MALU

1083 Words
Pukul 07.15 "Ara... Ara... Ara bangun Ara!" Tio mengguncangkan tubuh Clara yang masih terbungkus selimut. Tio sempat berpikir karena Ara -nama panggilan Clara- yang tidak turun-turun kebawah untuk sarapan dan bersiap untuk sekolah. Tapi Tio menjadi heran, sudah hampir jam tujuh tapi Ara, anaknya itu tak kunjung bersiap berangkat. Sedangkan ia harus cepat berangkat bekerja, tidak bisa mengantar Ara. Ara menggeliat, matanya terbuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah sabar Tio, papanya. "Kenapa, pa? Masih jam berapa ini, kenapa papa bangunin Ara? Mau ajakin Ara main kemana? Atauc papa mau Ara beliin sayur? Beli camilan?" cercanya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Tio menggeleng seraya tersenyum manis. Ahh jika bukan Papanya, pasti Tio akan Clara jadikan pacar. Tio mengusap lembut puncak kepala anaknya, tersenyum manis. Clara sudah besar, sudah menjadi gadis remaja. Rasanya baru kemarin ia menimbang bayi yang sudah berwujud remaja didepannya ini. Clara mengeryit, mengapa papanya hari ini berdandan manis, tampan dan membahana seperti ini? Apakah papanya akan mencari mama baru untuknya? Tidak! Clara tidak mau mama baru! "Pa, Clara nggak mau ya, dapet mama baru. Apa-apaan ini, papa dandan ganteng begini? Hayolo, ngaku! Papa mau cari mama lagi, ya, buat Clara?! Gak gak! Clara gak, mau ya--" Tio segera menjepit mulut Clara, anaknya ini memang mirip dengan istrinya yang sudah tenang dialam sana. "Papa nggak lagi cari mama baru buat kamu kok, lagi pula, papa kan selalu seperti ini pas kerja. Dan sebenernya, Papa kan emang seganteng ini tiap hari." BAMMM! Ternyata papanya termasuk spesies yang narsis, demi membuatnya senang, Clara tertawa renyah lalu memeluk Tio "Iyalah! Papa siapa dulu! Kalo bukan papanya Clara, ya, gak ganteng!" Tio hanya terkikik geli melihat kelakuan anaknya. Tio kembali mengelus Puncak kepala Clara. Clara mendongak menatap papanya yang klimis itu, "Kamu nggak sekolah, Ara? Sudah jam tujuh lebih loh." Clara mengangguk, belum menyadari perkataan Tio. Tapi selanjutnya Clara mendongak cepat membuat hidung mancung Tio terjedot kerasnya kepala Clara. Tio meringis merasakan sakit dihidungnya, sedangkan Clara bukannya meminta maaf malah terbahak. Dasar anak kurang hiburan! "Aduhh duh paa, aduhh... Papa, sih, ngagetin Clara. Pake bohong segala, kalo udah jam tujuh lebih. Nih pa--" Clara mengambil jam wekernya lalu menyondorkan kearah wajah Tio "--masih jam lima lebih sepuluh." diktenya. Tio menggeleng heran pada Clara, apa dia tidak menyadari bahwa jam wekernya kan rusak. "Itu, coba dilihat jamnya, jalan nggak?" titah Tio. Clara dengan enteng menatap jam wekernya, sedetik ia tatap hingga detik ketiga matanya membelalak. "Jadi beneran jam tujuh lebih sekarang?!" tanyanya ngegas, Tio mengangguk santai. Clara melempar jam wekernya di ranjang, lalu lari terbirit-b***t ke kamar mandi yang memang ada didalam kamarnya. Ia sudah masuk kedalam kamar mandi, tapi Clara tiba-tiba menepuk keningnya. Handuknya serta pakaian dalamnya terlupa! Kemudian ia keluar dari kamar mandi dan menuju lemarinya. Ia mengambil handuk serta pakaian dalamnya. Tio yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala. Ia masih duduk di ranjang Clara seraya menata bantal dan guling serta selimut yang sudah ia lipat. Clara kembali kedalam kamar mandi, saat ingin membuka bajunya ia teringat akan sesuatu. Kembali lagi Clara keluar dari kamar mandi dan berkacak pinggang kearah Tio yang sedang mengernyitkan dahinya. "Papa keluar!" titahnya, Tio mengernyit belom paham "Ish! Clara mau mandi, papa keluar." "Ooo..." Tio hanya beroh ria. Clara gregetan, kenapa papanya tidak kunjung paham "Papa! Keluar sana, Clara mau mandi, nanti papa intipin Clara!" Tio berdecih "Cih, siapa juga yang mau ngintipin kamu, depan belakang rata gitu." Clara mendelik tak terima dengan ledekan papanya. "Papaaaaa...." geramnya. Tio beranjak dari duduknya "Iyaa... Papa keluar." Setelah keluar dan Tio menuruni tangga, teringat sesuatu dan ia berteriak. "ARA JANGAN KEBURU-BURU, SANTAI AJA. MESKIPUN BURU-BURU UJUNG-UJUNGNYA JUGA UDAH TELAT!" "Oke Pa!" *** "Clara Deliana Kusuma." bu Nanik mengabsen muridnya. "Gamasuk bu!" "Terlambat bu!" Jawab Fino dan Hasan bersamaan. "Jadi, yang bener, yang mana?" tanya bu Nanik bingung. Fino dan Hasan kembali menjawab seperti tadi bersamaan. Bu Nanik kembali kebingungan. "Punya buktinya?" Hasan mengangguk sedangkan Fino menggeleng. "Mana?" Hasan hendak berdiri menyerahkan buktinya tapi Sela mencekal pergelangan tangan Hasan lalu menggeleng ringan "Biar gue aja." Hasan mengangguk. Sela menghampiri bu Nanik kedepan melihatkan pesan yang Clara kirim di grup bahwa jika dia di absen, Clara minta tolong dibilangkan bahwa ia terlambat dan bukan membolos. Bu Nanik mengangguk lalu Sela kembali ke tempat duduknya. "Pssstt..." Hasan dan Sela menoleh kearah Fino seraya menaikkan salah satunalisnya dengan kompak tanda "Apa?" dan Fino bertanya "Emang, Lara telat?" "Liat grup!" jawab Hasan dan Sela bersamaan. Fino mengangguk dan benar saja, Clara bukan tidak masuk tapi terlambat. "Baik anak-anak sekarang kalian buka buku paket halaman..." Dan pelajaran dimulai dengan normal. Sedangkan ditempat lain, Clara tak henti-hentinya melontarkan sumpah serapahnya. Kini ia berada ditoilet lantai ketiga, karena dipinta membersihkan toilet sebagai hukuman. Tadinya ia sempat akan memanjat tembok lagi, tapi niat itu ia urungkan. Ia tak mau bertemu dengan ikan kolam tempo hari lalu. Otaknya jadi mengingat rencananya menggoreng ikan tersebut. Ia tak akan tega bila harus bertemu lagi. Tuh kan Clara ngelantur terus! "Si ibu, mah, kagak kasian apa, masa, Clara harus bersihin toilet lantai satu sampe empat, capek tau! Udah cakep-cakep begini, masa suruh bersihin toilet. Harusnya Clara tuh bersihin kantin aja. Pasti bersih, sekalian Clara bersihin dagangan disana." Clara keluar karena selesai mengepel toilet lantai tiga, saatnya ke toilet lantai empat. Toilet terakhir yang harus ia bersihkan. Oke Clara harus semangat, tinggal sedikit lagi! Clara menaiki satu-persatu anak tangga menuju toilet, dengan sibuk misuh-misuh Clara memasuki toilet. Tanpa menyadari bahwa toilet yang ia masuki itu adalah toilet pria. Dengan kasar ia meraih kain pel yang ada dipojok lalu mengepel dari pojok dulu, tapi tiba-tiba... "AAA!" Teriakan itu membuat Clara mendongak sebal, "Apasih?!" dan Clara menatap perlahan ketiga lelaki yang mepet ketembok. Ralat, mepet pada tempat pipis berdiri pria sambil memegangi anunya. Clara langsung berbalik dengan wajah merah padam. Bukan marah melainkan ia malu sekali! Clara sempat berbalik lalu menatap ketiga lelaki itu, kemudian menunduk sebentar sebagai tanda minta maaf. Tapi naasnya saat hendak melangkah keluar, pintu toilet terbuka tiba-tiba membuat kening Clara terpentok keras. Hendak memarahi siapa yang membuka pintu toilet dengan tiba-tiba, tapi Clara urungkan. Saat ini ia tak berhak memarahinya, karena ia sedang salah masuk toilet. Lelaki yang ditabrak Clara kebingungan, kenapa ada perempuan masuk ke toilet pria? Apakah dia mata keranjang? Lelaki itu mengabaikan rasa penasarannya, lalu masuk kedalam toilet, tapi sebelum itu ia bertanya pada ketiga lelaki yang sedang mencuci tangan di wastafel. "Itu tadi siapa?" "Gatau Do, tuh cewek, tiba-tiba masuk kesini, gue lagi pipis lagi." adu salah satu dari mereka. Aldo hanya menggelengkan kepalanya. Cewek aneh!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD