Chapter 9

1010 Words
Gila! Sepertinya bos sekaligus sahabatnya ini sudah gila, pikir Lola seraya menghela dan mengembuskan napasnya yang kasar. Bagaimana bisa perempuan di hadapannya ini mengatakan bahwa ia akan ingin menjadi model iklan perusahaan tinja? Iya, TIN-JA?! What the...?! Lola benar-benar stress menghadapi tingkah Laura yang makin hari makin tidak bisa ditebak dan gila. "Lo gila?! Hah?!" Laura mendengkus sebal mendengar pertanyaan Lola barusan. Untung saja perempuan dihadapannya ini adalah asisten sekaligus sahabatnya. Kalau tidak, sudah dipastikan Laura akan naik pitam karena dikatai gila. "Ya enggak lah, Lol! Kalau gue gila, mana mau lo jadi asisten gue kan?" Tetap saja Lola tak habis pikir dengan apa yang ada di kepala perempuan di hadapannya ini. Andai bisa, ia sudah meminta dokter bedah untuk membedah kepala Laura saat ini juga. "Terus?! Maksud lo apa, mau jadi model iklan perusahaan tinja? Jangan-jangan lo beneran udah jatuh cinta sama si CEO tinja itu, iya?" cecar Lola dengan menggebu-gebu. Laura, si korban yang dituduh oleh Lola itu, kini hanya diam untuk beberapa saat. Ragu, antara ia yang kemungkinan besar memang sudah jatuh cinta pada Samuel atau ia hanya ingin mendongkrak kembali popularitasnya sebagai model iklan melalui perusahaan Samuel. Selama beberapa detik ia sibuk dengan pikirannya sendiri sampai suara Lola membuyarkannya begitu saja. "Please deh Lau! Lo itu hidup di dunia nyata, bukan dunia telenovela atau drama korea yang semula benci jadi cinta. Klise sekali!" Laura mendengkus sebal. Akan tetapi, ada secuil rasa di sudut hatinya yang seolah membenarkan perkataan Lola barusan.  Benar, Laura awalnya membenci Samuel. Bagaimana tidak, kedatangan Samuel di dalam hidupnya semula membuat masalah yang ia hadapi semakin runyam. Andai saja lelaki itu tidak menolak permintaannya untuk mencarikan ponsel berharganya di dalam truk mobil tinjanya itu, bukankah ledakan pada mobil tinja dapat dihindari? pikir perempuan itu egois. Akan tetapi, Laura juga bersalah dan mempunyai andil yang besar terhadap kejadian naas yang menimpa hubungan Samuel bahkan mantan pacar lelaki itu. Berkat Laura lelaki itu putus dari pacarnya. Tak hanya itu, sang pacar sekaligus penghuni kosan miliknya juga memilih melenyapkan nyawanya karena kalimat yang keluar dari mulut Laura waktu itu. “Woy, Tukang Sedot WC!” Ya, semua kejadian naas dan mengerikan menimpa Samuel berawal dari kalimat pembawa petaka yang diucapkan oleh perempuan gila dan menyebalkan seperti Laura. Tidak, sejak awal seharusnya Samuel tidak seharusnya menerima panggilan dari perempuan pembawa petaka itu.  "Lo jangan kebanyakan mikir, kalau memang gak ada pikiran! Ini sudah jam berapa, lihat!" Lola benar-benar terlihat kesal sekesal-kesalnya. Kalimat yang ia lontarkan bahkan semakin pedas terdengar di telinga Laura. "Ok! Jadi gini, kenapa gue mau jadi model iklannya perusahaan Samuel? Itu karena gue berpikir kalau gue harus mendongkrak popularitas gue yang samakin hari makin pudar. Coba lo pikir, kalau gue cuma duduk diam adem-ayem di rumah, setelah semua kontrak kerjasama diputuskan secara sepihak, gimana gue bisa dapet duit? Gimana gue bisa gaji lo, iya kan?" jelas Laura seraya mengerakkan kedua tangannya seolah sedang memaparkan presentasi di depan audience. "Ok! Cukup masuk akal, tapiii... yang bikin gue belom bisa nerima itu, apakah dengan lo jadi model iklan perusahaannya si Samuel itu akan menghasilkan uang? Maksud gue, apa dengan lo jadi model iklan perusahaan mereka, lantas jasa dari perusahaan mereka bakalan laku laris manis gitu?" tanya Lola dengan penuh penekanan di kalimat 'laku laris manis'. Jangankan memikirkan laris manis ataupun laku, masyarakat yang dikenal dengan sebutan netizen dan nitijah saat ini bahkan masih jijik dan mual tiap kali melihat wajah Laura. Dapat dipastikan bahwa hampir semua orang yang menyaksikan kejadian hujan tinja itu, akan menolak mentah-mentah apapun yang berhubungan dengan tinja dan tokoh yang ada di dalam adegan hujan tinja. Siapa lagi kalau bukan si Laura, tokoh perempuan yang dilindungi oleh Samuel dari hujan tinja yang maha dahsyat itu. "Justru itu! Saat ini hal-hal yang berhubungan dengan tinja sedang ramai dibicarakan di media sosial maupun media cetak. Jadi, bukan tidak mungkin, orang-orang akan tertarik jika ada terobosan baru dalam dunia pertinjaan--" penjelasan Laura terpotong begitu saja saat Lola dengan tak sabarannya tiba-tiba menyela penjelasan sang bos. "Terobosan dari Hongkong! Memangnya apa yang bikin orang-orang bakalan tertarik, Hah?" Bisa-bisa Lola benar-benar stres dan diharuskan konsultasi dengan psikiater jika lama-lama mendengarkan ide gila perempuan yang ada di hadapannya ini. "Lo denger dulu dong, kutil onta! Jangan motong-motong seenaknya gitu. Gini! Pertama, orang-orang akan tertarik saat melihat poster iklan yang menampilkan wajah gue dan juga wajah perusahaan si Samuel. Karena mereka akan berpikir kalau gue sama Samuel itu memiliki hubungan yang rahasia. Netizen sama nitijah zaman now 'kan banyak tuh yang suka sama skandal. Nah kita bikin aja seolah-olah ada skandal cinta atau apalah yang berhubungan sama gue dan Samuel.” “Kedua, jarang-jarang dan mungkin belum pernah ada, yang namanya poster iklan perusahaan sedot WC yang menampilkan seorang model se-premium dan sekelas gue! Boro-boro mau pake model iklan, dimana-mana perusahaan sedot WC itu paling banter pasang banner atau stiker tempel yang berisi alamat dan nomor telepon mereka. Itu doang! Orang-orang kan pada bosen bacanya," Lagi-lagi, saat Laura belum selesai menjelaskan, namun Lola si asisten durhaka itu sudah memotongnya. Membuat Laura mengembang-kempiskan dadanya dan dengan gigi yang berbunyi gemeretak.  "It's a good idea! Lalu?" Ingin sekali Laura berteriak keras - keras di samping telinga Lola, "MAKANYA, LO DENGERIN GUE SELESAI NGOMONG DULU!!! BARU MULUT LO MANGAP! BUSI MOTORRR!!!!" "Makanya lo dengerin dulu gue ngomong sampe habis!" balas Laura dengan geram. Lola hanya nyengir kuda, membuat Laura ingin sekali membungkus wajah asistennya itu dengan plastik wrap. "Lalu, yang ketiga. Kita gak cuma bisa narik pembeli jasa perusahaan si Samuel, tapi kita juga bisa bikin perusahaan-perusahaan lain yang semula membatalkan atau memutuskan kontrak dengan gue itu nyesal. Mereka bakalan ngajak gue buat kerja sama lagi. Dan gue, gue bakalan sok-sokan ngotot nolak kerjasama mereka, kecuali dengan bayaran yang lebih menggiurkan. Mantul gak tuh? Setelah itu, gue merdeka, elo merdeka dan si Samuel dan perusahaannya pun merdeka dengan pundi-pundi rupiah yang bergelimang." Laura tersenyum bangga seraya memikirkan bahwa rencana briliantnya itu benar-benar terwujud.  Setelah drama diskusi panjang lagi melelahkan yang mereka lakukan barusan, Laura dan Lola pun mulai bergegas dengan niat melancarkan aksi sesuai step by step sebagaimana yang Laura rencanakan sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD