Akhirnya, Kean berangkat bersama Rangga ke kantor dengan setengah hati. Pasalnya, laki-laki itu lagi dan lagi gagal ‘melakukannya’ bersama Rea. Rupanya, wajah di tekuknya juga terlihat oleh papanya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Kamu nggak lupa sama perjanjian kita, bukan? Kalau Rea tidak boleh sampai hamil. Akan sangat menyulitkan nantinya. Jika dia sampai hamil. Kamu jangan sampai teledor, mengerti?” tegas Rangga dengan nada seriusnya. Seraya menatap lurus ke depan. Kean hanya berdehem singkat sebagai jawabannya, ‘Kalau bukan gara-gara perjanjian sialan itu, aku pasti tidak akan membuat Rea salah paham dan marah semalam? Semoga saja dia nggak hamil nantinya. Aku nggak mau membuatnya lebih terluka, jika sampai hamil juga,’ benaknya sambil fokus pada jalanan di depannya.

