6
“AKU BUKAN milik siapa pun,” ketus aku keras saat Damon sudah berhenti bicara. Pria itu menatap aku seperti aku baru saja menyinggung semua anggota keluarganya. Seperti aku baru saja menculik anak laki – laki pertama di keluarganya. Seperti aku baru saja menusuk di dengan kayu lancip yang tajam, dan membuatnya berdarah secara eksesif.
Aku menahan diri agar tidak merasa bersalah. Aku telan kembali kata maaf dalam – dalam, dan melipat dua tangan di depan. Damon hanya bisa berdiri menatap aku tak percaya, sementara sebagian kecil dari hati aku merasa menang karena akhirnya bisa menang dan membuat pria ini tutup mulut. Aku menelan ludah saat dia mendekat. Jarak kami sangat proksimal hingga aku bisa merasakan deru napas dari laki – laki yang masih tak bernapas dengan normal.
Apa yang dia lakukan pada Ripley membuat percaya diri aku sedikit turun. Dua tangan aku yang terlipat ke depan ikut turun, sehingga tidak ada barrier antara aku dan Damon Hawkwolf. Pria itu hendak mengatakan sesuatu, tapi dia bersungut dan mengerutkan keningnya. Damon seperti mencium sesuatu, lalu dia mundur satu langkah menjauh dari aku.
Aku menaikkan dua alis secara otomatis. “Ada apa? Kenapa?” tanya aku seperti ada yang salah dari diriku sendiri.
Damon menggeleng. “Kau takut?” tanya dia pelan. Dia mundur lagi satu langkah. Entah kenapa manuver itu membuat sesuatu di dalam hati aku mencelus, seperti melihat Damon menjauh adalah hal yang salah. Aku menahan diri agar tidak protes. “Kau . . . takut padaku, Saoirse?”
Alis aku menyatu. “Aku tidak pernah bilang begitu,” jawab aku pelan. “Aku tidak pernah bilang takut padamu.”
“Tapi aku bisa merasakannya,” dia membalas. “Kenapa kau takut padaku?”
Bayangan apa yangd dia lakukan pada Ripley kembali berjalan di depan mata sehingga aku merasa dia ada benarnya. Aku mungkin sedikit takut pada pria itu.
“Aku hanya—aku . . . tidak takut. Sungguh.”
“Kau takut,” Damon menggeleng. Dia mundur semakin jauh sementara aku hanya bisa mematung di tempat. “Kau takut padaku. Kau tidak perlu takut padaku, Saoirse. I don’t hurt what’s mine. I will never hurt you.”
***
MY PROBLEM IS THAT YOU ARE MINE.
Er, halo, sejak kapan aku berubah menjadi properti seseorang? Bahkan dua orang tua aku saja tidak pernah meng – klaim aku sesuka hati begitu. Mereka percaya dan setuju dengan sentimen kalau anak itu bukan properti orang tua dan mereka bisa memilih jalan hidup sendiri – sendiri.
Dan sekarang, ketika aku pindah ke tempat terpencil dan kecil, ada laki – laki asing yang dengan sesuka hati menaruh klaim pada aku?
Memangnya dia pikir dia siapa?
Aku tidak peduli jika dia seorang Hawkwolf. Aku tidak peduli kalau dia semacam keturunan penemu kota ini atau apa lah itu yang membuat semua warga tunduk dan respek pada mereka. Aku lebih tidak peduli lagi jika orang – orang takut padanya—yang membuat aku juga seharusnya takut pada mereka.
Damon Hawkwolf tidak punya hak mengatakan kalau aku punya dia.
Aku baru kenal laki – laki itu tidak lebih dari dua minggu. Bertemu dengan dia pun aku dengan cara yang tidak baik. Salah paham di antara kami membuat aku sedikit tidak suka padanya, walau pun setiap kali dua mata kami saling bertatap aku rasanya ingin melayang.
Tabiat dia yang seenaknya, dan sengak, dan tidak peduli pada orang, beserta wajah yang datar seolah orang lain di dunia ini hanya sampah yang tak perlu atensi dari dia membuat aku semakin tidak suka pada laki – laki itu.
Lantas, kenapa sekarang, setelah kurang lebih tiga hari alias selama akhir pekan, ultimatum Damon Hawkwolf itu masih terngiang di rungu?
Kenapa aku masih bisa mendengar dengan jelas vokal berat namun manis dan kasar secara bersamaan seperti sudah terekam di dalam hati?
Kenapa aku rasanya masih ingin melayang ke atas, menari di udara, dan tersengat listrik yang menghangatkan seluruh epidermis setiap membayangkan bibir merah muda dan manis itu mengucapkan, “You are mine” padaku?
Aku pasti sudah gila.
Tidak ada penjelasan lain selain aku sudah hilang akal. Mungkin aku stres karena perpindahan wilayah dan pelajaran? Mungkin aku sedang tidak sehat sebab kelelahan dan kewalahan dengan semua ini?
Apa pun itu, aku harus meyakinkan diri sendiri untuk tidak meleburkan hati bagi laki – laki itu. Tidak ada gunanya aku memikirkan omong kosong semacam pria yang meng – klaim seorang gadis seenaknya di tengah taman kampus tanpa permisi.
Nyonya Smith mengetuk pintu kamar aku. “Saorise?”
“Shay saja bisa, Nyonya Smith,” kataku sembari tersenyum. Aku menoleh dari depan layar kaca komputer pribadi aku, yang by the way, tidak aku perhatikan sama sekali. “Shay saja.”
“Kalau begitu, kau mau memanggil namaku dengan nama depan aku saja?” balas Nyonya Smith yang tahu jelas jawaban aku apa.
Aku terkesiap, pura – pura terkejut bukan main dengan permintaan itu. “Aku? Memanggil kau dengan nama depan saja?” tanganku menutup mulut dramatik. “Blasphemy. Itu seperti kelakuan gadis tidak sopan, Nyonya Smith. Dari tempat aku datang, kau bisa dikucilkan.”
“Dikucilkan?” Nyonya Smith ikut berdrama, tapi dari sorot matanya aku tahu dia sedang menahan tawa.
“Er . . . baiklah, mungkin itu terlalu ekstrim.”
Wanita cantik dengan surai panjang yang mengkilat itu menggeleng. Dia memanggil aku dengan uluran tangan. Sesuatu yang membuat aku selalu merasa seperti berada di rumah sendiri walau baru ada di sini tidak lebih dari satu bulan.
“Makan malam sudah siap,” katanya. “Ayo, turun ke bawah. Temani orang tua malang ini yang ditinggalkan putrinya sendiri hanya karena kekasihnya lebih menggiurkan dari pada aku.”
Aku tertawa. Bagaimana tidak? Nyonya Smith selalu mengutarakan kesepiannya dan menggerutu sebab Cordelia lebih memilih tinggal bersama Hunter dari pada menemani dia yang sendiri.
Begitu kami sudah sampai di bawah, wangi makanan segera menyerang hidungku. Tingkat nafsu makan aku segera naik, menginkres tatkala melihat lasagna ala Nyonya Smith yang sangat lezat diikuti dengan berbagai macam makanan samping yang tidak kalah fenomenal.
Belum lama kami duduk, kami berdua sudah makan bak hewan kelaparan.
“Bagaimana? Enak?” tanya Nyonya Smith saat kami berdua sudah menyantap makanan penutup yang hanya terdiri dari es krim Vanilla untuk aku, dan es krim cokelat untuk wanita cantik di seberang aku.
“Selalu,” jawabku mantap. “Kapan masakanmu tidak enak?”
Nyonya Smith mengacungkan jempol. “Aku akan mencoba membuatkan menu makanan Asia untuk kamu. Agar kau merasa seperti berada di rumah,” katanya sembari mengambil satu skup es krim lagi.
“Oh, kau tidak perlu melakukan itu,” balasku cepat. “Tidak perlu repot – repot.”
“Apanya yang repot?” dia mengibaskan tangan. “Aku suka masak. Lagi pula, Cordelia sudah tidak bisa makan setiap malam di sini. Siapa lagi yang akan makan masakan aku jika bukan kau?”
Aku menggigit bibir mendengar nama Cordelia. Merasa kalau topik memang sedang mengarah ke sana, aku memutuskan untuk bertanya, “Cordelia . . . sudah berapa lama bersama dengan Hunter?”
Nyonya Smith mengangkat dua alisnya. Mungkin terkejut karena aku tiba – tiba menanyakan hubungan putri satu – satunya dengan pacar yang misterius. Tapi kemudian wanita itu tersenyum tipis. “Er, sekitar satu tahun kurang lebih? Aku lupa.”
“Oh.” Aku mengaduk es krim aku. “Orang seperti apa Hunter Hawkwolf itu?”
“Baik?” Nyonya Smith menelengkan kepalanya. “Er, dia anak yang baik. Kenapa kau bertanya?”
“Tidak,” jawabku cepat. “Aku hanya . . . dia terlihat misterius, itu saja.”
Nyonya Smith menatap aku lama, membuat aku menyesal sudah membuka topik ini. Selama beberapa saat tidak ada dari kami yang membuka mulut. Es krim kami secara perlahan meleleh di mangku kecil berwarna putih. Namun, akhrirnya Nyonya Smith menghela napas berat.
“Kau ingin tahu tentang Hunter, atau tentang keluarga Hawkwolf?”
Aku mendongak sangat cepat hingga saraf di leherku protes keras. “Er . . . dua – duanya?”
Nyonya Smith tersenyum penuh arti. “Siapa yang ingin kau tahu?”
“Apa?”
“Saudara laki – laki Hawkwolf mana yang ingin kau tahu?”
Aku berpura – pura bodoh, mengerjapkan mata pada Nyonya Smith seolah aku tidak mengerti apa yang dia tanyakan. Memang ada satu partikular saudara laki – laki Hawkwolf yang menari di dalam benak aku. Tapi, bagaimana bisa Nyonya Smith tahu kalau aku ingin melontarkan inkuiri itu?
Melihat aku yang masih tidak menjawab, Nyonya Smith melanjutkan, “Saoirse—“
“Shay,” potongku secara otomatis.
“Shay,” Nyonya Smith menekankan secara bercanda. Aku memutar dua mataku secara bercanda juga. “Kenapa kau bertanya begitu?”
“Tidak. Sungguh. Aku hanya penasaran. Itu saja. Rasanya keluarga Hawkwolf itu bukan orang sembarangan di kota ini,” jelasku. Itu bukan bohong, ‘kan? Kenyataannya, kota ini memang punya sesuatu yang aneh.
“Ada yang mengganggumu?”
Aku tidak bisa menjawab itu dengan cepat. Secara teknis, ada beberapa kali aku merasa diganggu orang. Terlebih kemarin bersama Ripley . . . tapi selalu ada yang namanya Damon Hawkwolf.
“Kau tahu Damon Hawkwolf?”
Nyonya Smith berhenti bergerak. Dia menatap es krim di tangannya. Aku mengumpat di dalam hati. Apa itu inkuiri yang salah?
“Damon?”
“Iya,” kataku pelan, seperti berkata pada hewan buas yang berusaha aku tenangkan. “Er, kenapa?”
“Kenapa Damon?”
“Tidak. Lupakan saja, Nyonya Smith—“
“Shay, kenapa Damon?”
Aku terdiam, beprikir lama. Kenapa Damon? Itu pertanyaan yang bagus. Kenapa laki – laki itu yang aku tanyakan? Kenapa dia selalu ada di sekitar aku? Kenapa dia selalu mengatakan kata – kata yang absurd seperti aku ini milik dia? Bukan hanya sekali, tapi berkali – kali. Kenapa dia selalu mengganggu aku, selalu melewati batas proksimal manusia di sisi aku, dan selalu ada di dalam benak aku?
Kenapa aku selalu ingat raksi tubuh laki – laki itu? Kenapa aku selalu teringat vokal berat dan husky milik dia? Kenapa aku selalu bisa membayangkan wajah perfeknya walau aku tidak bertemu dia di hari yang sama?
Kenapa Damon Hawkwolf?
Aku mengedikkan bahu. “Tidak tahu,” jawabku jujur.
Nyonya Smith mengulurkan tangannya dan memegang tangan aku di atas meja. “Shay, aku ingin kau tahu satu hal.”
Aku menatap dia lekat. “Apa?”
“Kota ini . . . berbeda dari yang lain. Ada satu hal yang akan kau temui di sini. Satu hal yang tidak bisa aku katakan. Satu hal yang akan kau ketahui jika sudah waktunya. Tapi aku ingin kau berhati – hati. Aku ingin kau menjaga diri. Dan ikuti apa kata hatimu.”
“Er, Nyonya Smith? Kau membuatku takut.”
Tangannya meremas aku seperti memberikan kekuatan. “Kau akan baik – baik saja. Damon Hawkwolf? Oh, Shay. Kau akan lebih dari baik – baik saja.”
Aku menelan ludah dan menatap Nyonya Smith lekat.
Aku akan baik - baik saja?
***
Berbicara dengan Nyonya Smith hanya membuat akar serabut di dalam benak aku semakin parah. Aku kesal tidak karuan, frustasi sebab tidak mendapat konklusi yang tepat. Aku tidak paham kenapa aku tidak bisa berhenti memkirkan apa yang dikatakan Damon hari itu, tapi aku semakin ditambah pikiran oleh kata – kata Nyonya Smith.
Kau harus hati – hati.
Kau akan baik – baik saja.
Damon Hawkwolf? Kau akan lebih dari baik – baik saja.
Apa juga maksudnya kalau aku akan baik – baik saja? Aku akan baik – baik saja bersama dengan Damon?
Ugh, apa semua orang di kota ini selalu berkata dengan diktum yang ambigu dan tidak jelas?
Suara langkah penopang tubuh aku meresonasi di pavemen kecil di samping kampus. Sore hari begini, kota kecil semacam New Cresthill sudah sepi. Tidak seperti kota besar di Asia yang hingga larut malam pun masih dipenuhi lampu malam dan suara mesin mobil. Dersik angin yang dingin menerpa pohon – pohon besar di hutan besar New Cresthill yang rasanya tidak ada ujungnya.
Aku selalu melihat pohon besar yang rindah, mulai dari pinus hingga pohon raksasa yang tidak aku ketahui. Kemana mata memandang aku selalu melihat hijau, rumput yang membentang luas, dan suara burung – burung berkicau.
Bahkan, sekarang, langkah aku terhenti ketika aku mendengar suara erangan yang menusuk hatiku hingga saraf motorik di dalam tubuh tak mau bergerak. Aku membeku, bak pelaku kejahatan yang ketahuan kedoknya.
Suara lolongan itu semakin keras, kuat, kencang, menggetarkan tanah tempat aku berpijak, menggoyang rantai dan dahan pohon yang kokoh, membawa angin ribut bersamanya. Aku menoleh ke samping, menelan ludah tatkala aku melihat dua mata kuning yang mengkilap di gelapnya hutan.
Aku menarik napas panjang. Kaki aku tak mau bergerak. Terlebih ketika dua mata kuning emas itu bergerak maju. Maju, maju, dan maju. Seperti berlari. Menerjang hutan yang dalam. Melewati dahan dan daun yang lebat. Aku ingin berteriak. Sungguh. Tapi aku kehilangan kemampuan itu. Aku melihat bulu yang tebal. Empat kaki masif.
Aku melihat tubuh serigala raksasa yang seharusnya tidak ada di dunia.
Dan ketika serigala itu menderap ke arahku dengan mulut terbuka lebar memperlihatkan gigi yang taring dan ludah kental, aku berteriak sekencang mungkin. Aku berteriak sejadi – jadinya sampai aku melihat sebuah sosok yang mencekat napasku.
Sosok yang similar namun lebih besar, majestik, dan indah. Serigala hitam dengan bulu tebal yang menakutkan—yang menghadang serigala jahat dari dalam hutan dengan seluruh tubuhnya.