PART 2

1637 Words
2   TIDAK BANYAK yang bisa aku lakukan untuk menafsirkan premis. Pria di hadapanku ini begitu membuat napas tercekat hingga kata-kata yang akan keluar kembali tertelan. Belum juga satu menit aku berada di dalam dekapannya, tapi aku sudah menjadi gumpalan cairan menyedihkan. Menjadi bubur yang tak dapat bergerak. Menjadi seorang bodoh di bawah tatapan tajamnya.             Setelah beberapa lama aku akhirnya mengerjapkan mata. Surai epidermis bergidik begitu pria di hadapanku menelengkan kepalanya. Seperti seorang hewan yang sibuk mengobservasi mangsanya. Aku menelan ludah. Jika pria ini begitu tampan, apa kekurangannya? Apa yang tidak dia miliki? Tidak ada orang yang sempurna. Semua orang pasti memiliki kelemahan. Tidak mungkin semuanya sempurna. Begitu juga lelaki di hadapanku. Dia pasti punya satu atau dua, atau bahkan jutaan kekurangan. “Jadi,” aku berdeham beberapa kali. “Apa kau akan melepaskan aku?” Dia mengangkat satu alis. Ekspresinya dingin dan datar. Sebelum dia melepaskan aku, dia menarikku lebih dalam lagi dan memutar tubuhku hingga sekarang dia yang berada di posisi sebelah anak tangga dan aku sudah aman di depan pintu bel menara. Aku menghembuskan napas panjang, memekik pelan, dan menutup mata. Pria itu akhirnya melepaskan jemarinya dan secara bersamaan aku merasa ada yang hilang dari diriku. Aku mengusir perasana aneh itu jauh-jauh. “Apa kau bilang, menara ini milikmu?” “Iya.” Dingin sekali. Aku hampir memutar dua bola mata dan mencibir. “Dari mana aku bisa tahu kalau kau mengatakan hal yang benar?” Dia menelengkan kepalanya lagi. Mungkin sebuah kebiasaan yang tidak dapat dirubah. Aku menatap mata emasnya. Pria itu hanya melipat dua tangan di depan d**a. “Aku Damon.” “Baiklah . . .” Aku mengecap lidah, merasa canggung. “Damon Hawkwolf.” “Dan . . . aku harus mengatakan apa?” Pria itu hanya terdiam. Jika aku tidak salah lihat, rasanya dia sedang menahan senyum. Satu ujung sisi bibirnyas seperti akan naik, tapi sedetik kemudian dia kembali terlihat dingin dan datar. Aku tidak bisa menahan rasa penasaran untuk melihat seperti apa dia jika sedang tersenyum. Dengan ekspresi seperti ini saja, dia sudah terlihat sangat rupawan. Apalagi jika dia terlihat ramah dan baik? Aku menggoyangkan kepala, mengusir perasaan aneh yang lagi-lagi mendarat di hati. “Maaf, tapi aku tidak mengenal siapa dirimu.” “Anak baru?” tanyanya pelan. Dia kembali berjalan ke arah pintu, melewati aku. Bahu kami selama sepersekian detik saling menyentuh, bergesek ringan, tetapi seperti ada kembang api yang baru saja meledak di dalam d**a. Aku menyingkir cepat. “Pertukaran pelajar.” Jawabku singkat. Aku melihatnya yang sibuk meraih kunci dari balik kantung dan siap membuka pintu bel menara. “Bukankah aku bilang jika tidak sembarang orang boleh masuk ke sana?” Dia terdiam lagi. Tangan yang memegang kunci mengerat sehingga aku bisa melihat baku-baku jemarinya memutih. Baiklah, mungkin ini kekurangannya? Dia psikopat. Mungkin aku sudah membuka kotak pandora dan membuat pria di hadapanku memperlihatkan sifat aslinya. Tapi dia hanya menggeleng. “Apa kau bodoh?” “Er . . . sejujurnya? Sedikit, ‘sih.” Kali ini aku benar-benar melihatnya tersenyum tipis. Ya ampun, aku hampir saja terhuyung lemas lagi. Gusinya terlihat dari balik gigi yang rapih dan putih. Bibir tipisnya melebar dan matanya membentuk bulan sabit kecil. Aku hampir meledak melihat wajahnya yang berseri. Secepat keserian itu mekar, wajahnya kembali dingin. “Kau lihat ini?” dia bertanya datar. Damon mengangkat kunci besar berwana perak yang sudah keropos di tangan. “Kunci.” Jawabku polos. Damon membasahi bibir. “Yang artinya, aku punya kunci menara ini. Aku pemiliknya. Sekarang, kau boleh pergi.” “Itu tidak membuktikan apa pun.” Protesku keras. “Bisa saja kau mengambil kunci itu dari mana.” Aku mengedikkan bahu. “Mencuri kunci bukanlah sesuatu yang susah. Kau bisa menelusup ke dalam ruangan orang yang memiliki kunci itu lalu mengambilnya. Kau bisa melukai seseorang untuk mendapatkan kunci itu. Oh, kau bisa saja mendupikat kunci itu agar mendapat akses masuk.” Damon menatapku lama. Dia menahan senyun lagi. “Dan dari mana kau bisa tahu hal-hal seperti itu?” “Karena aku pernah mencuri kunci sebelumnya.” Jawabku cepat. Mataku melebar. Aku buru-buru mengibaskan tangan. “Bercanda! Maksudku, aku pernah . . . membacanya di buku.” “Buku apa yang kau baca sehingga bisa tahu banyak trik mendapatkan kunci?” tanya Damon, kali ini sudah menghadap penuh ke arahku, tangannya terlipat lagi di depan d**a. Aku memutar otak untuk menjawab akusasi darinya itu. Tidak ada. Aku sudah terpojok. Ah, dasar mulut. Kenapa juga kau harus mengaku jika pernah mencuri kunci sebelumnya? Aku menoleh ke arah pintu dan mematung. “Er . . . salah. Aku pernah melihatnya di film. Teve seri maksudku. La Casa de Papel, kau tahu itu? Itu acara teve yang sangat menarik. Kau harus menyaksikannya suatu saat.” Damon mengumbang. “Bukankah itu cerita tentang perampokan bank?” Aku lagi-lagi hanya sanggup menangisi kebodohan diri. Siapa sangka lelaki dingin ini tahu teve seri? Aku pikir dia akan menjadi tipikal pria dingin yang tidak pernah nonton teve atau bersenang-senang sebelumnya. Aku kembali memutar otak ribuan kali. “Sudahlah. Itu semua tidak penting. Yang penting adalah, aku masih tidak percaya padamu. Jadi, ayo kita ke penjaga kampus untuk membuktikan bahwa kau memang orang yang punya menara ini.” “Kenapa aku harus mengikuti kemauanmu?” “Baiklah, jika tidak. Aku akan melaporkanmu saja.” Ancamku pelan. Damon tidak bergeming. Jika dia takut, dia tidak memperlihatkannya. Lelak itu malah berdiri tegak, seperti menantangku untuk melakuan apa yang baru saja aku katakan. Aku tidak tinggal diam. Tidak mungkin aku mundur di depan ego Damon yang sangat tinggi. Aku keluarkan ponselku dari dalam kantung dan menghubungi pihak keamanan kampus. Mendengar ada seseorang yang sudah berani menerobos masuk ke dalam bel menara, para pihak keamanan langsung bergegas mendatangai kami. Tidak lama setelah aku menghubungi mereka, sekitar lima menit kemudian tiga orang keamanan dengan seragam lengkap sudah muncul dari anak tangga. Postur mereka penuh was-was, mungkin sudah biasa menemukan banyak murid yang menantang peraturan ini. Setelah mereka mengangguk satu kali padaku, mata mereka mendarat pada sosok Damon. Sebelumnya aku pikir mereka hanya lelah, karena, ah, anak ini lagi, anak ini lagi. Rasa familiar langsung tersorot dari pupil mata mereka masing-masing. Satu per satu saling menyenggol lengan temannya, merasa telah menemukan sesuatu yang berat. Aku mengerutkan kening, merasa bingung dengan reaksi yang tidak aku harapkan. Bukankah seharusnya mereka menangkap Damon? “Er . . . Nona . . .?” ucap salah seorang dari mereka dengan tag nama Larson. “Lee.” Aku mengulurkan tangan. “Saoirse Lee.” Mendengar namaku, Damon menarik napas. Dia menghirup udara dalam-dalam, lalu keningnya berkerut. Rahangnya mengatup keras. Dagunya berkedut di bawah intensitas tersebut. Anehnya lagi, pihak keamanan justru mundur melihat tingkah Damon. Mereka saling tatap, membiarkan uluran tanganku mengudara begitu saja. Aku menarik kembali tanganku dari mereka. “Pak, ini dia yang mencoba masuk ke dalam bel menara.” Kataku pelan. Kepercayaan diriku hilang begitu saja ketika melihat para pihak keamanan tidak berbagi antusias yang sama untuk menangkap Damon. Larson angkat bicara. “Kau tidak mengatakan kalau orangnya adalah  . . . dia.” Larson menunjuk Damon dengan dua telapak tangan ke atas, sebuah gestur yang kelewat sopan. Larson jauh lebih tua darinya. Dia juga seorang pihak berwajib—yah, walau pun hanya polisi kampus. Kenapa dia sangat sungkan dengan pria di hadapanku ini? “Iya. Memangnya kenapa?” tanyaku bingung. “Dia Damon . . . Hawkwolf.” “Lalu?” “Nona, Lee.” Seseorang bernama Anderson membuka mulut. Dia mengawasi Damon dari ujung matanya. “Aku rasa ada salah paham di sini.” Dia tersenyum kecut. “Damon Hawkwolf adalah pemilik menara ini.” Aku bisa merasakan darah merangkak naik ke wajahku, mengalir dingin di sekujur tubuh. Tidak perlu cermin untuk mengetahui kalau wajahku pasti sangat merah. Malu yang menimpaku hampir saja membuat aku pingsan di tempat. Tidak ada yang membuka suara lagi kecuali kata-kata lirih yang keluar dari libium milikku sendiri. “Jadi . . . memang benar?” Damon tersenyum miring. Senyum yang berbeda dari senyum rupawan tadi. Seringai miring yang angkuh dan sengak. Senyuman miring yang mengolok. “I hate to be that guy who says I told you so, but . . . I told you so.” Aku ingin sekali menimpuknya dengan bebatuan. Tapi aku merasa tak tega merusak wajah begitu agung. “Maaf.” Ucapku lirih. “Apa?” Damon berpura-pura tuli. “Apa kau bilang?” “Aku bilang maaf.” “Hmh,” Damon mengumbang panjang. “Jika semua bisa diselesaikan dengan maaf, maka tidak akan ada penjara.” Aku melotot ke arahnya penuh sangsi. “Dengar. Aku sudah minta maaf, jadi, aku akan pergi.” Anderson menggeleng tak percaya. “Lain kali, lihat dulu siapa yang kau laporkan.” Aku berhenti sebelum sempat turun ke bawah. “Mana aku tahu dia siapa?” Pihak keamanan terakhir yang belum berbicara sedari tadi membelalakan matanya lebar. “Kau tidak tahu dia siapa?” Parrish menunjuk Damon seperti gaya Anderson. “Dia Damon Hawkwolf. Dari keluarga Hawkwolf. Kau lihat mansion besar saat memasuki wilayah New Cresthill? Ya, itu rumah mereka.” Aku melirik Damon yang hanya diam tanpa ada emosi satu pun. “OK. Dia punya mansion, dan ini menara miliknya. Itu saja.” Parrish berdecak. “Bukan hanya menara ini.” Aku menunggu Parrish menyelesaikan kalimatnya. “Tapi juga Universitas ini.” Aku sekarang benar-benar mematung. Aku baru saja mencari masalah dengan pemilik kampus. Damon berjalan ke arahku, dagunya mengusir para pihak keamanan tanpa ada satu kata pun yang keluar dari bibir. Larson, Anderson, dan Parrish patuh seperti hewan jinak. Mereka segera turun dan menghilang dari pandangan kami. Aku menelan ludah ketika Damon semakin lama semakin dekat. “Ada satu yang Parrish lupa.” Kata Damon dingin. “Lupa apa?” “Kepunyaanku.” “Dan apa itu?” “You.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD