PART 3

2226 Words
3 ADA SATU YANG PARRISH LUPA. Kepunyaan aku. Siapa? Aku? Aku punya dia? Bisa – bisanya dia bilang aku punya dia padahal kami baru bertemu hari itu? Omong kosong macam apa itu? Selama aku hidup, tidak pernah ada yang mengatakan kalau aku ini punya dia. Sungguh, bahkan teman yang aku punya pun tidak pernah secara bebas mengatakan kalau aku ini milik mereka. Titel seperti itu, perkataan seperti you are mine, atau seperti you belong to me adalah sebuah konsep yang asing untuk aku, dan aku tidak bohong. Bagi aku yang tidak pernah merasakan hal seperti itu, mendadak bertemu dengan seorang laki – laki yang tak segan menyatakan hal macam begitu padaku sendiri, aku tentu saja terkejut. Apa yang dia harapkan, kalau aku akan percaya dan menerima itu dengan baik? Kalau aku akan berkata terima kasih dan merasa terhormat karena dia sudah mengatakan hal tersebut padaku? Tentu saja aku menganggap itu hanya sebuah omong kosong belaka. Aku ini bukan gadis yang mudah sekali digoda. Bukannya aku bilang gadis – gadis lain mudah digoda, sih. Hanya saja, aku memang gadis yang cukup realistis dan tidak mudah untuk menerima pujian dari orang lain. Ah, baiklah . . . Saoirse, aku rasa kau sudah mulai gila. Satu minggu lebih berada di New Cresthill—kota yang terpencil, gelap, dan menyedihkan ini, yang bisa kau pikirkan hanya laki – laki berwajah dingin dengan senyum indah yang secara sengak meng – klaim kalau kau adalah miliknya. Hatiku. Tenang. Kenapa kau selalu berdegup begitu kencang dan tidak bisa tenang setiap kali memikirkan kata – kata itu? Fakta kalau dia begitu tampan bak paragon eteril di bumi tidak membantu pikiran aku yang selalu menari – nari ke arah yang begitu jauh. Dalam titik ini, aku bahkan sudah memikirkan nama anak aku dan Damon Hawkwolf itu kalau aku terus memikirkan apa yang dia bicarakan. Lagi pula, apa ‘sih masalahnya dengan keluarga Hawkwolf itu? Kenapa juga orang – orang di kota ini rasanya punya hormat yang tinggi pada mereka? Bukan itu saja. Jika dilihat dari gerak – gerik orang yang membicarakan nama belakang itu, atau memberi tahu informasi tentang rumah besar di jalan tol menuju New Cresthill seperti Leo kemarin, sepertinya mereka juga takut pada keluarga itu. Apa mereka semacam keluarga yang menemukan kota ini atau semacamnya? Kau tahu, seperti di film – film atau teve seri, di mana ada sekelompok keluarga tertentu yang merupakan keturunan orang yang menemukan kota kecil di sebuah tempat yang terpencil. Seperti misalnya di teve seri The Vampire Diaries, di mana ada the founding fathers yaitu kumpulan orang – orang yang menemukan kota itu dan berkuasa di sana. Sehingga keluarga keturunan mereka punya kausa yang sama dan di pandang tertinggi di sana. Aku rasa seperti itu, ya? Maksud aku, bagaimana lagi Damon Hawkwolf, laki – laki yang sepertinya se – usia dengan aku itu punya menara tinggi yang di larang dimasuki oleh orang lain? Pasti dia punya akses, dan karena keluarga mereka notabene adalah pemilik kota ini sendiri. Aku menjatuhkan tubuh ke tempat tidur yang yang diberikan oleh salah satu host yang aku terima di kota ini. Untung saja aku diberikan host yang cukup baik. Seorang ibu setengah baya yang begitu cantik dan baik hati. Dia juga punya seorang anak gadis, setidaknya begitu yang aku dengar. Hingga hari ini aku masih belum bertemu dengan gadis itu. Kata dia, anak gadisnya tinggal bersama kekasihnya di rumah dia. Jika aku kaget, aku tidak menunjukkan hal itu. Cukup skandalius ‘sih, urusan seperti itu. Aku yang dibersarkan dan datang dari timur alias wilayah Asia hanya bisa mengangguk dan menahan diri agar tidak berkomentar yang tidak – tidak. Semoga saja aku bisa bertemu dengannya dalam waktu dekat. Ibunya bilang dia juga belajar di perguruan tinggi yang sama dengan aku. Jurusan yang berbeda, aku rasa. Aku tidak bertanya tentang kekasihnya itu. Semoga saja dia laki – laki yang baik, dan memperlakukan Cordelia dengan baik. Nyonya Smith mengetuk pintu kamar tidurku, membuat aku segera bangun dan duduk dengan sopan. “Iya?” tanyaku pelan, merapihkan baju yang kusut dan berantakan. Wanita setengah baya itu menghampiri tempat tidur aku dengan senyum yang lebar. “Cordelia ada di bawah, kau ingin bertemu dengannya?” Mataku melebar. Baru saja aku memikirkan tentang gadis itu dan sekarang dia ada di sini. Tentu saja aku menerima tawaran itu, memangnya apa yang bisa aku lakukan? Menolak bertemu dengan putri satu – satunya pemilik rumah yang sedang aku tumpangi? “Baiklah, aku akan menyusul ke bawah. Beri aku waktu lima menit,” kata aku sembari memasang senyum similar. Nyonya Smith mengangguk dan keluar dari kamarku. Kamar anak putri satu – satunya itu. Hmh . . . seperti apa ya Cordelia itu? Aku berani bertaruh kalau dia secantik dan sebaik Nyonya Smith. Buru – buru aku merapihkan diri di cermin besar yang menggantung tepat di depan tempat tidur, merapihkan rambut dan baju yang kusut, lalu mengunyah permen penyegar mulut dengan cepat agar tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Bukannya aku bau mulut juga ‘sih, hanya saja aku punya ketakutan tentang bau mulut yang tiba – tiba menyerang di tengah konversasi. Setelah puas, aku mengangguk pada diriku sendiri. Aku menarik napas yang panjang, dan turun ke bawah secara pelan. Aku bisa mendengar suara konversasi dari bawah, diikuti piring dan gelas yang nyaring. Suara tawa seorang gadis dengan vokal yang manis, dan suara dari laki – laki yang berat dan husky. Aku berhenti di tengah tangga. Apa itu kekasih Cordelia yang dibicarakan oleh Nyonya Smith? Di saat itu, aku berterima kasih pada diriku sendiri karena sudah menelan permen penyegar mulut tadi. Aku melumat bibir dengan canggung ketika sudah mencapai di ruang makan. Dengan bodohnya, aku berdiri seperti imbesil melihat mereka sibuk berbicara tentang topik yang tidak aku mengerti. Tidak berapa lama, Nyonya Smith akhirnya tersadar dengan kehadiran aku. Dia segera berdiri dan mendorong aku masuk hingga berdiri di dekat anak gadisnya dan seorang laki – laki dengan tubuh yang tinggi dan masif. Awalnya, aku merasa terpana melihat Cordelia yang persis seperti cermin buatan Nyonya Smith sendiri. Dia terlihat begitu cantik, ramping, dan senyum lebarnya sangat menawan. Gadis itu mengulurkan tangan dengan ramah dan baik hati. “Halo, er, Saorise, ‘kan? Nama yang cantik untuk orang Asia,” sapa Cordelia. Aku menjabat tangannya. Kemudian atensi aku terarah ke laki – laki yang duduk di sebelahnya. Aku menahan napas ketika pandangan kami bertemu. Laki – laki itu sangat . . . what’s the correct term? Unreal? Bagaimana bisa seseorang terlihat seperti itu? Seperti Dewa Yunani yang diturunkan secara langsung ke bumi dan menyesatkan orang – orang di dalamnya? Aku mengagumi wajah itu cukup lama ketika akhirnya laki – laki itu melambaikan satu tangan padaku sebagai tanda sapaan, dan berkata dengan vokal yang merdu, “Aku Hunter. Hunter Hawkwolf.” Dan rasa kagum itu segera hilang, digantikan rasa kaget mendengar namanya. Hawkwolf. Itu nama yang tidak asing. Begitu aku datang ke kota kecil yang terpencil ini, gelap dan berkabut tebal, nama belakang itu langsung menjadi sesuatu yang eminen dan tak pernah aku lupa. Dia seorang Hawkwolf? *** I think it’s safe to say, that dinner was a bit awkward, karena satu – satunya yang menjadi fokus aku adalah laki – laki berwajah tampan di depan aku, duduk di sebelah kekasihnya, dan menyandang nama belakang Hawkwolf. Seberapa kecil kota ini hingga aku bisa bertemu dua Hawkwolf dalam jangka waktu yang cepat? Aku tidak bertanya lebih jauh tentang itu tentu saja, dan aku tidak membawa – bawa insiden bersama Damon saat di menara waktu itu. Tapi sungguh, aku begitu ingin tahu apa relasi Hunter ini dengan Damon. Apa mereka saudara? Aku rasa mereka saudara. Mereka memiliki aura yang sama, dan dua netra yang sama, cokelat keemasan yang terlihat begitu cantik di bawah sinar lampu yang terang. Mereka juga terdengar sama, vokal yang berat dan serak, seperti husky. Tapi bedanya, vokal Hunter terdengar merdu dan lembut, sedangkan vokal Damon lebih kasar dan bariton. Dan entah kenapa . . . aku tidak bisa berhenti memikirkan suara itu. “Saorise, besok kau mulai masuk sekolah, ‘kan?” tanya Nyonya Smith di sela konversasi dia dan Cordelia. Aku mengangguk dan memastikan kalau semua makanan sudah aku telan, baru aku menjawab pertanyaan Nyonya Smith. “Iya . . . er, Nyonya Smith?” Wanita itu menoleh padaku. Aku menelan ludah sebelum memberanikan untuk berkata, “Bolehkah aku meminjam mobilmu besok? Aku ada perkenalan dengan kelas tambahan yang aku ambil untuk ekstra kredit, dan aku rasa aku akan pulang cukup malam. Aku tahu kau akan ada di rumah besok seharian.” Semakin lama Nyonya Smith terdiam, semakin aku menyesal sudah meminta yang tidak – tidak. Wanita ini sudah begitu baik mau menampung aku di sini, dan sekarang bisa – bisanya aku meminjam mobil dia? Baiklah, jika dia memutuskan untuk mengusir aku di tengah meja makan seperti ini, aku tidak akan menyalahkan dia. “Boleh, tentu saja,” kata Nyonya Smith ditambah senyum yang lebar. Tanpa sadar aku mengeluarkan napas yang aku tahan sedari tadi. Cordelia dan Hunter akhirnya pulang setelah malam semakin dalam, dan aku naik ke atas dengan perasaan yang campur aduk. Rasanya seperti aku bingung untuk merasa apa. Segalanya bercampur menjadi satu di dalam buah hati. Aku merasa cemas, sebab siapa yang tidak cemas di hari pertama dia sekolah? Aku merasa takut, karena jujur saja, ini sesuatu yang baru untuk aku. Aku ada di kota yang asing, dan tanpa teman sama sekali. Tapi aku juga tidak bisa berbohong kalau aku sedikit tidak sabar menanti hari esok. Aku gugup untuk hari pertama aku di Universitas New Cresthill, tapi aku juga tidak bisa menanti semua pengalaman yang akan aku dapat di sana. Di tambah orang – orang baru yang akan aku temui, dan aku harap bisa menjadi teman baru aku. Tapi ketika mata aku akhirnya tertutup, dan tubuhku mulai di ambil oleh alam bawah sadar saat aku secara perlahan tertidur, aku merasakan hawa aneh dan asing di dalam kamar, dan aura yang membuat aku seperti di proteksi dan di tatap secara bersamaan. Aku biarkan perasaan aneh itu, dan tanpa sadar, aku sudah jatuh dalam dunia mimpi yang dipenuhi mata cokelat keemasan dan vokal berat yang terdengar indah di rungu. *** Besoknya, Nyonya Smith dengan wajah yang begitu menyesal dan berkali – kali meminta maaf padaku harus mengatakan kalau dia ada urusan urgen di sore hari, dan harus keluar hingga larut malam. Yang berarti aku tidak bisa menggunakan mobilnya. Tadinya aku sempat kecewa, tapi aku akhirnya kembali semangat dan tidak membiarkan hal itu merusak hari pertama aku di Universitas New Cresthill. Lagi pula, Nyonya Smith terlihat sangat merasa bersalah, dan tidak berhenti mengucapkan maaf. Dan kata – kata maaf itu dibarengi oleh kue cokelat terenak yang pernah aku makan, jadi aku tidak bisa kecewa dengan situasi tersebut. Aku berangkan dengan determinasi kalau aku akan menikmati hari ini, walau pun dengan masalah – masalah yang menghampiri aku. Aku berjalan ke kampus, yang memakan waktu lima belas menit lamanya. Aku menandakan tempat – tempat yang ingin aku kunjungi di kota ini, terutama kafe kopi kecil di perempatan jalan yang aku lewati tadi. Aku bisa mencium wangi kue – kue dari dalam kafe . . . aku harus ke sana. Segalanya berjalan cukup lancar. Aku bertemu dengan orang – orang baru, terutama dengan murid pertukaran pelajar yang lain. Aku bertemu juga dengan Michael, yang berbagi kelas dengan aku di beberapa subjek. Aku makan siang dengan teman baru, dan merencanakan akhir pekan bersama mereka. It’s safe to say, aku cukup senang dengan hari ini. Sampai akhirnya aku sampai di kelas terakhir, kelas tambahan yang aku ambil untuk ekstra kredit. Begitu kaki aku masuk di area auditorium, aku langsung bisa tahu presensi satu orang secara langsung. Presensi laki – laki yang semenjak pertama kali aku bertemu dengannya, menolak untuk pergi dari pikiran aku sendiri. Laki – laki yang duduk di salah satu bangku, kaki nya naik ke atas di bangku bawahnya, dan wajah datarnya begitu tampan hingga aku tidak peduli kalau dia terlihat sangat dingin. Entah kenapa rasanya seperti ada sengatan listrik yang mengalir di antara kami, seperti ada medan magnet di tubuh kami masing – masing, dan aku ditarik secara keras ke arahnya. Napasku tiba – tiba menjadi berat dan tidak beraturan. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi dua penopang tubuh aku akhirnya memutuskan kalau berdiri saja tidak akan menyelesaikan apa – apa. Jadi aku tetap turun di tangga auditorium, sudah memasang atensi pada kursi paling jauh dari dia. Tapi seperti dia juga bisa merasakan hal yang sama, laki – laki itu menjatuhkan kaki nya yang naik ke atas secara tidak sopan itu. Dua bahu masifnya menjadi tegak dan keras. Aku menahan napas, mataku membulat, berpikir kalau aku diam seperti patung, dia mungkin tidak akan merasakan presensi aku. Tapi tentu saja itu tidak terjadi. Kepala dengan rambut yang terlihat begitu lembut dan halus itu—hingga membuat aku ingin mengelusnya, membayangkan jari – jari aku menari di surai hitam itu—menoleh. Dia menoleh ke belakang, dan dua netra cokelat keemasan itu seperti menusuk dua obsidian aku secara intens. Laki – laki itu berdiri, menaiki tangga dengan langkah cepat dan tiga anak tangga sekaligus, dan dengan cepat di sudah berdiri di hadapan aku dalam jarak proksimal. “Saoirse,” katanya. Namaku seperti es krim di musim panas tatkala terlepas dari bibirnya. Seperti manisan di hari yang kelam. Aku nyaris terhuyung payah mendengar itu. “Damon Hawkwolf.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD