Mendengar nada dingin dan wajah datar istrinya, Kean terhenyak sesaat. Rupanya kebencian Rea sudah mendarah daging dalam ingatannya. Meskipun saat ini, ia sedang sedikit ‘terganggu’ tapi tetap saja, ia tidak ingin bertemu dengan papi dan maminya. “Oke. Kita nggak pulang ke rumah orang tua kamu. Kita pulang ke rumah kita sendiri. Bagaimana? Biar gimana pun, rumah terasa lebih baik dan terasa sehangat keluarga. Dari pada di rumah sakit, banyak orang sakit. Aku takut akan menular kepadamu,” bujuknya sembari tersenyum lembut. Rea menghempaskan tangan Kean di tangannya. “Setidaknya di sini, jika aku mati akan lebih cepat mengurusnya. Aku juga tidak punya keluarga. Jadi buat apa aku di rumah. Lebih nyaman di sini, tidak mengenal siapa pun dan hidup sekedarnya saja,” sanggah wanita tersebut d

