Bab 13

2328 Words
Sambil menunggu trans selanjutnya datang. Dean dan Ardio duduk di kursi halte yang sepi karena tidak ada penumpang yang mengantri. 'Gue bilang gak ya? Hmm... ya udah bilang aja deh!' bathin Dean sambil melirik ke arah Ardio. Kepikiran soal dia bertemu dengan Zen tadi. "Dio! Gue tadi ketemu Zyantia," ucap Dean. Ardio menatap heran ke arah Dean. "Hmm. Terus? Hubungan sama gue nya apa?" tanya Ardio cuek, nampak tidak peduli. Dean terdiam mendengar jawaban dan reaksi dari Ardio. 'Lah? Bukannya seharusnya gue senang ya? Kok malah kesal sih sama Dio?' bathin Dean heran. Kenapa Ardio nampak tidak peduli? Bukankah dulu dia sampai depresi karena Zen masuk rumah sakit? "Dio! Lo gimana sih!? Bukannya lo masih dalam hitungan pacaran sama Zyantia!? Walau pacaran pura-pura sih, tapi kan kalian belum membicarakan untuk berhenti dalam sandiwara ini!" seru Dean ngengas. Ardio menatap kaget Dean. "Oh trans nya udah datang tuh, ayo masuk!" ajak Ardio mengelakkan pertanyaan dari Dean tadi. Mereka duduk berdiam di dalam trans itu. Dean melirik ke arah Ardio yang sibuk dengan ponsel yang ada digenggamnya. Dean menghela nafas panjangnya, kesal dengan laki-laki yang duduk di depannya saat ini. Saat trans telah berhenti tepat di halte tempat mereka akan turun, Ardio mengulurkan tangannya pada Dean karena di setiap pemberhentian banyak penumpang yang naik sehingga membuat trans jadi sesak. Dean menyambut uluran tangan dari Ardio. "Terima kasih," gumam Dean pelan, malu. Mereka kembali berjalan memasuki g**g rumah. Dean masih kepikiran soal Ardio dan Zen, tapi Dean memilih untuk mengurungkan dulu niatnya bertanya. "Yang tadi lo tanyain... gue gak tau mau jawab apa, di satu sisi gue ingin menjauh dari Zen karena setiap melihat dia, jujur... gue jadi keinget sama Agnes, tapi di satu sisi... gue kurang paham dengan perasaan gue yang selalu ingin berjumpa dengannya, hati gue sakit saat tau dia terluka, tapi..." ucap Ardio tiba-tiba. Diam, hening, tidak melanjutkan kalimatnya. Sudah jelas perkataan Ardio tadi mengangetkan Dean, Dean menghentikan langkahnya dengan tatapan kosong. "Dio... gue suka sama lo," ucap Dean pelan, Dean melebarkan raut matanya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya. "Hahaha gimana kalau Zyantia bilang itu ke lo? Apa lo dan Zyantia akan langsung pacaran resmi?" elak Dean sambil melanjutkan langkahnya, gelagapan karena bibirnya tidak sinkron dengan otak. Ardio tersenyum tipis setelah tadi kaget dengan apa yang dikatakan Dean. "Hahaha gue pikir lo serius, karena jika lo beneran serius gue gak tau hubungan kita ini mau dibawa kemana, dari kecil gue udah nganggap lo sebagai saudara gue sendiri, jadi... gak mungkin gue bisa mencintai lo sebagai seorang wanita. Dan terlebih gue gak yakin Zen bakal ngomong kayak itu tulus dari hatinya, lain lagi jika masalahnya tentang puisi. Hahaha," jelas Ardio sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis, sorot mata Ardio menatap jalan di bawahnya, kepikiran dengan ungkapan Dean barusan, perasaannya sama sekali tidak tenang setelah Dean mengatakan bahwa dia menyukai Ardio, walau Dean mengelak kan ucapannya itu dengan memakai sudut pandangnya Zen. "De... omongan lo barusan beneran gak serius kan?" tanya Ardio memastikan, menatap Dean dengan serius. Dean tersenyum tipis, memilih diam, tidak menanggapi pertanyaan Ardio. Sepanjang jalan Dean hanya menundukkan pandangannya. Ardio pun tak lagi melanjutkan pertanyaannya, ikut diam, takut merusak suasana, jawaban senyum dari Dean bukanlah misteri baginya. Dia tau... Dean benar-benar menyukainya. "Ya udah De, lo masuk gih! Gue duluan ya. Bye!" Ardio melambaikan tangan pada Dean, berlari kecil ke rumahnya. Setelah sampai di rumah, Ardio langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur sambil menatap layar HP-nya. Wajah Ardio langsung memerah setelah memikirkan ulang ucapan Dean tadi. "Hah... gue tau perasaan lo kok De, tapi..." gumam Ardio sambil duduk di atas kasurnya, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ardio beranjak dari kasurnya, memasang headset yang terletak di atas meja. Ardio menekan lagu pop pilihannya untuk didengar dan mulai mengambil buku pelajarannya. "Belajar aja deh," gumam Ardio mulai fokus pada bukunya. Ingat bahwa besok ujian sekolah. oOo "Gimana pertandingannya Dean?" tanya papa Dean yang duduk di sofa membaca koran sambil menyeruput kopi nya. "Owh Papa belum berangkat kerja lagi? Sekolah Dean gak masuk final," jawab Dean sambil menghempaskan dirinya ke sofa. Menghela nafas lelah. "Kamu mau Papa cepat pergi ya?" tanya papa Dean mengernyitkan keningnya karena ditanyai pertanyaan yang tidak disukainya. "Yah... gitu, tapi gak gitu juga" jawab Dean meragukan, tertawa cengengesan. "Omong-omong udah ada persiapan untuk ujian besok?" tanya papa Dean kembali. "Udah," angguk Dean sambil mengembat kopi papa nya, langsung menyeruput. "Aduh! Kopi Papa kok di minum sih!" kesal papa Dean pada putrinya itu. "Hahaha, Dean istirahat dulu ya Pa!" Dean langsung melangkah pergi ke kamarnya setelah menghabiskan setengah gelas kopi papa nya. "Hah... punya anak gadis kok tingkahnya gitu amat ya," gumam papa Dean sambil kembali fokus pada koran yang dipegangnya. Dean langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang sambil memasukkan wajahnya ke dalam bantal. 'Ah! Apaa sih yang gue bilang tadi!? Lo b**o banget sih Dean!!! Mana alasannya yang gak pasti lagi! Sudah jelas Zen suka sama Dio! Dio nya juga suka sama Zen! Kan gue sendiri yang liat sama nyebarin gosip itu! Hah! Gagal! Gagal!' bathin Dean kesal, memukul-mukul kasur dengan kakinya. "Tapi... kalau waktu itu gue gak di kelas habis piket, pasti gue gak bakal dengar pembicaraan mereka dulu, kalau gue gak nyebar gosip itu-- yah... gak bisa dibilang gosip juga sih kan memang fakta. Tapi kalau gue gak nyebarin itu... mungkin saja Dio dan Zen gak-- Ah! gue mikir apa sih! Lagian udah jelas Dio bakal nolak gue! Bodo ah!" sorak Dean yang masih menghantam-hantamkan kakinya pada ranjang. Dean segara bangkit dari rebahannya, duduk di meja belajar, meremas rambutnya saking depresinya. Pikiran Dean saat ini benar-benar kacau. *** "Makasih tumpangannya ya Kak," ucap Zen sambil tersenyum lebar pada Alva yang sudah mengantar Zen pulang. "Aduh Zen! Kamu keluar kok gak bilang-bilang sih!? Mama jadi cemas tau! Gimana kalau penyakitmu kambuh tiba-tiba lagi!" seru Mama Zen cemas sekaligus panik sambil mengejar putrinya itu ke gerbang. Mama Zen melotot tajam pada Alva. "Alva! kamu ya yang bawa-bawa Zen keluar!?" Alva terperanjat kaget mendengar tuduhan dari mama Zen. "Ma! Bukan kak Alva kok, Zen tadi memang mau cari udara segar aja, kalau minta izin keluar pasti gak bakal dibolehin sama Mama, kebetulan tadi ketemu sama kak Alva, dan kak Alva langsung nyuruh Zen pulang karena cemas sama kondisi Zen," jelas Zen sambil tersenyum tipis pada mamanya, mengatakan kalimat yang seperlunya dikatakan agar mama nya tidak memarahi Alva. "Owh gitu... Alva makasih ya udah nolongin Zen lagi. Kalau gitu mau masuk dulu?" ajak mama Zen tersenyum ramah dan lembut pada Alva. Perusahaan drastis yang membuat Alva sampai terkejut. Alva mengernyitkan keningnya merasa aneh pada perubahan sikap dan emosi tiba-tiba dari mama Zen. "Eh, makasih Tante, tapi enggak dulu. Alva masih ada urusan," jawab Alvaro sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum paksa. "Yakin nih?" tanya mama Zen diangguki oleh Alva. "Iya, yakin Tante" jawab Alva sambil cengengesan, masih terpaksa. "Ok deh, ayo masuk Zen!" ajak mama Zen pada putrinya itu. Zen mengedipkan sebelah matanya pada Alva sambil melambaikan tangan dan tersenyum lebar. "Hah... Dia bisa bohong juga ternyata, tapi ya udah deh, karena itu gue bisa selamat. Hah... " gumam Alva sambil membanting setirnya dengan cepat ke kiri dan mulai mengendari mobil kembali ke kantor papa nya. Alva menyetel musik di mobilnya sambil bersenandung ria mendengar kan lagu-lagu pop terbaru. "Dean lagi apa ya? Udah kangen nih. Owh besok ketemu di sekolah ya, tapi seminggu setelah ujian gak bakalan ketemu lagi dong ya. Kok sekolah pakai ngirim gue olimpiade sih! Kan jadi gak bisa ketemu gebetan. Hah..." gumam Alva menghela panjang nafasnya, teringat setelah ujian dia akan mengikuti olimpiade selama seminggu di luar kota. oOo Murid-murid sudah banyak berdatangan ke sekolah, ada yang bercakap-cakap ria menuju kelas, ada yang berjalan sendirian sambil membaca buku, ada yang bersemangat penuh, ada yang santai saja tanpa mengkhawatirkan bahwa sekarang ujian, dan ada pula yang nampak pucat karena semalam tidak belajar untuk bekal ujian hari ini. "Hei! Lagi cari siapa sih? Celingak-celinguk kiri kanan gitu? Gak sekalian atas bawah ha? Owh... atau jangan-jangan lagi cari pujaan hati ya?" ledek Dean sambil menyikut lengan Ardio. "Paan sih lo! Gue lagi mandangin suasana sekolah aja," jawab Ardio berdecak sebal. "Owh pemandangan sekolah..." angguk Dean menahan tawanya. "Yahoo! Pagi udah mesra aja nih!" sahut Rini yang baru memasuki gerbang dan langsung memisahkan Ardio dan Dean dengan berjalan di tengah-tengah mereka. Merangkul bahu Dean dan Ardio. "Mesra apa sih!" seru Dean malu-malu. Mereka bertiga berjalan menuju mading, mencari tau kelas mereka masing-masing yang dipisah penomor karena ujian. Dalam satu ruangan ujian nanti akan ada 20 bangku dengan 20 murid di dalamnya, masing-masing kelas diisi oleh 5 orang murid angkatan yang sama, ditemani 1 orang guru pengawas dalam satu ruangan. "Owh kita bertiga ternyata gak seruangan," gumam Dean diangguki oleh Ardio dan Rini. "Tapi masih sebelahan sih," sahut Ardio yang melirik tiap kertas daftar ruang dan nama siswa yang tertempel di Mading. "Nama Zen kok gak ada ya?" tanya Rini heran mewakil kebingungan Ardio yang tengah mencari nama Zen. "Zen gak ke sekolah lagi sampai lulus kelas 2 ini. Dia Home Schooling," sahut Alva yang tiba-tiba berdiri di belakang mereka mencari namanya dalam mading. "Mid ini dia ujian di rumah." "Eh!? Seriusan kak?" kaget Dean diangguki oleh Alva. "Ya udah, gue masuk kelas dulu ya. Bye!" pamit Alva menatap kosong Ardio sambil tersenyum lebar pada Dean, tidak melihat sosok Rini yang ada di hadapannya. Dean melirik pada Ardio yang terdiam dengan raut wajah yang nampak depresi. Dean tersenyum tipis dengan raut mata yang sedih. "Ehm! Guys gimana kalau nanti habis pulang ujian kita jenguk Zen?" usul Dean. "Eh seriusan lo?" tanya Rini meragukan ajakan Dean. "Iya iya lah! Masa gue boong sih!" kesal Dean berdecak sebal. "Ya kali aja kan..." gumam Rini pelan membuat Dean melirik ketus. "Dio! Lo ikut ya! Wajib pokoknya! Dah gue ke kelas duluan," pamit Dean melangkah cepat meninggalkan mading itu bersama Ardio dan Rini yang bengong melihat sikap Dean yang tiba-tiba. Rini menarik segera tangan Ardio. "Ayo kelas! Jangan bingung gitu deh, bentar lagi bel masuk loh," ujar Rini melangkah cepat diikuti oleh Ardio yang mau gak mau juga harus melangkah dengan cepat karena tangannya ditarik oleh Rini. 5 Menit setelah Ardio dan Rini beranjak dari mading sekolah, bel masuk langsung berbunyi, guru pengawas sudah masuk ke kelas masing-masing dengan membawa lembaran soal dan jawaban untuk ujian. Semua murid mulai bergerak cepat menjawab setiap pertanyaan dalam soal dengan membulatkan lembar jawaban. Ada beberapa yang nampak cuek dengan soal dan lembar, ada beberapa yang garuk-garuk kepala karena tidak paham. Jam pertama habis, diikuti oleh jam kedua dan mata ujian baru. Dengan konsisten serta fokus semua murid kembali menjawab soal ujian yang ada di atas meja mereka, tidak tau benar atau salahnya, sebagian dari mereka hanya memikirkan, 'kalau udah isi itu udah cukup, salah bisa remedial.' Pemikiran seperti itu sangat tidak bagus untuk pelajar dan harus dihilangkan segera. 2 jam habis untuk menjawab 2 mata ujian, lembaran dikumpul oleh guru pengawas, satu persatu murid keluar dari ruangan dengan ekspresi lega. Ada yang sudah janjian untuk main keluar, karaokean, makan-makan, belanja, dan sebagainya. Namun ada juga yang janjian untuk belajar kelompok bareng di salah satu rumah teman mereka, karena perpustakaan sekolah akan ditutup saat ujian sampai hari terakhir ujian berlangsung. Dean berdiam di kelasnya menunggu Ardio dan Rini untuk menjenguk Zen. Karena ruangan kelas tempat Dean ujian sudah kosong, Rini langsung melangkah masuk sambil duduk di bangku sebelah Dean. "Dio belum datang?" tanya Rini digelengkan oleh Dean. "Ya udah kita samperin aja yuk!" ajak Rini diangguki oleh Dean sambil menyandang tasnya. Dean dan Rini mengintip ruangan kelas tempat Ardio ujian yang ternyata hanya tinggal 2 orang anak laki-laki dari kelas mereka. "Hei Nga! Lo tau gak Dio dimana?" tanya Rini pada salah satu siswa laki-laki itu. "Owh Dio tadi udah keluar duluan, tergesa-gesa tuh kayaknya," jawab murid laki-laki itu diangguki oleh Rini. "Thanks ya!" "Gimana nih? Jadi jenguk Zen nya? Dio kayaknya udah kabur tuh," tanya Rini pada Dean yang tadi cukup terkejut mendengar Dio pergi dari kelas tanpa mengatakan apa-apa pada Dean. "Ya udah kita berdua aja deh," ucap Dean. "Eh kalian ternyata di sini, tadi gue cariin di ruangan kalian masing-masing gak ada," ucap Ardio sambil berkacak pinggang seperti orang yang kewalahan. "Dio!" kaget Dean dan Rini bersamaan. "Gue pikir tadi lo kabur, kemana aja lo tadi?" tanya Rini. "Untungnya gue kabur apaan coba? Gue tadi ke toilet dulu, udah kebelet sejak jam kedua tadi karena gak boleh izin," jawab Ardio diangguki paham oleh Rini. 'Kok gue jadi kesal gini ya? Padahal kan seharusnya gue senang karena Dio menepati janji kita jenguk Zen. Tapi...' bathin Dean dilema. "Eh De, kok lo bengong aja sih? Ayo pergi! Kan lo yang ngajak jadi lo dong yang tau rumahnya Zen," ucap Rini. Dean membuka matanya lebar-lebar. "Eh tadi lo bilang apaan Ni!" tanya Dean sadar. "Kok lo bengong aja sih? Ayo pergi! Kan lo yang ngajak jadi lo dong yang tau rumahnya Zen," ulang Rini. "Ha!? Jadi lo gak tau rumahnya Zen!? Ya ampun gue pikir lo tau Rin! Aduh gimana nih?" cemas Dean lalu melirik ke arah Ardio. "Gue juga gak tau," jawab Ardio yang menyadari maksud tatapan Dean. "Ya gimana dong? Liat google maps aja? Kita tanyain aja sama anak-anak yang masih ada di sekolah ini, pasti mereka tau alamat rumahnya sang gadis paling populer di sekolah," usul Rini. "Gue anterin aja. Kalian masuk jenguk Zen kan?" tanya suara itu tiba-tiba memecah kebingungan mereka. "Eh Kak Alva! Ayo deh Kak!" sorak Rini tersenyum lebar, bersemangat. Ardio dan Dean saling berkomunikasi lewat tatapan mata, Dean dan Ardio menganggukkan kepala mereka barengan. "Ya udah ayo kak," ujar Dean membuat Alva tersenyum tipis. Mereka berempat langsung ke parkiran dan masuk ke dalam mobil Alva. Alva langsung membukakan pintu depan untuk Dean. "Lo duduk depan aja De," ucap Alvaro yang membuat Dean mengernyitkan keningnya sambil tersenyum tipis. "Hahaha gak deh Kak. Dio! Lo aja yang duduk depan ya, gue mau di belakang sama Rini," sahut Dean membuat Ardio tercengang. Ardio merasa tak nyaman berada di dekat Alva, tapi mau bagaimana lagi, syukur ada yang mau memberi mereka tumpangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD