DIBUANG SUAMI

1353 Words
Fahri membawa Niken ke suatu tempat yang tidak diketahui Niken. Niken merengek di sepanjang perjalanan untuk meminta maaf pada Fahri jika memang dia ada salah, tapi Fahri masih saja diam membisu. Kini mereka berada di sebuah jalan yang Niken bahkan tidak tahu. Jam sudah menunjukkan pukul 23.15, semua keluarga Fahri sudah terlelap sehingga tidak ada yang tau bahwa Niken dibawa pergi oleh Fahri. Tiba di tengah persawahan yang sepi Fahri meminggirkan mobilnya. "Turun kamu !" Perintah Fahri sambil membuka pintu mobil tempat Niken duduk. "Mas ini dimana ?" Tanya Niken sambil menangis. "Ketempat yang pantas buatmu!" Kata Fahri sambil mendorong Niken hingga terjatuh. Setelahnya dia kembali masuk ke mobil dan meninggalkan Niken. "Mas Fahri tunggu mas ! Mas Fahri !" Teriak Niken namun tak digubris sama sekali oleh Fahri. "Auwwww !" Niken meringis karena perutnya tiba-tiba kram. Dia memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum dia kembali melanjutkan perjalanan. Fahri melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Fikirannya terbayang akan bayang-bayang kelam saat dia mengetahui perselingkuhan Shinta. Kemudian Fahri juga teringat saat Niken bersendau gurau dengan Niko, dan entah bagaimana ceritanya Fahri terbayang Niken sedang bercinta dengan Niko. Dan itu membuatnya hampir saja menabrak seseorang yang akan menyebrang. "Fahri ?" Sapa seseorang yang suaranya tidak asing baginya. "Shinta ?" Fahri terkejut karena dia mendapati Shinta berdiri di depan mobilnya. Shinta tersenyum sinis. Dia kemudian berjalan ke arah sebelah kiri mobil Fahri, tanpa perintah dia memasuki mobil Fahri. "Ngebut amat pak ? Mau kemana ?" Tanya Shinta. "Bukan urusanmu! Turunlah! Saya tidak mau berbicara denganmu lagi !" "Suntuk ya sayang ? Ikut aku yuk. Aku bikin kamu happy." Bisik Shinta menggoda di telinga Fahri. "Gratis buat kamu mantan kekasihku." Tambahnya sambil mengelus pipi Fahri. "Jauhkan tanganmu dari saya !" "Sekarang kamu galak amat sih ? Dulu aja kamu selalu manis sama aku." "Jangan mengungkit masa lalu kita. Saya benci itu!" "Kamu masih marah sama aku ya ?" Kata Shinta tersenyum sambil mengelus pangkal paha Fahri. **** Niken menangis selama perjalanan. Dia sudah menempuh perjalanan yang begitu jauh. Jalanan yang sepi dan gelap. Niken tidak membawa ponsel dan tidak membawa sepeserpun uang. Dia tidak menyangka kalau Fahri akan setega ini kepadanya. Di tengah malam di sebuah perkampungan tidak ada satu orangpun yang lewat ataupun berada di luar rumah. Niken tidak tau lagi harus meminta tolong pada siapa. Niken merasa haus dan kelelahan, bahkan dia merasa hampir pingsan, untunglah di sudut perkampungan ada sebuah musholla, Niken memutuskan untuk berhenti dan beristirahat disana. "YaAllah bukalah pintu hati suamiku. Aku tidak tahu kenapa dia bisa sekejam ini padaku. Aku berusaha untuk menghormatinya tapi kenapa dia selalu menyiksaku seperti ini. Berilah aku kekuatan untuk menghadapi suamiku yaAllah, simpanlah seluruh cintaku untuknya jika memang dia jodohku, ayah dari anak-anakku, dan berikanlah aku kesabaran untuk menghadapi sikap suamiku. Tapi jika dia bukan jodohku, matikan perasaan ini dari dalam diriku. Biarkan kami berpisah yaAllah, karena aku tidak mau menaruh dendam padanya, ayah dari anakku." Niken memanjatkan doa sambil menangis sebeluh akhirnya tertidur dengan berbalut mukena. ***** Shinta membawa Fahri ketempat karaoke. Dia menghibur Fahri dengan bergoyang- goyang di depannya. Dia juga memaksa Fahri untuk minum alkohol sehingga membuat dia mabuk. "Masak segini aja udah teler sih ?" Tanya Shinta. "Payah kamu tuh !" Ledek Shinta sambil duduk di pangkuan Fahri. Shinta duduk di pangkuan Fahri sambil menciumi bibir Fahri. Dia memainkan bibir Fahri dengan lihai. Dari bibir Shinta beralih telinga Fahri, setelahnya dia membuka kancing baju Fahri sehingga tampak d**a bidang Fahri yang membuat Shinta bertambah nafsu. Niken menggerayangi bawah perut Fahri hingga melepas resleting celana Fahri membuat junior Fahri menyembul keatas. "Bertahun-tahun bersamamu, baru kali aku bisa melihatnya." Kata Fahri sambil mengulum junior Fahri membuat Fahri melenguh. "Seandainya dulu kamu sepasrah ini tentu aku tidak akan bermain dibelalakangmu." Kata Shinta lagi sebelum dia kembali melahap kejantanan Fahri Fahri. **** "Mbak ... Mbak ... Tangi mbak." Niken membuka matanya pelan. Dia melihat seorang bapak-bapak terduduk di depannya. "Astaghfirullahaladzim." Niken terbangun. "Saya Kirno mb, muadzin disini. Mbak ngapain tidur disini ?" Tanya bapak- bapak itu. "Saya .... Saya ....... " Niken bingung mau menjawab apa. "Kamu orang mana ? Alamatmu mana ?" Tanya bapak itu lagi. "Saya orang Palur pak, Solo." "Astaga jauh sekali. Kamu sama siapa kesini ?" "Memang ini dimana pak ?" "Cawas nduk. Klaten." "YaAllah .... " "Dimana suamimu ?" Niken tidak menjawabnya. Dia menunduk sambil menangis. "Pak, dia siapa ?" Tanya seorang wanaita separuh baya yang baru datang ke majid. "Dia tidur dimasjid tadi malam bu." Kata pak Kirno. "Astaga, kenapa nduk ?" "Sudah bu jangan banyak ditanyak. Lebih baik kita tunaikan dulu kewajiban kita. Nanti kita ajak dia kerumah bu." Kata pak Kirno. "Terimakasih buk pak." **** Fahri masih terus melenguh merasakan sensasi nikmatnya kuluman bibir Shinta pada juniornya. Shinta bahkan sudah melucuti semua pakaiannya. Dia bahkan bersiap untuk duduk di atas paha Fahri sambil memasukkan milik Fahri kedalam lubang miliknya. Bayangan Fahri akan persetubuhan dengan Niken tiba-tiba muncul dalam fikirannya. Tubuh mungil Niken yang kecil tapi indah membuat Fahri sejenak merindukannya dan mengingat semua perbuatan buruknya pada Niken. Dia juga teringat telah meninggalkan Niken dan anaknya sendirian di tempat yang asing bagi Niken. "Sialan!" Umpat Fahri sadar sambil mendorong Shinta hingga terjatuh. "Fahri apa yang kamu lakukan !" Teriak Shinta sambil berusaha berdiri. "Seharusnya saya yang bertanya, apa yang kamu lakukan pada saya lon** ?" Tanya Fahri pada Shinta. "Aku hanya menghiburmu. Seharusnya kamu berterimakasih padaku." Fahri sibuk membereskan pakaiannya. Kemudian dia berlalu meninggalkan Shinta sendirian di dalam ruangan. "Fahri ! Fahri!" Teriak Shinta tanpa dipedulikan sedikitpun oleh Fahri. Fahri melajukan mobilnya dengan kencang. Dia kembali ke arah Cawas. Tempat dimana dia membuang Niken. Sekarang sudah pukul 5 pagi, sudah 5 jam lebih dia membuang Niken, Fahri tiba-tiba merasa bersalah dan menyesali perbuatannya. ***** Niken diam tak memberikan jawaban sedikitpun dari setiap pertanyaan yang diberikan oleh pak Kirno dan istrinya. "Sudah bu, biarkan saja. Kita tidak berhak mengintrogasi dia." Kata pak Kirno. "Maafkan saya Pak bu, saya tidak bisa menceritakan apa yang terjadi pada diri saya karena saya juga bingung harus mulai darimana." Kata Niken sambil menahan air matanya. "Baik nduk tidak apa-apa. Lalu setelah fajar apa yang akan kamu lakukan ?" Tanya istri pak Kirno. "Saya ingin kembali ke rumah pak bu, tapi saya ...... " Ucapan Niken berhenti karena dia tidak enak jika harus kembali meminta tolong kepada pak Kirno dan istrinya. "Ongkos nduk ?" Tanya pak Kirno mengerti maksud Niken. "Iya pak. Saya .... " "Iya, nanti kami bantu nduk, mungkin kami tidak bisa memberi banyak, tapi semoga cukup buat kamu naik kendaraan umum ya." "Terimakasih buk pak. Saya pinjam ya. Nanti insyallah saya akan menggantinya bu." "Tidak perlu nduk. Kami ikhlas membantumu. Semoga segala permasalahan kamu cepat selesai ya." **** Hiruk pikuk terjadi di rumah Niko. Mertua Niken kebingungan karena Niken tidak ada di kamarnya. Ponselnya pun ketinggalan di kamar. Mereka secara bergantian menghubungi Fahri tapi Fahri tidak mengangkatnya membuat mereka sekeluarga kebingungan. "Dimana Niken dan Fahri ayah?" Tanya ibu Fahri pada suaminya. "Niko apa kamu tau mereka pergi kemana ?" Tanya ayah pada Niko. "Tidak yah. Abang sama Niken tidak bisa dihubungi, coba nanti Niko ke rumah abang, siapa tau mereka kembali ke rumah." "Iya tolong kamu cari tau, mama kuatir sama Niken, mereka pergi juga tidak pamit sama sekali." Kata Ibu. **** Fahri menelusuri jalan dimana tempat dia membuang Niken. Namun dia sama sekali tak menemukan jejak Niken disana. Sesekali dia turun dari mobil dan berteriak memanggil nama Niken, namun tetap tak ada tanda-tanda Niken masih berada di tempat itu. Bayangan kebersamaan dengan Niken membuat Fahri kalut karena tidak kunjung menemukan Niken. "Niken !" Teriak Fahri sesekali saat dia turun dari mobil dan menyusuri setiap jalan dan gang. Sementara di tempat lain Niken sedang berpamitan dengan bapak ibu Kirno yang telah menolong dia subuh tadi. "Kamu hati-hati dijalan ya nduk." Kata bu Kirno. "Njih buk. Jika boleh saya akan kembali kesini bu untuk mengucap terima kasih atas kebaikan bapak dan ibu." "Tentu nduk. Kamu hati-hati ya. Sehat selalu untukmu dan kandunganmu." "Amin ibuk. Niken pamit dulu ya bu. Assalamualaikum." "Walaikumsalam." Niken diantar oleh pak Kirno ke halte bis. Sementara Fahri masih menyusuri sepanjang jalan yang dia lewati semalam. Namun tak kunjung juga dia menemukan Niken.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD