PART 1
1
NAMAKU SAOIRSE dan aku benci itu. Siapa yang sangka memiliki nama yang susah disebut adalah sebuah kutukan tidak berhujung? Siapa sangka jika memiliki nama yang terdengar asing akan membuat dirimu menjadi pivot atensi orang banyak ke mana pun kau pergi? Siapa sangka, memiliki nama yang unik akan membawamu ke dalam situasi ini. Tapi lagi, orangtua mana yang memberikan anak mereka nama susah seperti namaku sendiri?
“Saor--er . . . maaf, tapi apa kau bisa mengulang lagi namamu itu?”
“Saoirse.” Ucapku datar. Aku sudah tidak ambil banyak pusing jika kejadian seperti ini terjadi. Sudah berpuluh tahun aku mendapat problematika yang sama, dan rasanya ini sudah menjadi bagian paling signifikan ketika aku memperkenalkan diri. “Saoirse Lee.”
“Saor . . . sia?”
“S A O I R S E.” Aku menahan jengkel. “Apa kau perlu di ulang lagi?”
“Er . . . sekali saja, apa tidak masalah?”
Aku memberikan senyum kecut yang pasti terlihat pahit. Biarkan saja. Lagi pula, siapa yang tidak jengkel harus mengulang-ulang namanya di depan kantor administrasi?
“S . . . A . . . O . . . I . . . R . . . S . . . E.” Kali ini nada bicaraku lebih pelan, namun jika dia menangkap ekspresi sarkastik dari cara bicaraku, gadis di depanku ini tidak memperlihatkannya. Surai hitam panjang dan pakaian unik yang dia kenakan menjadi atensiku selama beberapa menit ini.
“Baiklah, nama belakang?” tanyanya pelan.
“Lee.” Sebelum dia membuka mulut, aku menambahkan, “L . . . E . . . E . . .”
“Oh, kau orang Asia?”
“Yep.” Aku melirik ke sekitar kantor administrasi. Tidak ada banyak orang yang berada di dalam. Hanya beberapa lelaki dengan tubuh gempal, seorang wanita dengan wajah galak memakai kaca mata bentuk kucing, dan satu orang nenek di depan mesin ketik, menekan huruf satu demi satu seperti kukang malas. Aku hampir saja tertawa ketika teringat salah satu film animasi favoritku ZOOTOPIA. Nenek itu mengingatkan aku akan si kukang di kantor pelacak plat nomor kendaraan. “Apa hanya kau yang bekerja sendiri di sini?”
Gadis di depanku tersenyum penuh arti. “Hanya aku yang peduli untuk melakukan pekerjaan di sekitar sini.”
“Itu sangat menyedihkan.” Ucapku pelan. Aku buru-buru mengibaskan tangan untuk menandakan aku tidak bermaksud menyinggung. “Bukannya itu hal yang buruk.”
“Tidak apa,” dia menggeleng. “Ini memang menyedihkan.”
Aku hanya bisa tersenyum tipis.
Saat ini, aku sedang berada di kantor adminstrasi Universitas New Cresthill. Sebagai salah satu pertukaran pelajar yang terpilih untuk datang ke sini, aku awalnya merasa sangat terhormat. Bayangkan, kau bisa diterima masuk ke dalam sebuah Universitas menjadi perwakilan dari negaramu, dan lebih bagusnya lagi, semua biaya ditanggung oleh pihak kampus dan pemerintah. Aku bahkan tidak perlu mencari tempat tinggal sebab ada banyak penduduk yang siap menawarkan rumah mereka sebagai penyambut pelajar berprestasi ke kota ini.
Namun, yang tidak pernah aku sangka adalah bagaimana kota ini begitu menyedihkan. OK, baiklah, mungkin menyedihkan sedikit berlebihan. Tapi aku tidak menyangka jika New Cresthill akan berada di pojok dunia, jauh dari pemukiman lain, dan sangat tertutup. Hal pertama yang aku sadari adalah susahnya sinyal di dalam kota terpencil ini. Dua, aku menyadari kota ini selalu dipenuhi kabut dan tertutup. Tiga, kota ini hanya dikelilingi oleh hutan. Sejauh mata memandang hanya ada hutan, hutan, dan hutan. Apa mereka sudah gila?
Dan yang terakhir, penduduknya sangat aneh. Saat aku katakan aneh, mereka memang benar-benar aneh. Unik mungkin, tapi . . . yah, sangat tidak biasa. Mereka selalu diam. Selalu berkelompok. Selalu mengatakan hal-hal tidak masuk akal seperti, bulan purnama, besi, tanaman beracun? Salah satu dari mereka bahkan membicarakan serangan iblis.
Maksudku, iblis? Ayolah, ini jaman apa? Masa iya masih ada juga orang yang membicarakan topik iblis? Lagi pula, iblis mana yang mau menyerang kota ini? Rasanya tidak ada penduduk yang bisa diserang. Mereka semua terlihat tinggi dan kekar. Bahkan wanitanya juga. Mereka terlihat kuat dan kapabel dalam melakukan segala hal. Mereka juga tidak pernah terlihat lemah. Walau pun wajah mereka tampan dan cantik semua, tapi mereka tetap terlihat mengerikan. Ekspresi mereka selalu keras dan menakutkan. Aku hampir saja berlari kembali ke stasiun bis yang akan membawaku ke bandara di kota sebelah. Kota ini benar-benar aneh,
“Saoise?”
“Iya?” aku kembali menoleh pada gadis di depanku. “Hei, kau bisa menyebut namaku dengan benar!” seruku dengan tawa kecil.
Dia membalas senyumku lebar. “Akhirnya, ya?” dia terkekeh geli. “Ini dokumenmu, dan jadwal kegiatanmu selama satu tahun. Selamat datang di New Cresthill, semoga kau suka di sini.”
“Terima kasih.” Aku memasukkan semua dokumen itu ke dalam tas. “Oh, ya, er . . . boleh aku tahu namamu?”
Gadis itu tersenyum lebar sekali. Sangat lebar. “Lilith Softspell.”
***
Harus aku akui, bangunan Universitas New Cresthill sangat mengesankan. Impresi yang gedung ini berikan begitu membuat mata terpana. Semua netra selalu tertuju pada menara bel di atas sana. Menara bel itu disebut Crest Slope Tower. Kabarnya, di atas sana akses ditutup. Tidak ada yang bisa masuk ke dalam menara itu kecuali beberapa orang di New Cresthill.
Di sisi lain, gedung kampus ini masih lekat dengan nuansa Victorian di jaman Britania Raya dulu. Aku teringat akan kediaman besar seperti istana saat aku pertama kali datang ke New Cresthill. Waktu itu aku dan anak pertukaran pelajar yang lain baru sampai ke New Cresthill. Kami langsung disambut oleh komite dari univerisitas dan dibawa menggunakan bis yang besar serta memiliki kamar mandi di dalamnya.
Setelah melewati begitu panjang jalanan yang tidak berhujung—dihimpit ribuan pohon serta ratusan mil hutan lebat pula—aku tidak sengaja melihat sebuah bangunan tinggi dan besar yang terletak tidak jauh dari hutan tersebut. Rumahnya begitu megah, seperti bangunan kolosal yang masih dengan keras kepala berdiri kokoh hingga saat ini. Pagar rumahnya menjulang ke atas, berwarna hitam dan menakutkan. Aku melihat samar-samar banyak anak lelaki yang berkeliaran, bercanda ke sana-kemari sambil tertawa. Jika aku percaya hantu, maka aku akan percaya bahwa rumah itu seratus persen adalah sarang arwah gentayangan.
Aku mengangkat tangan dan bertanya pada salah satu komite dari kampus. Leo, wakil yang dikirimkan oleh pihak Universitas New Cresthill hanya menelan ludah. Dia berkata dengan vokal berat, “Itu rumah salah satu keluarga paling berpengaruh di kota ini. Sedikit saran, jika kau tidak ingin mencari masalah, maka jauhi saja kediaman itu.”
Aku tidak bertanya lagi. Inkuiri yang semula tertanam di dalam hati seketika runtuh. Aku tidak ingin mencari masalah. Jadi sebaiknya, aku mundur dan melupakan rumah besar tersebut.
Hingga saat ini. Melihat desain dan interior kampus, aku tidak bisa menahan untuk mengingat rumah tadi. Aneh. Kenapa juga aku harus kembali teringat pada rumah itu? Rasanya hampir seperti ada magnet yang menarik aku kembali ke sana.
Buru-buru aku melupakan kejadian tersebut dan melangkah masuk. Aku melihat kertas jadwal yang diberikan Lilith, si petugas admnistrasi baik yang mengajak aku untuk minum kopi di akhir pekan. Kelas pertamaku adalah Pragmatik. Subjek Inggris aku pilih sebagai jurusan yang aku ambil di Universitas New Cresthill. Mama bilang aku boleh memilh jurusan semauku asal aku yakin jika itu yang aku inginkan. Dan sekarang, aku merasa bahwa Inggris mungkin bukan opsi yang terbaik.
Ketika aku masuk kelas, aku melihat seluruh mata memandang ke arahku. Aku melihat mereka menelusuri tubuhku dari atas hingga ke ujung kaki. Otomatis, aku merasa kurang percaya diri saat itu juga. Apa ini kelas yang benar? Apa ini kelas Pragmatik? Oh tidak, apa ini kelas yang salah?
Aku memberanikan diri untuk maju. Kakiku segera menuju bangku yang paling belakang. Alias paling atas. Kelas dengan gaya podium dan bangku balkon membuatku menjadi salah satu murid terbelakang dan di atas pula. Aku membuang napas. Apa seperti ini hari pertamaku di dalam kota yang menyedihkan ini?
Mendadak, seseorang ikut duduk di sebelahku. Tubuhnya tercium bau matahari. Aku menoleh ke sebelah, mendapati seorang pria bertubuh kekar dan mata cokelat menyala. Surai blonda tersibak ke atas. Aku hampir saja terpaku memandangnya ketika aku merasakan colekan di lengan. Aku mengerjapkan mata, tersadar bahwa pria di sebelahku sudah memanggilku pelan.
“Halo?” ucapnya ragu.
Aku berdeham. “Hai.” Aku melambaikan tangan. “Aku Saoirse.”
Dia mengernyitkan dahi. Oh tidak, ini lagi. Kesengsaraan untuk memperkenalkan diriku sendiri. “Saoirse?”
Aku berkedip. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Aku mengeluarkan senyum lebar yang tulus. Buru-buru aku menguraikan satu tangan untuk berkenalan. “Yep. Itu aku. Saoirse. Kau berhasil menyebutnya dalam satu kali percobaan. Selamat, Pak.”
Dia terkekeh geli. Diraihnya tanganku erat. “Terima kasih, Bu. Aku Michael.”
“Halo, Michael.” Aku menunjuk ke kelas. “Pertukaran pelajar juga?”
Dia menggeleng. “I wish. Aku penduduk asli. New Cresthill semenjak bayi. Aku harap aku bisa keluar dari kota ini suatu saat nanti.”
Aku tidak berkomentar tentang sentimen itu. “Jadi, kenapa Inggris?”
“Kenapa tidak Inggris?” dia tersenyum padaku. “Aku suka literasi. Aku suka belajar linguistik. Itu saja.”
“Sama.” Balasku sambil mengeluarkan buku subjek Pragmatik yang besar dari dalam tas. “Aku suka meneliti bahasa. Ditambah lagi, aku suka mempelajari histori tentang Inggris.”
“Ah, penyuka royalti dan kerajaan rupanya?”
“Yep.” Aku bersandar. “Shakespeare dan semacamnya. Panggil aku kutu buku.”
Michael hanya tertawa rendah dari balik bibirnya. Profesor kami akhirnya masuk, langsung membuka kelas di hari pertama dengan berbagai jadwal yang akan kami lakukan selama satu semester ke depan. Dia memberitahu bahwa kami akan memiliki beberapa projek kelompok yang akan datang, serta satu tes di akhir yang akan menentukan nilai kami.
Aku menoleh pada Michael. Lelaki tersebut otomatis menerima sinyal dariku dan mengangkat satu jempol di udara. Baiklah. Setidaknya, aku sudah memesan satu orang agar selalu menjadi pasanganku di projek kelompok. Ini tidak seburuk yang aku pikirkan. Aku pikir aku akan melewati hari ini tanpa seorang teman dan menyendiri. Ternyata Michael hadir dan membantuku selama seharian penuh.
“Baiklah,” kata Michael saat kami sudah akan berpisah di depan gerbang Universitas New Cresthill setelah selama seharian penuh bersama. “Aku akan bertemu denganmu lagi besok?”
Aku memberikan senyum pada Michael. “Tentu saja, see you around, Mike.” Ucapku pelan, menyebutnya dengan nama panggilan baru. Pria itu melambaikan tangan selamat tinggal padaku dan pergi, menghilangan di belokan simpang empat kampus.
Aku membuang napas panjang. Ah, senangnya. Hari ini berjalan mulus. Aku melangkahkan kaki ke arah rumah penduduk lokal yang mengikuti program rumah bagi pelajar asing di New Cresthill. Namun belum juga penopang tubuh sampai ke gerbang, langkahku sudah lebih dulu berhenti. Aku menoleh ke arah menara atas, melihat di tangga naik ke menara, sosok lelaki dengan bahu turun dan kepala menunduk.
Rasanya darahku membeku saat itu juga. Aku tidak tahu harus berpikir apa. Akankah dia naik ke atas sana? Tapi bukankah menara itu ditutup aksesnya untuk orang lain? Aku tidak berpikir panjang. Dengan segera, aku berlari ke arah menara, berniat untuk mengejar sosok tersebut. Entah karena apa, aku merasa seperti tertarik ke atas sana. Aku berusaha berpikir mengapa aku peduli dengan hal ini? Aku bahkan tidak berpikir jika kemungkinan orang itu akan bunuh diri. Aku tidak cemas atau apa. Tapi aku hanya ingin ke atas sana. Aku ingin bertemu pria itu. Aku ingin menghampirinya secara dekat.
Lariku semakin bertambah intens. Aku melihat sosok tersebut semakin lama semakin di atas. Tangga spiral yang membuat aku pusing masih jauh ke atas sana. Aku terus memompa diriku sendiri, memaksaku untuk terus mengejar figur pria tadi. Akhirnya, aku sampai di anak tangga terakhir. Deru napasku terengah, dadaku naik turun saking lelahnya. Aku menatap figur yang berhenti di depan pintu bel menara. Tubuhnya berhenti, seperti baru saja kepergok olehku yang datang secara mendadak.
Secara perlahan, dia balik badan. Napasku yang tadinya terengah mendadak terhenti. Aku merasa oksigen itu tersendat di kerongkongan. Aku membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu, tetapi setiap kata yang akan keluar dari bibirku terhenti di rahang.
Pria di hadapanku sangat rupawan. Bibir tipisnya. Kelopak mata monolid yang membuat kesan sipit. Hidung tingginya. Netra yang . . . berwarna emas menyala. Aku terhuyung. Sesuatu seperti baru saja menyengat tubuhku. Seperti ada kobaran kupu-kupu di dalam abdomen. Aku terhuyung. Manuver tubuh hampir saja membuat aku melayang ke bawah secara brutal. Tetapi pria di depanku bergerak cepat. Sangat cepat. Mendadak aku sudah di dalam dekapannya. Napas kami saling bertabrakan. Deru ekhalasi merupakan satu-satunya suara yang ada di atas menara tertutup ini. Mata emasnya yang menjadi satu-satu bias di dalam remangnya bangunan.
Melihat reaksi darinya, aku tahu bukan hanya aku yang merasakan voltase listrik tersebut. Aku merasakan vibrasi di antara kami. Aku merasakan sebuah koneksi. Aku menelan ludah.
“Aku dengar, tidak ada yang boleh naik ke bel menara.” Ucapku lirih. Suaraku lemah. Aku menjadi bubur dibawah jemari lelaki tampan di depanku. Ini sangat tidak keren.
“Siapa bilang?” vokalnya berat. Serak. Mendominasi seluruh bunyi di dunia ini.
“Orang-orang.”
“Well,” dia mendekat. Bibirnya mendarat di daun telingaku. “This tower is mine.”