Chapter. 09

1024 Words
Happy Reading ........ James membuka ponsel nya, di sana banyak sekali panggilan tak terjawab dari Brayen dan juga Adam tidak hanya dari kedua temannya. James mendapatkan panggilan dan pesan dari ibu, ayah dan adik nya James terlebih dahulu meminta maaf kepada Brayen dan juga Adam karena hari ini mereka tidak jadi kembali ke Bali. Kemudian dia menelpon ibunya. "Kemana saja kamu hah?! Kamu lupa hari ini hah?!" Itulah kata-kata pertama yang Inez keluarkan membuat James kaget dan merasa sangat bersalah karena tidak memberi tahukan bahwa hari ini dia cancel keberangkatannya. "Maaf Mommy, James sedang sibuk dan sampai lupa untuk mengatakan bahwa James tidak jadi pulang hari ini." Ucap James dengan rasa bersalah. Inez sangat Emosi di seberang sana, karena ibu dari suami nya baru saj tiba tadi dan mencari James namun anak itu ah...astaga Inez hampir saja tidak bisa mengontrol Emosinya. "Sibuk apa kamu, Adam mengatakan jika kamu sudah menyelesaikan semua proyek di kota itu lalu?" James terdiam, dia lupa bahwa mata-mata ibu nya adalah sahabatnya sendiri. "James....kamu mencoba membohongi Mom?" "Ehmm... James minta maaf Mom. Ada hal yang James urus disini." Inez tahu anaknya tidak ingin mengatakan hal yang sudah ia ketahui, tentu saja Inez paham dan dia pun tidak ingin ikut campur dalam masalah percintaan anaknya karena James sudah sangat dewasa untuk menilai mana perempuan yang baik untuk menjadi bagian dari keluarga Smith dan mana wanita yang hanya menginginkan harta keluarga Smith. "Baiklah, Mommy hanya ingin kamu memberi kabar. Nenek sudah ada disini dan akan tinggal selama satu minggu, Mommy berharap kamu cepat pulang." "Siap Mom, dalam beberapa hari ke depan James akan kembali. Dah Mom, I miss You." Setelah mengatakan hal itu sambungan telepon langsung berakhir. James memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian bersama dengan Ayana. ....... "Ay....kamu yakin tidak memiliki hubungan dengan Pak Edward?" Tanya Mbal Elva dengan penasaran, karena sejak pria itu ada di kosan mereka selama satu harian. Elva menjadi ragu bila keduanya tidak memiliki hubungan. "Astaga Mbak sudah berapa kali Mbak menanyakan hal ini. Aku dan James hanya seorang teman." Mbak Elva merasa masih tidak yakin, dilihat dari James yang begitu perhatian tadi siang dengan inisiatifnya sendiri membantu Ayana berbelanja dan juga membantu gadis itu memasak. Ini tidak seperti James Edward Smith, orang-orang mengenalnya sebagai anak pertama yang cuek dan selalu tidak perduli dengan urusan orang lain dan hal tersebut lah yang membuat Elva merasa janggal. "Ya sudah kalau tidak ada hubungan apa-apa Ay...tapi Mbak cuma mau bilang hati-hati dia itu adalah keturunan Smith orang terkaya di Amerika Serikat dan tentunya di indonesia. Banyak sekali perusaahan milik keluarga Smith." Ayana tercengang, apakah sekaya itu? Dia tidak menyangka jika James anak dari keluarga Smith yang sering teman-teman SMA nya gosip. "Kalau begitu Mbak pergi dulu." Elva pergi bekerja, sedangkan Ayana hanya di kosan saja. Karena penasaran dengan seorang James, Ayana mencari nama pria itu. Banyak foto tampan dan juga beberapa prestasi pria itu namun Ayana tidak melihat adanya gosip pribadi atau pacar dari James. Apakah dia tidak pernah berpacaran tanya Ayana kepada dirinya sendiri. "Kenapa dia begitu mempesona di foto ini?!" Ayana tanpa sadar mengagumi ketampanan James. Foto itu adalah foto ketika James baru saja meresmikan hotel yang ada di bali dengan di dampingi oleh keluarganya. Ayana terus memuji keluarga tersebut, dia melihat ibu James dia awet muda padahal umurnya Ayana yakin itu sekitaran 40 ke atas. "Bagaimana bisa aku tidak mengetahui pria itu yang ternyata berasal dari keluarga kaya raya." Ayana menyimpan ponsel nya, dia berbaring di atas kasur sembari mengingat-ingat apa yang telah ia dan James lakukan malam itu, sungguh jika Ayana tahu bahwa James adalah orang berada maka Ayana tidak akan pernah berani mencium pria tersebut. Memikirkan nya saja membuat wajah Ayana memerah karena malu. Mana mungkin seorang yang memiliki segala nya bisa menjadi milik Ayana. "Aduh! Apa yang sedang aku pikirkan!" Ucap Ayana kepada diri nya sendiri. Kemudian dia memilih untuk tidur karena besok ia akan bekerja di cafe, dan kebetulan besok ia mengambil shift pagi sampai siang harinya. ........ Pagi hari nya Ayana sudah bersiap-siap dirinya sudah masak untuk Mbak Elva karena ternyata wanita itu belum bangun sampai jam tujuh seperti ini. Mungkin dia kelelahan karena bekerja sampe jam empat pagi, Ayana makan terlebih dahulu tidak lupa ia membawa bekal untuk makan siang nanti. Dia harus irit oleh sebab itu dia lebih baik membawa bekal dari pada membeli makanan diluar apa lagi saat ini dia masih menumpang di kosan Mbak Elva. Selesai dengan semuanya, Ayana keluar dari kosan kemudian tidak lupa menutupnya. Saat di luar Ayana tidak sengaja melihat James sudah berada di pinggir jalan entah apa yang pria itu lakukan di sana namun Ayana memilih untuk mengabaikannya karena mengingat bahwa pria tersebut bukan orang sembarangan. Di seberang sana James mengerutkan kening nya heran melihat respon Ayana. "Hei tunggu!" Teriak James sembari mengejar Ayana, Roni yang ada di dalam mobil melihat bos nya dan berpikir apakah wanita ini yang membuat bos nya sejak tadi tersenyum? Roni menggeleng kepala nya, dia kemudian menjalankan mobil dan mengikuti sang bos, jika di lihat-lihat gadis yang bos nya kejar adalah gadis yang telah menyelamatkan Bos nya dari tabrakan waktu itu. "Kenapa kamu tidak menghiraukan saya?!" Tanya James nafas yang berat dan sura maskulin itu membuat jantung Ayana berdetak kencang. Dia berbalik badan untuk dapat menghadap ke arah James. Kemudian entah sengaja atau tidak mata Ayana langsung tertuju ke arah bibir James. James menatap gadis tersebut dan sadar dengan arah pandang Ayana. "Jadi?!" Tanya James menyadarkan lamunan m***m Ayana. "Anu...ehh..itu sebenarnya aku harus pergi bekerja sekarang!" Ucap Ayana dengan gugup. Apakah dia ketahuan sedang menatap bibir pria itu? Ughhh sungguh memalukan baru kali ini Ayana bertingkah seperti ini. "Bagaimana jika aku mengantar mu?" Tanya James lagi walaupun ia tahu bahwa seperti nya Ayana sedang menghindar dari nya. "Tidak usah, aku akan naik angkot saja. Terima kasih atas tawarannya." "Tidak menerima penolakan, ayok saya antar!" Ayana berdiri dan terdiam mendengar suara dominan itu. Tidak ini adalah kata-kata yang sering ia dengar di sebuah novel ketika seorang pria berbicara kepada wanitanya. Astaga Ayana apakah dia terus hidup dalam dunia novel? "Ayo masuk atau kamu akan terlambat bekerja!" Mendengar hal itu mau tidak mau Ayana masuk ke dalam mobil James. .......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD