PART 25

1347 Words
25 “JIKA KAU BERTEMU dengan iblis itu lagi, apa yang akan kau lakukan?” tanya Damon pelan saat aku sedang duduk di kursi balkoni di halaman belakang tempat mereka sering bermain bersama. Pria itu baru saja berubah dari versi serigala hitam besar yang mengerikan, yang aku beri nama Knight dan sering aku perlakukan bak anak anjing kecil yang lucu. Dia mengenakan celana pendek jeans berwarna cokelat yang bergabung secara cocok di epidermis miliknya. Kulit pria itu seperti dicium oleh sinar ultravviolet di siang hari begini, seperti seorang pria yang sering melakukan aktivitas luar dan kegiatan yang macho. Aku menarik napas dan melengos, tak melihat pemandangan berupa Damon Hawkwolf yang membuat hati aku berdegup kencang seperti akan keluar dari rongganya. Aku berdeham saat Damon duduk di samping aku. Kenapa juga dari semua banyak kursi santai di halaman belakang ini, Damon harus duduk di sebelah aku? Aku mengunyah bibir dengan gugup, sembari melupakan fakta kalau Damon ini sedang tidak mengenakan kaus yang menutup epidermis bagian atasnya. “Aku sedang bertanya sesuatu padamu, Shay.” Damon mencoba mengambil atensi aku dari depan, dari arah yang aku duga adalah Wyatt saat dia sedang dalam versi serigala. Dia terlihat lebih kecil dari Hunter, tapi tetap saja bagi aku, dia terlihat sangat masif. Aku masih belum menjawab apa yang dikatakan oleh Damon. “Shay, kau tidak bisa mendengar aku?” ulang dia lagi. Harus berapa kali baru dia sadar kalau aku sedang tidak ingin diajak bicara? Terlebih karena kau tahu aku hanya akan fokus pada hal lain, bukan pada hal yang ingin dia bicarakan. Damon mengehela napas panjang dan bersandara di kursi santai tersebut. “Kau lari, Shay. Lari yang kuat kecuali ada aku di situ. Jangan pedulikan hal yang lain. Kau harus selamatkan dirimu dari bahaya. Always.” Aku menelan ludah, dan akhirnya menatap Damon. Aku mengangguk. Jika bertemu Ingruth, lari yang kuat. ***  INGRUTH ATAU SIAPA PUN dia itu bak sebuah mimpi buruk. Setidaknya, aku harap ini hanya sebuah mimpi buruk yang menyeramkan. Lagi pula, terakhir kali aku berinteraksi dengan Knight, itu di dalam sebuah bunga tidur, ‘kan? Tapi tidak. Tentu saja tidak. Aku harus menerima fakta kalau ini nyata, ini realita, dan Ingrut, iblis yang di sebut – sebut oleh Hawkwolf bersaudara dan Cordelia itu nyata. Dia muncul laiknya sebuah penyakit, tanpa bisa di kira – kira. Satu sakon aku dan Knight—atau secara tidak langsung—aku dan Damon sedang menikmati air terjun yang indah, satu detik kemudian iblis ini merusaknya dengan presensi yang tidak di undang. Dalam satu waktu yang cukup tipis, aku sempat merasa kesal. Namun aku tahu perasaan itu tidak pernting saat ini. Dia keluar dari balik dua pohon yang besar dan rindang. Tubuhnya yang dibalut gaun putih panjang, namun terlihat lusuh itu berjalan . . . tidak, dia tidak berjalan. Makhluk itu begitu santai dan fleksible sehingga dia terlihat seperti terbang. Aku akan benar – benar muntah jika di balik gaun putih panjang yang compang – camping itu, dua tungkai kakinya tidak menapak di bumi. Sungguh, jika aku melihat penampakan semacam dua penopang tubuh yang tidak menyentuh tanah, aku akan pingsan di sini. Ini bukan film horor, ‘kan? Kalau ini sebuah cerita roman picisan seorang penulis yang bosan dengan hidupnya, ini pasti akan menjadi genre supernatural atau fantasi, ‘kan? Bukan paranormal? Tapi lagi, Ingruth itu memang seorang iblis. Entah apa itu artinya. Apa dia setan? Hantu? Atau makluk dari neraka yang panas? Atau dia hanya semacam makluk fantasi lain yang pantas di sebut iblis? Apa dia keturunan Lucifer atau semacamnya? Aku bergedik ngeri. Terutama saat dia menelengkan kepala, dua matanya terpaku pada aku yang ada di belakang serigala hitam masif, lalu tersenyum. Figur itu tersenyum. Bibir yang sudah kelewat lebar semakin lebar, dan lebar, dan lebar, dan aku pikir bibir itu akan sobek menjadi dua. Joker. Dia mengingatkan aku akan tokoh itu. Kecuali ini adalah dunia nyata. Dia bukan musuh bebuyutan Batman. Dan aku bukan berada di dalam komik. Dia adalah iblis. Satu – satunya Batman di sini adalah Knight. The Last Knight. Aku menahan diri agar tidak tertawa memikirkan referensi itu. Bisa – bisanya aku menemukan hal yang lucu di saat seperti ini? “Saoirse . . .” Suaranya aneh. Bukan seperti manusia. Tentu saja karena dia bukan insan bumi. Tapi suara itu, vokal itu . . . nyaris seperti sesuatu yang tidak pada tempatnya. Sesuatu yang tidak seharusnya ada di sini. Di bumi. Di dunia. It sounds like something out of this world. Something that does not belong here. Aku harus menahan diri agar tidak bergetar mendengar suaranya. “Saoirse Lee—“ Knight menggeram. Dan sekarang, aku bergetar karena hal yang berbeda. Karena alasan yang jauh dari di awal. Ada sesuatu dari suara geraman itu. Sesuatu yang gelap dan mematikan dan penuh ancaman. Seharusnya aku takut. Mungkin aku takut. Sedikit. Tapi iblis sialan itu malah semakin lebar senyumnya. Dan aku harus melihat figur wanita tua bersurai hitam itu berjalan semakin dekat. Ancaman keluar lagi dari Knight yang berdiri dengan kaki empat. Buas dan liar. Masif dan tinggi. Melihat itu, Ingruth berhenti. Aku tidak tahu harus melakukan apa, jadi ketika aku melihatnya sudah berdiam, sementara Knight masih berkuda – kuda, aku akhirnya memberanikan diri untuk berdiri. Manuver aku kacau. Lemas dan . . . baiklah, aku memang bergetar takut. Lutut aku nyaris tidak bisa kembali berdiri, tapi aku menopang tubuh pada punggung besar Knight dan berdiri di sampingnya. Bulu nya yang tebal menggelitik epidermis saking dekatnya kami. Tapi Knight tidak pernah melepaskan dua mata emasnya dari makhluk di depan kami. “Saoirse . . .” Aku tersadar. Dia bukan memanggil aku. Bukan sekedar menyebut nama aku. Nama itu terdengar seperti sebuah lantunan lagu. Senandung yang halus namun membuat semua surai di epidermis berdiri. Dia sedang bernyanyi. Memanggil nama aku dalam simfoni yang membuyarkan benak— Knight mengaung. Keras. Brutal. Nyaring dan memekik lantang. Tubuhnya berguncang, otot di semua sisi tegang. Aku menutup mata, menutup telinga, menutup semua yang aku bisa. Pohon – pohon bergoyang hebat. Aku berani bersumpah aku bahkan merasakan tanah ikut bervibrasi. His voice eminates power. It is power. He is power. Apa pun itu yang dia lakukan berhasil, sebab suara senandung Ingruth berhenti. Aku tidak lagi mendengar suara itu terlepas dari bibirnya yang menjijikan. Merah dan lebar dan hancur. Bukan bibir manusia. Satu detik, Ingruth terdiam. Bibirnya menyatu. Rahang mengatup. Dua detik, Ingruth akhirnya sadar kalau dia baru saja di ganggu secara tidak sopan oleh orang lain. Bukan hanya orang lain. Tapi manusia serigala. Damon Hakwolf. Tiga detik, Ingruth mengepalkan dua tangan di sisi tubuhnya. Aku menahan napas, menuggu situasi dan bersusah payah menafsirkan premis apa yang akan terjadi. Namun Ingruth bergerak begitu cepat. Sangat cepat hingga aku tidak sempat melihat manuvernya. Dia menyerbu ke arah kami. Entah untuk menyerang Damon atau aku. Entah untuk melakuakan apa. Mungkin menghabisi aku. Mungkin membunuh Damon. Mungkin bernyanyi lagi agar aku kembali tenggelam di dalam gelap, gelap, gelap . . . Aku berteriak. Mungkin aku berteriak. Darah mengalir terlalu deras di dalam tubuh aku, di pembulu darah, dari jantung ke kaki ke atas kepala. Otak aku tidak bisa berpikir. Tidak kapabel melakukan apa – apa. Dan darah itu membuat rungu tak sanggup menerka bunyi apa pun. Telinga aku seperti mendengung dan mendengar segalanya secara bersamaan. Hening dan kacau secara bersamaan.. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada Ingruth yang menyeret aku kasar. Tidak ada Ingruth yang membawa aku ke dalam hutan yang gelap. In fact . . . tidak ada apa – apa. Aku memberanikan membuka mata. Hal pertama yang aku lihat adalah Knight. Bulu hitamnya yang bersinar. Lalu telinga aku mulai kembali normal. Suara air terjun dan dersik angin terdengar. Dan akhirnya aku mendengar suara erangan itu. Perkelahian yang hanya berisikan suara gigi dan geraman. Aku mengintip dari balik tubuh Knight. Di sana, bukan hanya Ingruth yang ada. Tiga serigala masif dan tinggi bak serigala hitam di sebelah aku ini sedang mengitari makhluk iblis itu. Knight bukan mengaung. Setidaknya, itu memang aungan serigala. Tapi itu sebuah panggilan. A call for the pack.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD