Bab 89. Tekanan Rangga

1252 Words

Setelah makan siang, Rea beristirahat di kamar Kean karena jet lag. Sementara Kean, laki-laki tersebut Tengah berada di ruang kerja Papanya untuk membicarakan perihal langkah selanjutnya. “Ada apa, Pa? Kenapa nggak besok aja, di kantor, sih? Di sini kan, ada Rea,” protes Kean sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Jangan mengajari, Papa! Karena papa tahu apa yang harusnya segera kita bicarakan. Lagian, ruangan ini kedap suara. Apa kamu lupa?” hardik Rangga kesal. “Jadi, apa yang mau papa katakan? Kean capek,” keluhnya sembari memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri. “Baiklah, ini hanya sebentar kok. Apa benar, kamu menidurinya? Karena Mama kamu begitu antusias menceritakan tentang banyaknya tanda merah di leher kamu itu,”sindir Rangga sambil menatap putranya serius.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD