***
Happy Reading...
Linzi dan Debbina masuk ke mobil milik abangnya Debbina. Linzi memalingkan wajahnya ke arah jendela. Sementara Debbina hanya diam saja, tidak berbicara apapun. Dia tahu, Linzi pasti sangat terluka karena di khianati.
"Bii ... aku nginap di rumah kamu aja ya...," pintanya lemah, tanpa menoleh ke Debbina.
Debbina mendesah pelan, sebelum menjawab permintaan sahabatnya yang sedang patah hati.
Namun, dia ingat. Kalau dia membawa Linzi pulang ke rumah. Pasti ditanyain sama kedua orang tua Linzi, belum sama si Tuan kepo, Libra Sudjono.
"Boleh deh," jawab Debbina sedikit ragu sebenarnya. Akan tetapi ... ya sudahlah.
"Terima kasih, Bii," ucap Linzi, tangannya masih memegang sapu tangan dari seseorang tadi.
Kurang lebih satu jam, mobil yang dikendarai Debbina masuk ke pelataran rumah milik orang tuanya.
Mereka keluar bareng setelah mobil terparkir sempurna di garasi keluarga Debbina.
"Lo mandi dulu deh, gue ke bawah dulu ngambil minum. Inget! Nggak boleh macem-macem di kamar mandi," ucap Debbina ke Linzi, setelah mereka sudah berada di kamar miliknya.
Linzi terkekeh sendu, "Aku tidak bodoh, Bii," jawab Linzi tersenyum tipis.
Debbina menghembuskan napasnya pelan.
"Syukur deh."
Linzi berjalan mengambil pakaian miliknya yang disimpan, di lemari milik Debbina. Dia sudah sering menginap di rumah milik sang sahabat begitupun sebaliknya.
Tadi sebelum masuk ke kamar, Debbina sempat bertanya mama dan papanya. Ternyata Tuan dan Nyonya Pratama sedang kondangan di kerabatnya yang di Bandung. Sementara abangnya Debbina, sedang berkunjung ke rumah sang kekasih dan sebentar lagi mereka akan menikah.
Linzi mengambil piyama panjang dengan motif hijau keropi, kemudian masuk ke kamar mandi milik Debbina.
Tubuh Linzi meluruh ke lantai, setelah menutup pintu lalu dia kembali menangis. Rasanya sakit sekali, mendapat penghianatan dari cinta pertamanya.
Sedangkan di lantai bawah, Debbina sedang duduk sembari berselancar ke layar ponselnya. Matanya terbelalak setelah ada panggilan masuk dari seseorang yang dia beri nama 'Tuan KEPO' a.k.a Libra Sudjono, Kakaknya Linzi.
Debbina bingung harus jawab apa. Namun, kalau dia tidak mengangkat teleponnya pasti Libra akan terus menelponnya.
>>) Hallo, Kak....
>) Hallo Bii ... adek Kakak lagi sama lo kan? Dari tadi Kak Libra telepon nggak angkat-angkat soalnya.
Debbina meringis pelan, mungkin Linzi sengaja mematikan ponselnya. Takut si 'b******k' itu menelponnya.
>) Bii....
>>) Iya Kak ... Zee sama gue....
Debbina menggaruk tengkuknya gugup, karena Libra pasti akan bertanya lagi.
>) Kenapa nomornya mati? Kak Libra telepon dia nggak diangkat-angkat. Dia nggak apa kan?
Tuhkan Libra bertanya lagi, pikir Debbina.
Di sana Libra khawatir dengan adik semata wayangnya. Sebab tidak seperti biasanya sang adik mematikan ponsel. Kalaupun dia mau menginap di rumah Debbina, pasti adiknya akan mengabari dia atau Mamanya.
Sebelumnya sang Mama bertanya ke Libra. Apakah adiknya menelpon dia apa tidak?
>>) Anu Kak ... gue, anu....
>) Debbina Pratama, Linzi nggak apa kan?
Tanya Libra semakin khawatir dengan adiknya, apalagi mendengar nada bicara Debbina yang gugup, seperti menyembunyikan sesuatu.
Debbina mengatupkan bibir, kalau Libra sudah memanggil nama panjangnya berarti Libra sekarang benar-benar serius tidak sedang bercanda.
>>) Kak ... anu....
>) DEBBINA! Jawab Gue!
Debbina menelan salivanya susah. Libra kalau marah sangat menyeramkan walaupun sifatnya rada tengil dan menyebalkan.
>) Deb--
>>) Ok, ok, gue cerita.
Debbina menghembuskan napas pelan sebelum bercerita.
Debbina menceritakan semua yang terjadi hari ini pada Libra, kakaknya Linzi.
Debbina meringis saat mendengar, Libra mengumpat apa saja di sana setelah dia selesai bercerita.
>) Gue ke situ....
>>) Eehh jangan Kak.
Debbina langsung kelabakan, saat Libra bilang akan kesini sekarang.
>) Kenapa?
>>) Zee ... perlu sendiri katanya...
Hanya itu yang bisa Debbina jawab.
>) Ok ... gue biarkan Zee sama lo. Awas aja kalau Zee kenapa-napa. Lo orang pertama yang akan gue cari.
Debbina memutar bola matanya, jengah. Harusnya makhluk bernama Libra Sudjono itu bersyukur, karena adiknya dijaga olehnya.
Sementara Libra di sana tetap mengoceh tidak karuan. Debbina sudah seperti anak bandel yang sedang diceramahi oleh orang tuanya.
>) Bii....
>>) Iya Kak ... Zee serahin sama gue. Dah dulu.
Tanpa menunggu jawaban Libra, Debbina mematikan teleponnya.
Tring!!
{Ingat pesan gue, Debbina Pratama. Jagain adek kesayangan gue.}
Debbina mendengus kasar, kemudian dia memasukkan ponselnya ke saku celana melihat Linzi di kamar.
"Zee...," panggil Debbina setelah membuka pintu kamar.
"Ya, Bii...."
Debbina mendekati Linzi yang sedang menyisir rambut hitam panjangnya.
"Are you okay?" tanya Debbina hati-hati.
Linzi tersenyum tipis sekali, senyumnya juga sendu.
"Aku nggak apa kok," jawab Linzi sedih.
"Lupakan si b******k itu Zee ... lagipula dia memang bukan manusia."
Linzi terkekeh, namun nadanya sendu. Mungkin dia membenarkan ucapan Debbina menamai Sandi bukan manusia.
"Hem, aku tahu Bii."
"Lo mau makan dulu nggak? Bi Ipah masak banyak hari ini."
"Boleh deh," jawab Linzi setelah menimbang, dia lupa kalau dia tadi belum makan.
"Ya sudah ... ayo."
Sementara di tempat yang berbeda.
Seorang cowok berwajah tampan, berjalan menuju apartment dengan langkah dingin. Kalau tadi dia berjalan sambil senyum, ini beda. Auranya sangat menyeramkan. Beruntung wajahnya bule jadi tidak terlalu sangar. Wwkwkk
Kemudian dia menghempaskan kasar badannya, di sofa ruang tamu apartement-nya. Dia memijit kepalanya pusing sekali, memikirkan nasib pertunangannya dua minggu lagi.
Cowok itu mengambil ponsel lalu mendial nomor seseorang.
>>) Hallo, Nu.
Ucap dia setelah teleponnya diangkat oleh orang yang di tujunya.
>) Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?
Cowok tampan itu, menelpon assisten yang merangkap sebagai mata-mata dan juga pengawalnya, sekaligus orang kepercayaannya juga.
>>) Selidiki calon tunanganku. Sedetail detailnya, selidiki sampai bagian yang terkecil, jangan sampai kehilangan satu momen pun. Dan laporkan ke saya, sebelum hari pertunangan saya dilaksanakan.
>) Baik Pak. Saya mengerti.
>>) Ya sudah. Saya tunggu kabarnya.
Ucap sang cowok, kemudian langsung mematikan teleponnya.
Dia mengusap rambut pirangnya kasar. Bukan dia mencintai sang calon tunangan, bukan. Namun perasaan sang Mommy yang dijaga. Bayangkan Mommy-nya menangis adalah sebuah kiamat baginya. Jadilah dia sebisa mungkin menjaga perasaan sang Mommy jangan sampai terluka.
Masalahnya ... hubungan dia di masa depan sangat dipertaruhkan setelah melihat wanita yang akan menjadi tunangan dan istrinya berciuman mesra dengan seorang pria.
"Ahh sial!!" makinya, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mendinginkan otaknya.
***
Pagi hari....
Debbina dan Linzi sedang sarapan di ruang makan keluarga Pratama.
Terdengar suara mobil datang dari luar, membuat Linzi menoleh ke arah ruang tamu. Sementara Debbina santai tidak terpengaruh sama sekali, seakan-akan dia sudah tahu siapa yang datang ke rumahnya pagi-pagi.
"Bii ... bukannya mama dan papa kamu sedang keluar kota yah?" tanya Linzi dengan kening berkerut.
Debbina berdehem sebentar, dia bingung harus menjawab apa.
"Selamat pagi...."
Linzi melebarkan matanya mendengar suara seseorang yang dia sangat kenal. Debbina sendiri mendengus kasar. Seseorang yang datang ke rumahnya memang tidak tahu malu, berteriak seperti Tarzan.
"Bii...."
"Hallo adik kakak yang cantik. Hallo Bii."
Libra datang menghampiri mereka, dia menyempatkan mencium pucuk kepala adiknya lalu duduk di samping Linzi.
"Kak, lo itu seorang CEO. Bisa tidak kalau bertemu di rumah orang itu yang sopan, minimal ngucapin salam gitu," gerutu Debbina mendapat kekehan Libra.
"Adik kakak yang cantik. Are you okay?" tanya Libra ke adik semata wayangnya, tidak peduli dengan Debbina yang masih menggerutu.
"Kakak ada apa datang ke sini?" Linzi berbalik tanya ke kakaknya.
"Menurut kamu? Kakak datang ke sini karena kamu tidak mengangkat telepon Kakak atau Mama."
Linzi mengatupkan bibirnya, matanya melirik Debbina yang sedang membuang muka.
"Bii ... kamu---"
"Ehmm. Sorry Zee, gue-- lo kan tahu sendiri Kakak lo yang tampan itu, mempunyai kekepoan di atas rata-rata," jawab Debbina lalu tertawa kaku.
Libra berdecak kesal, sementara Linzi menghembuskan napasnya pelan. Ya dia tahu, kakaknya yang tampan ini memang kepo. Segala urusan dan masalah dia, Libra harus tahu.
"Kamu tidak apa kan?"
Linzi menggeleng pelan, "Aku nggak apa, Kak," jawabnya tersenyum sendu.
"By the way ... lo dah sarapan Kak?" tanya Debbina ke Libra.
"Udah. Gue udah sarapan di rumah."
"Kak...," panggil Linzi.
"Kenapa, Dek?"
Linzi bingung harus bilang apa ke Kakak semata wayangnya. Namun, dia ingin sekali bilang ke Kakaknya.
"Kamu mau apa?" tanya Libra karena adiknya diam saja.
"Aku pengen kuliah keluar negeri."
"Uhhukk, uhhukk."
Debbina langsung tersedak minumannya, dia terkejut mendengar permintaan Linzi, sahabatnya.
"Bii ... kamu tidak apa?" tanya Linzi khawatir.
"I'm okay...," jawab Debbina setelah meredakan tenggorokannya yang tersedak tadi.
"Zee ... lo serius?" tanya Debbina tidak percaya.
Ya ampun ... gegara si 'b******k' itu, membuat Linzi ingin pergi keluar negeri. Debbina jadi menyesal tidak meninju wajah pas-pasan Sandi, namun tampan bagi Linzi, dulu maksudnya.
Linzi menimbang ragu, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Iya, Bii. Bagaimana Kak?"
Libra sedari tadi hanya diam, bingung mau jawab apa tentang permintaan adiknya.
"Kenapa kamu pengen kuliah keluar negeri? Apa ada hubungannya dengan mantan pacar kamu."
Libra sudah tahu adiknya memang punya pacar dan tidak melarangnya. Yang terpenting Linzi bisa jaga diri. Namun, tidak di sangka ternyata adiknya malah disakiti. Libra jadi ingin tahu, seperti apa tampang mantan pacar adiknya. Mungkin dia akan memberikan beberapa bogem mentah untuknya, yang sudah berani menyakiti adik semata wayangnya.
"Salah satunya itu Kak. Aku juga pengen belajar mandiri," jawab Linzi pelan.
"Tap---"
"Aku mohon, Kak...," pinta Linzi memasang wajah melas ke Kakaknya.
Libra mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian menghembuskan napas pelan.
"Ok ... tapi Kakak nggak tahu. Papa dan mama akan setuju atau tidak," ucap Libra.
"Nanti Kak Libra bantu aku ngomong ke Papa dan Mama. Ya ya ya...."
Lagi-lagi Libra mendesah pelan. Kemudian menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis.
"Makasih, Kak." Linzi mengecup pipi kakaknya sekilas.
"Kak, mumpung lo di sini. Ajak kami main napa, ke Mall," ceteluk Debbina mendapat decakan dari Libra.
"Lo--"
"Boleh deh ... ayo Kak, aku juga mau beli sesuatu di Mall." Linzi memegang lengan kakaknya manja.
"Ya sudah...," jawab Libra, melirik tajam Debbina yang sedang tersenyum mengejek penuh kemenangan.
'Oh ... Credits Card gue...," batin Libra menjerit karena melihat seringai Debbina yang menyebalkan.
***
Linzi Pov...
Semalam memang aku pikirkan. Aku ingin pergi keluar Negeri dan menetap di sana sementara waktu. Selain untuk berkuliah, aku juga ingin menenangkan hatiku dari penghianatan yang dilakukan oleh Sandi. Mengucap namanya, membuat dadaku terasa nyeri.
Cinta pertamaku, sungguh dia tega sekali berbuat itu ke aku. Padahal apa kurangnya aku ke dia. Aku tidak pernah meminta macam-macam ke dia. Aku menemani dia, sebelum dia sukses bekerja di perusahaan Nugroho. Namun, apa balasannya... Sekarang aku ingin sekali menjerit meluapkan rasa sakitku.
"Zee ... lo udah siap? Kak Libra sudah menunggu kita."
Kedatangan Debbina membuyarkan lamunanku.
"Ah ayo, ayo...," ucapku sebisa mungkin ceria.
Aku berjalan dibuat ceria. Aku ingin menunjukkan bahwa aku baik-baik saja, walaupun itu cuma ilusi semata.
Aku melihat Kakakku yang tampan, sedang bersandar di mobil mewahnya sambil mengetik ke benda berbentuk pipih. Sudah kupastikan, kalau bukan dari Mbak Aiza calon kakak iparku, mungkin dari partner bisnisnya.
Sementara Debbina berjalan di belakangku sambil bermain game kesukaannya. Terkadang aku heran sendiri sama sahabatku itu. Tapi, ya sudahlah ...
"Kak...," panggilku.
"Sudah selesai?" tanya Kak Libra, sembari memasukkan ponselnya ke saku.
Aku menganggukkan kepalaku, "Sudah" jawabku, tidak lupa bibirku mengulas senyum tipis.
"Ya sudah kamu masuk, gih!" perintah Kak Libra mengacak pelan rambutku.
Aku langsung masuk di jok belakang, tempat duduk yang paling aku sukai.
"Eh bocah!! Lo di depan. Gue bukan supir kalian."
Ku lihat Kak Libra menarik kerah belakang Debbina, yang ingin masuk ke mobil.
Debbina berdecak kesal, bahkan hidungnya kembang kempis menahan kesal.
"Nggak usah pake narik baju gue juga kali," kesalnya.
Aku terkikik geli, mereka berdua sudah seperti Tom and Jerry.
"Kellen mau kemana?" tanya Kak Libra setelah mobil yang dikendarainya berjalan beberapa menit.
"Gue sih terserah. Gue kan ngikut aja, apalagi kalau ditraktir."
"Dasar matre lo!"
"Manusiawi Kak. Matre itu."
"Zee...."
"GI aja, Kak," jawabku.
Kurang lebih satu jam, akhirnya mobil Kak Libra sampai di bassement salah satu Mall besar di Jakarta.
Kami bertiga berjalan. Aku dan Debbina di depan, sementara Kak Libra di belakang kami. Tidak lupa kami juga memakai masker, apalagi Kak Libra dia memakai kacamata dan topi sebagai penyamaran.
Setelah kurang lebih dua jam berputar-putar mengelilingi Mall. Kami duduk di salah satu restoran favoritku.
Aku terkekeh mendengar perdebatan Kak Libra dan Debbina. Kemudian kekehanku berhenti, setelah aku melihat di depan sana mantan pacarku berjalan dengan selingkuhannya yang kemarin kami pergoki. Seketika hatiku berdenyut nyeri, katanya dia mencintaiku. Nyatanya ... dia berjalan mesra dengan selingkuhannya.
"Dia orangnya?"
Aku menolehkan kepalaku ke Kak Libra yang duduk tepat di sampingku.
"Iyes!! Dia orangnya."
Debbina yang jawab, pertanyaan Kak Libra. Padahal aku sangat menghindari topik ini.
"Are you kidding, Zee?"
Keningku berkerut mendengar pertanyaan Kak Libra.
"Why??" tanyaku.
"Dia. Astaga ... kamu lihat, dia nggak ada apa-apanya dengan ketampanan Kakak."
Aku memutar bola mataku, jengah. Kakakku emang tampan, tapi ... Ya ampun dia narsis sekali.
"Kok Kakak nggak asing ya, dengan wanita yang sedang berjalan dengannya."
Aku terkejut mendengar ucapan Kak Libra. Bagaimana bisa Kak Libra mengenalnya?
"Kakak kenal sama dia?" tanyaku dengan kening berkerut. Ku lirik Debbina tidak peduli dengan obrolan kami, dia malah fokus dengan makanannya.
"Entahlah ... mungkin dia salah satu rekan bisnis Kakak. Makanya Kakak merasa pernah melihatnya," ucap Kak Libra mengedikkan bahunya.
"Dia kerja dimana, Zee?" tanya Kak Libra.
"Nugroho Corp, Kak," jawabku malas.
Hatiku semakin berdenyut nyeri, kalau mengingat tentang Sandi. Kepalaku jadi pusing seketika saat membahas dia.
"Nugroho Corp. Jangan bilang kalau dia adalah Yilandari Nugroho, putri bungsu pemilik Nugroho Corp."
Perkataan Kak Libra membuatku kembali terkaget. Benarkah, dia Yilandari Nugroho?
"Kalau dia memang Yilandari. Kok gue punya firasat kalau mantan lo dekati si Yilan-Yilan itu karena pengen ngejar harta dan kedudukan ya, Zee."
Perkataan Debbina membuatku bertambah pusing. Benarkah seperti itu?
"Kalau kamu mau, Kakak bisa menghancurkan perusahaannya, Dek."
Aku menggeleng pelan, "Jangan, Kak. Mereka memang salah. Tapi para karyawan yang bekerja di perusahaannya, tidak salah. Jangan mematikan rezeki orang lain Kak. Itu nggak baik," jawabku sendu.
Ya aku akui, memang mereka memang salah. Namun, ratusan karyawan mereka tidak salah dan tidak ada hubungannya sama sekali denganku. Lagipula Sandi hanya tahu, kalau aku anak orang yang tidak punya.
Ku lihat Kak Libra mendengus kecil. Kakakku ini kalau marah bisa menyeramkan terlepas dari sifatnya yang tengil dan kepo.
"Fix! Kalau si 'b******k' itu, memang benar mengejar hartanya si w************n itu."
"Bii...."
"Gue memang benar kok."
Aku menghembuskan napas pelan. Kak Libra dan Debbina adalah dua orang yang sama-sama emosional, sayangnya aku sayang mereka berdua.
Melihat dan mendengar apa hari ini, membuatku benar-benar mantap untuk keluar negeri menenangkan diriku.
***