Bab 136. Enggan Terlelap

1273 Words

“Maaf, adik kamu sudah tiada saat dalam perjalanan ke mari. Kami tidak bisa menyelamatkannya,” terang dokter dengan tatapan nanarnya. Rea yang saat itu berdiri di luar ruangan, segera berlari masuk ke dalam. Melihat suster yang akan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. “Tidak! Jangan!” teriak Rea keras dan segera berlari menubruk tubuh kaku Raysa di ranjang. Mengguncang kedua lengan Raysa, “Isa, ayo, bangun, dek! Katanya, katanya kamu mau makan ayam goreng, ‘kan? Ayo, bangun, Isa! Kakak punya banyak permen dan coklat buat kamu. Ayo, bangun! Kamu minta di bangunin, kan, tadi. Ayo, bangun! Bangun, Isa!” raung bocah perempuan tersebut dengan air mata yang menetes deras. Rea menangis tersedu-sedu sambil terus menggoyangkan tubuh adiknya. Memintanya untuk bangun dan membuka matanya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD