BAHAGIA SETELAH BERPISAH 10.
**
Aku tertegun melihat undangan yang di berikan Pak Irsyad. Dia adalah Bos Mas Hamdan. Aku sama sekali tak tahu. Aku tak pernah diajak berinteraksi dengan rekan-rekan kerjanya. Sudah dua tahun menikah namun baru sekali dua kali aku diajak ke resepsi pernikahan temannya itupun saat pengantin baru. Pergi ke acara kantor sama sekali tak pernah.
"Insya Allah saya datang, Pak!" kataku ke Pak Irsyad.
"Saya tunggu Yuni," kata Pak Irsyad mengulas senyum.
"Maaf, Pak. Boleh saya tanya, hmm ... Apakah Hamdan Irawan karyawan Bapak?" tanyaku dengan ragu. Dahi Pak Irsyad mengernyit.
"Sepertinya saya pernah dengar nama itu. Oh, Hamdan Irawan yang di Divisi pemasaran ya?" tanya nya padaku. Aku mengedikkan bahuku. Sejurus kemudian kubuka gawaiku dan ku tunjukkan photonya.
"Yang ini, Pak?" tanya ku. Pak Irsyad memandang sebentar.
"Benar, Yun. Dia di bagian pemasaran. Ada apa?"
"Oh, saya hanya mau memastikan kalau dia karyawan Bapak."
"Iya, pekerjaannya lumayan. Bila dia terus tekun bisa saja naik jabatan suatu hari nanti menjadi manager pemasaran," kata Pak Irsyad. Aku memajukan bibirku merasa jengah ternyata Mas Hamdan punya prestasi yang lumayan juga.
"Kenapa kamu bertanya perihal dia, Yun. Kamu kenal? Siapa dia?"
"Iya, Pak. Saya kenal. Cuma saya belum bisa katakan dia siapa!" ujarku sambil tersenyum getir. Pak Irsyad menghela napas panjang.
"Pernah ada gosip kalau Pak Hamdan berhubungan dengan rekan wanita satu kantor. Karena di kantor kami ada peraturan sesama rekan kantor tidak boleh menikah. Entah bagaimana sekarang. Entah gosip atau apa, sempat heboh juga, sih. Ada yang bilang kalau Pak Hamdan sudah menikah, entahlah." Aku melotot ke Pak Irsyad. Apakah Mas Hamdan pernah selingkuh di belakangku.
"Maksud Bapak bagaimana?"
"Entahlah, cuma sempat heboh kalau Pak Hamdan punya hubungan khusus dengan salah satu tim di bagian pemasaran. Setelah itu karyawan tersebut pindah ke bagian gudang," ucap Pak Irsyad sambil menatapku yang terlihat shock.
"Ada apa Yun? Sepertinya kamu sangat penasaran? Ada apa?" Dia bertanya dengan wajah serius. Ku lihat dia sebentar lalu aku mengulas senyum.
"Gak ada apa-apa, Pak. Terima kasih atas informasinya," ujarku. Aku keluar dari ruangan rapat. Pak Irsyad terlihat bingung dengan sikapku namun aku tak bisa beritahu dia sekarang kalau Hamdan adalah suamiku. Setelah duduk di dalam mobil silver ku. Aku mendesah berat, aku merasa tak percaya diri untuk datang ke rapat itu. Bagaimana tidak Mas Hamdan saja menertawakan ku dan berkata aku tak pantas datang ke sana. Aku pantasnya datang ke pesta topeng karena wajahku tak akan kelihatan. Di tambah gosip yang mengatakan dia ada affair dengan sesama karyawan di sana. Siapa ya? Aku begitu penasaran. Aku sudah menduga ini sebelumnya karena sikapnya saja tak pernah lembut padaku. Pastilah ada wanita lain di luar sana.
"Kenapa, Mbak?" tanya Rosita melihat aku termenung.
"Ros, apa aku harus datang?"
"Ke acara Pak Irsyad?" tanya nya. Aku mengangguk kecil. "Ya datang dong, Mbak. Ini acara besar dan usaha kita bakal di lirik orang penting. Mbak akan terkenal," katanya memberi semangat. Aku melihat dia sangat antusias.
"Aku sebenarnya ada kecil hati sih, Ros. Aku kadang gak percaya diri."
"Kenapa Mbak harus gak percaya diri. Mbak itu Oke dan baik hati. Menganggap kita yang bekerja sebagai saudara. Mbak itu orang penting dan masyarakat membutuhkan manusia berkualitas seperti Mbak." Dia semakin memberiku motivasi.
"Kamu tahu kalau Pak Irsyad adalah atasan Mas Hamdan. Sepertinya menarik juga, Ros." kataku menyeringai. Mas Hamdan akan tahu siapa aku yang sebenarnya. Tahu aku lebih baik dari wanita manapun termasuk wanita selingkuhannya jika pun ada.
"Benar, Mbak. Mbak berhak bahagia. Mbak harus tunjukkan kalau Mbak itu keren dan Oke," ucapnya yakin. Gawaiku bergetar, aku melirik dan panggilan dari Wira, adikku di kampung.
"Assalamualaikum, Wira!" Aku mengangkat teleponnya.
"Waalaikum salam, apa kabar Mbak Yuni?" Ku lirik Rosita tersenyum gak jelas mendengarkan percakapanku dengan Wira.
"Baik, Mbak. Aku baru saja transfer lagi duit hasil ternak ke Mbak Yuni. Oh, aku mau ke kota ganti mobil. Udah parah banget nih. Bapak juga rindu mau bertemu Mbak, kalau ada mobil baru bisa sekalian Bapak ikut."
"Boleh juga, sih. Terus ternak di sana siapa yang jaga?"
"Ada Mang Udin. Tetapi sekarang aku aja yang ke kota buat ganti mobil baru."
"Boleh banget. Mbak juga udah belajar nyetir sedikit dan sekarang Alhamdulillah sudah punya usaha di kota," aku melirik Rosita yang terlihat senang. "Kamu juga bisa ngajarin teman Mbak nyetir."
"Siapa Mbak?"
"Ada deh, kamu datang ya. Nanti Mbak Share alamat sama kamu."
"Oke, Mbak."
Klik sambungan dimatikan.
"Mas Wira mau ke sini, Mbak?" tanya Rosita dengan wajah cerah.
"Iya. Kamu mau belajar nyetir sama dia. Aku dengan Rita. Biar kita berdua sama-sama mahir,"
"Mau banget, Mbak. Cuma dia mau gak ngajari aku?" kata Rosita dengan wajah cemberut.
"Tenang. Dia pasti mau. Kamu harus buktikan kamu layak jadi adik ipar ku. Aku mau punya ipar yang baik dan gak ketus serta memanfaatkan diriku," ujarku mengingat Ambar, Ipar julid yang mau menang sendiri.
"Mbak merestui?" Rosita bersemangat.
"Pasti, kamu dukung kan, Rita?" tanyaku pada Rita yang dari tadi sibuk dengan gawai.
"Dukung, Mbak. Pasti!" ujarnya menganggat jempolnya.
"Makasih, Mbak." Rosita sumringah.
"Kamu saya tugaskan juga buat konten dengan Fatih sekaligus meliput dia khitan. Kamu bersama Wira jagain Fatih dan membantunya selama dia di sini. Kamu siap, Ros?"
"Siap banget, Mbak. Makasih," Rosita nampak bahagia. Aku berharap juga dia bisa jadi adik Ipar ku.
Hari mulai sore. Beberapa karyawan sudah berganti shift. Aku masih betah di kantor, anakku Sesil juga sedang di beri makan oleh Baby sitter.
"Mbak saya pulang dulu, ya." kata Rosita.
"Iya, Ros."
"Mbak gak pulang?"
"Hari ini aku mungkin nginap di sini, Ros."
"Iya, Mbak. Saya tahu Mbak sedang resah. Apapun itu saya selalu dukung yang terbaik buat Mbak Yuni," ujarnya.
"Terima kasih, ya Ros."
"Sama-sama Mbak. Saya pulang, Mbak." pamitnya, aku mengulas senyum dan Rosita berlalu.
Aku memutuskan untuk tidak pulang saja malam ini. Kejadian demi kejadian membuat hatiku sakit sekaligus marah. Aku sedang berpikir langkah apa yang harus aku ambil untuk Mas Hamdan. Apa benar dia pernah selingkuh?
Jika aku tak pulang apakah dia akan sibuk mencari ku? Mencari Sesil? Apakah aku sama sekali tak berarti dalam hidupnya? Sepertinya memang tidak dan jalan aku memberinya pelajaran adalah dengan gak pulang ke rumah. Aku mengambil gawaiku dan ku upload undangan dari Pak Irsyad dengan akun Inuy Keiko.
'Dapat undangan sebagai tamu kehormatan dari direktur'
Setelah di upload, beberapa akun sudah memberi like. Komentar juga berdatangan memberikan stiker keren, wow dan lain-lain.
'Undangan itu di tempat aku kerja. Berarti aku bisa ketemu Mbak nya.'
Balasan dari Mas Hamdan. Aku mencibirnya cepat sekali dia berkomentar di postinganku.
'Oh, Mas kerja di sana?'
'Iya, sebentar lagi saya naik jabatan, Mbak.'
'Oh, baguslah. Keren'
'Mbak lebih keren bisa diundang Direktur langsung. Aku penasaran sama Mbak nya. Keren sekali. Gak sabar mau ketemu.'
'Terima kasih,'
'❤️❤️❤️'
Aku mendesah melihat jawabannya. Tampaknya Mas Hamdan memang suka tebar pesona sana sini. Sebentar lagi, Mas. Kamu gak akan bisa ngeremehin aku.
"Bunda, kita gak pulang?" tanya Fatih membuka pintu ruangan ku.
"Enggak, sayang. Kita nginap di sini!" kataku,
"Baik, Bun ...," ujar anakku meninggalkanku.
Kami makan bersama dan aku juga membelikan karyawaan ku makanan. Indah nian berbagi dengan orang lain. Pasti mereka yang menerima akan tersenyum bahagia dan itu membuat aku sangat senang.
**
"Yuni, di mana kamu? Udah malam kamu gak pulang, gak tahu diri kamu?" Mas Hamdan menghubungiku, seluruh karyawaan ku sudah pulang dan aku memutuskan tak pulang.
"Kamu masih ingat sama aku ya. Tumben!"
"Apa maksud kamu, Yuni. Di mana kamu?"
"Apa peduli mu? Kamu bahkan gak menganggap aku penting!"
"Bicara apa, sih kamu."
"Aku tahu kelakuanmu di belakangku. Termasuk affair mu dengan rekan kerjamu di bagian pemasaran dan sekarang dia pindah ke bagian gudang!" Aku mengerucutkan bibirku.
"Apa yang kamu bicarakan sih, Yun." terdengar Mas Hamdan kaget aku mengetahui kebusukannya.
Bersambung.