Bokongnya dipukul dengan sangat keras berulang kali. Lunar menjerit kesakitan lantaran ibunya tidak berhenti menghukumnya. Sementara sang ayah berdiam diri saja di ruang tamu. Kedua orang tua Lunar tampak sangat kecewa pada pernikahan sang putri. "Kenapa kau membohongi kami?" "Maafkan aku, Ibu ...." "Kau benar-benar anak yang merepotkan. Tidak berhenti membuat kami khawatir." Selama berbicara, pukulan demi pukulan tidak henti menyakiti. Lunar menangis sambil meminta maaf atas kesalahan yang telah dia lakukan meski pernikahan itu sendiri bukan keinginan. Keadaan yang tidak berpihak padanya. "Secepatnya urus surat perpisahan kalian." Lunar lambat-lambat mendudukkan diri di tepi ranjang. "Baiklah." "Kalau tahu begini lebih baik kau tetap bersama Nico. Tidak perlu terlalu kaya seperti p

