"Dari mana Fa?" tanya ketua kelas yang bernama Aldo.
Tapi yang ditanya tetap meleggang pergi kearah tempat duduknya tanpa menggubris pertanyaan Aldo.
Aldo lagi-lagi menghembuskan nafasnya pasrah, ia sudah tau akan seperti ini responnya. Selama ini pun begitu.
"Arfa! Kumpulin tugas bu Novi! Kan, tadi lo keluar kelas, pas jamkos, bu Novi ngasi tugas kan. Tugas itu, harus dikumpulkan--" Arfa melempar buku tersebut ke arah Hana sang sekertaris, Hana reflek menerima lemparan buku dari Arfa "--sekarang." cicitnya melengkapi kalimat sebelumnya.
Bukannya Arfa tak mau memberikannya secara baik, tapi jika tidak di berikan seperti itu pasti Hana akan berceloteh semakin banyak, rasanya Arfa risih sekali!
Dia memang sempat mengerjakan tugas dari bu Novi lalu melegang pergi ke belakang sekolah untuk melanjutkan membaca novel yang ia bawa dari rumah tadi.
Arfa sontak berdiri dari tempat duduknya ketika mengingat sesuatu membuat suara decitan meja dan kursi menggema dikelas.
Semua mata tertuju kearahnya, tapi Arfa masih sibuk dengan pikirannya.
Dimanakah novelnya?
Aldo mendekati Arfa "Kenapa Fa? Ada yang, ketinggalan?"
Dan seketika itu Arfa berlari menuju belakang sekolah, ia ingat sekarang.
Novelnya tertinggal di belakang sekolah!
Kejadian itu membuat seluruh teman Arfa dikelas menjadi terheran-heran. Tak pernah mereka melihat Arfa sepanik itu. Apakah ada yang terjadi?
Arfa mengedarkan pandangannya ke area belakang sekolah, berusaha mencari dimana novelnya berada. Untuk sejenak ia berhenti, mengingat kejadian sebelumnya.
Bruk.
Krak.
Arfa mendengar suara itu di balik pohon yang sedang ia gunakan untuk bersandar seraya mengamati sebuah foto yang ia ambil dari balik lembar novel yang ia pegang.
Gedubrak.
Plung.
Krak.
"ADUHHH!" teriakan itu dapat ia pastikan adalah teriakan seorang perempuan karena suaranya melengking membuat telinga bisa mendengung jikalau suara tersebut diperkeras lagi.
"Duhh! s**l banget Clara hari ini! Sela selalu aja teriak, jebol gendang telinga ini nanti! Gak tau apa Clara lagi di atas tembok, papa juga! Kenapa nggak bangunin pagi-pagi, jadi telat kan dedek!"
Gerutuan itu terdengar di telinga Arfa. Ia empat berpikir orang tersebut bukan sedang menggerutu melainkan sedang menyanyikan rap sebuah lagu, dikarenakan perkataannya yang panjang dan cepat itu.
Sempat berpikir pula, sebesar apa paru-paru orang itu sehingga dapat berucap sepanjang itu dengan satu tarikan napas.
Arfa mengendikkan bahunya acuh, paling itu salah satu siswi yang terlambat kemudian terpaksa masuk sekolah melewati tembok belakang sekolah.
Dan memang sebenarnya tempat yang paling aman dan pas untuk kabur maupun masuk ke sekolah adalah area belakang sekolah ini. Disamping sepi, jangkauan area belakang sekolah pun aman dari cctv serta guru.
Arfa memutuskan untuk mendengarkan sebuah lagu di headphonenya, ia dilanda risih karena orang dibalik pohon yang sendiri tadi tak ada habis-habisnya berbicara ngalor ngidul.
Arfa kembali terkejut mendengar teriakan orang itu, "HUAAA MAMA! ROK CLARA SOBEK COBA!" tapi Arfa tetap santai, wajar namanya juga perempuan pasti lebay.
"BHUAHAHAHA! Ini mah kalo jaman sekarang keliatan stylist. Ala-ala korea gak sih? Fotoin ke papa, ah!"
Arfa menggeram kesal, semakin dibiarkan perempuan itu semakin tidak jelas. Tadinya histeris karena roknya sobek, sekarang malah tertawa. Memang ajaib perempuan itu.
Arfa tak habis pikir, mengapa perempuan itu berani sekali memanjat tembok SMA Harapan yang terkenal tinggi menjulang itu. Perempuan macam apa itu, tidak ada khas keperempuannya!
"HP CLARA!"
Arfa menaikkan volume lagu lebih keras, padahal ia sudah dengan volume setengah menyetel lagu tapi entah kenapa suara perempuan itu tetap saja dapat menembus telinganya.
"HP CLARA!"
Byur.
Arfa mengernyit kenapa ada suara itu?
Apakah perempuan tersebut terjatuh ke kolam ikan?.
Ah masa bodo, Arfa kembali membaca novelnya.
Beberapa detik suara perempuan tersebut remang-remang terdengar.
"Ponsel Clara ya allah...."
"Brisik!"
Sudah cukup ketenangannya diganggu. Ia sudah sangat kesal. Pikirnya dengan mentolelir suara perempuan tersebut dengan maksud nanti akan lelah sendiri malah bukannya berhenti tapi semakin menjadi-jadi.
Arfa melepaskan headphonenya, ia lingkarkan dileher sehingga benda tersebut terlihat memeluk lehernya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, otomatis mulutnya berucap.
"Stop!"
Sudah cukup Arfa muak, ia akan pindah saja, mencari tempat lain yang lebih tenang.
"ALLAHUAKBAR!"
Arfa berdiri dan berbalik, tapi tiba-tiba dirinya dikejutkan karena perempuan tadi terjungkal kebelakang.
Sebenarnya Arfa sempat terkejut karena didepannya tiba-tiba ada orang, tapi dengan cepat ia mengubah ekspresi terkejutnya.
"Berdiri." kata Arfa.
"..." diam. Perempuan itu tak menyadari perkataan Arfa.
"Minggir."
"..." dan perempuan itu masih tak bergeming sedikitpun, kepalanya terlihat dimiringkan, sepertinya ia sedang bergelut dengan pikirannya.
Tuk.
Arfa melempar novel ke kepala perempuan tersebut. Bukannya malah minggir, perempuan itu malah nyerocos kembali.
"ADUHHH! Mas apa-apaan, sih, nimpuk kepala Clara pake buku tebel begitu! Sakit nih. Kalo pala Clara benjol gimana?! Harus tanggungjawab mas--"
Sudahlah! Ini sangat menyebalkan! Lebih baik ia segera pergi. Sepertinya perempuan ini cerewet sekali.
"Woy mas! Tanggungjawab, dong! Bemper Clara sakit woi!"
Terbukti kan! Afra tak menjawab atau memarahinya saja, perempuan itu sudah berceloteh.
"Edyan tenan pancen!" makinya.
Arfa sempat berhenti lalu membatin bahwa urutan makian perempuan tersebut salah padahal yang benar 'pancen edan tenan'.
Ah Arfa jadi ngelantur kan!
"WOI" teriak seseorang membuat ingatan Arfa buyar seketika.
Arfa menoleh kemudian menatap seorang perempuan yang lusuh diujung kolam ikan.
Matanya reflek membulat melihat perempuan itu hendak menyemplungkan novelnya kedalam kolam ikan.
Buru-buru Arfa berlari ke arahnya.
Namun, saat hendak sampai dekat kolam ikan perempuan itu menyetop langkah Arfa dengan ancaman ia akan benar-benar menceburkan novel miliknya kedalam kolam ikan.
"Stop! Diem, atau Clara cemplungin ini buku!" Arfa otomatis berhenti sambil mencegah perempuan tersebut "Jangan! Balikin buku gue!"
Clara menggeleng, dugaannya benar, lelaki pemilik novel yang ia pegang pasti kembali mencarinya. Clara tersenyum jahil, kembali ia berlagak akan menjatuhkan novel itu kedalam kolam ikan.
"Stop!" cegah Arfa, "Balikin." titahnya dingin.
Clara sempat bergidik ngeri saat tak sengaja matanya bertubrukan dengan mata lelaki itu. Matanya dingin dan tajam membuat siapa saja yang ditatap nyalinya menjadi ciut.
Arfa melangkah perlahan, rupannya perempuan yang bernama Clara itu sedang memikirkan sesuatu.
Kesempatan bagus untuk mengambil novelnya.
Tapi saat dua langkah naasnya Arfa menginjak sebuah ranting kering hingga menimbulkan suara yang membuat Clara tersadar.
"s**l!" runtuknya.
"Clara bakalan balikin buku ini, kalo mas pinjemin Clara hp, mas!"
Arfa mengernyit jangan-jangan Clara akan...
"Clara nggak akan curi hp mas, Clara cuman mau telfon, temen Clara, sumpah suer, berneran, demi papa Clara yang lagi kerja keras buat hidupin Clara di luar kota sana, Clara berani bersumpah, nggak akan nyuri hp mas."
Arfa melongo tak percaya, perempuan di depannya ini bicaranya benar-benar luar biasa. Ia berani bertaruh jikalau Clara mengikuti audisi rapper pasti juara.
"Ehhhh--" Arfa dibuat kesal sekali, Clara mengancamnya dengan membuat jarak antara air dengan novelnya kecil sekali.
Ia berjongkok. Arfa yakin jika tidak meminjamkan ponselnya pasti Clara benar-benar menceburkan novelnya itu.
Tapi ia juga tak bisa mempercayai orang asing didepannya ini. Baru kenal sudah minta pinjamkan ponsel.
"Nomornya?"
Clara mengeryit tak paham "Haa?"
Arfa berdecak "Berapa nomornya?" Clara benar-benar belum paham apa maksud Arfa.
"Nomor temen lo berapa, biar gue telfon in, gue ga percaya, hp gue bakalan balik baik-baik aja nanti." terangnya.
