Bab 14

2876 Words
Akhirnya yang duduk di depan adalah Alva yang menyetir mobil dan Ardio yang duduk di sebelahnya, di bagian belakang ada Rini dan Dean. Rini menyikut lengan Dean yang sibuk menatap pemandangan dari balik kaca mobil itu. "Eh De... kok lo gak duduk di sebelah kak Alva aja sih!?" bisik Rini kesal pada Dean karena menyia-nyiakan kesempatan. "Suka-suka gue lah" jawab Dean berbisik tanpa sekali pun menolehkan pandangannya ke Rini. Suasana di dalam mobil hening begitu saja dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Alva mulai membuka obrolan. "Omong-omong ujiannya gimana tadi?" tanya Alva tidak penasaran, hanya basa-basi saja. "Lancar kok Kak, walau ada beberapa yang gue kurang paham, tapi it's ok, semuanya terjawab," jawab Rini antusias. Suasana kembali hening setelah Rini langsung menjawab pertanyaan Alva tadi. "Owh iya Kakak sama Zen ada hubungan apa sih? Kok kayaknya dekat banget?" tanya Rini penasaran, jiwa kepo nya bergetar. "Owh itu cuman kebetulan, orang tua kami udah lama berteman," jawab Alva singkat. Rini kembali menanyakan detail pertemanan orang tua Zen dan Alva, pertemuan pertama mereka dan lain-lainnya sampai Alva membunyikan klakson mobilnya di luar gerbang rumah mewah itu. Seorang pria tua dengan seragam satpam yang dikenakannya mulai membuka pagar tinggi rumah itu. Alva kembali menyetir mobilnya sambil membuka kaca mobil dan melambaikan senyum tipisnya pada satpam itu. Mobil terus melaju sampai halaman depan rumah besar yang membuat Ardio, Dean dan Rini sampai bengong melihat istana yang ada di depan mata mereka saat ini. Mereka berempat langsung keluar dari mobil. "Ya udah ayo masuk!" ajak Alva memimpin jalan diangguki oleh Ardio, Dean, dan Rini yang masih bengong. Alva menatap jam tangannya lalu menekan bel yang ada di sebelah pintu. "Buru-buru Kak?" tanya Dean mengangetkan Alva yang sekali-kali kembali menatap jam tangannya. "Eh enggak kok," jawab Alva gelagapan. "Kalau ada urusan lagi gak apa-apa, pergi dulu aja. Terima kasih tumpangannya ya Kak," sambung Dean sambil tersenyum lebar pada Alva. 'Ya Tuhan... kenapa jantung gue gak karuan gini yah? Senyumnya manis banget, gak salah sih hati gue berlabuh. Ya udahlah, entar papa marah lagi kalau gue telat ke perusahaan' bathin Alvaro yang wajahnya langsung memerah melihat Dean tersenyum lebar untuknya. "Ya udah gue balik duluan ya, ada urusan. Kalau gitu bye!" pamit Alva melangkah cepat kembali ke mobilnya. Dean dan Rini melambaikan tangan. Beberapa detik setelah kepergian Alva, pintu rumah besar itu terbuka perlahan. "Kalian temannya nona Zen?" tanya perempuan paruh baya yang membukakan pintu tadi. "Iya Bi, kami mau jenguk Zen," jelas Dean. Rini dan Ardio menganggukkan kepalanya ke perempuan paruh baya itu sambil tersenyum tipis. "Boleh masuk gak Bi?" sahut Rini. "Yah maaf yah dek, Zen-nya lagi istirahat. Gak boleh banyak gerak dulu sama nyonya," jawab perempuan paruh baya itu nampak cemas. "Siapa Bi!?" sahut Zen dari dalam yang tengah sibuk membaca majalah bulanan. "Eh anu Non..." jawab perempuan paruh baya itu gelagapan. Zen langsung beranjak dari sofa ke pintu depan, mata Zen langsung berpapasan dengan Ardio. Zen tersontak kaget lalu langsung menutup pintu rumahnya. "Eh ditutup Non?" kaget perempuan paruh baya itu, menatap Zen yang lebih kaget lagi. Ardio, Dean, dan Rini jelas tersontak kaget melihat Zen yang baru nongol tapi langsung menutup pintu. "Kayaknya kita gak diterima nih, ya udah pulang aja yuk!" ajak Rini. "Eh serius lo!?" kaget Dean. "Ya... orang Zen-nya sendiri yang langsung menutup pintu," jawab Rini sambil membuang pelan nafasnya. Dean melirik pada Ardio yang dari tadi wajahnya kelihatan juga kaget setelah melihat Zen tadi. 