13.He's Worry About Me

799 Words
Ketika kami akan menikmati makan malam, kami mendengar suara pintu yang dibuka. Kupikir itu Jane yang kembali lagi untuk mengambil barangnya yang mungkin tertinggal. Tapi saat aku menoleh, aku terkejut. Kupikir hanya aku saja yang terkejut dengan kedatangan Jonathan, tapi Ayah dan ibuku juga. Dengan pakaian kerjanya yang sudah sedikit berantakan, mantel yang diselempangkan di satu lengannya, dan sebuah tas koper di genggamannya, Jonathan berjalan masuk dengan wajah lelahnya yang bercampur khawatir. Napasnya terengah-engah saat menatap kami seolah ia baru saja berlari. Dia seperti bernapas lega saat matanya melihatku. “Jonathan? Bukannya kau bilang akan pulang besok?” tanya ibuku heran seraya bangkit berdiri dan berjalan mendekatinya. “Pekerjaanku sebenarnya sudah selesai hari ini. Tapi aku segera memesan tiket pesawat untuk pulang karena khawatir dengan keadaan Laura,” jelasnya masih dengan napas terengah. Matanya kembali menatapku. “Kau baik-baik saja?” tanyanya. “Y-ya. Aku baik-baik saja,” jawabku.               “Segera ganti bajumu dan makan malam bersama kami, Nak,” kata ibuku. Jonathan mengangguk dan berjalan masuk ke dalam. Ayah memanggilku dan menyuruhku untuk mengikuti Jonathan. Aku mengikutinya menuju kamar. Kuhentikan langkahku begitu sampai di depan pintu kamar. Aku menelan ludah. Pintunya setengah terbuka, tapi aku terlalu ragu untuk masuk. Kulihat Jonathan meletakkan mantelnya di tempat tidur dan mulai melepas dasi serta kancing kemejanya. Tidak ada yang aneh dari itu. Tapi aku terpana saat melihat betapa sempurnanya tubuh itu terbentuk. Oh, sial! Aku tidak tahu dia punya tubuh sebagus model. “Laura?” Panggilan Jonathan benar-benar mengejutkanku. Aku salah tingkah dan dengan perlahan aku mengangkat kepalaku. Dia sudah membuka semua kancingnya. Namun kemeja itu masih melekat di badannya. Aku masuk ke dalam kamar dengan langkah yang ragu. “Ehm… bagaimana perjalananmu?” tanyaku. “Uhh… lancar,” jawabnya. Astaga, kami benar-benar seperti dua orang yang tidak pernah saling berbicara selama satu abad. Aku memang belum mengenalnya, tapi Jonathan yang melihatku sekarang pasti merasa aneh dengan sikapku. “Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyanya yang membuat lamunanku buyar. “Ah! Aku… sudah merasa baikan.” “Ibu menghubungiku tadi pagi dan bertanya soal dirimu karena kau sulit dihubungi,” ceritanya sambil melepaskan kemejanya. “Kusuruh dia menghubungi temanmu itu. Lalu dia mengirimiku pesan kalau kau sedang sakit dan sendirian di rumah.” Jonathan menatapku. “Aku sangat khawatir karena tidak bisa melihat keadaanmu. Kau bahkan tidak menjawab teleponku. Meskipun Ibu sudah bilang kalau dia dan Ayah kemari untuk melihat keadaanmu, tetap saja aku tidak bisa meninggalkanmu,” katanya. Dia lalu berjalan mendekatiku. Refleks, aku mundur selangkah demi selangkah. Dia mengarahkan tangannya ke wajahku dan menyentuh pipiku dengan punggung tangannya. “Kau masih sedikit demam. Sudah minum obat?” tanyanya. “T-tadi pagi setelah bangun tidur,” jawabku dengan jantung yang berdebar. “Minum obat lagi setelah ini, ya? Aku akan mandi dulu,” katanya lalu mengecup keningku. Aku tidak bisa mengontrol detak jantungku setelah kecupan itu. Ini bukan pertama kalinya seorang lelaki mengecup keningku. Ian sudah pernah melakukannya, namun terasa begitu berbeda saat Jonathan melakukannya. Jantungku tidak berdetak kencang seperti ini saat Ian melakukannya. Ada apa denganku? Selama Jonathan mandi, aku berjalan mengelilingi kamar untuk melihat-lihat apa saja yang ada di dalam kamar yang kutempati bersama Jonathan ini. Karena selama dua kali aku menempati tubuh ini, aku belum sepenuhnya melihat seluruh isi dari rumah ini. Tidak terlalu ada banyak barang yang ada di kamar ini. Yang terlihat berwarna-warni hanyalah sekumpulan kosmetik milikku yang ada di meja rias di depan tempat tidur. Aku mendekati meja rias tersebut dan menatap diriku lewat cermin persegi disana. Aku menyentuh wajahku. Rupaku terlihat sangat kusut. Mungkin karena hari ini aku sakit dan terlihat tidak bersemangat. Bahkan aku sama sekali belum mandi! Mataku lalu beralih menatap kosmetik-kosmetik di meja. Aku tidak memiliki kosmetik sebanyak ini di kamarku sendiri. Tentu saja karena aku masih gadis sekolah. Tapi aku bahkan tidak tertarik untuk memiliki koleksi kosmetik sebanyak ini. Aku mulai membuka satu persatu laci di meja itu. Siapa tahu aku bisa menemukan sesuatu sebagai petunjuk. Alamat rumah Jonathan barangkali. Seraya mencari-cari di tempat lain, aku melihat fotoku bersama Jonathan yang ada di atas laci. Itu foto pernikahanku dengannya. aku mengambil foto itu dan memperhatikannya baik-baik. Oh, andaikan aku dapat memotret foto ini dan menunjukkannya pada Sarah. Di foto itu kami berdua tersenyum bahagia. Tentu saja, itu hari pernikahan kami. Tapi aku belum melihat senyum seperti itu pada Jonathan setelah aku menempati tubuh ini. Aku meletakkan foto itu kembali dan berpindah ke lemari pakaian besar yang berwarna hitam. Ketika aku melihat-lihat ke bawah tumpukan baju milikku, aku menemukan secarik kertas yang disembunyikan disana. Aku mengambil kertas itu dan melihat apa yang tertulis disana. Mataku terbelalak. Disana tertulis nama Ian dan nomor ponselnya. Aku tidak tahu mengapa kertas berisi nomor ponsel Ian disembunyikan disana, tapi yang jelas itu bukanlah hal bagus. Aku punya firasat kalau Jonathan tidak mengetahuinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD