Kean tersentak kaget, lantas menggelengkan kepalanya. “Bu-bukan itu, aku hanya takut kamu marah dan mengiraku kurang ajar, karena telah menciummu. Tapi sungguh, itu tadi, tadi...” laki-laki tersebut bingung bagaimana menjelaskannya kepada Rea, sekaligus tidak ingin perempuan tersebut salah paham kepadanya dan membencinya. Karena itu memang secara alami dan tanpa rekayasa. Kean benar-benar sangat ingin menciumnya. Entah karena apa. Hanya saja, keinginan itu muncul secara naluriah. Bukan nafsu semata. Rea turun dari pangkuan Kean dan duduk di kursi penumpang di sampingnya. Rea terkekeh, “Sudahlah. Aku tidak marah kok. Anggap saja itu ‘Pengecualian’ okey?” usul perempuan tersebut yang juga merasa bahwa ia juga salah. Karena tidak melarang, akan tetapi sebaliknya. Ikut larut dalam suas

