6. Beli Mobil

1288 Words
BAHAGIA SETELAH BERPISAH 6 ** PoV Yuni Aku teringat tadi pagi saat aku meninggalkan Mas Hamdan ketika dia hendak sarapan. Rasanya aku begitu puas. Puas melihat wajah kecewanya. Biasanya dia yang selalu mengecewakanku. Ini ku anggap belum apa-apa karena masih banyak sekali kejutan-kejutan manis untuknya dan keluarganya. Aku membuka gawaiku dan duduk manis di ruang kerjaku. Aku merasa bahagia bisa menjadi bos. Ternyata menjadi bos itu menyenangkan. Aku tak pernah berpikir buat membuka usaha karena uang itu kubiarkan mengendap di bank. Hanya sebagian kuberikan buat usaha Bapakku dan Wira di kampung. Aku tidak bekerja lagi di Hongkong karena Ibuku sudah tiada sehingga aku harus ambil alih buat mengurus anak ku, Fatih. Lagi pula majikan ku sudah meninggal dan menghibahkan sebagian hartanya itu untukku. Mencari majikan baru, aku takut tidak sebaik majikan lama ku. Sehingga ku putuskan tidak lanjut bekerja menjadi TKW. Lagipula saat aku melihat isi rekening ku di Bank. Aku terkejut karena ternyata Wira cukup amanah. Dia mengirim uang hasil ternak kepadaku karena memang aku yang memberi modal awal. Pantas saja Rosita karyawan ku sekaligus tetangga di kampung kesemsem dengan Wira. Tetapi adikku itu malah sok jual mahal sehingga Rosita harus kuliah supaya Wira mau meliriknya. Kejadian hampir dua tahun silam teringat kembali saat aku berkenalan dengan Mas Hamdan. Dia mengaku masih perjaka ketika itu namun setelah menikah barulah dia jujur setelah aku mendesak karena kata tetangga dia duda tanpa anak. Tentu saja aku marah karena dia tak jujur namun dia berulang kali minta maaf. Dia akan menyayangi aku dan dia akan anggap Fatih anaknya sendiri. Aku tak tahu pasti mengapa dia bercerai dari istrinya. Dia mendekatiku saat dia sedang tugas ke kampung ku. Kami berkenalan dan beberapa kali dia memujiku karena cantik. Sungguh saat itu hatiku melayang. Aku hanya fokus mengurus Fatih saja dan terkadang membantu mengurus ternak serta tak ada niat menikah. "Dek, kamu mau menikah denganku. Tetapi aku gak punya apa-apa. Aku hanya punya cinta untukmu. Setelah menikah aku janji akan memenuhi kebutuhan kamu dan Fatih. Fatih akan sekolah di kota dan kita bimbing jadi anak Sholeh," ujarnya waktu itu. Hatiku melayang karena dia dengan jujur mau melamar ku yang seorang janda. "Ah, serius. Aku ini cuma janda dengan anak bawaan dan gak punya apa-apa!" ucapku ketika itu. "Maaf loh dek, ternak sapi dan kambing bukan punya keluargamu?" tanyanya saat itu. "Bukan. Itu punya tetangga dan Bapak cuma diamanahkan menjaga. Kami mah orang miskin, Mas. Kami gak punya apapun," dusta ku saat itu. Entah mengapa aku sebenarnya hanya ingin ngeprank dia saja dan akan kuberi kejutan saat menikah nanti kalau aku sebenarnya punya uang lumayan banyak. "Oh," katanya dengan raut datar. Setelah saat itu aku gak berkomunikasi lagi dengan Mas Hamdan. Wira berkata jangan beritahu apapun aset mu padanya. Mungkin dia bukan orang yang bisa dipercaya. Setelah jadi istripun kamu harus waspada. Karena kalian baru mengenal. Aku hanya meng-iayakan saja ucapan adikku itu. Tanpa terduga Mas Hamdan datang membawa keluarganya buat melamar aku. Sehingga aku menikah dengannya. Setelah menikah barulah ketahuan bagaimana belangnya. Aku merasa di tipu namun aku menerima dulu saja takdir Allah. Kerena malu juga aku yang baru menikah menggugat cerai, aku masih memberinya kesempatan apalagi saat itu aku sedang hamil. Ah, aku teringat memori lama yang mengiris dan meninggalkan sedikit luka. Segera aku perbaiki kesalahanku. Segera aku bangkit dan berjuang buat anakku. Segera aku ubah mindset yang ada dalam diriku. Aku harus berjuang mencari rupiah demi anakku. Tidak berharap banyak pada suami yang punya sikap tak layak seperti Mas Hamdan. Tok ... Tok ... Tok .... "Mbak, Yun." Terdengar suara Rosita. "Masuk, Ros!" ucapku. Dia masuk dan ku persilahkan duduk. "Ini brosur yang Mbak minta," dia menyerahkan brosur padaku. Aku mengulas senyum ke Rosita. "Terima kasih, Ros." Aku mengambilnya dan melihat-lihat mobil yang akan ku beli. Setelah aku menyewa dua ruko dan memesan pakaian dalam jumlah banyak. Bisnisku sudah mulai di jalankan. Aku membuka bisnis pakaian wanita, anak-anak serta pakaian pria. Aku memasang harga bersaing dan relatif terjangkau. Keuntungan tidak terlalu banyak kuambil yang penting barang laris dan uang bisa berputar. Kami melakukan dua bisnis secara online dan offline atau membuka di toko. Secara online sudah ada operator yang ku tunjuk. Aku dan Rosita melakukan interview untuk mencari anggota yang akan bekerja pada kami. Termasuk mencari Baby sitter buat Sesil. Rosita kujadikan asistenku. Karena aku sebenarnya cukup dekat dengan dia. Dia dahulu di kampung sering curhat padaku kalau dia menyukai adikku Wira. Namun sayang Wira sok ke-cakepan dan jual mahal dengan Rosita. Padahal Rosita wanita baik dan gak banyak tingkah. "Menurutmu bagus yang mana, Ros?" tanyaku dia menunjuk. "Kayaknya ini deh, Mbak." Aku kembali melihat-lihat mobil yang akan ku beli. Aku berencana membeli dua mobil. Satu buat kupakai pribadi dan satu mobil barang, buat bekerja. "Kita ke showroom nya aja gimana, Mbak!" kata Rosita. "Boleh juga," ucapku. Aku dan Rosita berangkat ke Showroom. Sebelum pergi aku memberi arahan ke karyawan ku agar bekerja dengan semangat. Sementara anakku Sesil sedang tidur dan dijaga oleh Baby sitter. Beberapa pembeli juga sudah sangat ramai berdatangan. Aku merasa optimis usahaku akan berkembang. Tak apa uang ku habis banyak buat modal usaha. Aku yakin usaha tidak akan mengkhianati hasil. Aku yakin rezeki sudah diatur oleh yang maha kuasa. Dan inilah saatnya uang ku yang mengendap di Bank saat aku bekerja dulu sebagai TKW dan uang pemberian majikan ku, aku putarkan sebagai modal usaha. Aku akan jadi pebisnis dan Mas Hamdan tidak akan pernah mencelaku dan mengatai ku jelek, gak berguna dan payah. "Bagaimana, Mbak mobilnya?" tanya selles mobil itu padaku. Aku melihat-lihat mobil berwarna silver. Ukuran keluarga dan harganya lumayan terjangkau sih. Diatas 200 juta. Aku sudah googling sebelumnya dan juga melihat brosur nya. Kayaknya aku tertarik dengan mobil ini. "Oke." ucapku. "Mau ambil kredit atau cash, Mbak?" "Cash aja kayaknya," ucapku santai. Beginilah rasanya punya uang dan jadi orang kaya. Tidak perlu mikir apa-apa lagi termasuk makan karena uang selalu ada dalam genggaman. Kemarin aku masih miskin sekarang aku sudah kaya dalam sekejap karena mengambil uang tabunganku yang tidak diketahui Mas Hamdan. Saat salles itu menjelaskan panjang lebar padaku. Seorang pria mendekati. "Yuni!" sapa nya, aku menoleh dan sang selles membiarkanku berbicara dengan orang yang menyapaku. "Kamu gak kenal aku!" "Maaf, saya lupa!" ketusku, dia tertawa melihat wajah tak bersahabat dariku. "Aku Irsyad." Dia mengingatkanku. Dahiku berkerut Irsyad ... Siapa ya? "Oh, Pak Irsyad yang kita pernah ketemu di Hongkong," ucapku begitu saja. Dia mengulas senyum. "Iya, Yun. Kamu apa kabar?" Setelahnya terjadi pembicaraan kecil antara aku dan Pak Irsyad. Seseorang tak terduga yang pernah aku temui di Hongkong. Cuma kejadian kecil sudah lama sekali saat aku menjadi TKW. Tak sangka dia masih ingat padaku. ** Aku membuka aplikasi biru dan memamerkan beberapa photo mobil di sana. Ku tulis sebuah caption. 'Bingung mau ambil yang silver atau black ya.' Tak lupa photo diriku membelakangi kamera sempat diabadikan Rosita. Aku tentu saja memakai baju mahal dan berkelas tidak seperti saat aku menjadi Yuni istri Mas Hamdan. Beberapa saat aku men-share photo itu dengan akun Inuy Keiko. Sebuah komentar masuk dan mataku membola karena komentar dari Mas Hamdan suamiku. 'Ih, kerennya. Ambil dua-duanya aja' Aku membalas komentarnya. 'Boleh juga cuma, aku lagi butuh satu aja maklum buat dipakai sendiri. Kira-kira ambil yang mana ya?" 'Aku suka hitam atau black ya. Heheh' ujarnya sok akrab. 'Aku lebih senang silver, sih.' balasku lagi. Tiba-tiba pesan masuk lewat massanger ku. Sebuah pesan pribadi dari Mas Hamdan suamiku. 'Hai, kamu keren banget sih. Aku udah lihat-lihat bio dan beberapa photo kamu. Walau belum lihat aslinya dan hanya lihat punggung nya aja tetapi aku mau bilang kamu keren. Boleh gak kita kenalan.' Tulisnya di pesan itu. Memuakkan gak bisa lihat yang bening dikit. Apa ini kelakuannya di belakang ku. Pantas aku tak diizinkan melihat-lihat gawainya. Awas kamu, Mas. Aku kerjai kamu. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD