MEET WITH ALDO

1625 Words
Aldo_elano. Hai Clar. Clara menghentikan aktivitasnya mengerjakan soal yang tadi di berikan oleh Arfa. Gadis itu kini duduk di bawah sofa berhadapan dengan Arfa yang berada di seberang, tengah berselonjor dengan buku bacaannya. Tadinya Clara sempat meminta belajar di ruang makan saja, tapi Arfa tak menyetujuinya. Clara mendengar notif dari ponselnya yang tergeletak diatas meja. Clara memutuskan untuk mengecek ponselnya, siapa tau itu notif dari papanya yang sudah seminggu tidak pulang karena harus mengurusi perusahaan. Dahi Clara mengeryit ketika melihat pesan yang Aldo kirimkan. Hai juga kak Kenapa chat kak? Aldo_elano. Lagi apa? Clara terkikik saat membaca pesan Aldo, berasa di tanyain pacar sendiri, pikirnya. Clara Lagi belajar kak. Aldo_elano. Sama Arfa? Clara Betul sekali! Aldo_elano. Nanti ketemu di cafe tree mau? Gue traktir, sekalian gue bosen di rumah. Clara Wahhh boleh sekali kak, aku dengan senang hati menerima ajakan kakak. Aldo_elano. Oke gue tunggu di cafe jam 5 ya. Hendak membalas pesan Aldo, Tiba-tiba ponselnya direbut paksa oleh Arfa. Sambil menampilkan wajah datarnya Arfa berkata,"Kalo belajar ,ya, jangan main hp dulu!" Clara mendengus. "Yaudah siniin hp nya, abis itu Clara belajar." Arfa menggeleng. "Gue sita sampai soal itu lo selesein," ucapnya seraya mengendikkan dagunya ke arah buku di atas meja. Clara mendengus kasar, "Sialan." gumamnya tapi setelah itu ia memukul bibirnya, "Gaboleh banyak mengumpat Clara, kata Papa Tio itu dosa." Arfa hanya melirik malas, dasar perempuan aneh. Clara kembali bergelut dengan rumus dan soal matematikanya, sedangkan Arfa kembali membaca novelnya. Tapi getaran ponsel Clara di sampingnya semakin brutal. Clara mendongak ketika mendengar notif yang meletup-letup. "Siniin hp Clara, itu ada yang chat." "Nggak!" "Ish! Kalo papa Clara yang chat gimana?!" Arfa lalu mengecek ponsel Clara."Chat dari temen lo doang, nggak ada chat dari bapak lo." Clara tak segampang itu mempercayai ucapan Arfa. "Nggak! Bohong ya kamu. Siniin Clara mau lihat sendiri." Arfa langsung menyondorkan layar ponsel di depan wajah sang pemilik. arfa mengusap layar ponsel, memperlihatkan bahwa ia tidak berbohong. "Nihh, gaada kan!" Dan Clara hanya berdecak kesal saja. Berikutnya ia kembali menyelesaikan soal. Clara harus cepat, apalagi Aldo menunggunya. Ia tidak boleh terlambat. Jika tidak, maka gagal sudah makanan gratis ia santap. Arfa hendak me-lock ponsel Clara tapi melihat id line yang ia kenal, Arfa jadi penasaran. Arfa melirik Clara sebentar, antisipasi jikalau ia ketahuan mengintip. Arfa membuka room chat Clara dengan Aldo. Ada tiga pesan yang belum terbaca. Aldo_elano. Clar? Kok cuman di read? Lo bisa dateng kan ke cafe jam 5 nanti? Clara Bisa kok kak, tapi aku ajak temen ya. Oke gapapa, asalkan lo dateng. Arfa tersenyum miring, sejurus kemudian ia bangkit dan berdiri membuat perhatian Clara terhadap hitungannya terhenti. "Ayo." Clara mengernyit. "Ayo kemana?" "Anterin gue beli jajan." Clara mendatarkan wajahnya, "Beli jajan aja sendiri. Kenapa mesti minta anter Clara? Manja banget!" ucapnya sambil sibuk mengitung. "Gue traktir." Clara langsung melempar pensilnya, berdiri dan menatap Arfa penuh semangat, "AYO!" serunya. Dan akhirnya mereka pergi dengan mobil Arfa. Clara tak tau Arfa membawanya kemana yang ia pikirkan hanya satu sekarang. Makanan gratis. Hingga beberapa menit melalui keheningan, Clara disuguhi pemandangan cafe yang berkesan klasik. Dengan menu menggiurkan yang terpampang di spanduk depan cafe tersebut. Sungguh mengiurkan hingga tak terasa mulutnya menganga karena terlalu terpesona. "Ayo." Whepppt.. Clara menyedot liurnya yang hampir saja jatuh. Arfa langsung menoleh dan, "Lo ngiler ya?!" Clara hanya mengaruk pipinya yang tidak gatal. "Hampir." Setelah melalui perdebatan kecil, Arfa mengajak Clara masuk ke dalam cafe itu. Arfa berada di depan Clara. Arfa mendorong pintu masuk cafe hingga pintu tersebut otomatis menutup sendiri. Clara yang terlalu kagum akan penataan cafe tersebut menoleh ke kiri dan ke kanan sambil meluncurkan beberapa pujian hingga tanpa sadar... JEDUG. "Aduhh..." Clara tak menyadari keberadaan pintu kaca di depannya. Akibat kerasnya hantaman itu semua mata langsung terpusat kearahnya. Bahkan Clara merasa kepalanya pecah saat itu juga. Rasa pening dan perih datang begitu saja tanpa permisi. Mendengar suara tadi Arfa langsung menghentikan langkahnya, melihat ke belakang dan ternyata Clara tak berjalan di belakangnya. Arfa berlari dan mendapati Clara sedang berjongkok sambil memegang kepalanya? Arfa langsung berlari, dan berjongkok ke arah Clara. Hingga secara bersamaan ia melakukan hal seperti itu sama dengan orang yang kini menatapnya. Aldo sampai di cafe, ia sengaja datang lebih awal karena akan memilih menu-menu yang cocok dimakan oleh Clara. Ttit ttit. Ia memencet tombol kunci mobilnya lalu melangkah memasuki cafe. Hingga ia melihat siluet Clara yang kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Matanya membelalak saat Clara menghentakkan kakinya sekali lalu berjalan tanpa menyadari pintu kaca. "CLARA AW--" Terlambat, Clara sudah menghantam pintu kaca tersebut hingga gadis itu berjongkok dan memegangi kepalanya. Aldo berlari dan berjongkok di hadapan Clara bersamaan dengan Arfa? Mereka saling tatap hingga semua itu di putuskan oleh ringgisan yang datang dari mulut Clara. "Lo gak papa?" tanya Arfa dan Aldo bebarengan. Lagi-lagi mereka saling tatap hingga beberapa pekikan terdengar. "Yaampunn enak banget direbutin dua cowok ganteng!" "Aduhhh aku juga mau jedotin kepala deh, biar diperhatiin sama mas-mas ganteng." Clara mengeryit ketika mendengar suara yang berbeda. Ia mengintip sedikit, dan ternyata Arfa dan Aldo berada di depannya. Kedua lelaki itu saling menatap seolah ada petir di tengah-tengah mereka. Clara malah berdecak, dia segera berdiri dan menepuk kedua kepala kakak kelasnya itu. "Woi!" *** Berta dirawat di rumah sakit selama tiga hari dan Aldo lah yang senantiasa menemaninya. Dan sekarang sudah hari keempat, yang artinya Berta sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Aldo mengepak barang-barang Berta maupun barangnya di tas besar yang sempat dia ambil dari rumah. Berta duduk di bibir brangkar. Berta mengusap perut buncitnya yang sudah mengijak hampir sembilan bulan. Berarti beberapa minggu lagi ia akan melahirkan. Berta menatap Aldo yang tengah sibuk memasukkan baju-baju ke dalam tas. "Aldo." Mendengar panggilan halus itu membuat Aldo menghentikan aktivitasnya lalu menoleh dan menatap penuh kearah Berta. "Kenapa ma?" Berta tersenyum, "Arfa jenguk mama nggak akhir-akhir ini?" tanyanya penuh harap. Aldo meringis mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Berta, jawabannya tetap sama, "Arfa nggak pernah kesini ma," jawabnya seraya menunduk. Berta tersenyum sendu. "Sampai kapan adikmu tidak mau memaafkan mama." lirihnya. Aldo menahan penyesalan yang selama ini ia pendam. Yang selama ini sudah ia kubur dalam-dalam tapi sekarang menguak dengan cepat. Hingga tak terasa air mata menetes begitu saja tanpa permisi. Mendengar sayup-sayup isakan tangis, Berta menatap Aldo yang kini sedang menunduk di sofa seberang dengan bahu yang bergetar. Berta menghampiri Aldo dan duduk di sebelahnya. Ia peluk anak pertamanya itu hingga Aldo tak kuasa menahan yang selama ini ia pendam. "Andai Aldo mengakui kesalahan Aldo bukannya menuduh Arfa. Pasti sekarang Aldo yang menderita bukannya Arfa," ucap Aldo di sela-sela tangisnya. Berta mengusap pelan kepala Aldo. "Ssttt... Nggak boleh gitu. Itu cuman salah paham dan waktu itu papa dan mama nggak bisa tolelir kesalahan Arfa. Papa dan mama juga langsung menyimpulkan sendiri. Ini bukan salah kamu. Waktu itu kamu dan Arfa masih kecil wajar jika seperti itu," ucap Berta panjang lebar demi menenangkan perasaan Aldo. Aldo terisak, ia tak bisa membendung tangisnya. Tanpa dirasa semua beban itu sedikit menghilang karena ia telah mengeluarkan apa yang ia pendam selama ini. Berta hanya bisa menepuk pelan bahu Aldo agar tegar dan sabar. Setelah dirasa Aldo sudah tenang, Berta mengelus puncak kepala Aldo. "Mama boleh minta antar ke Arfa?" Aldo mendongak menatap Berta seraya menggelengkan kepalanya. Berta menghela napas, "Mama mohon..."pintanya. Aldo ikutan mengela napas. "Tapi nggak sekarang," balasnya masih menatap manik mata Berta yang terlihat memohon itu. "Tapi mama pengen --" segera Aldo memotong ucapan Berta. "Seminggu lagi. Aldo janji bakalan anterin mama ke Arfa setelah semua keadaan jadi lebih baik. Aldo gak mau kejadian hari itu terulang." "Tapi ma--" "Mama mau ikutin ucapan Aldo atau mama nggak ketemu Arfa?" Dan Berta hanya mengangguk pasrah, "Baiklah. Mama akan temuin adik kamu seminggu lagi." *** "MULAI SEKARANG KAMU BUKAN JAGOAN PAPA! PAPA GAK MAU PUNYA ANAK PEMBUNUH KAYAK KAMU!" Arfa langsung terbangun dari tidurnya. Keringat menetes dari dahi ke pelipisnya. Ia tersenyum miring. Masih saja ia memimpikan hal s****n itu. Arfa meraih ponsel di meja sebelah ranjang. Ternyata masih jam sebelas malam. Hendak me-lock kembali ponselnya, getaran datang membuat Arfa mengecek. Jangan Jawab. (376) ARFA!!!!! Arfa menghembuskan napas jengah. Sudah malam, apakah Clara tidak lelah mengganggunya? Spam chatnya bahkan membuat Arfa malas untuk mengscroll pesan sebelumnya. Arfa mengetikkan balasan pada Clara. Dan langsung saja di baca. Hingga Arfa merasa tidak akan ada balasan lagi ia langsung me-lock ponselnya. Lagi dan lagi. Saat Arfa hendak menaruh ponselnya di meja, getaran dirasakannya. Kali ini bukan hanya getaran saja tapi bersamaan dengan lantunan ringtone yang terdengar. Dengan malas Arfa mengangkat telfon Clara. Belum sempat menjawab, mulut Arfa dibuat bungkam karena Clara. "Assalamualaikum Arfa. Oiyaa Waalaikumsalam Clara!" Di seberang sana Clara memutuskan menjawab salamnya sendiri karena ia takut salamnya di jawab oleh bentakan Arfa. "Arfa!" "Hmm?" "Besok jadi kan belajarnya? Kemaren kan mendadak libur. Kalo gini terus Clara bisa nggak pinter-pinter." "Hmm." "Besok di rumah Arfa aja ya?" "Hmm." "Beliin camilan ya." "Hmm." "YES! ULUH ULUHHHH BAEK PISAN KAMU MAS!" Arfa tersadar telah di bodohi oleh Clara, hendak membalas ia mendengar suara teriakan dari arah ponselnya. Bukan suara Clara melainkan suara berat. Suara lelaki. "Araaaaa!!! Jangan teriak-teriak! Sudah malam tidur." "Iya pah! Ara ini lagi ngelindur." "Araaaa!!!" "Iya pa iya! Ara otw nih!" Arfa tersenyum mendengar perdebatan Clara dengan papanya. Hingga Arfa mendengar decakan sebal. "Ck, Arfa!" "Hmm." "Besok lo ya! JANGAN LUPA CAMILANNYA." "Hmm." "Kalo gitu Clara tidur dulu soalnya nanti macan di rumah Clara ngamuk!" "ARAAA PAPA DENGER YA KAMU NGATAIN PAPA!" "IYA PAK TIO SIAP AMPUN. INI ARA TIDUR NIH BENERAN TIDUR NIH." "Udah dulu ya Fa!" "Oke." "GOOD NIGHT ARFA! JANGAN SAMPE MIMPI BURUK YAAAA." "ARAAAAAA!!!" "IYA PAPA MASYAALLAH. INI ARA MA--" Tut. Telfon di matikan sepihak oleh Clara. Arfa tersenyum miris, beruntung Clara memiliki papa seperti itu. Sedangkan dia? Ah sudahlah! Ia tak mau memikirkan kejadian itu lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD