Bab 27. Sembunyi Dulu

1362 Words
Nico menatap Rea yang duduk di depannya. Ia merasa ada yang aneh dari kedatangan gadis tersebut ke rumahnya dan tiba-tiba saja meminta ijin kepadanya tidak bisa ke club. Bahkan ia datang ke rumahnya. Jika dilihat dari pakaiannya, mungkin Rea baru saja berkencan dengan laki-laki yang ia ceritakan tempo hari. “Re, kakak memang bukan saudara kandung atau bahkan keluarga kamu. Tapi kamu tahu kan, kalau kakak dan Mama sudah menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga kami. Kamu bisa ceritakan pada kakak, apa masalah kamu sekarang?” jelas Nico yang tidak ingin adik angkatnya ini mengalami kesulitan. Memang benar apa yang Nico katakan, jika kasih sayangnya dan Mamanya kepada Rea adalah murni sebagai seorang kakak kepada adiknya. Bukan sebagai seorang pria kepada perempuan yang di cintainya. Rea menoleh ke arah Nico yang menatapnya lekat. Ia menghembuskan napasnya pelan dan menggeleng. “Tidak, kak. Ini hanya masalah kecil yang bisa aku selesaikan sendiri. Nggak perlu kakak yang turun tangan,” jawab Rea sambil tersenyum. Nico mengangguk, jika Rea memang tidak mau mengatakannya, maka ia tak bisa memaksanya. “Tapi terima kasih, kakak dan Ibu sudah mau menyayangi dan menerimaku apa adanya. Aku bersyukur bisa bertemu dengan kalian. Orang-orang baik yang Tuhan kirimkan untuk menemaniku yang sebatang kara ini,” ungkap Rea tulus. Nico mengusap lembut puncak kepala sembari tersenyum. “Kami yang seharusnya berterima kasih pada Tuhan. Karena telah memberikan kami seorang gadis yang tak hanya cantik rupanya, tapi juga cantik hatinya.” “Tidurlah, besok pagi kakak antar kamu pulang. Kamu kerja besok?” tanya Nico yang sudah beranjak berdiri dan akan menuju kamar mandi. “Aku besok pulang sendiri, kak. Sepertinya aku ijin besok. Capek juga, ingin istirahat aja,” sahut Rea yang juga bangun dari duduknya dan akan masuk ke dalam kamar Nico yang malam ini ia tempati. “Bagaimana kalau kamu ikut kakak dan Mama ke Bogor? Kebetulan besok, kakak Intan menikah dan dia minta aku sama Mama buat datang ke undangannya. Kamu ikut saja, kan lumayan sekalian jalan-jalan,” tawar Nico yang menunggu jawaban Rea. Rea memikirkannya sejenak. Memang ia mengenal baik Intan-kekasih Nico- dengan baik. Tapi tidak dengan keluarga Intan. “Memangnya tidak apa-apa jika orang asing sepertiku ikut, kak? Aku takut kak Intan nggak suka aku ikut datang ke acara pernikahan kakaknya,” ujar Rea yang merasa tidak enak. “Tidak apa-apa. Intan akan senang mendengar kalau kamu akan datang, aku yakin itu. Selama ini dia kan sangat menyayangimu juga. Mama juga pasti sangat senang kamu mau ikut besok ke Bogor. Bagaimana?” Nico melihat Rea yang masih diam, seolah belum puas dengan jawabannya. “Re, kalau yang kamu khawatirkan tentang ucapan orang-orang. Kamu bisa bilang kepada mereka, kalau kamu adikku, karena memang begitu kenyataannya, iya kan?” bujuk Nico lagi. Akhirnya Rea mengangguk setuju. Ia memang berniat untuk menghindari Mike untuk sementara waktu. Dan sepertinya memang ini alasan yang tepat buat menghilang sejenak dari pantauan Mike. Supaya pria tersebut juga bisa memikirkan bagaimana perasaannya yang sesungguhnya terhadap Rea. Sama-sama berpikir apakah ini benar rasa cinta, atau hanya kekaguman semata. Rea berpikir jika mungkin ia dan Mike terlalu cepat mengambil keputusan serta menyimpulkan tentang perasaan yang hadir diantara mereka berdua. Hal ini yang membuat Rea akhirnya memilih untuk menghindar sementara waktu dari Mike. Agar keduanya sama-sama berpikir. Jika memang rasa itu nyata adanya, maka Rea akan menerima keinginan Mike untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. “Baiklah. Aku mau ikut besok. Tapi, aku tidak punya baju, kak? Dan lagi aku malas kalau harus pulang ke rumah. Karena di rumah juga nggak ada baju yang bagus untuk pergi ke pesta? Hanya gaun ini yang aku punya,” jelas Rea seraya melihat tampilannya sendiri. Nico tergelak mendengarnya, “Kamu bisa pakai baju-baju Nita, kok. Sepertinya tubuh kalian sama, tapi lebih tinggi kamu, deh. Ya, semoga saja bisa kamu pakai. Sekarang istirahat sana! Udah malam banget ini. Biar besok nggak kesiangan,” perintah Nico pelan. Rea mengangguk setuju dan masuk ke dalam kamar Nico. Mengunci pintunya dan merebahkan tubuhnya juga hatinya yang lelah di ranjang. Memandang langit-langit kamar Nico yang di d******i warna putih. Rea memeluk bantalnya, lantas bergumam, “Apa dia nyariin gue, yah?” tanyanya entah pada siapa. Sebab Rea seorang diri di sini. Ingatannya berputar saat pertama kalinya ia bertemu dengan Mike. Tubuh lemah tak berdaya yang tergelatak begitu saja di pinggir jalan. Wajah tampannya yang penuh dengan luka, namun tetap bisa terlihat jika dia tampan. Entah apa yang Rea pikirkan malam itu. Gadis tersebut sama sekali tak memikirkan hal lainnya selain menolong Mike malam itu. Tidak juga ia berpikir bahwa bisa saja Mike adalah penjahat atau buronan polisi. Rea tak memikirkan kemungkinan buruk tersebut. Karena yang ada dalam hatinya hanyalah menolong nyawa orang lain. #### Di tempat berbeda. Mike yang menunggu kepulangan Rea di dalam mobil hanya bisa mengacak rambutnya frustrasi. Kesal karena Rea tak juga kunjung pulang ke rumahnya. “Lo kemana sih, gadis nakal? Awas aja, sampai ketemu. Gue nggak akan lepasin lo kali ini!” geram Mike yang kesal akan tingkah Rea. Akhirnya, karena kelelahan, Mike memutuskan untuk pulang dan akan kembali lagi besok pagi. Ia berharap jika besok Rea sudah kembali ke rumahnya dan ia bisa menghukum gadis nakal tersebut. #### Pagi harinya, Rea bisa tersenyum bahagia. Pasalnya, sudah lama sekali, dirinya tidak menikmati sarapan bersama dengan orang tuanya. Tapi pagi ini, ia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. Walaupun tak lengkap, sebab Papa Nico telah lama pergi meninggalkan keluarganya sejak Nico berusia enam belas tahun. Dan sejak itulah, Nico yang memegang tugas sang papa. Yakni menjadi tulang punggung keluarga. “Re, makan yang banyak! Badan kamu itu sudah kurus sekali. Ibu tidak suka anak gadisnya menjadi kurang gizi seperti ini. Nanti tidak ada yang naksir loh?” goda Bu Naima yang membuat Rea memberengut sebal. “Ibu, ihhh... Masa Rea di bilang kurang gizi, sih? Rea itu udah ideal loh, Bu. Iya kan, kak Nico?” tanya Rea pada Nico. Dengan tatapan mata memohonnya, seakan meminta bantuan dari kakak angkatnya tersebut. Nico terkekeh geli melihat tatapan Rea. Ia lantas mengangguk untuk menyenangkan hati adiknya. “Nah, kan! Kak Nico saja mengakuinya kalau aku ini seksi dan ideal, Bu,” balas Rea dengan gaya congkaknya. Membuat Bu Naima tergelak, begitu pun Nico. “Iya, Bu. Malahan pacarnya bule loh,” celetuk Nico yang sontak saja mendapatkan pelototan tajam dari Rea. “Oh, ya? Itu pasti karena dia terpesona akan kecantikan anak ibu ini,” puji Bu Naima sambil mengusap lembut rambut panjang Rea. “Bohong, Bu. Jangan percaya apa kata kakak. Dia kan cuman....teman kok,” kilah Rea yang bergumam di akhir kalimat. Nico dan Bu Naima saling berpandangan. Mereka seakan tahu apa penyebab gadis cantik ini sampai tidak pulang ke rumahnya dan memilih untuk menginap. “Ya, sudah. Ayo, segera siap-siap. Nanti kita terlambat datang ke pesta pernikahannya kakaknya Intan,” ajak Bu Naima yang mencoba mengalihkan perhatian Rea. “Iya, Bu. Rea pinjam bajunya kak Nita, yah?” tanya Rea meminta ijin pada Bu Naima. Wanita paruh baya tersebut mengangguk setuju seraya tersenyum lembut. “Tentu saja sayang, kamu kan juga anak Ibu. Nita pasti bahagia bajunya di pakai oleh adiknya yang cantik dan seksi ini,” goda Bu Naima sambil terkekeh geli. “Ibu,” rengek Rea manja sekaligus malu. “Dandan yang cantik, yah? Biar semua tamu-tamunya pada ngira kamu yang jadi pengantin perempuannya?” canda Bu Naima yang menggandeng lengan Rea dan membawanya ke kamarnya. “Ya, jangan dong, bu. Bisa di marahi sama kakak iparnya kak Intan nanti,” sahut Rea sambil tergelak. Nico tersenyum tipis melihat keakraban antara Rea dan Mamanya. Sejak pertama kalinya bertemu, Mamanya langsung menyukai Rea dan ingin mengangkat Rea sebagai anaknya. Melihat Rea yang hanya seorang diri waktu itu. Namun, setelah mendengar cerita gadis tersebut, Bu Naima hanya ingin agar Rea menganggapnya sebagai ibunya juga. Walaupun bukan yang mengandungnya. Sejak itu, kesehatan Bu Naima yang selalu drop setiap kali teringat pada adik Nico-Nita- yang meninggal karena tabrak lari. Setidaknya, kehadiran Rea dalam kehidupannya yang baru saja kehilangan sang adik yang menjadi keceriaan sang mama. Sedikitnya sanggup mengobati kerinduan seorang ibu terhadap sang buah hati. Rea merasa sangat iri pada Nita. Sebab keluarganya selalu mengingatnya sampai kapan pun. Berbeda dengan keluarganya sendiri mungkin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD