AKHIRNYA

1861 Words
Clara menopangkan tangannya di atas meja menatap Arfa dan bukunya bergantian, sesekali mulutnya menguap dan matanya terpejam sekilas. Mendengarkan segala ocehan serta makian dari Arfa sungguh membosankan, apalagi saat Arfa meminta buku catatan matematikanya yang memang benar tidak kosong plong. Tapi bukan catatan, rumus ataupun pekerjaan yang tertera di bukunya melainkan gambar-gambar karikatur berbagai wajah. Tak habis pikir selama ini Clara kemana saja hingga buku catatannya berisi hal-hal yang tidak berfaedah seperti itu. "Jadi kalo titik pojoknya gak tau berapa, lo harus eliminasi trus di subtitusi. Hasil dari hitungan itu jawaban...nya..." Arfa menghela napas kasar, disaat ia bersabar menerangkan materi, Clara tertidur? Kurang ajar sekali! Arfa memukul tangan Clara yang digunakan untuk menumpu dagu. Jedug. "AHHH! SAKIT!" adu Clara sambil mengusap dagunya yang terasa linu karena telah menghantam meja. Bibir Arfa berkedut, tapi setelah sadar akan perbuatannya Arfa kembali mendatarkan wajahnya. Arfa menatap nyalang ke arah Clara yang masih sibuk mengusp dagunya yang memerah."Sekali lagi lo tidur, gue gak bakal mau ngajarin lo!" Dan ancaman itu membuat tubuh Clara tegap, Clara langsung menyahut buku catatan yang telah dicoret-coret oleh Arfa. Melihatnya sekilas dan langsung bercerocos. "Oke oke, Clara paham. Ini mah Clara udah paham. Kan Arfa tadi jelasin ke Clara." Arfa tersenyum miring. "Coba jelasin ulang ke gue. Kalo lo gagal gue berhenti ngajarin lo yang b**o gini." Clara melongo, bagaimana ini? Sedikit saja gagal maka usahanya akan sia-sia. Tadi Clara berlari ke parkiran dan menghadang Arfa agar tidak pergi. Segala cara ia gunakan demi kelancaran misinya untuk segera belajar matematika. Bahkan karena kenekatannya menghalangi laju motor Arfa, membuat kakinya terlindas ban motor. Kini kakinya tengah terbalut tensocrap yang tadi Arfa pasang dikm kakinya dengan telaten, luka di keningnya pun juga diobati oleh Arfa. Flashback Arfa bersiap untuk meninggalkan sekolah dengan derum motor yang sudah terdengar. Ia melaju dengan cepat, hingga seorang perempuan menghadangnya sehingga Arfa mendadak harus mengerem. Tapi memang bagaimanapun, kecepatannya itu tidak bisa terhenti begitu saja. Clara terserempet motornya, kakinya bahkan terlindas ban motor miliknya. Arfa membuka kaca helmnya, "GILA LO? MAU MATI?! g****k, JANGAN BIKIN GUE JUGA YANG HARUS BUNUH LO!" Clara mendongak dengan menyengir "Abis kamu cepet banget sih, ini kan hari pertama kamu ngajarin aku Arfa. Tadi aku tunggu di taman belakang bahkan sampai aku ketiduran dan kamu belum datang--" "Gue males ajarin lo!" Clara melotot tak terima, dalam hati memaki-maki Arfa. Bukannya Arfa sudah janji ya? "Kamu kan udah janji." Arfa turun dari motornya, lalu berjongkok mensejajarkan diri dengan wajah Clara. "Kalo lo lupa, janji itu tipuan lo." bukan bentakan memang, tapi ucapan itu penuh penekanan. Benar juga pikir Clara, itu kan jebakan. Memang benar jika Arfa tak mau mengajarinya, itu kan hanya jebakan bukan janji mutlak dari bibirnya. Tapi tidak. Clara tetap akan merasa benar, karena sejatinya yang ia dengar, perempuan selalu benar. Terpaksa ia memakai ungkapan tersebut. Situastinya emergency. "Gak! Pokoknya Arfa kudu tanggungjawab. Arfa udah buat Clara hampir mati juga." Arfa tidak memperdulikan Clara, ia berdiri dan bersiap memegang setir motornya. Tapi saat hendak naik suara berat yang sangat ia benci mendadak teerdegar ke telinganya. "Lo gak papa?" Itu Aldo. Dan lucunya Arfa tidak langsung pergi tapi menunggu untuk mendengar interaksi antara Clara dan Aldo. Clara mendongak lalu menutup wajahnya ketika Aldo berjongkok mensejajarkan tingginya. "Lo gak papa?" tanyanya sekali lagi. Di balik tangan yang menutupi wajahnya, Clara melontarkan sumpah serapah mengapa lelaki itu, lelaki yang sampai sekarang ia hindari tapi selalu saja mendekati. Clara masih malu akan kejadian di toilet itu. Sangat malu! "Gue gak bakalan bahas kejadian waktu itu kok. Lo gak perlu malu," ucap Aldo membuat Clara perlahan menjauhkan tangannya dari wajah. "Ehhh.. Emmm.." Clara gelagapan mau berbicara apa, disatu sisi ia merasa senang karena lelaki di depannya itu mengerti perasaannya. Tapi disisi lain Clara merasa gelisah ketika Arfa mengatakan bahwa ia tidak akan mengajarinya. Aldo menagkap basah Clara menatap Arfa yang kini tengah berdiri disuamping motornya. Aldo menepuk bahu Clara membuat Clara terkesiap dan langsung menyedot liurnya yang hampir saja jatuh. Aldo tersenyum melihat Clara seperti itu. "Ayo." ajak Aldo. Clara mengeryit bahkan Arfa pun ikut mengeryit. Pertanyaan Aldo terdengar ambigu. "Maksud gue, ayo gue bantu. Itu kaki lo bengkak sama memar. Kalo nggak segera diobatin bisa tambah parah." Clara menegok kakinya, dan benar saja sungguh mengerikan pemandangan disana. Tapi melihat Arfa hendak menaiki motornya Clara langsung mebelalak. "Kak Arfa... Kan kakak udah janji mau ajarin matematika ke aku hari ini." ucap Clara manis. Dan Arfa tersadar, inilah kali pertama Clara memanggilnya dengan embel-embel 'Kak' Aldo melirik Arfa yang terlihat tak memperdulikan Clara. Langsung saja Aldo berkata. "Arfa nggak bakalan mau ngajarin orang. Untuk berbaur sama orang aja dia susah. Kalo lo perlu seseorang buat ngajarin matematika gue bisa kok." Clara menatap Aldo berbinar. "Tapi nilai gue gak sempurna kayak Arfa yang seratus dan punya prestasi juara satu se-nasional." tambah Aldo sedikit melirih. Clara tidak mempermasalahkan hal itu sebenarnya. Ia hanya berusaha mempelajari matematika dengan giat demi tujuannya. Tapi ia juga harus memeriksa nilai Aldo, siapa tau Aldo nilainya sama jeleknya dengan Clara maka ia tak akan meminta tolong Aldo mengajarinya. Clara menatap penuh harap pada Aldo. "Emm kak...," Clara menatap name tag Aldo. "Kak Aldo kalo boleh tahu nilai matematika kakak berapa ya?" "Rata-rata delapan pulusn, sih." jawab Aldo sedikit menunduk. Aldo yakin pasti Clara akan bersikukuh untuk bersama Arfa saja. Clara bertepuk tangan sekali dan keras. "Itu mah bagus kak. Oke aku sama kakak aja, lagian sama Arfa juga malah dibentak, trus juga susah lagi," ucapnya enteng. Arfa membelalak, dasar tidak tahu diri. Aldo mengangguk, "Kalo gitu lo ikut gue ke rumah, biar mama gue obatin kaki lo abis itu kita belajar." Diatas motornya Arfa tertegun. Selalu saja Aldo ikut campur urusannya. Apa dia kurang bahagia telah merebut perhatian Yuda dan Berta? Arfa tak tahu, kali ini ia merasa tubuhnya tidak dikendalikan oleh otaknya melainkan hatinya. Ketika otaknya menyuruh segera pergi tapi hatinya menyuruh sebaliknya. Arfa mencekal tangan Aldo yang kini hendak membantu Clara berdiri. Karena cekalan tangan Arfa yang kasar itu Aldo jadi melepaskan tangan Clara dan jatuhlah Clara kembali ke aspal. "BEHHH p****t INDEHOY CLARA!!!" Sontak Arfa dan Aldo menatap Clara yang kini sibuk mengusap pantatnya. Aldo hendak berjongkok membantu Clara tapi sebuah cekalan kembali dirasakan ditangannya membuat tubuhnya kembali berdiri. Arfa menatap Aldo penuh kebencian sedangkan Aldo menatap Arfa dengan teduh. Tapi Arfa tak lagi percaya dengan tatapan itu. Tatapan yang telah menipu dan membuatnya terbuang dari keluarganya sendiri. "Clara itu urusan gue, jadi lo gausah ikut campur." Setelah mengatakan kalimat itu, Arfa berjongkok menyelipkan tangannya di liapatan kaki dan tekuk Clara. Arfa mengendong Clara dan mendudukkan Clara diatas motornya. Clara yang menerima perlakuan mendadak Arfa langsung menahan napas. Mulutnya terbungkam saat Arfa menatap matanya dengan kode 'diem!'. Setelah meletakkan tubuh Clara diatas motornya Arfa menatap Clara. "Napas!" Clara langsung menghembuskan napas dan menarik napas, setelah itu "Lupa," gumamnya. Arfa menaiki motornya, dan melaju dengan kencang. Bahkan Clara sampai terhuyung kebelakang karena Arfa melanjutkan motornya tanpa aba-aba. Untung saja Clara langsung terkesiap dan menarik hoodie Arfa. Dan kalian pasti tau Arfa tercekik karena perbuatan Clara. Clara menarik napas panjang, menghirup secara brutal oksigen agar otaknya terisi. Melihat itu wajah Arfa langsung datar. Kegilaan apa lagi yang akan Clara lakukan? "Oke." putus Clara "Clara bakal jelasin materi ini, tapi.." ia sengaja menggantungkan ucapannya dan menatap penuh harap pada Arfa. "Kasi waktu sedikit lahh..." Arfa menatap malas wajah Clara. "Okey, ten munutes from now!" Clara membelalak, bagaimana bisa dengan waktu sepuluh menit ia memahami materi bejibun itu. Arfa berdiri dan sontak Clara mendongak. "Mau kemana kamu?" tanya Clara. Arfa menatap Clara, sedikit menunduk "Bukan urusan lo!" *** Clara langsung mendatarkan wajahnya ketika Arfa menjawab pertanyaannya dengan begitu menyebalkan. Jika ia tak sedang membutuhkan otak Arfa, pasti Clara akan dengan senang hati menjedotkan keningnya ke kepala Arfa lagi. Arfa berjalan ke arah dapur, lurus dan masuk kedalam kamar mandi. Clara senantiasa menatap mengikuti tujuan Arfa. Ternyata Arfa pergi ke toilet. Clara langsung menatap nanar buku tulis yang kini penuh dengan rumus-rumus yang membuat otak Clara seakan ambyar. Andai saja otak Clara memiliki ruang dan kunci. Pasti semua rumus matematika itu akan Clara giring dan ia kunci di dalam ruangan agar tidak kabur dan Clara dapat menghasilkan nilai matematika yang bagus, karena rumus sudah memenuhi otaknya. Andai saja ia bisa menahan Arfa sebentar, pasti soal tersebut dapat ia pahami. Clara menatap malas kearah bukunya. Sepertinya sia-sia saja selama ini ia berusaha mendapatkan persetujuan Arfa. Tapi detik selanjutnya tubuhnya tertegak, matanya langsung menoleh kearah handle pintu kamar mandi yang didalamnya terdapat Arfa yang entah sedang apa Arfa disana Clara tidak tau. Clara melempar buku tulisnya ke meja, berusaha berjalan dengan cepat meskipun kakinya terseok-seok ke arah kamar mandi. Setelah berusaha sekuat tenaga akhirnya Clara sampai di depan pintu kamar mandi. Ia tersenyum ketika mendapati kunci pintu yang terpasang diluar. Segera saja ia memutar kunci itu perlahan dan menguncinya. Setelah dirasa aman, Clara berjalan mengendap-endap kearah meja tempat ia berjalan lagi. Semoga saja dengan mungunci Arfa dalam kamar mandi Clara akan mendapatkan banyak waktu untuk menghapal semua rumus yang telah diajarkan Arfa. Disisi lain, Arfa tengah menatap pantulan wajahnya di cermin toilet dengan sisa-sisa air yang menetes karena ia sempat membasuh wajahnya. Kenapa dengan gampangnya dirinya menarik Clara seperti tadi? Lucunya mulutnya seakan memiliki nyawa sendiri hingga berkata seperti tadi pada Aldo. Arfa rasa dirinya sudah gila sama seperti Clara. Tubuhnya seolah selalu berdebat dengan hati dan otaknya. Otak ingin mengabaikan segala sesuatu tentang urusan Clara tapi hati selalu mengalahkan otaknya. Arfa menghembuskan nafas jengah. "Tenang, abis ini lo bebas dari cewek gila itu." Arfa kembali membasuh wajahnya, lalu menatap ke cermin. "Dia pasti nggak bisa jelasin materi itu," ujarnya bermonolog disertai senyum miring, meremehkan. Arfa bernajak dari depan cermin ke arah pintu, saat menarik handle pintu Arfa merasa ada kejanggalan. Dan ia kembali menarik handle pintu. Benar dugaannya. Ia terkunci, oh ralat. Lebih tepatnya di kunci di kamar mandi oleh siapa lagi kalau bukan Clara. Arfa mengedor pintu kamar mandi. "WOII BUKA PINTUNYA!" JEDAG JEDAG. "GUE TAU YA LO KUNCIIN GUE DISINI. BUKA PINTUNYA CEWEK GILA!" JEDAG JEDAG. Clara sempat terkejut, lalu menjawab tak kalah berteriak. "APASIH BERISIK. CLARA MASIH BELAJAR NIH!" "BUKA PINTUNYA, GUE TAU YA LO YANG KUNCIIN GUE DISINI!" "NGACO! KAKI CLARA AJA SAKIT BEGINI GIMANA MAU JALAN! PINTU TOILET ARFA AJA YANG RUSAK." Dan setelah itu teriakan Arfa tak di gubris oleh Clara. Clara lebih memilih menghafalkan rumus matematikanya. Ia menganggap suara teriakan Arfa serta gedoran pintu itu sebagai lagu merdu yang mengiringinya belajar. "Jadi kalo nggak ketemu titik pojoknya Clara harus eliminasi titik ini," gumam Clara seraya menghitung kembali materi yang tertulis di bukunya. "Trus udah ketemu berati tinggal cari X nya berapa, emmm... " Clara mengetukkan pensilnya di dagu. "Oiya di substitusi!" setelah itu Clara kembali memcoretkan pensil di kertas sobekannya. "Oke! Clara paham, yehuuuuu." pekiknya bahagia, ternyata dengan terkuncinya Arfa selama lima menit Clara dapat memahami materi itu. "BUKA g****k! BUDEG YA LO!" Clara berdecak, sejak tadi u*****n kasar selalu ia dengar dari dalam toilet sana. Clara memutuskan untuk bernajak dari tempat duduknya. Ia memutuskan membuka pintu toilet, lagi pula ia sudah memahami materinya. Jika Arfa menuduhnya maka ia akan menggunakan alasan yang sama. Menyalahkan pintunya karena rusak dan membela diri menggunakan mahar berupa kakinya yang sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD