Suara bel berbunyi saat kami sedang mengobrol. Aku menatap ke jendela dan baru menyadari bahwa hari sudah sore. Aku bangkit berdiri untuk membuka pintu. Saat aku membukanya, aku melihat Jane berdiri di luar.
“Hei, aku cepat-cepat pulang dan kemari. Kau baik-baik saja, kan?” tanyanya.
“Aku baik-baik aja. Masuklah. Ada orangtuaku di dalam,” kataku dan menyuruhnya masuk.
“Oh! Hai, Jane! Terima kasih kau sudah memberitahu keadaan putriku,” sahut ibuku begitu melihat kedatangan Jane.
“Sama-sama, nyonya Marshall. Sudah menjadi tugasku sebagai teman dekatnya,” balas Jane tersenyum dan duduk di sofa.
“Bagaimana keadaan kantor?” tanyaku.
“Ini bukan saatnya menanyakan hal itu!” katanya pelan dan melirik ke tempat orangtuaku sebentar. “Apa mereka tahu soal kau?” tanyanya berbisik.
“Soal diriku yang lain? Tentu saja tidak! Kau gila apa kalau aku memberitahu mereka?”
“Aku tidak menyangka jika mereka akan kemari.”
“Saat pertama kali datang, orangtuaku mengatakan soal kejadian yang pernah menimpaku? Kau tahu apa?” tanyaku.
Ekspresi Jane terlihat terkejut. “Y-ya. Kurasa aku tahu. Tapi sebaiknya bukan aku yang menceritakannya.”
“Apa seserius itu?”
Jane merapatkan bibirnya. “Menurutku… ya. Tapi lebih baik kau bertanya pada Jonathan. Bagaimanapun, dia yang lebih tahu keadaanmu. Tapi ingatlah, kau harus berhati-hati karena… ini bukan permasalahan biasa. Kau masih terlalu muda dan kuharap kau tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan dirimu sendiri. Bahkan Laura sendiri kesulitan untuk menghadapinya.”
“Sebenarnya apa yang pernah menimpaku?” tanyaku yang kini semakin penasaran. “Tunggu. Apa itu juga yang menjadi penyebab hubunganku dengan Jonathan menjadi tidak begitu dekat?”
Jane mengerutkan dahinya. “Mungkin saja. Kau harus ingat perkataanku, ya? Sekalipun ini tubuhmu, kau masih gadis remaja, Laura. Jika kau memang sangat ingin tahu, kau hanya perlu siap mendengarkannya. Dan jangan lakukan apapun,” nasehatnya.
Aku mengangguk. Melihatnya yang mengatakan itu membuatku semakin penasaran sekaligus takut untuk mengetahuinya.
“Ini,” kata Jane sambil menyerahkan sebuah kantong tas yang dibawanya padaku. “Aku membelikanmu kue,” tambahnya.
Aku menerima kantong tersebut. “Terima kasih,” ucapku.
“Jujur saja, aku terkejut saat kau bilang itu kau. Kupikir apa yang kualami tidaklah nyata karena kemarin kau bersikap normal. Tapi sepertinya kau tidak bisa mengingat apapun,” ujar Jane.
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.
“Kau terlihat kebingungan, dan tidak bisa mengingat apapun. Kau juga sangat terkejut karena kau melewatkan satu hari tanpa mengingat apapun. Kau bertanya padaku apa yang terjadi kemarin dan aku menceritakan semuanya! Bahkan soal wawancara dengan Luna yang diberikan pimpinan. Tapi kau tidak mengingat apapun dan malah mengingat satu hari sebelumnya,” ceritanya.
“Apa?” gumamku.
“Sepertinya kalian benar-benar dua jiwa yang berbeda. Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan soal kejadian ini. Semuanya terasa tidak masuk akal!”
“Itu juga yang kurasakan saat pertama kali menempati tubuh ini! Sekarang kau percaya padaku, kan?”
“Ya tapi, apa yang membuatmu kembali lagi ke tubuh ini? Dan bagaimana caramu kembali ke tubuhmu yang semula?”
“Aku tidak tahu,” kataku dan menyentuh dahiku. “Aku mengalami perpindahan tubuh ini setiap hari saat tidur. Tapi disini waktu yang terlewat lebih cepat dari masaku. Dan caraku kembali ke tubuh asalku… entahlah. Kurasa menanyakan nama lengkap Jonathan dapat membuatku kembali,” jelasku.
“Itu benar-benar aneh,’ ucapnya. Dia lalu menatap jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. “Kurasa aku harus pulang.”
“Kuharap kau bisa menceritakan soal diriku di masa ini lain waktu. Saat aku kembali lagi ke tubuh ini,” kataku dan bangkit berdiri.
“Kuharap juga begitu,” katanya. Dia lalu menoleh ke tempat kedua orangtuaku yang sedang memasak di dapur. “Tuan dan nyonya Marshall, aku pamit pulang.”
“Kau tidak ingin makan malam disini sekalian?” tanya ibuku dan mendekati kami.
“Terima kasih tawarannya nyonya Marshall, tapi aku punya janji dengan tunanganku setelah ini,” kata Jane dan tersenyum sedih.
“Oh, begitu. Kalau begitu hati-hati, ya. Terima kasih banyak sudah menjaga putriku selama ini,” katanya dan mencium kedua pipi Jane.
“Hati-hati, Jane. Terima kasih sudah datang kemari,” sahut ayahku.
“Tentu, tuan Marshall. Dah, Laura! Cepatlah sembuh,” kata Jane dan pergi menuju pintu.
“Terima kasih, ya,” ucapku padanya saat dia sudah di luar. “Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau aku tidak mengenalmu. Maksudku, aku tidak mengenal siapapun disini selain orang tuaku.”
“Tenang saja. Hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu,” balasnya. Lalu Jane terlihat seperti memikirkan sesuatu. “Oh iya. kalau bisa, berikan pesan untuk Laura. Maksudku, dirimu yang lain itu. Bilang padanya untuk jangan terlalu menyiksa dirinya sendiri karena masih banyak orang yang begitu menyayanginya.”
Aku mengerutkan dahi. Perkataannya hampir sama dengan orang tuaku. Aku bahkan belum tahu apa yang sudah terjadi padaku disini, tapi aku tetap mengangguk. “Baiklah.”
“Ini hanya pekerjaan. Maksudku, kau tidak akan mati kalau kau sedikit malas. Aku tahu alasan mengapa kau melakukan semua ini, tapi kau punya Jonathan dan kedua orangtuamu. Bukannya aku ingin menghalangimu untuk mengejar karirmu. Tapi setidaknya hargai mereka yang selalu mengkhawatirkanmu,” ungkapnya.
“Akan kutulis semua itu untuknya,” kataku tersenyum.
Jane tersenyum sebelum ia berjalan pergi dan menghilang dari pandanganku. Aku menutup pintu dan masuk kembali ke dalam. Ibuku menyiapkan makan malam di meja, dan aku ikut membantunya.
“Dia mengingatkanku akan Sarah. Kau sudah lama tidak menghubunginya, kan?” ujar ibuku.
Itu mengingatkanku! Benar. Sarah. Apa yang terjadi dengan hubungan kami di masa ini?
“Apa kau tidak menghubunginya lagi?” tanya Ibu padaku.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Satu lagi masalah baru yang belum kuketahui apa penyebabnya. Ya Tuhan, kenapa banyak sekali masalah yang menimpaku di masa depan?
“Aku… mencoba untuk menghubunginya ahir-akhir ini,” dustaku dengan perasaan gugup.
“Kau dan dia dulu selalu bersama seperti saudara. Sayang sekali kalian tidak bersama lagi sekarang,” kata Ayah.
“Aku sempat mendengar keluarganya pulang ke Indonesia cukup lama tahun lalu. Tidak tahu apa mereka akan kembali lagi kemari atau tidak,” sahut ibuku.
Jika Sarah tidak kembali lagi, itu bukan hal bagus karena aku tidak bisa lagi menemuinya dan meminta penjelasan. Aku bisa saja menghubunginya lewat media sosial. Tapi itu lebih sulit ketimbang bertemu langsung. Aku harus bertemu dengan Sarah di masa ini.