Tak terasa, sudah dua minggu Rea masih setia dalam tidurnya yang damai dan tenang. Lalu Kean? Laki-laki itu setiap hari selalu datang ke rumah sakit saat Papi mertuanya tersebut tidak ada di sana. Dan Diana yang selalu memberinya kesempatan untuk melihat wajah istrinya yang semakin tirus dan kehilangan cahayanya lagi. “Hai, sayang!” sapa laki-laki tersebut sembari meletakkan buket bunga tulip putih kesukaan istrinya. Bahkan ia ingat saat terakhir kalinya ia memberikan hadiah bunga ini kepada Rea saat itu. Meletakkan buket tersebut di meja sebelah ranjang. Lalu mengecup kening Rea dengan penuh sayang. Dan duduk di sebelah wanita tersebut. Hal yang setiap hari ia lakukan. Mengajak Rea bicara, meskipun sadar tak ada jawaban dari bibir mungil yang menjadi candunya. “Apa kabar? Kamu n

