5
SELAMA NYARIS seluruh malam kala itu, aku merasa seperti sedang diperhatikan oleh sesuatu dari kegelapan. Panggil aku hiperbola, tapi rasanya seperti sedang ada orang yang duduk di kejauhan, dan menatap aku dengan serius.
Aku tahu itu tidak mungkin. Maksusd aku, siapa yang mau menatap aku tidur sepanjang satu malam?
Bahkan menonton acara teve paling membosankan lebih baik dari pada harus menatap wajah aku sepanjang malam. Dan yang lebih tidak mungkin adalah, dari mana orang itu akan menatap wajah aku? Dari atas pohon besar yang sangat rindang di sebelah rumah Nyonya Smith? Itu tidak mungkin, sebab pohon itu menghadap ke arah yang lain.
Dari jendela? Aku melirik jendela kamar yang sedang terbuka lebar. Tirai putih yang aku pasang untuk menghalangi arah pandang orang dari luar terbang diterap angin. Aku mengamati jendela itu dan mendadak merasa merinding. Semua surai di epidermis berdiri naik, menandakan kalau aku sedang bergidik. Buru – buru aku kembali fokus ke depan kaca dan membenarkan surai hitam panjang yang aku punya.
Aku tahu ini mungkin hanya perasaan tak nyaman tidur di tempat baru, tapi baru kali ini aku merasa seperti itu di rumah Nyonya Smith. Dari kemarin, aku tidur dengan santai, tanpa merasa seperti sedang diperhatikan. Dan anehnya lagi, aku hanya merasa bingung. Merasa penasaran. Bukan takut. Anehnya, aku tidak merasa takut dan cemas dengan fakta itu.
Padahal, seharusnya jika aku merasa seperti diperhatikan di tengah malam, di bawah langit yang gelap, dan dari jendela kamar yang seharusnya tertutup, aku merasa takut, kan? Aku membuang napas panjang dan menaruh sisir besar di atas meja rias. Ini keterlaluan. Mungkin aku terlalu lelah kemarin, itu benar. Atau mungkin Damon Hawkwolf sudah membuat pikiran aku kacau.
Damon Hawkwolf . . .
Kenapa rasanya seperti aneh memikirkan nama itu? Kenapa rasanya begitu nyaman membayangkan presensi dia?
Oh, no. Aku menampar pipi aku pelan dan berdiri.
Ini bukan waktunya berkhayal hal yang bodoh, Saoirse.
***
“SELAMAT PAGI,” sapa suara yang semakin hari semakin aku kenal. Begitu aku memutar tubuh dari meja kafe di seberang kampus—yang by the way, menyediakan kopi paling nikma yang pernah aku coba—aku sudah tahu siapa yang berdiri di belakang aku.
Michael.
Laki – laki itu mengenakan switer hangat kampus yang berwarna merah marun bertuliskan NEW CRESTHILL 1888 di depannya, memberi tahu pada orang banyak tentang tahun pertama universitas ini dibangun.
Aku harus lebih banyak mencari tahu tentang kampus ini, sebab selain terletak di ujung bumi yang terpencil yaitu kota mini bernama New Cresthill ini, anehnya universitas ini juga bertahan lama walau sepengatahuan aku hanya ada lokal yang sekolah di sana.
Menurut Leo, tour guide kami selama masa orientasi kemarin, Universitas New Cresthill ini baru sekali menjalankan program pertukaran pelajar seperti sekarang. Sekitar dua sampai tiga tahun yang lalu.
Ketika aku tanya alasannya kenapa, Leo hanya mengedikkan bahu, memberikan jawaban yang ambigu dan tak berguna sama sekali. Tapi dari cara dia menahan senyuk agar garis kurva itu tidak terlukis di bibirnya, dan mata yang berkerling penuh makna, aku tahu laki – laki itu menyembunyikan sesuatu.
Michael mengibaskan tangan di depan wajah aku. “Earth to Shay,” katanya dengan senyum lebar. Baru satu minggu berteman dengan laki – laki itu, dia sudah tahu nama panggilan kesayanagn aku di keluarga dan menemukan tempat spesial sebagai teman dekat di dalam hati. “Kau selalu melakukan itu, kau tahu?”
“Melakukan apa?” tanyaku bingung.
“Hilang,” jawabnya. “Seperti pikiranmu pergi ke tempat lain di dalam sana.” Michael menepuk kening aku dengan dua jari secara pelan.
Aku mendengkus bercanda, mendorong bahunya pelan ke belakang. “Aku tidak melakukan itu.”
“Sure you do,” dia mengedikkan bahu. “Aku tidak peduli.”
“Kenapa?”
“Karena kau terlihat menggemaskan ketika itu terjadi,” ujarnya santai, seperti sedang tidak mengatakan sesuatu yang membuat hatiku berdegup kencang, dan wajahku tersipu.
Aku memicingkan mata padanya. “Jika ini caramu untuk mendapatkan kopi gratis, maka selamat, kau sudah berhasil.”
Michael tertawa lepas. Gelak harsa itu meresonasi di dalam kafe kecil yang masih terbilang sepi di pagi hari itu. Aku melirik sekitar jika ada yang keberatan dengan fakta kalau Michael baru saja melakukan keributan publik, tapi dilihat dari dua orang yang duduk di ujung ruangan sibuk memakan panekuk, dan satu orang kakek di dekat jendela besar kafe sibuk membaca koran, aku rasa Michael bisa bebas dari delikan orang sinis.
Aku membuktikan kata – kata aku dengan menyingkir dari depan meja kasir kafe dan membiarkan dia memilih kopi yang dia inginkan. Saat dia sudah selesai memilih dan aku membayar satu lagi pesanan, Michael menyandarkan sisi pinggulnya di meja dan melipat dua tangan di depan d**a.
“So . . .”
“So?” balasku sembari mengikuti gayanya.
Hidung tinggi Michael mengkerut lucu, menatap aku dengan kepala menunduk—karena sungguh, setiap laki – laki yang aku temui di hidup aku pasti berukuran raksasa semua. “How do you like it here?”
“Here where? Kota New Cresthill, atau Universitas New Cresthill, atau rumah host – aku, atau di sini di kafe bersama denganmu?”
Laki – laki di depan aku menggeleng tak percaya. “Kau benar – benar tidak bisa ditebak, Shay.”
“Thank you. I will take that as a compliment . . .”
“Maksud aku di sini, di kota ini, di kampus, di mana saja itu,” jelas Michael.
“Er, aku suka. I guess.”
“You guess?” dua alis laki – laki itu naik ke atas. “Maksudnya?”
“Aku belum menemukan alasan kenapa aku harus tidak suka dengan New Cresthiil,” kataku untuk menjelaskan lebih panjang bagi Michael. “Bahkan subjek membosankan dan rumit seperti Pragmatik, atau kelas Profesor Ilyas yang menyakitkan. Sungguh, aku rasa laki – laki itu punya keajaiban sendiri dan kekuatan yang tidak kita tahu untuk membuat orang terlelap.”
Michael tertawa lagi, dan belakang aku sadar kalau aku suka tawa itu. Tawanya seperti puas dan tulus. Bukan bercanda atau palsu demi memuaskan teman bicaranya. “Profesor Ilyas memang berbeda dari yang lain,” katanya setuju dengan kata – kata aku. “Tapi benar, tidak ada sama sekali?”
“Well, itu, dan fakta kalau kota ini sangat terpencil dan berada di antah berantah,” sambungku. “Aku pikir aku masuk ke Narnia atau semacamnya.”
“Tidak ada lemari dan singa magis, Shay,” Michael menatapku lekat. “Hanya hutan dan serigalanya.”
“Ugh, somehow, that’s even worse.”
Pelayan di belakang kami membunyikan lonceng dan memberikan kami dua kap kopi. Kopi dingin untuk aku, dan kopi hangat hitam untuk Michael. Kami berdua segera beranjak dari kafe dan menelusuri jalan setapak yang menuju seberang kampus.
“Jadi, lebih banyak alasan kenapa kau suka kota ini?”
Ketika aku menatap sekeliling dan memikirkan Nyonya Smith, Cordelia dan pacarnya, toko – toko kecil yang berestetika, serta sepasang mata cokelat keemasan yang tidak bisa pergi dari dalam pikiran aku, aku mengangguk pada Michael.
Bagaimana bisa aku tidak suka pada kota kecil milik Damon Hakwolf?
Dan saat aku sudah berpisah dengan Michael barulah aku menyerap kata – katanya. Hutan dan serigalanya?
***
Belum lama aku ada di kota itu, aku sudah mengetahui hukum utama di sana. Jangan macam – macam dengan keluarga Hawkwolf. Aku tidak terkejut ‘sih. Orang bodoh mana yang tidak bisa membaca situasi itu?
Tapi nyatanya, tatkala aku sedang duduk di salah satu bangku taman kampus, aku bertemu dengan orang bodoh itu secara langsung.
Orang bodoh yang tiba – tiba duduk di samping aku dan menyeringai lebar. Di situasi itu, aku sempat ingin menyemburnya dengan kopi sisa tadi pagi yang masih aku pegang, tapi perilaku norma dari ajaran keluarga Asia yang mendarah daging membuat aku tersenyum ramah padanya.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku dengan nada bicara seramah mungkin.
Orang bodoh dengan wajah lebih bodoh lagi itu justru duduk semakin dekat, membuat dua kaki kami bersentuhan. Secara instingtif aku bergeser menjauh dari dia.
“Hai, murid pertukaran pelajar, ‘kan?” tanya laki – laki dengan surai panjang sebahu dan kulit putih. Aku mengangkat alis padanya, mengobservasi lelaki cantik yang mungkin akan aku apresiasi jika dia balas meng-apresiasi jarak proksimal normal antara dua orang manusia.
“Er, iya. Ada apa, ya?”
“Aku Ripley,” katanya sembari mengulurkan tangan. Aku menatap tangan itu seperti sebuah benda yang dipenuhi bakteri dan kuman. Merasa aku tidak akan membalas uluran tangan itu dan menjabatnya, Ripley menarik lengannya dan menyembunyikan malu dengan menyibak surai panjang itu ke atas.
“Halo Ripley, apa aku kenal denganmu?”
“Tidak, tapi kau akan mengenal aku sedikit lagi,” kata dia dengan percaya diri. “Apa kau bebas nanti malam?”
“Apa?”
“Nanti malam? Apa kau punya waktu kosong? Mau pergi denganku ke Stella’s?”
Aku menatap Michael seperti dia baru saja melahirkan anak di depan aku secara nyata. Stella’s? Bukankah itu kelab malam di sebelah selatan New Cresthill? Dia mengajak aku ke sana di pertemuan pertama kita?
Apa gadis – gadis sungguh jatuh dalam perangkap bodoh dia ini?
Ripley tidak terlihat gentar sama sekali. “Jadi? Wanna spend the night with me?”
“Apa kau bahkan tahu namaku?”
“Tidak masalah, yang penting kau tahu namaku,” dan dia mengedipkan satu mata padaku.
Nyaris saja aku muntar jika tidak melihat sebuah tangan masif yang tiba – tiba saja menyelinap di leher Ripley dan menari tubuh laki – laki itu secara brutal ke belakang, lalu melemparnya ke samping dan jatuh ke rumput.
Aku terkesiap, bangun dari bangku taman dan melihat pelaku kekerasan itu.
Damon Hawkwolf berdiri dengan wajah yang . . . marah? Dua tangan yang masif itu mengepal di sisi tubuh. Rahang yang terkatup membuat wajah datarnya semakin menakutkan. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi satu hal yang aku tahu, Ripley yang malang tidak pantas diperlakukan seperti itu.
Baru saja aku akan membungkuk dan menolong laki – laki yang walau pun tidak aku suka berdiri, sebuah geraman yang nyaris terdengar bak binatang buas terlepas dari d**a dan kerongkongan Damon. Aku mundur satu langkah, terlalu terkejut untuk bereaksi.
Apa dia . . .
Apa itu tadi?
Aku menatap Damon yang—jika tatapan bisa membunuh, sudah pasti Ripley hanya tinggal nama sekarang. Laki – laki itu berdiri dengan susah payah, meringis memegang pinggang dia dan memandang Damon sembari menelan ludah.
Lalu dia tertawa canggung mencoba mencairkan suasana. “D-damon, hey man, what’s up?” tapi tentu saja Damon tidak menajwab. “Er, aku hanya—hanya berbicara dengan, er . . .”
“Saoirse,” ucapku pelan untuk membantu jiwa malang ini.
Yang ingin dia lakukan hanya mengajak seorang gadis ke kelab—walau aku tahu caranya salah dan menyedihkan. Tapi melihat dia ditindas habis – habisan oleh Damon membuat aku sedikit iba.
“Ya, benar, Saoirse,” kata Ripley.
Mendengar nama aku dari bibir laki – laki itu, Damon maju satu langkah lagi. “Jangan sebut namanya. Dan jika kau berani mendekat dengan dia lagi, aku akan melakukan lebih jauh dari mendorong kau ke tanah. Mungkin seperti menguburmu di dalamnya. Mengerti?”
Giliran aku yang menelan ludah. Ripley mengerjapkan mata berkali – kali, bak tak percaya kalau seseorang baru saja mengancam dia di tengah hari, dan dalam area kampus pula. Lalu kejadian bodoh itu terjadi. Ripley si orang bodoh menelengkan kepala berusaha memperlihatkan kalau dia tidak tertindas.
Dan dengan suara yang mungkin dimaksudkan terdengar bercanda, Ripley berkata, “Oh, come on, Damon. Tidak semua gadis baru di kota ini bisa kalian para Hawkwolf miliki, ‘kan?”
Damon Hawkwolf menderap ke arah Ripley. Dengan horor aku melihat laki – laki itu melingkarkan jari – jari masifnya di leher laki – laki itu, dan mendorongnya penuh amarah. Aku melihat Damon menghentakkan tubuh kurus dan tinggi Ripley ke pohon terdekat. Ripley berteriak kesakitan, tapi suaranya tercekat oleh cekikan kuat di lehernya.
Wajah Ripley berubah merah, dan aku melihat secara jelas laki – laki itu kesulitan bernapas.
Tubuh aku mengingat kalau ini sebuah bahaya, lalu akhirnya bisa digerakkan. Aku berlari ke arah mereka, berusaha menarik lengan besar Damon agar melepas Ripley yang walau pun bodoh tapi terlihat sangat menyedihkan.
“Damon! Oh my God, Damon, lepaskan dia!” aku memukul lengannya, mencubit, berteriak, tapi gagal. “Damon!”
Merasa putus asa, aku akhirnya berteriak minta tolong pada siapa pun yang melihat kejadian ini. Tapi sudah jelas, mereka semua bukan Ripley yang berani melawan seorang Hawkwolf.
“Tolong! Tolong aku, apa kalian tidak melihat ini?” teriak aku pada tiga orang murid yang berdiri tidak jauh dari kami. Wajah mereka semua pucat, dan mematung tidak jelas. Aku berdecak dan mencari ke arah lain. Seorang gadis berjalan ke arah parkiran, tapi dari tubuh masif di sebelahnya, aku segera mengenali siapa gadis itu.
“CORDELIA!” aku berteriak histeris. Aku tidak tahu apa mungkin teriakan aku terdengar sampai ke parkiran, tapi kepala Hunter yang lebih dulu menoleh ke arahku. Kemudian Cordelia menatap kekasihnya. Hunter seperti berkata sesuatu hingga gadis itu ikut menoleh.
Aku melompat – lompat ke atas agar mereka melihat seberapa putus asanya aku, “Cordelia! Hunter! Tolong aku!”
Hunter yang lebih dulu lari, diikuti Cordelia yang tidak bisa mengerjanya. Dia melewati jarak antara taman kampus dan parkiran secepat kilat. Mungkin jika aku sedang tidak panik dan cemas sebab wajah Ripley sudah hampir biru sekarang, aku akan mempertanyakan bagaimana bisa Hunter berlari secepat itu, tapi aku tidak bisa memikirkan hal yang lain selain Damon.
Damon yang sedang mencekik Ripley.
Hunter menarik tubuh saudaranya dari laki – laki itu, membuat Ripley terbatuk dan menarik napas sebisa mungkin, tangannya mengudara tidak karuan, dan lututnya jatuh ke tanah. Aku berlari ke arahnya, menepuk – nepuk bahunya membantu laki – laki itu bernapas.
Damon menggeram lagi, lebih parah, lebih brutal, tapi Hunter menangkapnya dan mengunci tubuh laki – laki itu dalam posisi kunci mati.
“Er, Saoirse?” suara Cordelia memutus atmosfer yang tegang. Aku mendongak ke atas, menatap gadis itu. “Sebaiknya kau menjauh dari laki – laki itu, yeah?”
“Kenapa?” tanyaku bingung, sembari mengelus punggung Ripley. Aku tidak menghiraukan erangan keras dari Damon atau teriakan peringatan dari Hunter, sebab aku terlalu marah dan bingung dengan situasi ini.
Damon benar – benar absurd. Bagiamana bisa dia menyerang seorang laki – laki hanya karena dia mengajak aku ke kelab?
“Saoirse,” Cordelia mendekat. Dia memegang bahu aku. “Percayalah dan menjauh darinya.”
Aku berdiri dengan helaan napas berat, melipat dua tangan di depan d**a dan mendelik ke arah Cordelia. Aku tidak bisa menahannya. Gadis ini juga sama absurdnya. Bukankah seharusnya kita menolong Ripley?
“Ada apa ‘sih, ini?” aku menggerutu. “Dan bisakah kau membuat saudaramu itu diam?” bentak aku keras.
Damon berhenti, membuat Hunter yang kewalahan ikut terdiam. Dua mata cokelat keemasan itu menatap aku lekat.
“What’s your problem?” tanyaku kesal.
“My problem is you,” Damon bernapas keras dan memburu. “My problem is that you’re mine.”