BAHAGIA SETELAH BERPISAH 11
**
PoV Yuni
"Kamu pikir aku gak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku, Mas!"
"Kamu bicara apa sih, Yun."
"Gak perlu bohong lagi, Mas Hamdan. Aku tahu kamu pernah punya affair dengan sesama karyawan di bagian pemasaran dan sekarang pindah ke bagian gudang!"
"Kamu tahu dari mana?"
"Benar kan gosip itu. Kamu pernah tidak setia di belakangku?"
"Itu hanya gosip, Yun. Semuanya cuma kabar burung dan gak perlu dipercaya belum tentu benar adanya."
"Gak perlu mengelak lagi, Mas. Pantas kamu selalu dingin padaku. Aku tak pernah berarti untukmu. Sesil tak pernah berarti untukmu."
"Sekarang gini aja. Kamu pulang dulu dan kita bicarakan baik-baik."
Klik. Aku mematikan sambungan telepon itu. Aku menghela napas panjang merasa muak dengan Mas Hamdan dan segala sikapnya. Teringat kembali perlakuan-perlakuan kasarnya padaku. Kebohongan-kebohongan yang selama ini tak ku ketahui.
Aku memandangi wajah Sesil yang tidur dengan damai. Kasihan anak sekecil ini tak tahu bagaimana perlakuan ayahnya seperti apa. Apakah dia pernah memikirkan Sesil, rasanya tidak sama sekali. Mas Hamdan hanya memikirkan dirinya sendiri. Aku lelah dengan dia. Bagaimana aku bisa keluar dari jeratnya. Dia pasti mengelak kalau di tuduh punya affair dengan wanita lain tanpa bukti.
Kepalaku sakit memikirkannya. Aku memutuskan keluar saja buat cari udara segar. Aku menghubungi Rita buat mengantarku. Aku sebenarnya sudah bisa membawa mobil cuma belum terlalu mahir. SIM juga belum keluar, jadi untuk sementara Rita yang akan mengantarku.
"Assalamualaikum, Rita. Kamu bisa ngantar saya keluar malam ini?" tanyaku.
"Waalaikumsalam, bisa Mbak. Mbak masih di toko?"
"Iya, Rita. Kamu ke sini ya,"
"Baik, Mbak."
Panggilan diakhiri. Aku menyuruh Fatih buat siap-siap karena aku akan mengajaknya jalan-jalan. Sementara Sesil sudah tidur dan aku tak tega membangunkannya. Sesil di jaga oleh Baby Sitter saja. Karena aku juga tidak pergi lama. Setelah Rita datang, aku dan Fatih pergi dengan mobil silver. Ku instruksi beberapa Satpam agar melakukan penjagaan yang baik di area toko ku.
"Kita mau ke mana, Mbak?" tanya Rita saat kami sudah di dalam mobil.
"Belanja aja, sambil mampir makan."
"Siap, Mbak." ucapnya melajukan mobil membelah jalan raya.
Aku membeli beberapa kebutuhan buat Sesil dan juga untukku. Saat berjalan-jalan di pusat perbelanjaan itu aku mendapat brosur dari sales yang membagikan. Kulihat brosur kecantikan, boleh juga aku melakukan perawatan wajah dan sejenisnya. Aku harus memperhatikan benar-benar kulitku sekarang ini. Aku teringat undangan dari Pak Irsyad. Seminggu lagi acaranya dan rasa tak percaya diri seringkali muncul karena teringat ejekan-ejekan yang membuat hatiku sakit. Seminggu mungkin waktu yang cukup buat perawatan dan aku akan terus perawatan setelah itu agar hasilnya maksimal.
Kami berjalan ke area Resto di dalam tempat ini. Kulihat Fatih senang dan Rita bersemangat menunggu traktiran ku. Kami masuk ke area Resto. Sebelum memesan aku mengedarkan pandanganku dan aku sungguh terkejut melihat Mas Hamdan ada di sini. Ku perhatikan dia, dia bersama seorang wanita dan wanita itu tak lain Mbak Lia. Wanita yang kemarin di bantunya karena mobilnya mogok. Mbak Lia tetangga kami, seorang janda pekerja kantoran yang selalu di pujinya cantik dan pintar cari uang. Aku tak sangka mereka ada di sini. Ternyata aku tak pulang sama sekali tak ada artinya buat Mas Hamdan. Dia justru senang bisa makan malam dengan wanita lain. Mengapa dia suka tebar pesona dengan semua wanita?
"Rita, sebaiknya kita pergi dari sini!" perintahku, aku tak mau kami malah ketahuan. Rita melongok ke satu arah dan sepertinya mengerti begitu juga dengan Fatih. Puteraku yang remaja sudah tahu apa dan bagaimana masalahku. Kami tak jadi memesan dan pergi begitu saja.
"Bun, apakah karena ada Bapak di sana?" tanya Fatih setelah kami keluar dari tempat itu.
"Iya, sayang," ucapku dengan suara parau. "Rita kamu kembali lagi ke sana dan kamu photo mereka sebagai bukti." Aku tahu kalau bukti belumlah kuat dan Mas Hamdan akan mengelak bila ditunjukkan bukti dia bersama Mbak Lia. Aku harus intens mencari bukti agar bisa berpisah darinya secepatnya.
"Baik, Mbak."
"Jangan sampai ketahuan." Aku mengambil dompet dan ku serahkan beberapa lembar uang berwarna merah ke Rita. Dia sepertinya sudah paham. Dia bergegas lagi ke sana.
Kami menunggu dan tak butuh waktu lama Rita mengirimkan video dan photo Mas Hamdan bersama Mbak Lia. Mereka terlihat sangat akrab. Sejak kapan dia akrab dengan wanita ini. Siapa saja wanita yang di rayu oleh suamiku dengan berbagai modus. Melihatnya makan dan royal dengan orang lain membuat darahku mendidih, bila aku meminta nafkah maka dia dengan sulit memberikannya. Aku merasa dia tidak menganggap ku sebagai istri melainkan orang lain. Rita sudah keluar dan menjumpai ku.
"Setelah ini bagaimana, Mbak?" tanya nya.
"Kita pulang, jangan sampai dia tahu kita di sini." sergahku.
"Apa rencana, Mbak?" tanya Rita.
"Aku akan katakan padamu nanti. Kamu siap membantuku?"
"Aku siap kapanpun Mbak membutuhkan!" ucap Rita.
"Bagus sekarang antar kan saja kami pulang." Kami pulang dan meninggalkan tempat itu. Sebelum Mas Hamdan melihatku.
**
Aku pulang sendiri ke rumah kontrakan Mas Hamdan tanpa Sesil dan Fatih. Aku hendak mengambil beberapa barang berhargaku. Dan dokumen anakku Fatih, seperti raport sekolahnya dan ijazah nya juga. Mungkin sebaiknya kami tinggal di toko saja sementara. Setelah uang terkumpul barulah aku akan membeli rumah yang layak buat aku dan anak-anakku berteduh. Aku bergegas ke kamar dan Mas Hamdan sedang mandi. Inilah kesempatanku mencari bukti darinya. Aku mencari-cari di saku celana nya. Kutemui beberapa struk pembayaran. Kulihat pembayaran tas mahal, ponsel serta cincin. Dia pergi ke toko emas membeli cincin sepuluh gram. Buat siapa cincin itu? Apakah untuk selingkuhannya? Siapa selingkuhannya? Aku tak hilang akal. Aku bergegas ka tasnya. Ku buka tas nya, benar saja kutemukan cincin itu disebuah kotak. Masih rapi, ternyata dia belum memberikannya ke kekasih gelapnya. Aku mengambil cincin itu dan segera ku sembunyikan dengan struk-struk yang aku temukan. Aku kemudian melihat gawainya di nakas. Berkedip sepertinya ada yang mengirim pesan. Tertera di sana nama 'Si Cantik' mengirim pesan padanya saat aku hendak membuka, gawainya terkunci. Rasa kesal datang begitu saja. Dia sepertinya selesai mandi. Aku meletakkan kembali gawainya, aku bertindak biasa seperti tidak terjadi apa-apa.
"Yuni, ingat juga kamu pulang!" sergahnya padaku saat melihatku. Dia bergegas mengambil kaus dan segera dipakainya.
"Kamu gak kerja?" tanyaku tenang. Heran saja biasanya dia pergi bekerja namun mengapa masih di rumah.
"Nanti agak siangan kami. Sebagian lagi fokus untuk buat acara peresmian gedung baru," katanya. Aku berdecih, siapa juga yang bertanya. Padahal ku pikir dia kerja sehingga aku bisa leluasa mencari bukti lain.
"Di mana Sesil?"
"Di kantor!"
"Kamu kenapa nitip anak sembarangan. G*l*kamu. Kalau dia kenapa-napa bagaimana?" Mas Hamdan sewot dan aku masuk begitu saja ke kamar Fatih dan mengambil beberapa berkas dari lacinya.
"Kamu dengerin aku gak sih, Yuni!" bentak nya. Melihatnya aku benar-benar muak. Teringat tadi malam dia bersama Mbak Lia yang sedang makan enak. Di tambah bukti cincin itu. Siapa wanita yang akan di berikan ya cincin? Tidak mungkin aku, buat makan ku saja dia perhitungan.
"Aku mau bertanya sama kamu, Mas. Kamu jawab yang jujur saja,"
"Masalah apa, pasti masalah gosip kantor kan. Darimana kamu tahu, Ha! Kamu ngikutin dan mata-matai aku. Istri apa kamu gak percaya sama suami. Itu cuma gosip!" Dia justru tak senang, padahal aku belum berkata apapun. Aku menghela napas panjang, menatapnya dengan kebencian.
"Aku tahu itu bukan sekedar gosip. Kamu royal dengan teman-temanmu namun memberi aku nafkah kamu tak berniat baik. Aku serba kekurangan namun kamu gak peduli!"
"Semua kebutuhan rumah tangga sudah aku penuhi buat kamu. Kamu emang gak ada bersyukurnya, Yuni!" Dia membentakku.
"Kebutuhan yang serba kekurangan. Aku bertahan sama kamu dan aku sabar sama kamu namun kamu gak pernah berubah!"
"Terus mau kamu apa?" Dia justru menantang ku.
"Aku hanya ingin kamu jujur. Mengapa kamu selalu menyakiti hatiku dan berkata aku jelek dan tak pandai mengurus diri serta kebutuhan. Padahal kamu sendiri yang pelit berbagi!"
"Kamu sadar, Yun. Kenyataannya kamu emang jelek. Kulit kusam, bau bawang dan aku malu sebenarnya sama teman-temanku punya istri pengangguran. Kamu harusnya bersyukur aku masih mau menerima kamu!" Dia berkata ketus padaku. Ku Hela napas panjang ini. Aku sudah bosan dengan penghinaan nya selama ini.
"Apakah aku dan Sesil pernah berarti dalam hidupmu?" tanyaku dengan dingin padanya. Aku sama sekali tak menatapnya.
"Ya biasa saja. Apasih kamu, Yuni. Bertanya dan berkata hal yang aneh-aneh!" Dia justru bersikap tenang.
"Kalau seperti itu. Lebih baik kita berpisah saja, Mas." ucapku tenang mengalihkan pandangan padanya.
Bersambung.