Rea mengangguk setuju. “Iya kamu benar. Karena semuanya juga bukan keinginan kita sendiri. Mereka hanya melihat luarnya, tanpa tahu seperti apa kita berusaha untuk bisa sempurna. Nggak ada yang instan di dunia ini,” timpal perempuan yang setuju dengan ucapan Kean. “Kayaknya mabuk enak ini? Kamu berani nggak?” tawar Rea sembari menoleh ke arah Kean dengan menaik-turunkan kedua alisnya. Kean memutar bola matanya malas. “Jangan aneh-aneh deh! Kamu nggak tinggal sendiri sekarang, tapi sama orang tua,” komentarnya kepada perempuan yang telah resmi menjadi tunangannya itu. Rea mengerucutkan bibirnya, kesal akan jawaban Kean yang tak sesuai dengan keinginannya. “Kalau begitu kamu antarkan aku ke rumahku, kita bisa minum sepuasnya di sana? Bagaimana? Oh, atau ke club kak Nico? Dia pasti m

