Rhea tidak menyangka bahwa orang aneh yang ia temui di rumah Agninyan justru ia temui lagi di lesehan pecel lele di mana ia dan Agninyan makan malam. Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah pemuda bernama Cale Sanatana yang sempat memperkenalkan diri pada Rhea tadi siang—sial, Rhea bahkan sukses mengingat nama lengkap pemuda itu.
Cale melambaikan tangan di kejauhan sebelum pergi mendekati penjual di lesehan pecel lele kaki lima ini, sekadar memberitahukan kedatangannya pada Agninyan. Agninyan yang menyadari itu juga membalas mengangkat tangannya yang belepotan nasi dan sambal.
"Nyan," panggil Rhea kelabakan. Segera setelah Agninyan menoleh, Rhea bertanya, "kamu ngasih tau temen kamu itu kalau kita makan di sini? Kamu ngajak-ngajak dia ke sini?"
"Iya," jawab Agninyan dengan enteng serta singkat, padat, dan kelewat tidak jelas. Pemuda itu lantas lanjut menyuap makanan ke dalam mulut, mengabaikan Rhea yang memasang wajah tak terima.
Agninyan memang cenderung bersikap cuek begitu kepada Rhea. Bahkan mereka pergi makan malam bersama saat ini juga karena ibu Agninyan yang meminta Agninyan menemani Rhea keluar malam-malam.
Rhea menggusah napas sambil memutar bola mata. Ia pun mencuci tangan di kobokan dan menyambar ponsel serta dompetnya yang tergelatak di meja.
"Udah kubayar tadi sekalian punyamu juga," kata Rhea pada Agninyan, "aku cabut duluan."
Rhea berencana pulang lebih dulu, meski itu artinya ia harus berjalan kaki hingga ke rumah Agninyan yang jaraknya kurang lebih lima ratus meter dari tempatnya berada sekarang, berhubung Rhea tidak membawa kendaraan sendiri. Dan, tidak mungkin juga kan Rhea membawa kabur motor Agninyan?
Tak Rhea sangka, Agninyan mencengkeram lengan Rhea dan membawa gadis itu kembali duduk di tempat. "Lo mau gue kena amukan nyokap karena biarin lo pulang sendiri?" salak Agninyan tak ada ramah-ramahnya.
Rhea meneguk ludah dan menunjukkan wajah masam yang semakin menjadi. Ia membalas ucapan Agninyan dengan sedikit bentakan, "Makanya kamu itu kalau makan jangan lelet! Ini lagi malah ajak-ajak orang lain makan bareng tanpa seizinku."
Dikatai begitu, Agninyan tidak terima. Ia mengedikkan dagu ke arah piring Rhea di mana makanan masih banyak tersisa. "Ketimbang lo, makan nggak pernah habis. Lagian kenapa juga lo ngelarang-larang temen gue buat join? Makan juga dia bayar sendiri."
"Nyan," sapa Cale yang akhirnya bergabung di meja Rhea dan Agninyan. Pemuda itu datang sembari membawa dengan hati-hati sepiring penuh menu pecel lele lengkap dengan nasi panas yang asapnya masih mengepul.
Menyadari Cale sudah bergabung di mejanya, Agninyan langsung saja mengabaikan Rhea dan mengobrol dengan sobatnya itu. Kalau saja Cale tidak berbasa-basi menanyakan siapa sosok gadis yang duduk di sebelah Agninyan, Rhea yakin ia akan diabaikan sampai nanti mereka pergi dari tenda pecel lele itu.
Eh, tapi Rhea juga tidak berharap Agninyan akan membeberkan siapa Rhea ke orang bernama Cale. Tidak penting juga bagi Rhea, tidak ada untungnya. Yang ada kalau acara basa-basi ini berlanjut, Rhea akan dilibatkan dan itu membuat Rhea merasa malas.
“Wisteria Rhea, sepupu gue,” kata Agninyan, “tapi abaikan aja. Anggap dia nggak ada di sini atau lo bakal kena sial!”
Rhea sontak melayangkan pukulan ringan yang menyasar lengan atas Agninyan. Pukulan itu tidak cukup keras, namun Agninyan yang berlebihan pun memberikan kesan seolah ia benar-benar kesakitan.
“Lebay!” hardik Rhea.
Agninyan memberikan lirikan penuh permusuhan kepada Rhea. Namun sekelebat ingatan membuat Agninyan bolak-balik menatap Rhea dan Cale secara bergantian.
“Kenapa kamu?” bisik Rhea, khawatir kalau sepupunya gila lantaran tidak berhenti menoleh ke arahnya. Itu sangat tidak biasa terjadi.
“Le,” panggil Agninyan kepada sobatnya yang sedang menekuri isi piring, “bukannya lo sama Rhea—”
“Nyan,” sela Cale seolah tidak membiarkan Agninyan melanjutkan ucapannya.
Rhea tidak tahu apa yang sedang terjadi di sana. Hanya saja, Rhea merasa Agninyan dan Cale sedang bicara melalui tatapan mata mereka. Sial, Rhea sukses dibuat merinding. Jarang-jarang ia melihat dua orang cowok saling menatap begitu. Biasanya kan yang suka pakai kode-kode ekspresi wajah dan tatapan mata adalah kaum cewek, apalagi kalau ada cowok ganteng lewat. Kenapa ini jadi aneh kalau dilakukan cowok? Agninyan dan Cale tidak belok, kan?
Salah tingkah, Rhea meneguk es teh miliknya yang tersisa setengah. Gadis itu berusaha mengenyahkan pikiran aneh dari kepalanya.
Namun karena pada akhirnya baik Agninyan maupun Cale menyudahi acara saling tatap itu dan mengobrol seperti orang pada umumnya, Rhea pun bisa menarik napas dengan lebih santai. Hanya saja, tak berselang lama, ia yang merasa kegerahan pun beranjak dari tempatnya.
“Aku tunggu di luar, Nyan,” kata Rhea sambil undur diri. Untungnya kali ini Agninyan tidak lagi menahan Rhea untuk tetap berada di sana.
“Ya silakan aja, tapi gue masih lama. Ini mau nambah lagi,” balas Agninyan seolah ingin menyiksa sepupunya itu.
Rhea meski tahu begitu tetap memutuskan melanjutkan langkah. Meski diam-diam ia merutuk serta mengutuk Agninyan yang tingkahnya kaya setan, selalu saja membuat Rhea darting alias darah tinggi.
Setelah keluar dari tenda lesehan pecel lele itu, Rhea melipir sedikit ke arah kiri. Di sana ada taman bermain anak-anak yang sudah sepi ketika malam menjelang. Yang ramai ya tempat makan di sekitarnya.
Rhea menghampiri salah satu tempat duduk di taman itu. Ia memainkan ponsel untuk membunuh waktu. Saat itulah baru Rhea sadari bahwa sejak tadi ponselnya dalam kondisi mati.
Saat ponselnya sudah menyala, gadis itu mendapati ada beberapa panggilan tak terjawab dari Mami dan juga sebuah panggilan dari nomor asing.
Namun untuk kasus panggilan tak terjawab dari Mami, Rhea sudah tahu alasan kenapa wanita paruh baya itu menghubunginya. Sebuah pesan panjang lebar Mami kirimkan setelah usahanya untuk menelepon sang putri tak kunjung berhasil.
“Jangan lupa, akhir pekan ini kita harus datang ke acara keluarga Mami,” gumam Rhea membaca salah satu kalimat yang Maminya kirimkan, “nanti kamu berangkat sama Te Neeta. Mami nggak akan biarin kamu absen dari acara ini. Kalau acara keluarga Papi dan kamu nggak ikut, Mami masih bisa memaklumi.”
Rhea berdecak kemudian. Ia memutar bola mata karena enggan untuk menyanggupi perintah Mami. Apa Rhea bikin alasan saja, ya? Acara kantor mungkin? Tapi apa, kan selama ini Rhea juga bekerja dari rumah? Ke kantor hanya sesekali dan itu pun selalu pada saat weekdays.
“Argh,” erang Rhea frustrasi. Di umurnya sekarang, datang ke acara keluarga bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi Rhea belum mapan secara finansial, belum punya calon yang akan dibawa ke pelaminan, dan t***k bengek lainnya.
“Kenapa?” Suara berat milik seseorang terdengar dari arah belakang tubuh Rhea.
Sontak saja, Rhea menoleh dengan gesit. Saat itu juga, ia mendapati Cale berdiri di sana, di dekat Rhea.
Cale memasukkan jemari tangannya ke dalam saku celana dan berdiri dengan santai menunggu Rhea merespon pertanyaannya. Pemuda itu tampak tidak terganggu dengan tatapan menusuk yang Rhea berikan.
“Kepo banget sih sama urusan orang!” kesal Rhea. Gadis itu bangkit dari tempat duduk dan berjalan melenggang melewati Cale begitu saja. Niat hati ingin kembali ke lesehan pecel lele dan menyeret Agninyan untuk pulang sekarang juga, tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama di tempat ini.
Sayangnya dengan langkah lebar, Cale mampu menyusul Rhea dan menghadang gadis itu. Cale melempar pernyataan yang membuat Rhea kesal maksimal.
“Agninyan udah balik duluan,” ujar Cale, “dia nitipin kamu ke aku.”
“Hah? Emang aku barang dititip-titipin segala? Ngaco kamu!” pekik Rhea dengan ekspresi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Itu karena perasaan Rhea juga campur aduk.
“Dia balik duluan,” ulang Cale menegaskan. Ia pun mengajak Rhea untuk menuju ke mobilnya saja ketimbang balik ke tenda lesehan pecel lele.
Namun gadis itu tidak bisa langsung memercayai ucapan Cale mentah-mentah, tentu saja. Cowok aneh itu bisa jadi hanya berusaha berulah atau justru modus kepada Rhea—bukannya Rhea kepedean lho, ya.
Nyatanya, kenyataan pahit menampar Rhea. Gadis itu tidak mendapati batang hidung Agninyan di dalam tenda lesehan pecel lele. Bahkan bisa dibilang, tidak ada orang di sana kecuali penjualnya.
“Gimana, udah percaya?” tanya Cale persis di telinga Rhea.
Rhea spontan menjauhkan diri dari Cale. Ia merasa risih ketika menyadari jaraknya dengan Cale teramat tipis. Cale yang lebih tinggi dari Rhea itu ternyata sedikit mencondongkan tubuhnya untuk menyamai tinggi Rhea.
Karena tidak ingin berurusan dengan Cale lebih lama lagi, Rhea pun berkata, “Aku mau pulang sendiri aja. Rumah Te aku nggak jauh, jalan kaki juga bisa sampai.”
Cale menaikkan sebelah alisnya. “Yakin?” tanyanya setengah menggoda. Ia lantas melirik ke jam yang melingkar di tangannya dan kembali buka suara, “Udah lumayan malam nih. Mana jalannya sepi.”
Rhea mendengkus. Gadis itu mengutak-atik ponselnya dan membalas, “Kalau gitu, aku bisa pesan ojek online aja. Beres, kan?”
Mendengar itu, Cale buru-buru menyambar ponsel Rhea. Tanpa bicara apa-apa, pemuda itu berjalan begitu saja menuju ke mobilnya dengan membawa barang curian yakni ponsel Rhea.
Tentu saja Rhea tak terima. Apa-apaan Cale ini, baru kenal sudah bersikap kurang ajar!
“Balikin nggak? Aku akan teriakin kamu maling!” ancam Rhea sambil berusaha meraih ponselnya yang Cale angkat tinggi-tinggi.
Cale tertawa renyah, sama sekali tidak terpengaruh ancaman yang Rhea lontarkan. Ia malah mengedikkan kepala, meminta Rhea cepat masuk ke dalam mobil.
Melihat Cale bermain-main dengannya, Rhea pun menjadi tidak sabar. Yang semula hanya ancaman, Rhea jadikan itu kenyataan. Mumpung sekitarnya ramai, Rhea berteriak histeris, “Tolong, Pak, Bu, orang ini merampas HP saya!”
Mata Cale membeliak barang beberapa detik karena terkejut akan tingkah absurd Rhea. Namun kesadaran Cale cepat kembali hingga pemuda itu memutuskan untuk tidak diam saja melihat aksi nekat Rhea yang satu ini. Ia balas berakting, “Mohon maaf, Pak, Bu. Silakan lanjutkan aktivitas kalian, ini istri saya sedang kumat gilanya! Selebihnya aman.”
“Cale!” Untuk pertama kalinya, Rhea mengucapkan nama pemuda itu dengan bibirnya yang kini tampak ditarik turun dan sudutnya berkedut.
Jadi siapa yang lebih tidak waras di sini? Rhea atau Cale? Dan jawaban Rhea sudah pasti, Cale adalah orang sakit jiwa yang kumat gilanya! Dan lagi, istri kata Cale? Rhea tidak sudi!