Clara mengangguk tidak mau ambil pusing lagi. Untung saja ia mengingat nomor Sela. Clara mendiktekan nomor Sela pada Arfa, kemudian setelah selesai Arfa menekan tombol panggil di ponselnya dan mengspeaker agar Clara dapat mendengar.
"Halo?"
"SELAAA!!" Clara berteriak.
"CLARA! LO KEMANA AJA SIH! BURUAN MASUK. JANGAN MENTANG-MENTANG MURID BARU YA. SEENAKNYA DATENG!"
Pantesan murid baru, batin Arfa.
"Buruan ke belakang sekolah, sekarang!" tak mau lebih lama menghadapi Clara, Arfa angkat bicara.
"HA?" Sela kebingungan saat mendengar suara lelaki, bahkan Sela sempat mengira nomor yang menelfonnya itu tukang ojek yang menagntar delivery order makanannya. Tapi ternyata bukan.
Siapa dia?
"SELA CEPET KE BELAKANG SEKOLAH, JANGAN TANYA DULU KENAPA, SOALNYA CLARA LAGI KENAPA-NAPA INI!"
"IYA IYA GUE KE--"
Tut.
Arfa mematikan panggilannya secara sepihak. Clara mendengus sebal sambil menatap garang Arfa. Bukannya takut, Arfa malah berbalik menatap tajam Clara.
Sepersekian detik mereka beradu tatap, hingga Arfa membuka suara,"Udah, kan? Mana, novel gue! Balikin!"
Clara menggeleng, sampai Sela datang ia baru akan memberikan novel milik lelaki didepannya.
Arfa mendelik, tak habis pikir, bukannya ia sudah menolongnya.
Sudah cukup! Ini benar-benar menyebalkan!
Ia melangkah menghampiri Clara.
Clara ikutan mendelik, ia langsung mengancam akan menjatuhkan novelnya, tapi saat benar-benar akan melepaskan novel itu Arfa telah berlari dan dengan sigap menyahut novel itu dari tangan Clara.
Hingga tak sengaja tubuhnya menyenggol Clara dan menyebabkan tubuh perempuan itu menyebut penuh kekolam ikan.
Arfa terdiam.
Hingga kepala Clara menyembul dari air kolam.
Clara meludahkan liur di mulutnya, ah ya! lebih tepatnya memuntahkan air kolam yang tak sengaja masuk kedalam mulutnya.
"KYAAA! ASINN g****k!" makinya. Tapi setelah memaki, Clara menutup mulutnya, meruntuki ucapannya "Aaaa... Clara ngomong apaa barusan..." ringisnya.
Arfa tak mau ikut campur, ia kan tak sengaja. Lagi pula siapa suruh mengancamnya, kena karma kan.
Arfa melangkah meninggalkan tempat itu dengan mengabaikan Clara yang tengah mendumel.
Clara mendongak, mendengus keras-keras.
Dasar lelaki tak berperikeperasaan!
Clara doakan supaya kamu bakalan kena php!. Sungguh doa Clara itu konyol sekali.
Clara hendak beranjak dari kolam, tapi rasa geli di kakinya membuatnya mengurungkan niatnya, Clara memutuskan untuk bermain dikolam ikan, ia akan menangkap ikan.
Nanggung banget kalo nggak main, udah terlanjur basah juga. Batin Clara.
Dan kemudian ia berlarian mengintari kolam serta berusaha menangkap ikan yang berada didalam kolam.
Beruntungnya Clara karena semua ikan dikolam itu hanya ikan mas bukan ikan lele.
Byur.
Clara tercebur ketika menangkap ikan. Ia tertawa bahagia ketika mendapatkan ikan dengan ukuran agak besar yang kemudian dipeluknya.
Ikan tersebut meronta-ronta dan dengan kuat Clara mencegah agar tidak lepas.
Clara menatap ikan besar dipelukannnya itu seraya berpikir, mungkin ikan besar ini enak digoreng dimakan dengan sambal matah.
Tapi bagaimana caranya membawa pulang, lagi pula jika ikan tersebut dimasukkan kedalam tas, maka tidak akan jadi segar, karena ikan yang ia peluk sekarang pasti kekurangan air dan mati.
Bagaimana ya caranya membawa pulang ikan ini?
Clara sedang bergelut dengan pikirannya. Ditengah kesibukannya memikirkan cara membawa ikan hasil tangkapannya pulang, Clara dikejutkan dengan suara teriakan beberapa orang.
Karena terkejut dan reflek pegangannya terhadap ikan yang ia peluk tadi lepas. Ikan tadi bukannya berlalu cepat menghindari Clara malah menggoyangkan ekornya.
Saat Clara hendak menangkapnya kembali, ikan tersebut langsung berenang secepat kilat. Sepertinya ikan itu mengejeknya! Kurang ajar sekali!
"LARA!"
"APA?!" balas Clara tak kalah berteriak. Gara-gara mereka ikan yang hendak ia goreng lepas. Clara tak ikhlas.