BAHAGIA SETELAH BERPISAH 7
**
Netraku membola membaca pesan dari Mas Hamdan. Apa maksudnya? Sudah berani dia mengirim pesan pribadi lewat inboks.
[Terima kasih, boleh aja] balas ku sambil mencibirnya.
[Kamu keren sekali. Nama kamu siapa, sih?] balasnya lagi.
[Nama aku seperti yang tertera di profil]
[Nama kamu unik juga ya. Kamu orang luar ya?]
[Asli negara ini dong. Cuma keluargaku pernah tinggal di luar negeri]
[Oh, pantas kamu kayak unik gimana, gitu. Emangnya kamu dulu pernah tinggal dimana?]
[Di dekat-dekat China lah] jawabku asal. Dasar kepo.
[Oh, pantas kamu unik banget. Btw, kamu udah punya pasangan belum?] Netra kembali membola membaca pesannya. Sudah berani lebih jauh rupanya Mas Hamdan.
[Saya di PHP sama suami.]
[Kok bisa wanita semenarik kamu. Suami mu pasti bodoh. Udah cari suami baru aja. Ngapain bertahan sama suami yang gak punya perasaan] ih, geramnya membaca pesannya. Dia sendiri yang bodoh.
[Aku masih memberi kesempatan. Berusaha dia berubah]
[Aduh, makin nganan aku sama kamu, kamu pasti baik banget. Pekerja keras dan wanita keren. Jadikan aku teman dekatmu ya. Aku siap kamu curhat apapun. Bahuku, kuberikan juga boleh buat sandaran] Cuih, aku mencibirnya lagi membaca pesannya membuatku muak.
[Emang gak ada yang marah, pacar kamu atau bahkan istri kamu. Mungkin saja simpanan kamu?]
[Aku masih bujangan. Masih sendiri dan belum ada yang memiliki] balas Mas Hamdan, k*r*ng aj*r dasar pembohong. Apa kepada setiap wanita dia berani menggombal seperti ini.
[Serius? Zaman sekarang banyak yang ngaku-ngaku single padahal Doble.]
[Serius. Sure, aku jujur. Apalagi aku anak masjid, aku gak biasa berbohong] Huek, aku kembali mual dengan percakapannya.
[Oh, gitu. Oke deh berarti kamu lelaki yang taat agama. Sesuai kriteria idamanku]
[Iya. Kapan-kapan kita bisa ketemu. Kalau kamu mau curhat aku siap mendengarkan. Aku siap berada di sisimu]
[Hahaha, Iya. Terima kasih ya]
[???] Aku menghembuskan napas merasa gusar serta marah. Masih bisa menempelkan emot love. Dasar kamu, Mas. Lihat saja nanti.
**
Aku berjalan di pusat perbelanjaan dengan anakku Fatih beserta baby sitter yang menjaga Sesil. Rosita ikut juga. Aku sudah berjanji pada Fatih, hari ini dia mau membuat konten keluarga. Tentu saja isinya hanya aku Fatih dan Sesil. Rosita dan Rika hanya melihat-lihat dan memegang Sesil saja.
Fatih mulai merekam kebersamaan kami di Mall. Aku sekalian belanja buat kebutuhan Sesil. Sekarang segala keperluan anakku lebih banyak berada di kantor. Ruangan sebelah toko lumayan luas di bagian atas. Di sanalah ku gunakan ruangan itu untuk keperluan pribadi seperti makan, tidur dan istirahat melepas lelah.
"Hai, sekarang Fatih sedang bersama Bunda. Bunda sedang belanja keperluan rumah tangga karena aku anak baik. Cie ... Fatih memuji diri sendiri. Fatih, mau bilangin sama teman-teman supaya jangan malas membantu orang tua. Seperti sekarang Fatih sedang menemani Bunda tersayang belanja sekalian membawa adik jalan-jalan juga. Yuk, say halo, Bunda." Anakku nampak bersemangat membuat konten itu. Rosita merekamnya.
"Hai ...," ujarku sambil melambaikan tangan. Aku sengaja memakai masker.
"Yuk, ikuti keseruan kita belanja," kata Fatih ramah ke kamera. Aku dan Fatih kemudian memilih-milih beberapa kebutuhan kami. Tentu saja semua tak ku bawa pulang melainkan aku taruh di toko yang kami jadikan rumah kedua.
Saat kami sedang sibuk di depan kamera. Tanpa sengaja aku yang menjaga image dengan mendorong troly berisi belanjaan serta Sesil yang ku gendong dengan gendongan khusus dan ku taruh di depan tubuhku bertemu Ambar. Dia sedang bersama seorang pria. Namun, aku tak mengenalnya. Kami terkejut. Aku serta Fatih, begitupun dengan Ambar.
"Mbak, Yuni!" ucapnya. Dia terlihat heran memandang kami.
"Siapa?" tanya temannya itu.
"Oh, sebentar aku sedang ada masalah dengan dia," kata Ambar berbisik ke pria itu.
"Masalah bagaimana?"
"Aduh, gimana ya ... Ada sedikit masalah soal duit," katanya masih sambil berbisik ke pria itu.
"Hmm, kalau gitu aku lihat-lihat barang di sebelah dulu ya,"
"Oke," ucap Ambar ke pria itu. Setelah pria itu pergi dia dengan garang menatapku dan Fatih. Pandangan juga teralihkan ke Rosita dan Rika baby sitter anakku.
"Ngapain sih disini, Mbak? Dapat duit dari mana belanja banyak begitu?" tanya nya dengan sinis. Ku lirik Rosita sudah memandangnya dengan geram. Aku dengan halus memberi isyarat agar dia tenang.
"Ada deh. Bukan urusan kamu juga, kan." Ketusku padanya.
"Kulihat Fatih sok bicara-bicara sambil buat konten. Sok hebat banget. Mimpi jadi youtuber ya!" Dia tampaknya masih belum puas.
"Ambar, sebenarnya kamu mau apa sih? Kayak gak senang banget sama kami. Kami juga gak ganggu kamu!" ujarku memajukan bibirku mengejeknya. Dia terlihat geram.
"Mbak. Semenjak kamu kerja. Aku dan Ibu kesusahan. Kamu ngerti gak sih. Aku itu sibuk kuliah dan sampai rumah harus mendengarkan omelan Ibu, aku harus ngerjai kerjaan rumah juga. Aku lelah, Mbak. Sebaiknya kamu kembali lagi menjadi istri yang baik saja buat Mas Hamdan dan Mbak Yuni seperti dulu."
"Ish, kamu bicara apasih. Kamu nikmati aja omelan Ibumu. Jangan berharap aku seperti dulu lagi!" sentakku padanya.
"Kamu belanja banyak dapat uang dari mana, sih. Hidupmu Kok lebih bahagia setelah kerja. Majikan mu pria kaya, ya! Awas aku kasi tau sama Mas Hamdan supaya kamu dihukum!" Aku kesal melihat Ambar, adik ipar ku apasih maunya.
"Terserah kamu aja. Mau lapor juga gak masalah. Yuk, kita pergi." Ucapku begitu saja pada Ambar. Dia meringis kesal serta memonyongkan bibirnya karena aku tak menanggapi.
**
Aku sampai di rumah malam hari sekitar pukul delapan malam. Banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sesil sudah tidur dalam gendonganku.
"Dari mana kamu, Yun!" Mas Hamdan sudah ada di depan pintu.
"Assalamualaikum!" ucapku. Dia diam tak menjawab salam. Di liriknya apa yang aku bawa. Aku membawa dua bungkus makanan. Untuk ku dan Fatih.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku! Kamu dari mana?"
"Pulang kerja!" ucapku berlalu darinya. Dia menyusul aku kebelakang setelah Sesil aku letakkan di kasur dan Fatih masuk kamar.
"Lama amat kerjanya. Tadi Ambar laporan kalau kamu belanja banyak. Duit dari mana kamu?" Aku mendengkus, ternyata adik ipar ku yang julid melaporkan hal yang tak penting.
"Aku kan kerja jadi ada duit."
"Masa baru kerja sebentar sudah dapat duit, kerja apa kamu? Apa benar yang dikatakan Ambar kamu kerja sama pria kaya?" Dia berdiri di depanku berharap mendapat jawabannya.
"Adikmu itu cuma syirik sama aku. Aku kerja salah gak kerja juga salah. Apa sih mau nya!" Aku berkata geram.
"Masalahnya kamu kerja sebentar sudah dapat duit. Kan mencurigakan. Lebih baik kamu di rumah lagi aja, Yun. Aku juga tadi pulang sore dan belum makan."
Derita elo ... sahutku dalam hati.
"Aku dikasih kas bon sama majikan karena kasihan Sesil gak cukup gizinya serta harus banyak beli diapers dan sudah aku bilang sama kamu, Mas. Aku mau gak kerja lagi asal kamu jujur masalah gaji kamu. Kamu kasih aku lima ribu sehari. Ogah! Kamu pikir aku anak lima tahun."
"Nggak ada bersyukurnya kamu!"
"Kamu lebih gak bersyukur. Istri kerja bukannya bersyukur malah kufur. Harusnya kamu senang aku gak minta duit lagi ke kamu." ucapku ketus padanya. Aku meninggalkannya dan masuk kamar.
Di dalam kamar aku melihat ada undangan dari kantor Mas Hamdan. Di situ tertera buat Bapak Hamdan dan Istri. Aku mengambil undangan itu dan melihatnya lebih jelas. Acara peresmian gedung baru.
"Kapan acaranya, Mas?" tanyaku. Dia segera mengambil undangan itu dariku.
"Apasih, kamu. Ini undangan acara kantor."
"Aku boleh ikut?"
"Ngarep kamu, malu aku kalau kamu ikut. Lagian ini acara resmi kantor bukan pesta topeng."
"Maksudmu?"
"Kalau pesta topeng barulah kamu boleh ikut!" ujarnya padaku. Aku mendengkus kesal. Sikapnya tetap sama selalu menghina. Dengan kesal aku merebahkan diri di kasur. Mengesalkan dengan sikap Mas Hamdan. Dia tetap gak pernah berubah.
"Yun!" Mas Hamdan tiba-tiba merebahkan diri di dekatku.
"Apa sih, Mas!"
"Aku lagi pengen nih," katanya memegang lenganku. Aku meliriknya tajam. Suami gak ada akhlak, giliran pengen mendekat.
"Aku lagi datang bulan!" kataku ketus.
Bersambung.