ULANG TAHUN PAPA TIO

1225 Words
Sebelum keluar dari mobil, Clara melepas safety belt seraya menoleh menatap Arfa. "Ayo masuk dulu," ucapnya berniat basa-basi. Arfa menoleh lalu menggeleng. "Nanti Clara buatin yang anget-anget. Ini masih hujan lebat. Ayo mampir dulu." Arfa berdecak malas "Gue capek. Udah sekarang lo turun, jangan banyak bacot!" Clara memasang puppy eyesnya. "Kalo gitu lima menittttt ajaa. Cuman lima menit. Mampir sebentar..." Kenapa jadi mohon-mohon gini sih?! Arfa menghembuskan napas pasrah. "Oke." putusnya lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan satu payung demi melindungi tubuhnya dari hujan. Tok! tok! tok! Clara mengetuk pintu dan saat pintu terbuka nampaklah Sela yang berkacak pingang. "Berani-beraninya yaa, nyuruh gue ambil kue tart pesenan lo di hujan lebat begini! Ini tuh acara lo, ja--" Ucapan Sela terhenti ketika melihat Arfa yang tiba-tiba berdiri di samping Clara. Clara menoleh ke samping, dan kembali menoleh ke Sela kemudian ia membenahi mulut Sela agar kembali tertutup. Sela mengerjap. "Kok ada--" Clara langsung memotong ucapan Sela dan menarik tangan Arfa setelah itu membawanya masuk. "Nanti Lara jelasin." Sela masih dengan telunjukknya menunjuk tempat Arfa berdiri tadi, tubuhnya bergeser saat Clara mengesernya agar dapat masuk ke dalam rumah tadi. Saat berada di sofa ruang tengah terdengar senda gurau alias perdebatan Gea dan Fino yang tak kunjung selesai mendadak membisu. Bukan karena salah satu dari mereka ada yang menang, melainkan munculnya keberadaan Arfa. "WOI! ngelamun bae lo pade!" seru Clara. Semua terkesiap lalu suasana mendadak canggung hingga Sela datang lalu mengkode Fino agar mencairkan suasana. Namun sepertinya Fino masih speechless. Disisi lain Arfa pun tak tau harus bersikap bagaimana pada teman-teman Clara. Jadi ia hanya menatapi mereka satu persatu. Dengan wajah datar, sedatar d**a Clara. Husss. Ngaco nih author! "Ehhh.. Sini kak duduk sini." Fino menepuk sofa agar Arfa bisa duduk. Arfa menoleh ke arah Clara dan yang di toleh mengangguk dan akhirnya Arfa berjalan lalu duduk ditengah Fino dan Hasan. "Lara ganti baju dulu, ya! Kalo papa dateng ulur waktu pokoknya! Lara mau dandan." Dan semua mengangguk. Kecuali Arfa, tentu saja karena ia tidak tau akan ada acara apa disini. Di tangga terakhir menuju atas Clara berhenti lalu menoleh ke arah sofa. Disana mereka diam saja tak ada gurauan dan perdebatan membuat Clara langsung memekik. "Arfa katanya Gea suka kamu, kata Fino kamu kasar dan jahat, kata Sela kamu senewen dan kata Hasan kamu ganteng." Semua menoleh ke arah Arfa sambil mendelik kemudian mengarahkan mata kepada Clara yang terkikik di tengah tangga. Seakan satu pemikiran keempatnya bersamaan melakukan gerakan seakan mengorok leher. Clara langsung berlari ke kamarnya. Astaga! Suasana mendadak sangat awkward semenjak Clara pergi! Mereka semua saling lirik. Bahkan Hasan yang diandalkan keberaniannya langsung membuang tatapannya ketika bertemu dengan Fino, Gea maupun Sela. "Kak, boleh nanya?" Arfa menoleh lalu tersenyum dan mengangguk. Tunggu! Tersenyum? Arfa? Fino bahkan tak menyadari jika mulutnya menganga karena sangking terkesimanya dengan senyuman Arfa. "Fin!" panggil Hasan membuat Fino tersadar dan hampir saja menjatuhkan liur yang sudah mengumpul di ujung bibir. Fino meringis u memaksakan senyumnya, "Ehhh. I-itu kak emm gimana ngajarin Lara?" "Lara?" bingung Arfa. "Clara kak maksudnya, kita manggilnya Lara." sahut Gea sok manis. "Ohh. Mau jujur apa gimana?" "Jujurlah!" seru Gea, Sela dan Fino bersamaan. "Bandel, Gak tau diri, Nyusahin mulu." Semua berdecak. Perkiraan mereka benar sekali. "Emang Lara itu gitu kak! Duhhh-- Aaa!!!" "AAAA!!!" "ASTAGFIRULLAH!" pekik Hasan. Sedangkan Arfa hanya bisa mengumpat di dalam hati. Semua terlonjak kaget, Sela bahkan langsung mengumpat di balik sofa dan tidak melanjutkan ucapannya tadi. Clara membuka topeng kostum gorilanya, lalu menatap orang yang berada di ruang tengah. "Kalian kenapa?" "LARA!" "Lo ngapain pake kostum begituan, sih! Ngagetin orang aja!" kesal Sela. "Ini buat nakutin papa." "Tapi, ya gak pake gitu juga, lah!" sergah Fino. "Bodo amat bodo amat," ucap Clara sambil menggelengkan wajah dan pinggulnya lalu kembali memakai topeng dan pergi ke dapur. Tok tok tok. Langkah Clara terhenti ia berputar arah dan berlari bersamaan dengan Fino yang juga ikutan berlari ke pintu. Itu pasti Tio. Mengapa Fino berlari ke pintu? Alasannya satu. Ia ingin mencari perhatian pada Tio agar di beri uang tambahan jajan. Sampai di knop pintu mereka berdua berebut. "Ih Pino! Ini papa Lara, biarin Lara yang buka!" "Gak! Lo jelek pake begituan! Nanti om Tio shock rematik trus jantungan gimana?! Biar gue aja!" "Gue aja!" "Lara aja!" Tiba-tiba kerah baju Fino dan kerah kostum Clara diangkat seseorang membuatnya seperti kucing yang tertangkap basah mencuri ikan. Keduanya menoleh dan mendapati dua orang yang bersamaan menggelengkan kepalanya. "Lepasin Arfa!" "Apa-apaan sih, lo, San!" Keduanya langsung menarik Clara dan Fino menjauh dari pintu. Tangan Sela tiba-tiba menyondorkan kue tart ke arah Clara. Dan Clara reflek menerima kue tersebut. "Sekarang lo berdiri di depan pintu. Fino lo berdiri di belakang Lara!" Clara menatap Fino dengan mata meyipit, senyum miring tanda kemenangan serta menaik turunkan alisnya. Fino mendengus, "Tapi--" "Nurut aja," ujar Arfa membuat Fino bungkam. Setelah bersiap, Clara membuka pintu. Nampaklah sosok lelaki paruh baya yang menunduk lesu. Saat mendongak ia reflek langsung mendorong kue ditangan Clara hingga membuat kue tersebut menghantam wajah. Ralat, menghantam topeng gorila yang Clara pakai. *** Disinilah mereka bertujuh berada. Di ruang makan dengan Clara yang sibuk menghapus air matanya dan Tio yang berkali-kali mengusap punggung Clara. Setelah kejadian tadi, Clara menangis karena kue yang seharusnya dimakan menjadi tak terbentuk. Tio sudah menjelaskan alasan mengapa ia melempar kue tersebut karena reflek, bagaimana tidak kaget, ada seekor gorila yang ternyata adalah Clara berdiri membawa kue dan menyambutnya pulang. Siapa yang tidak kaget di sambut gorila?! "Udalah Ra! Jangan nangis! Salah lo juga yang pake kostum gak sesuai keadaan!" "Apaan sih! Orang tadi mau surprise, ini tuh gara-gara Pino makannya gagal!" protes Clara. Clara menarik kemeja Tio kemudian .enggelapkan ingusnya yang keluar. Arfa meringis jijik melihat itu. "Kok gue?" heran Fino, tentu saja dengan mamsang wajah terdzolimi. "Iya Pino lah! Kalo tadi Pino gak rebutan sama Clara pasti rencananya gak gagal!" "Sudah-sudah." lerai Tio. "Makasih, ya, anak papa. Papa udah seneng kok liat Ara bikin surprise. Cuman lain kali kalo kasi surprise jangan pakai kostum gorila ya. Dandan yang cantik yang anggun. Paham?" dan Clara membalasnya dengan anggukan kepala. "Ini siapa?" ucap Tio menatap Arfa. Arfa yang di tatap langsung tertegak dan tersenyum manis membuat Gea langsung menatapnya kagum dan menumpu dagunya. "Saya Arfa om. Kakak kelasnya Clara." "Ooo ini toh Arfa itu. Yang narsis yang bar-bar yang kasar yang kamu jelek-jelek in itu," ucapnya seraya menatap Clara. Clara langsung membekap mulut Tio agar tidak membeberkan curhatannya mengenai Arfa. Arfa mendengar perkataan Tio. Matanya langsung memincing menatap Clara, hingga Clara membalas tatapannya dengan cengiran lebar. "Eehh-- Papa ngomong apasii," Tio melepas bekapan Clara. "Itu papa cuman mau ngomong ke Arfa kalo kamu--emmm." "Ehh Papa jangan ngaco dulu deh. Sekarang ayo makan kuenya dulu." balas Clara sesekali melirik Arfa sekilas, Clara menyendok kue tart didepannya dan segera memasukkan ke dalam mulut Tio yang hendak melontarkan perkataan lagi. Semua tertawa melihat interaksi antara Tio dan Clara. Semua pun juga bergurau hingga terbahak membuat hati Arfa sedikit menghangat dan senyumnya terpancar begitu saja. Untuk pertama kalinya, ia bisa merasakan suasana hangat ini. Setelah di dibuang oleh keluarganya. Dan senyum ini lagi, lagi dan lagi timbul karena Clara. Entah apa yang sedang terjadi padanya, hatinya selalu menghangat bila didekat Clara. Sepertinya bibirnya menjadi ringan jika dekat Clara. Semoga ia bisa merasakan kehangatan ini. Dan mulai detik ini Arfa memutuskan untuk mencoba membuka hati, siapa tau Clara akan menjadi pemilik hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD