Bab 24. Ayo pacaran !

1055 Words
“Iya, gue janji akan selalu buat Lo ketawa terus. Jangan sedih-sedih lagi, yah? Bagi sama gue semua kesedihan Lo, Re,” tutur Mike dengan tatapan lekatnya, seraya menggenggam tangan Rea yang ada di atas meja. Tampak serius dan penuh keyakinan. Rea tertegun sesaat, larut dalam kalimat yang dulu pernah ia harapkan akan di ucapkan oleh kedua orang tuanya saat itu. Kala Rea merasa terpuruk seorang diri karena kehilangannya. Tapi tidak, mereka seakan tak peduli padanya. Namun, saat ini, kata-kata sederhana tersebut malah di ucapkan oleh orang yang baru di kenalnya. Perlahan, Rea menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Mike,” sahutnya seraya tersenyum manis. “Ayo, gue antar Lo pulang! Gue harus pulang juga ke studio. Pekerjaan masih banyak, besok pagi kita sarapan bareng, yah?” ajak Mike yang bangun dari duduknya dan mengulurkan tangannya ke arah Rea. Gadis itu tersenyum tipis dan menerima uluran tangan dari laki-laki tampan yang entah sejak kapan, sudah mencuri hatinya. Juga ciuman pertamanya. “Jadi, Lo lagi sibuk banget? Kenapa maksain buat jemput coba, kalo sibuk? Gue bisa pulang sendiri kok. Kan kasian, Lo jadinya bolak-balik harus antar jemput gue kayak gini,” omel Rea seraya berjalan di sisi Mike yang menuju ke tempat dimana mobil Mike di parkir. Laki-laki tersebut terkekeh kecil dan membukakan pintu untuk Rea. “Gue baru tahu, kalo ternyata Lo bawel juga, yah,” cibirnya sambil tergelak. Rea hanya mendengus sebal, mendengar cibiran Mike. Sementara Mike segera memutari mobilnya dan masuk ke dalam sisi pengemudi. “Gue memang ingin makan malam sama Lo. Kasihan Lo nanti makan sendirian, kalau nggak gue temenin,” ledeknya sambil mengacak rambut panjang Rea. Membuat gadis jutek itu kesal dan menyingkirkan tangan Mike dari kepalanya. “Apaan sih, rambut gue berantakan jadinya, dodol,” gerutunya jengkel. Mike tergelak. Baru kali ini ia bisa tertawa bahagia bersama seorang perempuan. Sebab biasanya, Mike akan bersikap cuek dan dingin. Bahkan tak peduli pada apa yang mereka lakukan, untuk menarik perhatiannya. Risih, itu yang dulu Mike rasakan pada semua mantan kekasihnya. Namun, berbeda jika Rea yang bersikap seperti itu. Mike akan sangat senang menanggapinya. Bahkan dia yang terkadang berubah manja kepada Rea. Hal yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun. “Nah, sudah sampai. Istirahat sebentar sebelum pergi ke club. Dan ingat, jangan genit-genit sama cowok. Awas saja!” Ancam Mike dengan tegas. Rea tergelak melihatnya. “Lo apaan sih? Ya, kan mereka itu pengunjung klub. Masa gue nggak boleh ramah, sih? Aneh lo!” decak Rea seraya menggelengkan kepalanya. Mike yang gemas atas jawabannya, langsung saja menjepit hidung Rea dengan gemas. Membuat Rea kesal dan memukulinya dengan geram. “Aduh, ampun, Re, sakit. Ini namanya kekerasan dalam hubungan,” seru Mike yang mencoba menghindar dari pukulan Rea. “Bodo amat! Lo ngeselin, masa hidung gue di pencet-pencet sih, lo kata mainan!” gerutu Rea sebal. Mike tertawa, dan memeluk Rea. “Maaf, abisnya lo gemesin, banget. Pengen gue gigit, hahaha,” kelit Mike sambil terbahak. Rea cemberut dalam pelukan Mike, membalas dekapan hangat yang semalam menjadi teman tidurnya. Hingga sangat nyenyak. “Ya, sudah, sana turun. Nanti malam, lo telepon gue kalo mau pulang dari club. Biar gue jemput,” pesan Mike seraya melepaskan pelukannya dan merapikan anak rambut Rea yang berantakan. Rea mengangguk pelan, “Iya, nanti gue chat. Tapi kalo sibuk, gue bisa pulang sendiri kok?” saran Rea yang tidak ingin Mike kelelahan karena menjemputnya pulang. “Ya sudah kalo lo bilangnya, gitu. Lo memang beda sama cewek-cewek gue dulu! Lo nggak manja,” puji Mike sembari ttersenyumsenyum. Rea tergelak, “Apa lo lupa? Gue kan tinggal sendirian. Jadi, gue mana bisa bertingkah manja kayak gitu. Setiap orang kan beda-beda, tergantung sifatnya juga. Jadi, lo nggak bisa samain atau bandingin,” jelas Rea bijak. Mike tersenyum, lantas memeluk Rea kembali dan mencium puncak kepalanya. “Gue salut sama lo, Re. Lo hidup sendirian, tapi lo nggak murahan kayak cewek-cewek yang gue kenal selama ini. Lo juga dewasa dan mandiri. Lo hebat!” puji Mike yang jujur mengagumi pribadi Rea. Menurutnya, Rea adalah gadis yang ia cari selama ini. Sosok yang baginya tidak merepotkannya dengan berbagai rengekannya dan sifat manjanya. Sosok yang bisa membuatnya tertawa lebar hanya karena hal kecil atau sederhana yang ia lakukan. Mengkhawatirkannya karena tak ingin ia terluka. Menerimanya yang bukan siapa-siapa. Bahkan tak pernah meminta apa pun padanya. Meskipun bisa saja Rea meminta bayaran atas biaya yang di keluarkannya selama merawat Mike kala itu. “Lo mau jadi pacar gue nggak?” tanya Mike dengan serius. Sambil melepaskan pelukannya dan menatap mata Rea dalam. Rea terdiam, mencerna sejenak kata-kata Mike barusan. Antara percaya atau tidak. Mike saat ini sedang mengajaknya untuk berpacaran. Melihat raut wajah serius dan tatapannya yang lekat, menusuk hingga ke dalam relung hatinya. Rea merasa masih belum yakin akan ketulusan Mike. Terlebih lagi, masa lalu Mike yang seorang ‘player’ juga menjadi alasan Rea belum mau untuk mengikat komitmen dengannya. Dan lagi, mereka juga baru saja bertemu serta berkenalan. Tentunya tidak semudah itu untuk menjalin hubungan. Rea tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya perlahan. Di genggamnya tangan Mike dengan kedua tangannya. “Mike, kita baru saja berbaikan. Dalam artian nggak perang mulut kayak biasanya. Jadi, kita jalani dulu aja kayak gini. Kalau Lo bisa buktikan ke gue, bahwa Lo bener-bener serius sama gue. Kita akan komitmen untuk pacaran. Nggak apa-apa, kan? Gue, gue bukan nolak Lo kok. Cuman..” Rea tak tahu lagi harus mengatakan apa pada Mike tentang keraguannya. Agar laki-laki tersebut tidak terluka nantinya. Mike tersenyum dan mengangguk setuju. “Iya, gue tahu kok maksud dari penjelasan Lo. Gue memang terkesan buru-buru buat ngajak Lo pacaran. Gue juga tahu, Lo pastinya ragu sama kebiasaan buruk gue yang suka gonta-ganti pasangan. Tapi satu hal yang harus Lo tahu, Re,” Mike mengusap lembut sebelah pipi Rea. “Gue beneran jatuh cinta sama, Lo. Dan ingin miliki Lo sepenuhnya hanya buat gue. Karena gue takut, Lo akan pergi ninggalin gue demi cowok yang lebih segala-galanya dari gue yang bukan siapa-siapa ini,” ungkap Mike dengan rasa takut akan kehilangan. Mike menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa takut itu. Rasa yang paling ia benci di dunia ini. Ya, kehilangan. Sama halnya dengan Rea. Keduanya mempunyai masa lalu yang sama-sama kelam. Dan alasan utama, mengapa mereka menjadi seperti sekarang ini. Membentuk pribadi yang jauh lebih memproteksi diri sendiri dengan kokoh. Hingga tak bisa ditembus oleh orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD