Sudah lima menit Clara berusaha menyelesaikan soal yang di berikan oleh Arfa yang kini sedang asyik menatapnya seraya memasukkan snack ke dalam mulut.
Tadinya Clara bersyukur Arfa benar-benar membelikan banyak camilan untuk temannya belajar. Tapi hal itu langsung hilang begitu saja saat Arfa membuka camilan dan memakannya di depan dirinya.
Clara hendak protes tapi Arfa mengatakan,"Selesein dulu satu soal ini. Kalo udah selesai lo boleh makan semuanya, lo boleh bungkus dan bawa pulang." sontak Clara menjadi riang gembira.
Clara sudah bersiap mengerjakan soal tadi, tapi dahinya mendadak bergelombang. Soal yang di berikan Arfa seperti bukan materi yang telah di pelajari.
Dan kalian tau. Ternyata soal itu adalah soal geografi kelas 12. Dan Clara tidak sadar akan hal tersebut.
Clara mendongak menatap Arfa yang kini juga menatapnya sambil sibuk memasukkan snack ke mulutnya. Bayangkan wajah datarnya itu senantiasa memandangnya, menggoda dengan sebongkah snack di pelukan.
Bahkan parahnya Arfa menaik turunkan alisnya beberapa kali untuk mengoda Clara. Clara beralih menatap bungkus snack yang bercecer disamping Arfa. Dan ia menatap snack yang kini berada di pangkuan Arfa lalu mengikuti tangan Arfa yang keluar dari bungkus snack menuju mulutnya.
Glek.
Clara meneguk salivanya. Clara lapar sekarang. Tadi ia tidak sempat sarapan karena membela-belakan ingin berangkat dengan Tio -papanya- yang akan pergi lagi selama tiga hari untuk mengurusi cabang perusahaannya.
"Arfa."
Tidak ada jawaban hanya suara kunyahan Arfa saja yang terdengar crunchy. Clara menatap mulut Arfa yang sibuk mengunyah lalu beralih pada tenggorokan Arfa yang sedang menelan kunyahan.
Ia perhatikan lamat-lamat hingga ia terjebak dalam pesona rahang Arfa. Sungguh mengoda iman! Clara menggelengkan kepala membuat Arfa bingung dengan kelakuan Clara.
"Kenapa lo?"
Clara terpejerat lalu kembali menyibukkan diri pada soalnya. Meskipun sebenarnya Clara kini terfokus dengan makanan bukan fokus pada soal.
Arfa tersenyum smirk lalu mendekatkan bungkus snack itu di dekat hidung Clara.
Menggerakkannya sedikit demi sedikit agar bau snack membuat Clara tergoda.
Clara merasakan bau gurih dari snack itu. Tapi ia tahan! Ia tidak boleh goyah! Masih ada sekitar sepuluh bungkus lagi, ia harus membawa mereka pulang untuk disimpan di perutnya nanti.
"Gak mau lo?"
Clara mendongak lalu menggeleng. "Gak mau. Clara mau selesaikan soal ini dulu."
Alis Arfa terangkat satu. "Lo gak laper?" jawaban Clara hanya menggeleng.
"Gak lah!"
Kruyuk kruyuk.
Clara reflek memegangi perutnya yang dengan lancang mempermalukannya di hadapan Arfa. Arfa terkekeh. Sudah tau lapar masih saja berbohong, dasar Clara.
Sudahlah jika menunggu menyelesaikan soal ini pasti dirinya akan digoda terus oleh Arfa.
Ahaa!
Tiba-tiba saja Clara memiliki ide brilian untuk menipu Arfa. Clara menatap mata Arfa. Berusaha mengunci tatapannya, sedangkan Arfa yang awalnya heran kenapa Clara menatap seperti itu hanya bisa membalas dengan ikut menatap.
Hingga lama kelamaan tatapan Arfa seakan terkunci begitu saja. Manik mata Clara begitu teduh, Arfa tak bisa menebak ada apa di dalamnya. Apakah tatapan itu memiliki binar bahagia? Atau kesedihan sepertinya?
Clara perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Arfa, ia menatap bibir Arfa membuat Arfa tanpa sadar meneguk salivanya. Apakah Clara akan menciumnya? Tapi mengapa badannya mendadak kaky seperti ini?
Mata Arfa reflek memejam saat jarak semakin menipis , hembusan napas Clara pun dapat ia rasakan menerpa wajahnya.
Swettt.
Clara berhasil mendapatkan bungkus snack di tangan Arfa dengan mulus. Sesegera ia memasukkan snack tersebut kedalam mulutnya, rasanya langsung menyeruak di dalam mulut.
Begitu gurih dan nikmat.
Arfa merasakan sautan itu tadi. Ia telah tertipu! s****n sekali memang perempuan di depannya ini! Ia sudah terlanjur baper!
Ohhh Tuhan. Arfa malu sekali.
Clara mendongak menatap Arfa dengan cengiran lebarnya. "Maafin Clara ya Arfa. Jajannya ini biar Clara abisin... Laper banget."
Dan Arfa masih sedikit kesal. Ia mendengus keras-keras. Wajahnya merah antara marah dan malu. Clara kembali menatap Arfa.
"Kok merah mukanya? Kenapa?" tanya Clara dengan polosnya.
Arfa yang sudah kesal langsung saja mendorong kening Clara."Gara-gara lo!" setelah itu Arfa beranjak dan berlari ke kamar mandi.
Clara senantiasa menatap kepergian Arfa hingga is mengendikkan bahunya acuh. "Mungkin kebelet boker," gumamnya.
Di satu sisi Arfa sedang meruntuki kebodohannya. Ingatkan Arfa bahwa tadi ia telah terbawa perasaan dengan perlakuan Clara.
Tunggu dulu! Apa dirinya terbawa perasaan? Dirinya? Dengan siapa? Clara? Tidak mungkin!
Sekali lagi Arfa mengusap kasar wajahnya, ia membasuh muka dan kembali berkaca. Ia teringat saat Clara membungkukkan badannya, ia ingat hembusan napas Clara yang menerpa wajahnya. Ia juga ingat bau parfum stoberi Clara.
Arfa menggeleng lalu memukul kepalanya sendiri. "Udah gila ya lo?!" tanyanya bermonolog.
Lagi-lagi sekelebat peristiwa yang menyangkut Clara kembali terlintas di otak Arfa. Hingga ingin rasanya Arfa membenturkan kepalanya ke dinding.
Apakah ada yang bisa membantunya menghilangkan pikiran ini?
Arfa kembali berkaca lalu tersenyum. "Wajar kalo lo gini. Itu gara-gara lo deket-deket sama cewek gila jadi hormon lo ikutan dia!"
Dan entah sudah berapa menit Arfa di dalam kamar mandi hingga ia lelah. Sudahlah biarkan pikirannya hari ini terpenuhi dengan Clara. Hanya hari ini saja, Arfa harus bisa memaklumi hormonnya. Iya, ini semua gara-gara hormonnya.
Arfa keluar dari kamar mandi dengan rambut serta wajah yang basah, terlihat handuk kecil memeluk lehernnya guna mengusap wajah dan rambutnya agar cepat kering. Saat menatap arah Clara duduk matanya membelalak.
"BERSIHIN SAMPAH SAMPAH LO!"
Clara yang sibuk memakan semua snack terlonjak kaget. Ya! Clara telah menghabiskan tiga bungkus snack tadi. Karena takut ketahuan Clara cepat-cepat memasukan snack tersebut ke alam mulutnya.
Bahkan sangking semangatnya menghabiskan snack tersebut Clara membuka bungkusnya dengan cepat dan kasar membuat beberapa berhamburan di lantai.
***
Setelah membereskan beberapa kekacauan yang di ciptakan, Clara langsung mendudukkan dirinya di sofa. Lelah sekali membereskan semua kekacauan yang ada!
"ARFA!"
Tidak ada sahutan membuat Clara beberapa kali berteriak memanggil sang pemilik rumah, hingga sudah kesekian kalinya tetap tidak ada sahutan dari Arfa.
Kemana perginya Arfa? Apa dia meninggalkannya di rumah sendiri? Hujan lebat begini? Atau Arfa tertidur di kamar mandi?
Buru-buru Clara mengecek keberadaan Afra di kamar mandi, tapi saat membuka pintu kamar mandi ia tak mendapati keberadaan Arfa.
Kemana Arfa? Apakah dia di taman belakang? Apa dia di kamar tidur? Apa dia diculik hantu rumah? Atau hantu perumahannya?
Clara kalut, badai seperti ini membuatnya kelimpungan. Hingga tujuan terakhir Clara adalah kamar Arfa. Ia buka pintu itu sambil hendak meneriaki nama Arfa tapi mulutnya hanya terbuka saja, panggilan yang hendak ia ucapkan melayang begitu saja ketika dirinya melihat Arfa tengah memakai headphone dan tertidur di meja belajar.
Clara mendekati Arfa lalu dengan perlahan ia lepaskan headphone dari kepala Arfa. Suara bedebam lagu dari headphone itu menarik perhatian Clara sehingga Clara menempatkan benda itu di telinganya. Tak sampai sedetik ia langsung mencopotnya.
Setelah meletakkan benda itu perlahan di meja belajar Arfa Clara langsung mengusap telinganya.
"Pantesan nggak denger teriakan Clara. Musiknya gak bisa nyelooo,sih!"
Lalu Clara menarik ponsel Arfa guna mematikan lagu, matanya membelalak melihat layar ponsel Arfa. Disana menampilkan volume musik yang di putar. Kalian tau, volume maximal yang Arfa setting.
Apakah telinganya tidak sakit? Hebat sekali. Apa setelah ini Arfa menjadi tuli? Tidak-tidak! Kasian sekali jika Arfa tampan ini tuli.
Tunggu! Tampan?! TAMPAN?!
TIDAKKKKK!!!!
Clara meruntuki anggapan itu namun melihat Arfa menggeliat tidak nyaman membuat tangan Clara terulur mengambil selimut dan menyelimuti Arfa.
Entah karena iseng, balas dendam atau absurd Clara berkeinginan mengoleksi helaian rambut Arfa. Dengan perlahan tapi pasti Clara menarik sehelai rambut Arfa membuat si empunya berjengit kaget namun tetap terlelap.
Mungkin Arfa lelah menghadapinya, begitulah pikir Clara. Clara menengok jam dinding dan ternyata sudah jam empat sore.
"Astaga! Papa!"
Clara ingat satu hal! Satu hal yang bisa-bisanya ia lupakan!
Ulang tahun Tio! Papanya!!!
Dengan terburu-buru Clara menuliskan sesuatu di sticky note kemudian menempelkannya di kening Arfa. Setelah itu ia pergi keluar kamar Arfa dan pulang.
Clara kini berdiri di teras rumah Arfa sambil mengusap lengannya karena hujan badai ini membuatnya kedinginan. Ia menoleh ke kiri dan kanan siapa tau ada payung menganggur. Tapi ternyata tidak ada.
"Adohh! Ini gimana pulangnya? Gimana Clara ambil kue pesanan Clara?" keluhnya sambil mondar-mandir.
"Terobos gak ya?" gumamnya lalu ia menghitung jarinya.
Dan di jari yang kesepuluh, "Tidak," ucapnya.
"Absen Clara kan sebelas jadi..." Clara mlipat ibu jari kanannya, "Terobos."putusnya.
Clara berancang-ancang hendak menerobos saat akan melesat tiba-tiba...
JEDUAR.
"Allahuakbar!"
Reflek Clara mengelus d**a kaget dan perasaan bimbang menyerbu. Bimbang akan keadaan sekarang, kalau menerobos nanti tersambar petir bagaimana? Kalau gosong bagaimana? Iya kalau gosong saja, kalau mati tersambar petir?
Clara menggelengkan kepalanya, sudahlah setidaknya ia harus cepat pulang. Keempat temannya pasti sudah menunggunya di rumah dengan bi Ijah.
Dan yak! Clara berlari menerobos hujan badai sesekali ia terhempas karena angin begitu kencang. Bahkan tak sampai satu meter tubuhnya sudah basah kuyup.
Clara berlari hingga tiba-tiba saja kantung plastik hitam menabrak wajahnya. Clara menarik kasar kantung plastik itu.
"Ini kenapa sampe terbang segala?!" omelnya namun masih terus berlari.
TIN TIN TINNNNNNN.
Clara langsung menepi, ia mengusap wajahnya agar dapat melihat siapa pengendara mobil yang menghentikan mobilnya tepat di sebelah Clara. Kaca mobil terbuka begitu saja dan menampilkan wajah bantal Arfa.
"Masuk!" titah Arfa.
Clara mengernyit. "Apaan?" jelas kan jika Clara mengong gini? Arfa kurang detail, sih!
"Masuk ke mobil gue cepetan, lo mau disamber geledek?"
Clara menggeleng hendak menjawab tiba-tiba saja terdengar suara guntur yang membuat Clara terlonjak dan cepat-cepat masuk ke dalam mobil.
"Ngapain lo hujan-hujan?!"
Clara mengusap wajahnya, lalu memeras roknya membuat Arfa menyesal menyuruh Clara masuk mobilnya.
"Oh, itu. Clara mau pulang."
"Kok lo gak bangunin gue?"
"Kasian Arfa, kayaknya capek. Capek ngadepin Clara, ya?"
"Emang! Trus lo kenapa gak pesen taxi atau grab?"
Clara menoleh menatap Arfa. "Duitnya tinggal ini," ucap Clara seraya mengambil uang dua ribu di saku bajunya dan menampilkan di depan wajah Arfa.
Arfa menghela napas, lalu mengambil handuk dan baju yang sengaja ia bawa karena tadi ia melihat Clara berlari menerjang hujan.
Arfa terbangun karena suara petir tadi, ia memutuskan untuk melihat Clara, tapi tak ada batang hidungnya. Ia keluar dan tak melihat sepatu Clara. Apa dia sudah pulang? Begitulah pikirnya.
Saat hendak menutup pagar rumah, Arfa mendapati Clara sedang berlari menerjang hujan. Entah dorongan dari mana Arfa buru-buru masuk ke rumah dan mengambil baju basket miliknya dan handuk kecil. Ia turun kebawah dan mengeluarkan mobil untuk menyusul Clara.
Arfa melemparkan handuk itu ke wajah basah Clara. "Keringin dulu muka lo. Abis itu ganti baju. Cari toilet umum dulu."
Arfa melajukan motornya membelah derasnya hujan. Disampingnya Clara sedang gelisah, menyadari itu Arfa menoleh sekilas dan bertanya.
"Kenapa lo?"
Clara menegang, bagaimana ya caranya bilang pada Arfa? Clara mengigit bibir bawahnya, lalu memegang erat tas di pangkuannya.
"Emmm... Itu.. Em a-anu ituu.."
Duhhh susah banget sih mau bilang sama Arfa!
Arfa mengeryit tidak biasanya Clara tergagu, malah sebaliknya. Clara kan mulutnya tidak punya rem, kenapa mendadak tergagu? Heran Arfa.
"Ngomong yang jelas! Jangan mendadak gagu deh! Gagu beneran kualat lo!" ketus Arfa.
Hal itu membuat Clara menengok sebal, ia tersulut emosi. Apakah Arfa mendoakannya gagu?
"Ish! Clara itu malu mau ngomong kalo celana dalem sama daleman atas Clara basah! Buat apa Arfa kasih ganti kalo ujung-ujungnya basah lagi?! Sama-sama bisa buat masuk angin!" kesalnya dengan tak tau malu.
***
Clara kini berada di mobil Arfa sedangkan pemilik mobil tengah memasuki sebuah toko yang sekiranya menjual pakaian dalam wanita.
Tadinya Clara hendak masuk dan membeli keperluannya itu, tapi di ambang pintu satpam menahannya.
Kalian pasti tau kan karena apa? Karena baju Clara yang basah kuyup hingga air menetes ke lantai. Dan melihat Clara pasrah dan mengajak Arfa pulang saja, membuat Arfa tak tega dan entah dorongan dari mana ia langsung bersukarela membelikan pakaian dalam.
Clara sempat terbahak, ia kira Arfa bercanda akan membelikan celana dalam dan dalaman atas. Tapi saat Arfa mengatakan serius akan membelikannya Clara langsung tersedak ludahnya sendiri.
Seorang Arfa membelikan barang privasinya? Bukankah seharusnya Clara malu? Tapi ternyata Clara malah mengizinkannya.
Di sisi lain, Arfa meruntuki keputusannya untuk membelikan pakaian dalam Clara. Kini ia tengah mondar-mandir di sekitar tempat privasi para wanita.
Saat berbalik ia tak sengaja menatap manekin yang di pakaikan bikini. Mata Arfa langsung memejam, ia tak kuasa menatap benda itu.
Melihat manusia tampan yang mondar-mandir sendiri tadi membuat karyawan --yang bertugas di bagian jualan daleman-- itu memanggil Arfa.
"Mas."
Arfa menghentikan aksinya dan menatap ke arah karyawan toko yang memanggilnya.
"Mas mau beli pakaian dalem?"
Arfa mengangguk kikuk.
"Kalau untuk pria disana mas. Disini khusus wanita."
Arfa sadar itu adalah bentuk usiran.
Arfa mendekati karyawan toko itu, tiba-tiba saja ia mendapatkan suatu ide. "Emm saya mau beli pakaian dalam buat istri saya, mbak. Kami baru saja menikah."
Terkutuklah kau Clara! Arfa membatin saja. Gara-gara Clara ia harus mati-matian menahan malu. Dan kebohongan yang ia buat sungguh membuatnya ingin terhempas jauh.
"Oh, gitu ya ,mas," ujar karyawan tokoh, sedikit kecewa. Ternyata pelanggan tampannya ini penganten baru, pikirnya.
"Untuk ** ukuran berapa istrinya mas?"
Napas Arfa tercekat, mana dia tahu ukuran d**a Clara? Yang ia tau hanya rata begitu saja.
"Mas."
Arfa terkesiap mendengar panggilan karyawan toko itu. Arfa bingung bagaimana ya bilangnya? Arfa mengaruk tekuknya yang tidak gatal.
"Saya ambil semua ukuran ya mbak, dari yang paling kecil sampe yang sedengan." akhirnya mulut Arfa menjawab begitu saja tanpa permisi.
Karyawan toko itu mengangguk sedikit heran, ia berpikir mengapa pelanggan tampan ini tidak mengetahui ukuran d**a istrinya?
"Mbak."
Karuawan toko itu langsung tersadar, "I-iya mas?"
Arfa menunjuk celana dalam yang berada di pojok kotak. "Sama itu..." dan karyawan toko itu mengikuti arah tunjuk Arfa.
Setelah itu karyawan tersebut mengangguk dan menyiapkan semua barang yang di beli Arfa dan menyuruh Arfa menunggu di kasir.
"Ehh mas itu romantis yaa.. Perhatian banget sama istrinya. Pasti mereka mau malam pertama makannya beli pakaian dalam."
"Iya jeng. Jadi pengen punya suami kayak gitu. Pengertian sama istrinya."
Arfa mendengar bisikan kudua wanita paruh baya di sebelahnya. Mengapa Arfa merasa tersindir? Karena bisik-bisiknya mereka sambil melihat kearahnya. Dan volume bisik-bisiknya dapat di bilang keras.
Wajah Arfa merah menahan malu. Inilah kali pertamanya ia se-malu ini. Dan penyebabnya adalah si perempuan bar-bar yang kini Arfa lihat sedang menggigil.
Arfa sudah keluar dari toko, ia masuk ke dalam mobil dan melempar satu kantung plastik berisikan pakaian dalam yang ia beli.
"Ganti baju sana!" ketusnya.
Clara membuka kantung plastik hitam itu, sontak mulutnya ternganga melihat barang yang baru saja dibelikan oleh Arfa.
Disana ada celana dalam cap barbie ukuran---ahh sudah tidak usah di sebutkan lahh.
Dan saat ia menyibak untuk melihat bagian bawah, matanya melotot mendapati dalaman atas berjumlah lima dengan ukuran yang berbeda-beda.
"Ini kenapa banyak banget daleman atasnya?"
Arfa yang menelungkupkan wajahnya di kemudi mobil menjawab dengan decakan malas.
"Ck! Gue sengaja pilih semua ukuran buat lo. Gue gak tau, lah, ukuran d**a lo berapa. Yang gue tau cuman satu."
"Apa?"
Arfa mendongak menatap d**a Clara membuat Clara menyilangkan tangannya di depan d**a. ANTISIPASI!
Arfa beralih menatap wajah Clara.
"d**a lo rata." ucapnya tanpa beban dengan wajah datarnya.
Clara langsung mengeplak kepala Arfa. "Sembarangan!"