikmati udara pagi sambil ngeliatin anak kos. Udah, kamu bikinin aku sarapan aja. Buatin nasi goreng super pedes pake telur mata sapi setengah matang satu, sama yang matang gosong pinggirnya satu. Bentuk kaya mata gitu. Udah buruan aku tunggu!” perintah Laura.
Lola yang masih setengah percaya segera menjalankan perintah bosnya dengan hati riang. Selama ia ikut Laura, baru kali ini gadis itu mengizinkannya makan jengkol. Biasanya sampai Lola menangis guling-guling juga gak bakal dibelikan sepotong pun. Bahkan, untuk mengizinkan memakannya di dalam rumah pun tidak.
Sementara Laura asyik menatapi para penghuni kosnya dari jendela lantai dua kamarnya. Tiba-tiba ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang saat mengingat pelukan di bawah siraman tinja kemarin. Ia seolah merasa kehilangan ketika melepaskan pelukan hangat yang hanya terjadi beberapa menit itu.
“Ish, mikirin apa sih aku? Gila, dasar gila! Bisa-bisanya bayangan tukang sedot WC itu kembali terlintas! Tapi memang dia ganteng banget. Badannya itulah, unch banget. Senderable banget! Kalo nikah sama dia kayanya bakal memperbaiki keturunan deh. Eh ngaco. ‘Kan aku udah cantik. Ngapain harus memperbaiki keturunan? Ih, apaan sih? Amit-amit jabang bayi mikirnya kek gitu.”
Laura menampar pipi kanan dan kirinya bergantian. Pikirannya benar-benar kacau. Bayang-bayang itu sungguh menyiksa jantung Laura yang tak berhenti berdegup kencang. Keracunan tinja kayaknya.
“Aaaaa!!! Lama-lama aku bisa gila!” pekiknya agak keras. Tanpa sengaja, pandangannya menuju pada seorang laki-laki dengan jas necis ala orang kantoran yang sedang mengetuk pintu salah satu kamar kos. Laki-laki itu membawa kantong karton berlogo mall terkenal. Laura merasa familiar dengan punggung laki-laki itu.
Tak lama kemudian, seorang gadis yang ia ketahui bernama Claudia Dreuno keluar dari kamar. Perempuan itu tersenyum bahagia. Mereka berdua berpelukan sebentar. Tak lama setelah melepas pelukan, laki-laki itu memberikan kantong karton berisi minuman kesukaan Claudia. Entah kenapa Laura sangat penasaran. Ia terus menanti hingga si laki-laki itu menoleh ke sekitar sebentar sehingga wajahnya kelihatan. Dugaan Laura benar. Laki-laki itu si Kang Sedot WC.
“Woy, Kang Sedot WC! Balikin hape gue!” teriakan spontan itu keluar dari mulut Laura.
Samuel tampak menoleh padanya, lalu berpaling ke arah lain pura-pura tidak mendengar teriakan Laura. Claudia mendongak memandang ke arah ibu kosannya itu.
“Gak usah pura-pura budeg!” teriak Laura lagi. “Kamu, siapa namanya? Ah iya, Samuel si Kang Sedot WC! Mana hape gue? Balikin cepat! Tanggung jawab lu udah bikin gue bernoda. Akhirnya gue harus mandi ‘kan? Sampai 12 kali, tau gak? Pokoknya harus tanggung jawab!”
Entah kenapa kalimat itu terlalu ambigu untuk siapa pun yang mendengar. Bahkan Claudia sendiri terprovokasi. Mulutnya ternganga sambil melotot menatap Samuel. Caludia merasa dibohongi oleh Samuel. Samuel tukang sedot WC? Samuel menodai pemilik kosnya?
“Jadi, benar pekerjaanmu tukang sedot WC, Sam?” tanya Claudia tidak percaya dan wajah jijik. “Gila, lu bilang lu CEO dan gue percaya aja. Ternyata lu CEO Sedot WC? Ih, jorok bener sih kerjaan lo?”
Melihat ekspresi Claudia, Samuel kebingungan harus menjawab apa, sebab memang itulah kenyataannya.
Claudia merasa ingin muntah. Dibukanya kantong karton tadi dan Caludia mengambil jus alpukat cokelat kesukaannya untuk disiram ke muka Samuel. Laki-laki itu gelagapan terkena cairan kental yang mengalir di wajahnya.
Claudia tidak perlu basa-basi lagi. Dia membentak Samuel. “Mulai hari ini kita putus! Sana! Tanggung jawab sama Bu Laura!” Caludia langsung masuk ke kamar kosnya dan membanting pintu di depan wajah Samuel.
Dari atas, Laura melihat kejadian itu dan dia tertawa senang. Samuel memelesatkan pandangan tajam ke arahnya. Laura tidak tahu apa salahnya. Dia meneriaki Samuel. “Awas pintunya rusak kamu yang ganti rugi,” ucap Laura sambil terkekeh.
Laura menjulurkan lidahnya ke arah Samuel yang menatapnya garang. Laura segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup jendela sambil tertawa terbahak-bahak. Meninggalkan Samuel yang berlumuran jus alpukat.
Lola baru masuk ke kamar Laura dan bingung melihat Laura kegirangan sendiri. Aneh. Mengapa Laura tertawa sendiri seperti orang kerasukan. “Ada apa, Lau? Kenapa ketawa sendiri? Kayak orang gila lu.”
Laura mendarat setengah berbaring di ranjangnya. “Ya. Gue memang lagi gila,” jawabnya sambil cekikikan. “Anjir! Lucu banget sih, disiram sama jus kaya gitu! Hahaha. Eh ya udahlah. Capek ngetawain penderitaan orang lain. Oh iya, nasi gorengnya udah matang?”
“Udah di meja. Sesuai pesanan. Buruan turun terus makan. Tapi level pedesnya aku kurangin. Aku males harus manggil tukang sedot WC lagi. Ribet.”
“Lah. Makan gak pedes itu ibarat makan nasi gak pake sambel. Mana enak. Bon cabenya masih ada, kan? Aku pake bon cabe aja.” Laura bangkit dari kasurnya sambil terkekeh.
“Ya atau tidak sama sekali?” ancam Lola sambil berkacak pinggang. “Kalau lu sakit perut lagi, sumpah, gue kagak bakalan bantuin lu lagi kalau kenapa-kenapa.”
Laura kalah. Gadis itu akhirnya mengiyakan keinginan Lola. “Yang bos itu aku atau kamu sih?” gerutunya. Laura lalu ke ruang makan untuk menikmati nasi gorengnya.
Sementara di luar, Samuel sedang membersihkan sisa-sisa jus alpukat di wajahnya.
“Sial. Warnanya hijau. Jadi keinget tai … Untung ini wanginya enak. Coba kalo kaya telur busuk. Bisa-bisa aku flashback sama adegan mandi tai,” gumamnya sambil mengelap muka dengan tisu basah. Dia pun segera meninggalkan kosan Claudia dengan pundak tertunduk lesu. Ah, sial, lagi-lagi dia harus putus gara-gara pekerjaannya. Emang jadi CEO perusahaan sedot WC itu memalukan ya?