'Ini serius!? Aku gak salah liat kan? Itu Ardio loh? Masa seorang Ardio bisa sampai ke sini!? Ya ampun gimana nih?' pikir Zen jadi gak karuan, senang tapi panik, panik tapi senang. Zen berbalik menghadap pintu, menarik nafas perlahan. "Eh mau dibuka lagi Non?" tanya perempuan paruh baya itu nampak cemas karena tangan Zen kembali meraih gagang pintu. "Iya, emang kenapa Bi?" tanya Zen heran. "Kan kata nyonya Non harus istirahat dulu, gak boleh banyak gerak," jelas wanita paruh baya itu cemas. "Gak apa-apa Bi, lagian teman aku mau jenguk masa gak aku sambut. Ya udah Bibi sana deh buatin jus dan sediain snack untuk aku dan teman-teman," ujar Zen sambil tersenyum tipis. "Tapi Non--" "Udah, Bibi percaya aja sama aku," sambung Zen. Perempuan paruh baya itu menghela panjang nafasnya. "Baik Non." Perempuan paruh baya itu melangkah pergi menuju dapur. Zen menghirup pelan udara di sekitarnya kembali, membuangnya perlahan sambil membuka pintu kembali. "Maaf ya, tadi aku kaget kalian bisa ada di sini, hehe. Soalnya baru kali ini ada teman yang datang ke rumahku. Kalau gitu ayo masuk!" ajak Zen pada mereka yang masih berdiri di luar. Dean membuang pelan nafas leganya sambil menganggukkan kepala diikuti oleh Ardio dan Rini. "Omong-omong kalian tau rumah aku dari mana? Kesini pake apa?" tanya Zen yang telah duduk di sofa bersama Ardio, Dean, dan Rini, penasaran. "Owh tadi dianterin sama kak Alva," jawab Dean. "Terus kak Alva-nya mana?" tanya ulang Zen. "Udah kembali duluan, katanya ada urusan sama," jelas Dean diangguki paham oleh Zen. "Omong-omong maaf ya Zen, kami datangnya mendadak, gak ngabarin, dan juga gak bawa apa-apa. Padahal niatnya mau jenguk kamu," ucap Dean sambil tersenyum tipis dengan mata sayu karena merasa bersalah dan tidak menyadari hal itu sebelumnya. "Hahaha gak masalah, kalian bertiga datang ke sini aja aku udah senang banget kok," jawab Zen sambil tertawa kecil. "Oh iya Zen, katanya kamu gak bisa masuk lagi ya ke sekolah sampai lulus kelas 2?" tanya Rini tanpa basa-basi, memastikan juga. Zen tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. "Tau dari kak Alva ya? Tapi iya sih... aku masih belum pulih betul sehabis operasi waktu itu, jadi butuh istirahat total," jelas Zen, memperbaiki posisi duduknya, melirik Ardio yang sejak tadi diam. Dean dan Rini juga melirik pada Ardio yang sedari tadi hanya diam sampai hawa keberadaannya tidak bisa dirasakan. Dean dan Rini saling melirik sambil menganggukkan kepala mereka. "Zen maaf nih sebelumnya, toilet di mana ya? Aku udah kebelet nih," ucap Rini tiba-tiba. "Owh toilet dari sana kamu tinggal lurus aja terus nanti belok kanan," jawab Zen sambil menunjuk arah yang disebutkannya tadi. Rini langsung berdiri dari duduknya. "Aku minjam toilet nya dulu ya Zen!" ujar Rini langsung melangkah cepat ke arah yang ditunjuk Zyantia tadi. Dean pun ikut berdiri dari duduknya. "Aku nemenin Rini dulu ya Zen, mana tau entar dia kesasar, ya udah kamu sama Ardio dulu ya!" ucap Dean menyusul Rini. "Eh!?" kaget Zyantia terpana menatap kedua gadis itu. Di saat hendak berbelok Rini dan Dean langsung berpapasan dengan asisten rumah tangga Zen tadi, wanita paruh baya itu nampak membawa 4 gelas jus dengan 2 kotak cemilan di atas baki, kaget melihat Rini dan Dean yang hampir dia tabrak. "Eh maaf Bi, tapi bisa gak bisa anterin minumannya nanti aja? Eh atau gini deh, biar aku aja yang bawa. Bibi bisa istirahat di kamar," ujar Dean sambil mengambil baki berisi minuman dan snack dari tangan wanita paruh baya itu. "Eh tapi Nak--" "Gak apa-apa Bi, jangan ganggu mereka dulu ya. Kalau ada apa-apa biar kami yang tanggung jawab," sela Dean sambil melangkah pergi meninggalkan asisten rumah tangga Zen yang terbengong itu. Ardio dan Zen saling diam-diaman dari tadi, Ardio menghela panjang nafasnya menatap Zen yang memalingkan wajah setelah mata mereka bertemu. "Kabar kamu baik?" tanya Ardio pelan dengan nada suara yang terdengar lirih. Zen tersontak kaget mendengar pertanyaan Ardio, tiba-tiba air mata mengalir membasahi wajah cantiknya itu. Ardio refleks beranjak ke tempat Zen dan langsung menyeka air mata Zen dengan jarinya. "Kamu kenapa nangis sih?" tanya Ardio cemas. "Ha... habisnya, aku pikir kamu membenciku karena gak memberi tau kamu tentang penyakitku, gak ada ngabarin kamu, hilang gitu aja dari sisimu," jawab Zen terisak. Ardio tersenyum tipis menatap Zen. "Gak! Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu, seharusnya saat kamu pingsan di depan mataku dulu aku menolongmu, tapi aku malah hanya diam memikirkan diriku sendiri, kamu juga gak perlu merasa bersalah karena gak ada ngasih tau aku apa-apa atau bahkan memberi kabar padaku, karena kita kan hanya pacaran pu--" "Kamu mau jadi pacarku beneran?" tanya Zen menyela ucapan Ardio. Mulut Ardio ternganga menatap Zen. "Eh... mak-- maksudnya apa ya?" tanya Ardio gelagapan. Zen tertawa kecil melihat ekspresi Ardio. "Hahaha aku bercanda doang kok, tapi Beb... kita belum ada membuat kesepakatan untuk putus dari pacaran pura-pura ini kan?" tanya Zen mengangkat kedua sudut bibirnya, senyum tipisnya. "Eh, bukannya kalau rumornya selesai hubungan kita juga akan selesai?" tanya Ardio heran. Wajah Zen yang tadi baru saja nampak bahagia kini kembali masam setelah mendengar pertanyaan Ardio. "Eh ma... maaf. Kalau begitu bisa kita akhir saja hubungan pura-pura ini?" tanya Ardio menatap sedih Zen. Zen menengadahkan kepalanya, kaget mendengar pertanyaan Ardio. "Hah... kamu memang mau hubungan kita berakhir ya? Padahal aku benaran serius suka sama kamu Ardio," ucap Zen pelan, matanya berkaca-kaca menatap Ardio. Ardio memalingkan wajahnya dari Zen. "Aku tidak tau apa yang menyebabkan kamu bisa suka sama aku, tapi maaf Zen... walau aku juga mencintaimu..." ucap Ardio yang membuat pupil mata Zen melebar sempurna, "sayangnya aku tidak sanggup untuk bersamamu, maaf... aku pulang dulu," sambung Ardio sambil berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruangan dan Zen. "Kenapa?!" seru Zen dengan nada suaranya yang kini terdengar serak. Ardio tidak berani untuk melihat wajah Zen yang menangis saat ini, Ardio diam dalam posisinya sambil mengepalkan erat tangannya. "Tidak ada apa-apa, aku harap setelah ini kita tidak berjumpa lagi. Yah... walau memang tidak akan berjumpa lagi karena kamu home schooling, tapi saat kelas 3 nanti aku harap kita seperti dulu, tidak saling mengenal satu sama lain, kamu hidup di duniamu dengan aman dan damai, aku pun juga begitu. Lupakan apa yang pernah terjadi, lupakan puisi yang kamu sukai, jika itu hanya akan membuatmu teringat denganku." Ardio melanjutkan langkah pergi meninggalkan Zyantia yang duduk sambil menahan tangisnya dengan mengepalkan erat kedua tangannya. "Sesuai perjanjian kan? Pacaran pura-pura kita berakhir setelah rumor itu pudar, dan faktanya rumor itu sudah pudar, karena orang-orang kini menganggap kita pacaran beneran. Aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini, sudahlah, aku tidak peduli lagi dengan pandangan orang-orang." Saat baru sampai di gerbang, Ardio langsung berpapasan dengan mama Zen yang baru kembali dari perusahaan. "Kamu siapa?" tanya mama Zen menyelidik. Ardio cukup kaget melihat seorang wanita modis yang tiba-tiba muncul di hadapannya. "Permisi Tante," ucap Ardio melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan pertanyaan mama Zen. "Kang Jep? Anak itu siapa?" tanya mama Zen heran, menanyai satpam rumahnya yang berdiri memberi salam saat Ardio lewat di depannya. "Itu temannya nona Zen, Nyonya," jawab kang Jep sambil tertawa cengengesan, senang karena ada teman Zen yang main ke rumah. "Ngapain ketawa-ketawi gitu Kang? Emang lucu?" tanya mama Zen menatap sinis kang Jep. Kang Jep langsung menutup mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya. "Ma... maaf Nyonya." "Hah... ya udah Kang, saya masuk dulu ya." Mama Zen melangkah pergi meninggalkan kang Jep menuju pintu masuk rumahnya. "Fuh... Nyonya gak ada selara humornya, marah-marah dulu. Entar cepat tua," gumam kang Jep sambil menutup kembali pintu pagar. Di ruangan lain. "De!" sahut Rini. "Apa?" tanya Dean sambil meminum jus yang ada di baki yang diletakkan Dean di atas tempat meja yang ada di sebelahnya. "Lo gak masalah ninggalin Dio dan Zen berduaan gitu?" tanya Rini heran. "Lah emang kenapa?" tanya Dean cuek. "Kalau mereka benaran saling suka dan pacaran serius gim--" "Balik yuk! Udah kelar tuh nostalgia nya," ajak Dean menyela ucapan Rini. Rini berdecak sebal pada Dean yang menghindari topik, terpaksa mengikuti langkah Dean kembali ke ruang tamu. "Eh Zen, Dio mana?" tanya Dean heran, melangkah mendekat ke tempat Zen duduk diam saat ini. "Udah pulang duluan," jawab Zen tersenyum tipis. Dean dan Rini terkejut melihat wajah Zen, matanya memerah seperti habis menangis dan suara Zen tadi juga terdengar serak. "Lo habis nangis?" tanya Dean khawatir. "Hahaha gak kok, kelilipan aja. Owh kok kamu yang bawa minumannya sih, kan kamu tamu. Bibi gimana sih?" ujar Zen merasa tidak enak. "Hahaha gak apa-apa, gue sendiri yang merampas ini dari Bibi tadi," jawab Dean. "Me... merampas?" tanya Zen nampak sedikit kaget. "Hahaha canda-canda, jadi karena Dio ya?" tanya Dean khawatir. Langsung to the point. "Eh gak kok, cuman kelilipan aja," elak Zen, masih mempertahankan jawabannya tadi. "Lo pikir gue bodoh? Mana ada orang kelilipan sampai mata sama hidungnya merah gitu? Suara lo serak lagi," jelas Dean yang membuat Zen langsung tertohok, tak bisa mengelak lagi. "Zen! Kamu nangis!? Kenapa? Eh... Dean dan--" "Rini Tante, saya Rini," sambung Rini menjawab kebingungan mama Zen yang muncul tiba-tiba. "Oh Rini," angguk mama Zen yang kini kembali fokus pada putrinya. "Kamu kenapa sayang? Apa sakitnya kambuh lagi sampai kamu nangis gini?" tanya mama Zen auto panik berlipat-lipat, menempelkan kedua tangannya ke wajah Zen, cemas. "Eh enggak kok Ma, aku cuma--" "Kelilipan, Tante," sahut Dean mengolok sambil tertawa kecil. "Aduh! Mana ada kelilipan kayak gini sayang. Ayo cerita ke mama ada apa. Oh omong-omong yang cowok tadi juga teman kalian? Kok pergi duluan sih?" tanya mama Zen heran. "Eh jadi tadi Tante berpapasan ya sama Dio?" tanya Rini kaget karena merasakan ada aura yang lebih kuat dari iblis kini menatapnya dengan sangat marah. Rini melirik pada Dean yang melotot kan mata padanya, ditambah Zen yang kini berubah 100% dari dirinya yang asli, mata Zen seakan menatap kelam, hampa, kesal, dan seperti mau membunuh Rini. Membuat Rini jadi merinding ditatap seperti itu dengan wajah cantik yang kini seperti iblis tidak jelas itu. "Owh namanya Dio, eh-- kayaknya Mama pernah dengar nama itu d--" "Perasaan Mama aja kali. Hahaha," sela Zen memaksakan tawanya agar mama nya tidak memikirkan Ardio. "Hmm... tapi--" "Ya udah Ma, Zen mau ngajak Dean sama Rini ke kamar dulu ya! Ayo!" seru Zen tersenyum lebar menatap Dean dan Rini, menarik kedua tangan gadis itu. "Owh ok. Tapi kenapa teman cowok kalian tadi udah pulang duluan aja?" tanya mama Zen heran, masih mau memastikan karena penasaran. "Dia lagi ada urusan mendadak Tante," sahut Dean mengaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gatal. Mama Zen menatap ketiga gadis itu yang kini melangkah menjauh dari pandangannya. "Dio ya...?" gumam mama Zen nampak berpikir keras. Sesampainya di kamar, Zen dan Dean langsung menginterogasi Rini sambil berkacak pinggang. Nyali Rini yang ingin bertanya tadi langsung jadi ciut karena melihat 2 orang iblis yang kini ada dihadapannya. "A... ada apa?" tanya Rini gelagapan. "Hah... ya sudahlah, lagian lo juga gak tau masalahnya," ucap Dean nampak lelah. Zen langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur dan membenamkan kepalanya ke dalam bantal empuknya. "Hah..." Zen menghela panjang nafasnya sambil kembali duduk di atas ranjang nya. "Mau main?" tanya Zen. "Tunggu, tunggu, sebenarnya ada apa sih?" tanya Rini bingung. Dean melirik ke arah Zen yang juga menatap Dean. "Gak ada apa-apa kok, yuk dah main! Main apa Zen?" tanya Dean semangat. "Main monopoli aja yuk!" jawab Zen beranjak dari ranjangnya dan langsung membuka laci lemari mengambil mainan monopoli kertasnya. "Yah... kok main anak-anak sih?" keluh Rini. "Lah emang nya lo udah emak-emak?" canda Dean yang membuat Rini menembemkan pipinya karena cemberut. *** Selesai dari rumah Zen tadi, Dean dan Rini langsung mencari angkutan umum untuk pulang karena tidak ingin merepotkan keluarga Zen sampai harus diantar ke rumah masing-masing. "Eh itu ada angkot, ayo naik!" ujar Rini sambil masuk ke dalam angkot yang berhenti tepat di hadapan mereka. "Omong-omong Rin, lo udah baikan?" tanya Dean sambil membuka pelan kaca angkot bagian belakang karena panas. "Lah emangnya gue kenapa?" tanya Rini heran . "Ya... yang waktu tanding kemaren," jawab Dean. "Hahaha santai aja kali, kayak lo gak tau gue aja. Tenang... nama mereka udah dicatat dalam kepala gue kok, tinggal nunggu pembalasan aja," jawab Rini sambil tertawa cengengesan. "Seriusan lo!?" kaget Dean. Rini mulai memasang ekspresi serius di wajahnya, Dean menelan ludah melihat Rini yang kini nampak serius. "De... lo percaya gue bakal balas dendam?" tanya Rini dengan masih mempertahankan ekspresi serius di wajahnya. "Ka... kayaknya--" "Ya enggaklah! Kayak gak ada kerjaan lain banget gue, seterah mereka mau ngomong apa, hidup-hidup gue!" seru Rini memotong ucapan Dean. Penumpang di dalam angkot kini melirik ke arah Rini dan Dean, ikut menyimak obrolan kedua gadis itu. Ada beberapa yang menatap kesal karena kedua gadis itu berisik. Rini menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu sambil tertawa cengengesan. "Maaf Buk suara kami terlalu keras," ucap Rini sambil menundukkan kepala diikuti oleh Dean pada ibul-ibuk penumpang yang ada di angkot itu. Malu. "Aduh Rini! Lo bikin gue malu aja sih!" seru Dean kesal setelah mereka turun dari angkot. "Ya mana gue tau, lagian lo sih yang mancing," balas Rini. "Ya udahlah gue duluan ya! Omong-omong lo kenapa turun sama gue? Rumah lo kan masih jauh?" tanya Dean heran. "Ya kali gue tetap di angkot sendiri setelah jadi pusat perhatian emak-emak tadi, ya udah deh lo pulang aja sana. Gue udah minta jemput sama ayang bebeb gue!" usir Rini. "Ayang bebeb lo yang nomor berapa?" tanya Dean menyelidik. "Ayang bebeb gue sekarang cuman satu, yang lain udah gue putusin sampai nangis-nangis mereka karena putus sama cewek cantik nan baik-baik ini," halu Rini. "Ya elah, lo baik dari mananya? Selingkuh aja sekali tiga," ledek Dean, "oh! Atau jangan-jangan setelah digosipin kemaren lo auto tobat ya?" sambung Dean tertawa terbahak-bahak. "Apaan sih lo!" seru Rini malu-malu. "Ya udah Rin, gue duluan ya. Bye!" pamit Dean melangkah meninggalkan Rini di persimpangan arah rumah Dean, tepatnya di halte trans. Beberapa menit setelah Dean pergi, tiba motor sport hijau yang berhenti tepat di depan Rini. "Ayo Say!" sahut pria itu sambil menaikkan kaca helmnya. Rini menganguk sambil tersenyum tipis dan langsung naik ke atas motor pacarnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD