Kean terkejut mendengarnya, ia tidak menyangka jika akan seperti ini respons Rea. Laki-laki itu berdiri dan mendekati perempuan yang tengah mengatur emosinya. “Re, sesalah apa pun mereka kepadamu, mereka tetaplah orang tuamu. Tanpa mereka, kau tidak akan ada di dunia ini,” bujuk Kean akan menggapai tangan Rea, namun segera di tepis olehnya. “Lo!” Tunjuk Rea tepat di depan wajah Kean. “Nggak tahu apa-apa soal keluarga gue. Jadi, jangan sok nasehatin gue. Pergi lo dari rumah gue! Jangan pernah ke sini lagi!” usir Rea dengan penuh kekesalan. Kean menggelengkan kepalanya, menolak perintah Rea. Karena ia sudah merencanakan ini semua dari awal. Dan tidak boleh ada kesalahan. “Nggak! Suka nggak suka, kamu harus pulang ke rumah sama aku, titik!” tegas Kean dengan tatapan tajamnya. “Gue n

