Ardio menyenderkan tubuhnya ke kursi, tersenyum tipis, menutup matanya. "Zen pernah bilang itu ke gue... tapi gue percaya... tanpa adanya puisi gue pun, Zen tetap bisa bertahan menghadapi penyakitnya, dia gadis yang kuat, yang ingin sehat seperti kita De." Dean mengangguk, masih sibuk membalik-balik halaman buku puisinya Ardio. "Gak nyangka ya... lo bisa menerima semua kejadian itu dalam waktu secepat ini, berbeda dengan Agnes dulu." Dean menutup buku yang ada di tangannya saat ini, meletakkannya. Menatap lamat-lamat Ardio yang tetap tersenyum. "Yah... mungkin dulu gue masih terlalu kecil untuk paham takdir dan kehidupan." Ardio kembali membalik kursinya, membuka laptopnya kembali. Dean langsung berdiri dari duduknya, menepuk pelan bahu Ardio. "Gue udah nyampain pesan dokter Qirhan, kal

