Bab 15

2370 Words
'Tidak ada apa-apa, aku harap setelah ini kita tidak berjumpa lagi. Yah... walau memang tidak akan berjumpa lagi karena kamu home schooling, tapi saat kelas 3 nanti aku harap kita seperti dulu, tidak saling mengenal satu sama lain, kamu hidup di duniamu dengan aman dan damai, aku pun juga begitu. Lupakan apa yang pernah terjadi, lupakan puisi yang kamu sukai, jika itu hanya akan membuatmu teringat denganku. Sesuai perjanjian kan? Pacaran pura-pura kita berakhir setelah rumor itu pudar, dan faktanya rumor itu sudah pudar, karena orang-orang kini menganggap kita pacaran beneran. Aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini, sudahlah, aku tidak peduli lagi dengan pandangan orang-orang.' Zen menggepalkan erat tangannya saat kembali mengingat kata terakhir Ardio sebelum meninggalkan rumahnya tadi. "Ah Dio! Kok kamu b**o banget sih! Padahal aku serius suka sama kamu!" teriak Zen sambil menendang-nendangkan kakinya keranjang. "Jadi benar anak laki-laki yang Mama jumpai di gerbang tadi adalah orang yang kamu sebut saat sadarkan diri sebelum operasi ya Zen," ucap mama Zen tiba-tiba yang sudah ada di kamar putrinya itu. Zen langsung mengubah posisinya, mata Zen melotot menatap kaget mamanya. "Ma... Mama sejak kapan di sini?" tanya Zen terbata-bata. "Sebelum kamu memukul-mukul kasurmu dengan kaki," jawab mama Zen sambil duduk diatas ranjang kamar itu, tersenyum tipis pada putri semata wayangnya itu. "Eh Ma... Mama--" "Ada hubungan apa kamu dengan anak laki-laki yang bernama Dio itu?" tanya mama Zen menyelidik. "Hahaha gak ada apa-apa kok Ma, cuman temanan doang," jawab Zen ragu-ragu sambil memaksakan bibirnya tersenyum. "Owh serius cuma temanan? Kamu pikir Mama gak pernah muda juga ya? Kok bisa kalau cuman temanan doang sampai hanya ke ingat tuh anak bernama Dio seorang aja? Mama sama Papa nya aja sampai lupa. Dan lagi... apaan itu tadi 'serius suka sama kamu'?" tanya mama Zen menatap serius sekaligus meledek putrinya itu, mengulangi kalimat yang tadi dilontarkan Zen. "Ah... hahaha Mama salah dengar kali," jawab Zen yang masih memaksakan bibirnya tersenyum sambil tertawa kecil. "Serius gak mau cerita sama Mama?" tanya mama Zen meyakinkan putrinya. Zen menggelengkan kepalanya. "Cerita apaan sih Ma? Hahaha. Ya udah ma Zen capek, Zen tidur dulu ya!" ucap Zen sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Mama Zen menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya udah, Mama ke rumah Dio dulu ya," ucap mama Zen yang langsung membuat Zen melempar selimutnya dan menggenggam erat tangan mamanya itu. "Mama mau kemana!?" tanya Zen menatap sinis dan mencekam. Mama Zen langsung merinding melihat putrinya itu, di balik senyuman polos dan wajah bak bidadari itu, sebenarnya jika Zen sampai marah, dia akan langsung berubah total menjadi seperti vampir yang kehabisan darah. Jadi tidak ada satupun orang di rumah yang berani membuat Zen marah termasuk papa dan mama nya sendiri. "Eh?" kaget mama Zyantia. Tak butuh waktu lama, bagai menjentikkan jari saja, Zen kembali tersenyum lebar. "Mama jangan coba-coba ke rumah Ardio ya? Mama tau akibatnya nantikan kalau Mama sampai berani melangkahkan kaki ke sana?" ancam Zen dengan wajah polosnya itu. "Eh? Ba... baiklah, kalau begitu Mama ke kamar saja. Masih banyak pekerjaan," jawab mama Zen sambil melepas genggaman putrinya itu dan langsung melangkah cepat keluar kamar Zen. "Makasih ya Ma!" sorak Zen melambaikan tangannya pada mama nya. Mama Zen langsung menghela nafasnya setelah keluar dari kamar putrinya. "Itu anak dapat sifat siapa ya?" gumam mama Zen menggeleng-gelengkan kepalanya, bertanya-tanya. Zen kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur sambil menatap jam yang ada dilayar HP-nya. "Hah... sudah jam 4 sore ya? Dio lagi ngapain ya?" gumam Zen menutupi matanya dengan lengan kanannya. "Lagian mama tau rumah Dio dari mana coba? Eh! Aku baru ingat, pasti ada alasan kenapa Dio sampai mengatakan tidak sanggup bersamaku, lagian dia sendiri yang bilang waktu itu gak boleh memutuskan tali silaturahmi. Yah... tapi gimana ya? Kalau soal alamat Ardio itu mudah aja sih melacaknya, ini kan udah zaman modern, nanti tinggal aku hack aja akun IG atau cari tau dari akun e-mail HP-nya. Aku gak sebodoh itu sampai gak punya alamat e-mail pacar sendiri, bajak sih mudah," gumam Zen. "Terlebih Dio kan juga suka sama aku," sambung Zen dengan ekspresi wajahnya yang tiba-tiba langsung memerah, senyum-senyum sendiri mengingat Ardio. Zen langsung beranjak dari kasurnya. "Ah! Udahlah, aku ke rumah Dio aja! Pasti ada yang bisa aku temukan di sana. Tapi kalau tanya Dean... Dean ya?" gumam Zen tersenyum tipis dengan raut matanya yang kini nampak sayu. "Hahaha aku mikirin apa sih, lagian kan Dean itu... ah sudahlah! Sadar Zen, kamu harus melakukan apa yang ingin kamu tau sendiri! Ini urusanmu bukan urusan orang lain!" seru Zen sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri. Zen langsung mengambil jaketnya yang tergantung di balik pintu kamar dan melangkah keluar dari rumah. "Pak Wil!" sorak Zen sambil melambaikan tangannya dan berlari cepat ke tempat pos satpam rumahnya itu. "Eh Non jangan lari-lari gitu, entar kalau nyonya tau saya bisa dimarahin, kan kondisi tubuh Non belum baik betul," ujar pak Wil cemas. Zen cemberut mendengar keluhan pak Wil. "Aku baik-baik aja kok Pak. Pak, antarin aku ke jalan ini dong," ucap Zyantia sambil menggerakkan jari-jarinya dengan cepat pada layar androidnya dan langsung memperlihatkan isi dalam layar handphone nya itu pada pak Wil. "Owh alamat itu saya tau Non, tapi udah minta izin sama nyonya belum Non?" tanya Pak Wil cemas, takut dimarahi mama Zen. "Hahaha tenang aja Pak Wil, Zen udah minta izin sama mama kok," jawab Zyantia dengan memasang ekspresi wajah meyakinkan, padahal aslinya dia sama sekali tidak ada minta izin dengan mama nya. "Serius Non?" tanya Pak Wil yang nampak ragu. "Kok Pak Wil gak percaya sama aku sih? Emang Pak Wil kerja sama siapa sih sebenarnya? Sama aku kan? Ya sudah kalau gak percaya nih aku telepon mama!" seru Zen berdecak sebal sambil kembali memainkan handphone-nya. "Eh gak usah Non, saya percaya kok," ucap pak Wil cemas. "Ya udah ayo Pak!" seru Zen tersenyum senang di belakang Pak Wil, bersenandung ria. "Saya ambil mobil dulu ya Non," ucap pak Wil berlari cepat menuju bagasi diangguki oleh Zen. "Napa Kang Jep?" tanya Zen menatap heran sambil menyunggingkan senyuman pada satpam rumahnya itu, kang Jep. "Non mau ke tempat pacar Non ya?" tanya kang Jep meledek. "Hahaha apa sih Kang, aku ke tempat teman doang kok. Ada buku yang dulu dipinjam sama temen, jadi karena aku butuh dan dia gak sempat buat balikin jadi aku aja yang ambil langsung ke dia," jelas Zen yang masih mempertahankan senyum tipisnya. "Ayo Non!" sorak pak Wil dari balik kaca mobil. "Ya udah Kang Jep! Aku duluan ya!" ucap Zen sambil masuk ke dalam mobil diangguki oleh kang Jep. Mobil yang dikemudikan oleh pak Wil melaju dengan baik menuju rumah Ardio, Zen nampak bahagia sekaligus puas sambil memainkan handphone-nya. Seorang anak kecil nampak membawa sepeda dengan leong-leong seperti mau terjatuh karena hilang ke seimbangan berjalan dengan arah yang berlawanan dengan mobil Zen. Pak Wil langsung membanting setir ke kanan agar tidak menabrak anak laki-laki yang hampir terjatuh dari sepedanya itu. Tapi tiba-tiba karena ada tanjakan batu, sepeda anak kecil itu langsung terjatuh dan anak anak kecil tadi terbanting keras ke jalan. Dengan cepat pak Wil langsung membanting setir kearah yang berlawanan tadi, tepatnya ke arah kiri agar tidak menabrak anak kecil tersebut. Namun tiba-tiba... Brak! Mama Zen langsung mengumpulkan pacahan gelas yang tidak sengaja tersenggol oleh sikunya tadi. "Kok perasaan aku gak enak gini ya?" gumam mama Zen sambil mengumpulkan pecahan kaca gelas itu dengan hati-hati. oOo Semua orang berkumpul di persimpangan jalan itu. Sebuah mobil mewah menabrak pohon besar yang ada d itepi jalan nampak mengeluarkan asap dari bagian depan mobil. Para warga sibuk menyiram sekaligus membantu orang yang ada di mobil untuk keluar. Darah mengalir deras disetir mobil sampai membuat celana hitam yang dikenakan oleh pengendara mobil itu menjadi bewarna pekat dan basah karena lumuran darah. Yang lebih parahnya lagi adalah orang yang duduk di bangku belakang, darahnya keluar begitu banyak dari kepala dan mulutnya. Pendarahan gadis itu sama sekali belum berhenti walau dia sudah tidak bisa bergerak lagi. Warga yang melihat kejadian itu tidak lupa untuk menghubungi ambulance dan menyelamatkan anak laki-laki yang terjatuh dari sepeda tadi dengan wajahnya yang kini pucat basi. "Ada yang bisa menghentikan pendarahan gadis ini dulu!?" sorak salah seorang warga. Warga lain yang berkumpul saling melempar tatapan satu sama lain. Orang tua perempuan dari anak laki-laki yang bersepeda itu ikut pucat basi, karena dia juga melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri secara jelas. Karena rasa tanggung jawab dia langsung merobek bagian bawah bajunya yang berlapis untuk menghentikan pendarahan di kepala gadis itu. Tak selang berapa lama ambulance datang dan segera mengantar 2 orang korban kecelakaan itu menuju rumah sakit terdekat. Pegawai ambulance berusaha menghubungi keluarga korban dengan handphone milik salah satu korban kecelakaan itu dengan membuka password handphone dengan sidik jari korban yang gadis. "Halo Zen?" terdengar suara seorang wanita paruh baya di balik telpon, yang tidak lain adalah mama Zen. "Owh maaf sebelumnya Buk, apa ibuk orang tua dari gadis pemilik nomor ini?" tanya pegawai ambulance itu. "Iya. Kenapa handphone anak saya bisa ada sama anda ya? Omong-omong anda siapa dan mengapa menelpon saya?" tanya mama Zen penasaran. 'Kenapa rasanya seperti ada suara ambulance ya di telpon?' bathin mama Zyantia heran. "Sebelumnya maaf buk, tapi kami mau tak mau harus tetap memberi tahu ibuk. Bahwa pemilik nomor ini dan salah seorang pria dengan seragam biru toska dan celana hitam ini baru saja mengalami kecelakaan mobil yang menabrak pohon ditepi jalan dan pendarahan hebat, jadi sekarang kami sedang menuju rumah sakit Jaya Sehati buk," jelas pegawai ambulance itu. Mama Zen langsung lemas mendengar kabar itu, ponselnya yang ada di dalam genggamannya tadi jatuh terbanting ke lantai. Dengan sigap mama Zen langsung mengambil ponselnya kembali, tangannya bergetar hebat. "Baiklah, tolong tangani putri saya dengan baik, dia baru saja selesai transplantasi sumsum tulang belakang, jangan sampai terjadi apa-apa padanya! Saya akan segera ke sana!" seru mama Zen yang panik lalu segera mematikan telepon sebelum pegawai ambulance itu menjawab kembali. Dengan tangan yang gemetaran, Mama Zyantia langsung menghubungi nomor dokter Qirhan, keponakannya. "Qirhan! Tolong sekarang kamu ke rumah sakit Jaya Sehati! Itu masih rumah sakit di bawah kepemilikan papa kamu kan? Cepat ya! Zen baru saja mengalami kecelakaan!" seru mama Zen yang makin panik tidak karuan. "Ba... baik Tante!" jawab dokter Qirhan panik, terkejut mendengar kabar buruk dari mama Zen. Mama Zen langsung melangkah cepat keluar dari rumah sambil berusaha menghubungi nomor suaminya. "Pa... kenapa gak angkat sih?" gumam mama Zen yang masih panik sampai sekarang, mondar-mandir di kamarnya. "Owh Ari!" gumam mama Zen kembali mengetikkan keyboard di layar handphone dengan cepat untuk menghubungi papa Dean yang untungnya masih di Indonesia. "Halo ada apa Ti?" tanya papa Dean di balik telepon, heran kenapa istri sahabatnya ini tiba-tiba menelepon. "A... Ari, bisa tolong ke sini sebentar? Aku tidak bisa menyetir dalam situasi ini. Mas Daniel juga tidak bisa dihubungi," ucap mama Zen lirih. "Eh ada apa Ti!? Kenapa!? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya papa Dean ikut cemas sambil berdiri dari duduknya tadi, segera ke garasi. Dean yang sedang membuka kulkas menoleh heran pada papa nya yang nampak panik. "Zen... Zen kecelakaan mobil," jawab mama Zen yang kini air mata mengalir deras di wajahnya itu. "Ze... Zen kecelakaan!? Ba... baiklah aku akan ke tempatmu sekarang! Tunggu! Jangan sampai kamu kemana-mana dulu, hubungi nomor Daniel terus menerus!" seru papa Dean ikut panik. Dean berjalan mendekat ke arah papanya karena tidak mendengar jelas apa yang dibicarakan papanya di telpon tadi. "Kemana Pa? Ada apa? Kok buru-buru banget?" tanya Dean heran, ikut berlari menyusul papa nya. "Zen baru saja kecelakaan, jadi papa harus ke sana segera, membantu mama-nya Zen karena papa-nya Zen tidak bisa untuk dihubungi." Dean ternganga mendengar kabar dari papa-nya, padahal baru tadi dia bermain bersama Zen, bagaimana mungkin secepat itu musibah kembali menghampiri gadis malang itu? "Pa... jadi Papa mau menolong apa?" tanya Dean panik. Papa Dean langsung terdiam sambil menyunggingkan senyum tipisnya setelah beberapa saat. "Sepertinya Papa akan kembali menyetir," jawab papa Dean memaksakan senyum di balik wajahnya yang tiba-tiba pucat basi begitu. "Permisi... boleh-- Ah!" kaget Ardio melihat pemandangan tidak biasa di depannya kini. "Pa! Papa di rumah aja, sepertinya kondisi Papa juga tidak baik-baik saja! Biar Dean yang mengantar mama Zen ke rumah sakit! Dean bisa nyetir dengan baik kok!" jelas Dean meyakinkan papa-nya. "Tidak Nak, walau kamu bisa menyetir dengan baik, tapi kamu sekali tidak mempunyai SIM," jawab papa Dean, menggelengkan kepalanya. Dean mendesis sebal dan tanpa sengaja mata Dean kini terfokuskan pada Ardio yang berdiri di depan pintu nampak canggung. "Papa serius mau nyetir?" tanya Dean mencoba mengalah. Papa Dean memalingkan wajahnya sejenak kemudian mengangguk mengiyakan. "Ayo!" ajak papa Dean memulai langkahnya. Mereka juga mengajak Ardio yang tidak tau apa-apa untuk ikut ke rumah sakit, saat Dean memberi penjelasan tentang alasan dan keadaan sekarang ini, wajah Ardio langsung pucat basi mendengar kejadian yang menimpa Zen. Mobil yang dikemudikan oleh Ari, papa Dean melaju pasti ke kediaman keluarga Zen dalam 15 menit-an. "A... Ari," gumam mama Zen lirih sambil memeluk papa Dean. Papa Dean menepuk lembut punggung sahabatnya itu mencoba menenangkan, "Apa Daniel masih belum bisa dihubungi?" tanya papa Dean khawatir. "Sepertinya dia masih rapat, Ari... terima kasih telah datang. Bisa antarkan aku ke rumah sakit Jaya Sehati?" pinta mama Zen lirih dengan nada suaranya yang semakin melemah. "Baiklah, ayo!" ucap papa Dean sambil membantu memapah mama Zen. "Pa! Biar Dean saja yang membantu Tante," ucap Dean mengantikan posisi papanya itu. Mama Zyantia terkejut menatap Ardio yang sedari tadi diam di mobil dengan wajah yang pucat basi. "Kamu anak yang tadi bukan?" tanya mama Zen lirih. Ardio yang terlampau syok dari tadi tidak bisa menangkap suara masuk ke dalam telinganya. Ardio masih tetap diam mematung. Mobil yang dikendarai papa Dean melaju pesat menuju rumah sakit Jaya Sehati, jelas nampak ekspresi takut di wajah mama Zen. Dean menghela diam-diam nafasnya melihat kedua orang yang ada di depan dan di belakangnya ini sangat syok dan tertekan. Yang dikhawatirkan Dean saat ini justru adalah keadaan papa-nya, sudah lama papa Dean tidak menyetir lagi setelah kejadian yang bersangkutan dengan almarhumah Agnes, adik perempuan Ardio. Tangan papa Dean dari tadi masih gemetar memegang setir, walau tanjakan di mobil normal, tapi tetap saja Dean mengkhawatirkan situasi papa-nya kini. Tidak ada yang menyadari keadaan papa Dean kini karena Ardio dan mama Zen memikirkan Zen yang kini terbaring lemah di ruang UGD, mereka tidak lagi bisa fokus pada situasi sekitar selain memikirkan keadaan Zen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD