PART 27

2392 Words
27 AKU TIDAK PERNAH merasa ingin tahu tentang kehidupan Damon, jujur saja, aku bahkan tidak pernah ingin tahu tentang apa yang terjadi dengan dia dan iblis yang bernama Ingruth itu. Aku terlalu takut dengan apa yang akan aku temukan, dengan apa yang akan aku ketahui jika aku bertanya banyak hal. Lebih baik hidup di dalam kegelapan dari pada harus tahu yang sebenarnya, kan? Aku masih tidak tahu di mana aku berdiri, antara dalam kubu bitter truth atau sweet lies. Aku tidak tahu jika aku mau kejujuran yang pahit, atau mungkin lebih memilih kebohongan yang manis. Ini semua terlalu membingungkan bagiku, dan jujur saja, aku rasa aku sendiri sudah gila bisa menanyakan hal itu pada Damon. Damon sendiri terlihat seperti ingin dikubur hidup – hidup oleh bumi saat ini. Bentala seperti sedang menutupnya ke bawah, menarik dia ke dalam tanah, dan tidak pernah mengeluarkan laki – laki itu lagi. Entah kenapa memikirkan itu membuat aku sedih. Tidak bisa menatap Damon lagi. Apa itu artinya aku sudah mulai merasakan koneksi di antara kita saat ini? Apa itu berarti aku harus menjadi orang yang mulai bisa menerima takdir, dan juga kenyataan kalau aku dan Damon ini adalah pasangan jiwa? Tidak. Aku tidak bisa membiarkan diri aku sendiri berpikir begitu sebab aku sendiri tak tahu tentang seperempat saja kehidupan masa lalu Damon Hawkwolf. Apa yang membuat dia menjadi target seorang iblis yang jahat dan mengerikan? Apa yang membuat dia menjadi seperti ini, hingga Ingruth sangat ingin membuat dia dan orang terdekatnya celaka? Aku harus tahu itu dulu, baru aku bisa memikrikan fakta tentang pasangan jiwa dan sebagainya. “Damon, jawab aku. Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?” tanya aku lagi saat Damon hanya diams aja. Lalu, aku hanya bisa menatap figur pria yang menggeleng lemah dan pergi berjalan meninggalkan aku. *** KEBENARAN ITU ADALAH SESUATU yang rumit. Satu detik kau berbohong, satu detik berikutnya kebohongan itu akan berubah menjadi sesuatu yang lebih besar. Lebih banyak. Lebih lebar. Dan tahu – tahu saja, kau sudah tenggelam dalam ribuan kebohongan yang kau lakukan. Semua itu hanya untuk menyembunyikan satu kebenaran. Lantas, apa ribuan kebohongan itu sepadan dengan satu kebenaran yang harus kau beri tahu? Mungkin tidak. Mungkin iya. Mungkin kau menyembunyikan sesuatu yang menyangkut hidup dan mati. Mungkin kau hanya tidak ingin menyakiti seseorang. Mungkin kau tidak mau rahasia tergelap kamu terbuka. Lalu, jika sudah saatnya kau naik ke permukaan, bagaimana? Aku bukannya mengatakan kalau Damon berbohong atau apa. Aku juga tidak bilang kalau dia menyimpan sesuatu dari aku. Sebuah rahasia. Sebuah masa lalu. Karena aku tahu jelas kalau ada histori tersembunyi di antara di dengan iblis itu. Hanya saja, aku tidak tahu dengan perasaan aku sendiri. Apa aku ingin tahu kebenarannya, atau lebih memilih menjadi salah satu orang yang tanpa rasa bersalah yang melihat orang lain tenggelam dalam kebohongannya sendiri? Aku tidak tahu. Tapi, begitu Damon membawa aku kembali ke rumah dan langsung ke kamar, hati aku sudah siap. Aku menyiapkan diri sekuat tenaga. Apa pun itu akan aku terima. Nyatanya, aku juga terlibat dengan semua ini. Sama seperti mereka. Aku sudah terlibat terlalu jauh dan dalam, dan bukankah aku semacam pasangan jiwa untuk Damon Hawkwolf? Entah apa artinya itu. Ingruth, iblis mengerikan itu sudah jelas memiliki vendetta khusus dengan Damon, dan aku akan terlibat dengan kasus itu. Mau tidak mau, cepat atau lambat, aku harus mengerti segalanya. Karena dengan begitu, aku bisa keluar dari masalah ini hidup – hidup. Damon mendudukan aku di atas tempat tidur. Dua tangannya menangkup aku. Netranya sangat intens menatap aku lekat hingga aku nyaris tidak sadar kalau laki – laki itu tidak mengenakan apa – apa selain celana pendek yang menutup bagian bawah tubuhnya. Dia mengobservasi aku. Dua mata. Hidung. Mengusap dua sisi pipi, membelai belakang daun telinga aku. Lalu dia menatap bibir, dan mengangkat dagu aku ke atas. Napas aku otomatis tercekat. Ini terlalu intim. Terlalu dekat. Dan . . . terlalu mesra. Aku bisa merasakan hembusan napas dia. Aku bisa melihat titik – titik kecil di pupil matanya yang masih besar dan hitam. Aku bisa merasakan sentuhan jari – jarinya di leher aku, ke seluruh tubuh. Damon mengumbang pelan, dadanya naik dan turun. Lalu ibu jari laki – laki itu naik ke atas melalui rahang aku dan mengusap halus bibir aku. Aku membeku. “Damon—“ Suara aku serak dan lirih. Laki – laki itu menelan ludah. Dia melepas tangannya, berdiri, dan membelai surai aku pelan. Dia menatap aku ke bawah, memerintahkan dalam diam kalau aku harus menunggu di sini sampai dia kembali dan pergi. Dan aku menunggu. Menunggu. Menunggu. Entah kenapa. Mungkin karena aku terkejut. Mungkin karena adrenalin menguras semua kekuatan tubuh aku. Mungkin sebab bekas sentuhan jari – jari Damon Hawkwolf masih mengirim rasa halus di epidermis. Tapi aku yakin belum lama setelah Damon pergi. Belum lama . . . tapi aku tertidur. Memimpikan iblis dengan sosok wanita tua yang mengerikan. Aku tertidur dengan mimpi buruk yang selalu menghantui aku semenjak aku terjebak di dalam kegelapan yang menakutkan itu. Aku selalu memimpikan hal yang sama. Aku tenggelam dalam lautan yang gelap, tanpa bisa mencari permukaan. Tanpa Damon yang memanggil namaku, lagi, lagi, dan lagi. *** Tidak tahu berapa lama aku terlelap. Tapi saat aku membuka mata, aku melihat sinar mentari masuk dari balik tirai tebal dan masif kamar tidur aku. Kamar tidur aku . . . kamar tidur tamu di rumah keluarga Hawkwolf. There. Itu lebih baik. Aku melirik sekitar. Pintu kamar aku tertutup. Dan seingat aku, aku tertidur begitu saja tanpa memedulikan apa – apa. Tapi sekarang aku sudah tiduran rapih, dengan selimut memeluk aku erat. Di ujung ruangan, lilin kecil dengan aromatik kelapa dan vanilla yang aku suka masih menyala, mengirimkan rasik yang menenangkan hati aku. Damon pasti kembali tadi malam dan melakukan ini semua. Damon? Er . . . mungkin Cordelia. Iya. Pasti Cordelia yang melakukan ini. Kepala aku tidak lagi sakit. Dan berhubung aku tidak bisa kembali tidur, dengan cepat aku menyibak selimut lalu pergi ke kamar mandi. Setelah puas bersih – bersih, aku menghampiri lilin itu dan mematikannya. Lalu aku membuka tirai besar itu, membiarkan kamar tidur aku—baiklah, aku rasa ini adalah kamar tidur aku sekarang—termakan cahaya seluruhnya. Aku rasa nulai sekarang aku tidak akan suka dengan gelap lagi. Setalah itu aku turun. Tungkai kaki aku membawa aku langsung ke dapur, menemukan Cordelia dan Hunter—tentu saja, kapan ‘sih mereka berdua berpisah? Tidak pernah—dan Orien. Aku tersenyum pada laki – laki itu. Saat dia melambaik, Cordelia dan Hunter yang duduk membelakangi aku menoleh. Gadis itu dengan cepat menunjuk kursi di sebelahnya dan menyiapkan sarapan aku. Sungguh, Cordelia benar – benar mengingatkan aku pada Nyonya Smith. Mereka berdua sama – sama memiliki kepedulian yang besar terhadap sesama. “Bagaimana keadaan kamu?” tanya gadis itu sembari meletakkan semangkuk sereal dan jus jeruk di depan aku. “Apa kau baik – baik saja?” Aku mengangguk, berterima kasih, lalu meminum jus jeruk terlebih dulu. “Kepalamu masih sakit?” tanya Orien kali ini. Wajah dia sedikit memerah, lalu menunduk. “Tidak. Sudah hilang. Kau kenapa?” “Er . . .” Orien menggaruk telinganya. “Maaf. Karena kau kau harus . . . merasakan itu.” Alis aku menyatu. Lalu aku meraih tangannya dan menepuk dia pelan. “Kenapa salahmu? Ini bukan salah kamu, Orien. Ini salah iblis mengerikan itu.” “Tapi kalau bukan karena aku yang kelepasan, Ingruth tidak akan menyerang kamu seperti itu.” Oh. Jadi benar. Orien yang bergerak dari belakang. Aku memberikan laki – laki yang merasa bersalah itu senyum tipis. Lalu aku menggeleng. “Itu tidak masalah. You did not mean it.” Orien membuang napas panjang. Dia terlihat sedikit rileks, tapi aku tahu dia masih menyalahkan dirinya sendiri. Jadi aku meraih sebuah pisang di tengah meja, dan memberikannya pada laki – laki itu. “Hey, aku serius. Itu tidak masalah. Here’s a banana. So you feel better,” kata aku. Orien memutar dua bola matanya tapi dia tetap menerima pisang itu. Untuk beberapa lama kami semua sibuk makan, sampai akhirnya aku membuka mulut lagi. “Damon di mana?” “Lari pagi,” jawab Hunter. Cordelia mengumbang pelan. “Kenapa?” tanya aku lagi. “Lari pagi?” Cordelia mengangkat satu alisnya untuk Hunter. Lalu dia menoleh padaku. “More like running to blow some steam.” “Apa maksudnya itu?” “Maksudnya,” Cordelia menunjuk ke luar, ke arah hutan di belakang rumah keluarga Hawkwolf. “Damon sedang keluar dari semalam untuk mengeluarkan amarahnya. Kau harus lihat seperti apa dia tadi malam. Kalau bukan karena salah satu dari kita menyebut namamu, dia pasti akan memburu Ingruth sampai ke gerbang neraka sekali pun.” Tubuh aku bergetar. Hati aku mencelus mendengar itu dari bibir Cordelia. Kalau bukan karena salah satu dari kita menyebut namamu, dia pasti akan memburu Ingruth sampai ke gerbang neraka . . . Ada sesuatu yang mengganjal di hati aku. Panas dan rasanya butuh sesuatu. Butuh sesuatu untuk membuatnya kembali tenang. Butuh sesuatu untuk membuatnya sejuk lagi. Aku seperti kehilangan arah. Tiba – tiba aku butuh sesuatu. “Di mana dia?” tanya aku lagi, tapi kali ini sepertinya ada yang beda dari cara bicara aku, sebab semua orang berhenti makan. “Di mana aku bisa menemukan Damon?” tanya aku lagi. Lebih keras. Lebih panik. lebih putus asa. Kalau aku terlihat seperti gadis gila, tidak ada yang mengatakannya. Cordelia menunjuk pintu geser yang mengarah ke halaman belakang, menuju hutan besar New Cresthill. “Aku rasa dia ada di sana, tapi Shay, lebih baik kau menunggu Damon pulang saja—“ Tapi aku tidak mendengar sisa kata – katanya lagi. Aku berdiri begitu cepat hingga kursi aku berderit ke belakang. Tanpa menoleh ke siapa – siapa, aku berlari kencang, ke luar. Ke hutan. Ke arah Damon. Samar aku mendengar Cordelia berteriak, Orien menyumpah rendah, dan Hunter mengatakan sesuatu seperti “I knew she is going to do that” tapi aku tidak memedulikan mereka. Tidak ketika aku butuh sesuatu. *** Ternyata yang aku butuh hanya satu. Damon Hawkwolf. Selama beberapa saat aku hanya berlari tanpa arah. Dua penopang tubuh aku seperti tahu ke mana aku harus pergi, namun benak aku sendiri kacau. Aku terus lari, dan lari, dan lari, dan lari. Tidak peduli banyak ranting yang menabrak aku. Tidak peduli kalau aku masih mengenakan sendal tidur. Tidak peduli kalau aku secara teknis berlari di tengah hutan yang luas. Tapi ternyata yang aku butuhkan hanya laki – laki itu. Satu sekon aku mendengar lolongan serigala, membuat hati aku bergetar. Aku terhenti di tengah, menunggu apa yang akan terjadi. Terakhir kali aku mendengar lolongan itu dari serigala hitam yang aku beri nama Knight, serigala lain datang. A call for a pack. Tapi beberapa menit kemudian aku mendengar bunyi derap menuju arah aku. Semakin cepat dan cepat dan . . . Knight. Knight tidak eksis dalam waktu yang lama. Setelah dia melihat aku, serigala hitam itu secara otomatis berubah menjadi Damon Hawkwolf. Dan aku bisa melihat kalau dia marah. Aku mundur satu langkah saat dia menderap ke arah aku, tapi dua tangannya segera mencengkeram bahu aku keras. “Kau sudah gila?” Itu yang dia katakan saat kami sudah berada dalam jarak proksimal. Kami sangat dekat sampai d**a kami bersentuhan. Aku bisa merasakan napasnya yang berat dan memburu. Dan aku harap dia tidak sadar kalau jantung aku mengalami fluktuasi. Sesuatu yang selalu terjadi saat aku berada di dekat dia. “A—aku . . . aku hanya ingin bertemu—“ “Kau tahu kalau apa saja bisa datang ke hutan ini?” Damon berteriak lagi. “Seriously, Shay! Something could have gotten you! Kau tahu berapa banyak makhluk yang bersembunyi di dalam hutan ini?” Damon membentak aku keras. Aku bisa melihat urat di lehernya keluar semua. Wajah dia berubah merah, yang berarti dia sedang marha. Aku menelan ludah dan mencoba menahan diri agar tidak ikut emosi. Jika aku membalas dengan hal yang sama, maka Damon hanya akan semakin emosi. “T—tapi, bukankah kalian memiliki hutan ini?” “Apa kau tidak pernah mendengar yang namanya penerobos?” Damon melepas aku dan mengacak surainya. “Apa yang kau pikirkan?” Di saat itu, aku tersadar. Lolongan tadi adalah sebuah sinyal. Seseorang memberikan sinyal pada Damon kalau aku ada di dalam hutan ini. Mungkin Orien. Atau Hunter. “I just . . . I—“ aku tidak bisa menyelesaikan kata – kata aku sendiri. Memangnya apa yang aku pikirkan? Tidak ada. Literally. Rasanya hanya . . . hanya aku harus bertemu Damon. Melihat Damon. Berada di samping Damon. Aku butuh laki – laki itu. Damon mencoba menenangkan dirinya. “We’ll talk about this later,” dia memegang lengan aku. “Sekarang kita pulang.” Aku menahannya. “Aku ingin ke air terjun.” “No.” “Why not?” “Because i said so,” Damon berdecak. “Kita tidak akan ke mana – mana karena semua tempat berbahaya. Shay, ingat ini, okay? Kau tidak boleh pergi sendirian.” “Why not?” ulang aku lagi. “Apa yang terjadi semalam belum cukup?” Damon bertanya balik. Aku terdiam. Itu sudah lebih dari cukup. Aku mengerti maksud Damon. Sebelum ini pun dia sudah membuat banyak orang menjaga aku. Tapi memangnya aku bisa menerima itu begitu saja? Dia menarik lengan aku lagi. “Kau bilang kau mau menceritakan segalanya? Tentang Ingruth dan apa yang terjadi dengan kalian.” “Tidak di sini,” Damon menggerutu. Langkah kaki kami meresonasi di seluruh hutan, bergesek dengan daun – daun yang berjatuhan, dan di saksikan langsung oleh beswara di atas kepala kami, mengintip dari balik pohon – pohon yang besar. Mungkin karena aku masih tidak bisa berpikir jernih. Atau entah lah karena apa. Tapi aku memecah keheningan dengan, “I just wanted to see you.” Langkah kaki Damon berhenti. Tidak. Semuanya berhenti. Rasanya seperti ada yang menghentikan waktu dan ruang di sekitar kami. Laki – laki itu berbalik badan. Lalu dengan pelan, dan sangat pelan, dia mengangkat dagu aku agar kepala aku yang menunduk menatap dia. “Apa?” suara nya serak. He sounds so soft and low and full of something. “Aku tidak tahu kenapa. Tapi . . . tiba – tiba aku butuh sesuatu. I need you.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD