PART 4

2441 Words
4 SEUMUR HIDUP aku, hanya bisa dihitung beberapa kali aku pernah berinteraksi dengan kaum Adam. Jangan panggil aku berlebihan karena itu benar adanya. Aku tidak bohong. Pada dasarnya, aku mungkin bukan seseorang yang begitu anti sosial, tapi aku juga bukan orang yang begitu ramah dan out going. Jika bisa dibilang, aku ada ditengahnya. Aku tidak pandai basa – basi dengan orang asing, apalagi memperkenalkan diri terlebih dahulu pada orang. Aku juga tidak pandai menahan konversasi agar terus berjalan. Aku hanya seorang gadis cupu yang lebih suka sendiri dan diam di tempat. Selama aku sekolah, aku selalu duduk di paling belakang, di pojok, dan tersembunyi dari orang banyak. Hanya ada beberapa orang yang kenal siapa aku, siapa nama aku, dan apa yang aku lakukan di kegiatan sekolah selain belajar. Dan aku bisa jamin, nyaris semuanya adalah murid perempuan. Sungguh, aku hanya kenal beberapa murid lelaki dan itu pun karena mereka mau tak mau harus duduk di sebelah aku saat sedang tes sekolah. Intinya, aku tidak pernah punya banyak pengalaman perkara berinteraksi dengan laki – laki. Titik. Aku ini seperti seorang gadis yang baru keluar dari dunia, melihat dunia baru, dan merasakan dunia yang berbeda dari yang biasanya. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana perasaan aku saat Damon Hawkwolf dengan santainya, menutup jarak di antara kita hingga kami berdua berdiri secara proksimal, dan menyebut nama aku dengan nada bicara yang aneh begitu. Bayangkan rasa yang ada di dalam hati aku saat ini, ketika Damon Hawkwolf memperkenalkan dirinya dengan cara yang begitu intens dan percaya diri. Aku nyaris terhuyung payah sebab sungguh, presensi Damon Hawkwolf itu sangat kuat dan tinggi. Apa ini yang namanya gugup di depan kaum Adam? Apa ini yang orang – orang sebut kepakan sayap kupu – kupu di dalam perut? *** DAMON HAWKWOLF mungkin adalah salah satu laki – laki paling tampan dan eteril yang pernah aku temui. Tidak, scratch that. Damon Hakwolf mungkin adalah satu – satunya laki – laki paling tampan dan eteril yang pernah aku temui. Ada sesuatu darinya yang kapabel membangunkan sesuatu yang tidur di dalam tubuhku. Setiap kali aku berada di jarak proksimal dengan laki – laki ini, rasanya seperti ada tangan invisibel yang menari tuas menyala di dalam tubuh yang selalu tertidur ini. Seperti ada tanda klik pada tombol ON yang selalu aku tutup dalam – dalam. Seperti ada yang menyalakan aliran listrik bervoltase tinggi tatkala aku berada di dekatnya, sebab aku selalu merasakan sengatan listrik itu mengalir di epidermis tanpa ada halangan sama sekali. Heck . . . rasanya seperti ada yang membuka kandang kupu – kupu invisibel di dalam abdomen, sebab aku rasanya ingin terbang tinggi ke atas, terelevasi oleh kepakan sayap mereka. Dan di tengah – tengah itu semua, aku juga selalu merasa seperti gadis imbesil yang tidak bisa melakukan apa – apa sebab aku selalu mematung, yah, jika satu kali bertemu dengannya bisa dihitung sebuah pertemuan. Tatkala Damon Hawkwolf ini sudah berdiri di depan aku, mengabaikan seluruh pasang mata yang tertuju pada kami, aku merasakan jiwaku seperti bertemu dengan pasangannya. Dan hal itu membuat aku mundur satu langkah begitu cepat hingga aku nyaris jatuh jika tidak karena satu tangan masif yang melingkar di pinggang dan menarik aku ke arahnya. Aku jatuh ke dalam dekapan Damon Hawkwolf dengan bunyi hmhph yang keras, bersamaan dengan rasa malu yang menjalar ke seluruh wajah. Darah aku mendesir panas, membayangkan semua mata melihat aku nyaris jatuh secara payah di depan laki – laki ini—aku tidak akan menyalahkan mereka jika mereka pikir aku jatuh sebab melihat wajahnya yang sangat tampan—jadi aku hanya memfokuskan korteks visual pada dua mata cokelat keemasan milik dia. Damon mengerutkan keningnya, seperti tidak suka, seperti cemas, seperti berpikir kalau aku gadis yang suka jatuh setiap saat dan setiap detik. Like a girl who can’t see danger. “Hati – hati,” kata vokal berat itu. Aku menarik napas panjang dan berusaha melepas diri dari Damon, namun laki – laki itu secara tidak langsung memberi tahu kalau dia tidak akan melepaskan aku ketika tangannya justru semakin kuat dan menarik aku lebih dalam. Sekarang posisi aku berada di dua anak tangga di atas dia, namun kesalnya, Damon Hawkwolf masih jauh lebih tinggi dari pada aku. Dengan gaya kami, tubuh aku harus menyondong ke depan, dan dua tangan aku menjadi penghalang d**a aku dan dia agar tidak saling menyentuh. Damon mendekatkan bibirnya ke telinga aku dan berbisik, “It’s the second time you have fallen for me,” katanya lagi. Aku menggeleng dan berusaha mendorong dia, tapi tubuh besar laki – laki itu tentu saja bukan lawan yang seimbang untuk aku. Jadi aku meniup helai – helai surai yang jatuh di depan wajahku, dan berharap mereka menabrak wajah laki – laki tampan ini. Secara teknis, aku tentu saja bisa teriak minta tolong, tapi memangnya aku ingin mempermalukan diri aku sendiri lagi lebih jauh? Lagi pula, aku belum kenal siapa – siapa di sini, yang mungkin sudi membela aku dari Damon Hakwolf. Satu kali pertemuan saja bisa membuat aku sadar kalau dia punya kekuatan dan otoritas besar di sini. Dia pemilik kampus ini, for crying out loud. Tidak akan ada yang berani macam – macam dengan dia jika ingin masa sekolahnya tenang. “Damon—“ aku mengatupkan rahang melihat satu alisnya terangkat naik mendengar nama dia terlepas dari bibir aku. Menahan diri agar tidak menjadi gadis yang kasar dan impulsif di tengah banyak orang, aku memaksa diri sendiri untuk tetap tenang. “—lepaskan aku. Sekarang.” Semoga saja kata terakhir itu sanggup membuatnya mendengarkan aku. Tapi tentu saja, aku tidak terkejut sama sekali, saat dia hanya menggeleng dan tidak melepaskan pinggang aku sama sekali. Dan lebih parahnya, Damon justru semakin menjadi dengan melingkarkan lengan masif lainnya di sana. Aku menggeram kesal dan meronta, tapi Damon malah melepaskan tawa tipis. Dia tertawa? Benar - benar gila. Aku tidak peduli jika dia sangat tampan atau semacamnya. Jika berani menertawakan aku di depan banyak orang padahal dia yang salah. Baiklah, dia ingin menyelamatkan aku tadi, tapi memangnya harus sejauh ini? Dan aku sudah minta baik – baik. Aku sudah mengesampingkan amarah, dan harga diri, dan kesabaran yang kata orang tua aku adalah sebuah hal yang paling susah aku miliki hanya agar dia melepaskan aku. Damon Hawkwolf salah jika dia pikir aku akan menjadi seperti gadis – gadis di universitas ini, yang kebanyakan hanya ingin masuk ke dalam celananya, atau menjadi kekasih terbarunya. Atau laki – laki yang kebanyakan hanya ingin memanfaatkan dia, atau ikut dalam lingkaran orang – orang invisibel di sekolah ini. Baiklah . . . aku tahu mungkin aku terlalu cepat menghakimi murid – murid di sini, tapi dari cara mereka selalu tegang dan bungkuk dalam respek saat nama belakang Hawkwolf disebut membuat aku tidak bisa menahan untuk berpikir kalau mereka semacam keluarga ketat yang gila kuasa atau secamanya. Seperti orang kaya sombong dan angkuh. Walau aku tahu, Hunter semalam jauh dari kata angkuh. Tapi yah, satu kali pertemuan tidak bisa menjadi penentu karakter seseorang, ‘kan? Dan kau melakukannya pada Damon Hawkwolf, Shay. Aku menutup kata hati yang selalu membuat aku merasa bersalah setiap kali aku bertingkah keras kepala, dan menatap Damon lekat di matanya. “Lepaskan aku,” desis aku lebih tegas. “Apa kau tuli?” Beberapa orang di dekat kami mengeluarkan bunyi terkesiap dan terkejut, dan oh my God, apa mereka serius? Sebegitunya sampai tidak ada yang pernah bertanya apa kau tuli, apa kau sudah gila, apa kau hilang akal, pada laki – laki ini? Aku mengatakan hal itu terus – menerus pada adik laki – laki aku setiap hari! Itu jauh dari tidak sopan, dan kasar, dan mungkin sedikit berani. Damon terlihat menahan tawa. Sungguh, ujung bibirnya berkedut seperti menolak untuk naik ke atas membentuk garis kurva yang aku tahu hanya berarti satu hal. Menertawakan aku. Aku memukul dadanya, yang by the way, tidak ada efek sama sekali. Yang ada hanya kepalan tangan aku yang bertemu sesuatu yang keras seperti batu dan dinding masif. Seberapa kekar dan besarnya ‘sih laki – laki ini? “Lepaskan?” aku menahan diri agar tidak bergidik saat suara bariton itu meresonasi di rungu. Aku hanya bisa mengangguk, hilang sudah kepercayaan diri tadi bersama dengan lentunan vokal yang berat itu. “Saoirse, baby, kau sudah jatuh ke dalam perangkap sayang.” “Apa maksudnya itu?” tanyaku sengit, tidak suka dengan nada bicara dan implementasi yang diberikan dari ultimatum bodoh Damon itu. Laki – laki itu menelengkan kepalanya, dan secara perlahan melepaskan aku. Begitu pelan seperti dia ingin memastikan agar aku sudah berdiri dengan benar dan tidak jatuh lalu melukai diri aku sendiri. Setelah dia yakin, Damon menyibak surai aku yang berantakan dan mengaitkannya di belakang telinga. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Saoirse.” “Apa maksudnya—“ Kata – kata aku terhenti tatkala profesor kami masuk dan berhenti di tengah podium. Dia melihat kami berdua, tapi apa pun itu yang ingin dia katakan tertelan kembali dan aku menyaksikan secara langsung, bahkan profesor kami yang seharusnya memiliki wewenang paling tinggi di kelas ini menjadi lindap. Seharusnya kata – kata yang membuat Damon meninggalkan aku sendiri hilang dari bibirnya. Sebaliknya, dia melengos seperti tidak melihat kejadian itu dan melanjutkan berjalan ke arah meja berdiri di sisi podium, menyibukkan dirinya sendiri dengan kertas yang aku duga berisi materi hari ini. Profesor iut bertingkah seperti dia tidak melihat Damon Hakwolf di sebelah aku, seperti dia bukan hal yang harus dia pedulikan. Atau hal yang tak boleh dia ganggu. Aku menganga tak percaya, dan melihat Damon mengedipkan satu mata padaku dan kembali duduk di tempatnya. Ada apa dengan kota ini, ‘sih? *** Untungnya, Damon Hawkwolf tidak bersikeras untuk duduk di sebelahku. Begitu dia kembali k tempatnya, aku segera duduk di kuris paling jauh darinya sebisa mungkin. Aku memberikan senyum manis pada gadis di sebelahku—yang beberapa jam terakhir saat kelas akan selesai baru aku tahu bernama Linda—dan dia tidak membalas senyum itu. Oh, baiklah . . . setidaknya aku tahu semua orang di kota ini tidak seramah dan seberani Damon Hawkwolf dalam kategori menembus jarak pribadi manusia. Selama kelas berlangsung, aku merasakan panas di sisi wajahku yang hanya berarti satu, Damon menatap aku sepanjang pelajaran. Aku berusaha agar tidak menggubris permainan bodoh dia, tapi sesekali aku mendapati diriku sendiri tidak bisa menahan agar tidak menoleh. Dan setiap kali dua obsidian kami saling bertemu . . . dia akan mengedipkan satu netra padaku, dan aku nyaris mati di tempat. Kenapa juga dia harus begitu tampan? Rasanya seperti sesuatu yang ilegal. Seperti ada yang salah pada bumi. Seperti dewa membuat kesalahan pada kreasinya. Oh, dia terlalu perfek, tapi apa lagi yang bisa kami lakukan? Buatlah saja dia untuk menganggu hidup Saoirse Lee, gadis menyedihkan itu. Ugh, aku harap Damon Hawkwolf tersedak biji mandarin paling besar yang dia makan. Laki – laki itu seperti seorang tentara yang sangat ingin menyelesaikan misinya tatkala menatap aku sepanjang kelas, jadi aku tidak terkejut sama sekali saat langkah aku di koridor kampus terhalang dua penopang tubuh yang masif di balut oleh sepatu boot raksasa yang sepertinya bisa menghancurkan tulang kaki aku jika menginjak mereka. Tidak perlu bagiku untuk mendongak agar tahu siapa yang sudah menghadang aku di tengah koridor. Nyatanya, bahkan baru dua kali insiden bertemu dengan Damon Hawkwolf ini, aku sudah bisa mengenali laki – laki itu dari wangi tuuhnya. Dan itu aneh, sebab aku tidak tahu seseorang bisa punya aromatik sejelas laki – laki ini. Aku membuyarkan lamunanku dan buru – buru memasang wajah paling kejam yang aku bisa. “Ada yang bisa aku bantu?” “Aku akan mengantar kamu pulang,” katanya santai. Bukan pertanyaan, bukan permintaan juga. Hanya sebuah pernyataan yang tidak meninggalkan ruang untuk argumen. Aku mundur satu langkah, sesuatu yang belakangan aku sadari sebagai hal yang natural ketika berhadapan dengan laki – laki ini. Lalu aku mengangkat dua alisku seperti ingin mengatakan kau sudah gila, ya? Seperti bisa membaca pikiran aku, Damon menggeleng. “Aku serius. Aku akan mengantar kamu pulang.” “Er, aku rasa tidak perlu. Aku . . . bisa jalan kaki.” Saat ini giliran dia yang menatap aku seperti aku gila. Seperti aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat menyinggung, dan membuat dia terluka. Ekspresi wajahnya berubah menjadi marah dan frustasi. “Apa kau selalu seperti ini?” “Seperti apa?” “Tidak sadar pada bahaya. Ceroboh. Keras kepala.” Aku menggeretakkan gigi padanya, “Aku tidak keras kepala.” “I beg to differ.” Aku tidak menjawab itu. Sebagian sebab aku sadar kalau malam semakin dalam, mendekati pukul setengah sepuluh, dan lebih lama lagi aku adu argumen dengan Damon, akan semakin malam aku berdiri di sini. Sebagian lagi sebab aku tahu dia benar, tapi selain ibu, aku tidak akan pernah mengaku kalau aku keras kepala. “Good bye, Damon.” Aku segera akan pergi dari sana, berharap kalau semua ini akan segera berakhir. Aku hanya ingin pulang, itu saja. “Not a good bye yet,” Damon menarik lenganku. Aku segera protes, dan menarik balik, tapi laki – laki itu sudah lebih dulu menyeret aku ke arah mobil yang besar dan hitam. Mobil jeep itu diparkir di tengah parkiran kampus yang secara mayoritas sudah kosong. Dan aku hanya bisa pasrah saat dia membuka pintu itu sembari menunggu aku masuk. “It’s either you get in, or I get you in.” Dan tentu saja aku tidak akan membiarkan dia mendorong aku masuk ke dalam mobil ini. Jadi aku hanya melotot ke arahnya, dan menggerutu sepanjang perjalanan. *** “Nyonya Smith?” tanya Damon saat mesin mobilnya sudah berhenti di depan rumah host yang akan aku tempat selama satu tahun ke depan itu. Aku mengangguk sembari membuka sabuk pengaman dan mengangkat tas aku dari bawah. “Iya,” kataku sedikit lebih pelan dari yang aku mau. Hari ini adalah hari yang panjang, dan aku sudah mulai bisa merasakan lelah memasuki seluruh tubuh. Damon mengumbang pelan. Dia membiarkan aku keluar dari mobilnya setelah aku berterima kasih, dan untuk waktu yang lama mendengar mesin mobilnya akhirnya menyala dan pergi. Aku melambaikan satu tangan pada Nyonya Smith, mengatakan selamat malam dan buru – buru membersihkan diri agar bisa tidur. Mungkin sebab rasa lelah, atau rasa bingung pada kota kecil bernama New Cresthill ini. Tapi aku tidak tersadar dengan wajah cemas Nyonya Smith. Atau bagaimana aku merasa hangat walau pun seharusnya cuaca terasa dingin. Atau bagaimana aku juga tidak sadar, bahwa selama aku tidur, rasanya seperti ada dua pasang mata terang yang memerhatikan aku dari kegelapan. Mungkin karena aku lelah, tapi aku merasa tidurku malam itu adalah tidur terbaik yang pernah aku rasakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD