11.Mom, Dad?!

1604 Words
Aku kembali membuka media sosial di ponselku. Aku tahu menemukan Jonathan disana tidak akan membuahkan hasil sesering apapun aku mencarinya. Ada begitu banyak orang bernama Jonathan di dunia ini. Aku bahkan tidak tahu nama lengkapnya. Dia bisa menggunakan nama lain di media sosial, atau bahkan mungkin dia tidak menggunakan media sosial. Meskipun aku mengetahuinya dengan pasti, aku tetap membuka akun-akun yang memiliki nama Jonathan disana. Ada beberapa yang merupakan pria seumuran ayahku, dan sebagian lagi berumur dua puluh dan tiga puluhan. Orang-orang itu bukanlah Jonathan yang aku cari. Terlalu sibuk menggeser-geser layar ponsel tanpa tujuan pasti, perlahan-lahan mataku semakin berat. Aku meletakkan ponselku kembali ke nakas dan memejamkan mataku. . . . Hal yang kurasakan pertama kali adalah tubuhku terasa tidak nyaman. Sangat tidak nyaman. Aku belum membuka mataku, tapi aku merasa mataku sangat berat untuk dibuka. Tubuhku terasa panas, dan aku kedinginan. Semuanya terasa berputar-putar meskipun mataku masih terpejam. Dengan usaha yang keras, aku berhasil membuka mataku sedikit dan menatap langit-langit kamar yang cukup familiar. Ya, cukup familiar. Ini adalah tempat tinggalku dengan Jonathan. Sudah kuduga aku akan kembali lagi kemari. Aku mengangkat tanganku, berusaha meraih sesuatu yang ada di sampingku. Saat tanganku menyentuh sesuatu yang terasa seperti layar ponsel, aku menoleh dan melihatnya. Itu memang ponsel. Aku mengambilnya dan berusaha menatap layar disana meskipun aku merasa begitu pusing. Saat kubuka, aku melihat lima panggilan tak terjawab dan satu pesan suara dari Jane. Aku membuka pesan suara tersebut. “Laura, kau dimana? Pimpinan menanyakan keberadaanmu untuk membahas sesuatu. Dia terlihat cukup kesal! Cepatlah datang!” katanya di pesan suara itu. Aku menghubungi Jane. Pada dering keempat dia mengangkatnya. “Laura! Kau kemana saja?! Aku sudah meneleponmu berulang kali! Dimana kau?” jawab Jane dengan menggerutu. “Hei Jane, ini aku, Laura yang waktu itu,” balasku parau. “Aku baru saja menempati tubuh ini dan… tubuhku terasa sangat tidak nyaman. Sepertinya aku sakit. Bisa kau beritahu pimpinan soal keadaanku?”  “Laura waktu itu? Tunggu. Kau Laura yang berumur tujuh belas tahun itu?” nadanya terdengar tidak percaya. “Ya,” jawabku lemah. Hening. Aku tahu dia belum mematikan sambungannya karena aku masih bisa mendengar suara-suara disana. Aku berasumsi dia sedang berjalan menjauh dari kerumunan. “Bagaimana ini bisa terjadi? Kau terlihat normal kemarin,” kata Jane akhirnya. “Entahlah aku… benar-benar pusing.” “Oh, ya Tuhan! Aku minta maaf kalau kau sakit. Baiklah. Aku akan memberitahu pimpinan,” katanya. “Beristirahatlah. Aku akan mengunjungimu nanti.” “Terima kasih, Jane,” ucapku dan melempar ponselku ke samping. Aku menoleh dan melihat tempat tidur di sampingku kosong. Sudah pasti Jo berada di kantornya sekarang. Tapi entah kenapa aku tidak merasa Jo berada disini sebelumnya. Aku tidak berpikir ini sudah terlalu siang. Dan seharusnya wangi parfum yang selalu digunakannya masih tercium di dalam kamar ini walau samar. Aku tidak terlalu memikirkannya dan kembali memejamkan mata. Aku hanya mendengarkan napasku yang terasa berat dan panas. Ini pertama kalinya aku berada di rumah sendirian saat sakit. Kurasa aku tidak akan bisa berbuat banyak. Aku berusaha bangkit meskipun rasanya berat. Aku melangkah sambil berpegangan pada tembok karena kepalaku terasa begitu pening. Semuanya terasa berputar-putar seperti berada di dalam kapal yang terombang-ambing karena ombak besar. Aku mencari tempat obat-obat disimpan. Karena tidak menemukannya di laci-laci kamar, akhirnya aku berjalan keluar menuju dapur dan membuka laci-laci disana. Setelah aku menemukan obatnya, aku segera meminumnya. Aku memijit pelipisku karena rasa peningnya yang tak kunjung hilang. Kurasa ini bukan hari keberuntunganku karena aku menempati tubuh yang sudah sakit. Ini benar-benar tidak nyaman. Aku tidak ingin banyak melakukan apapun hari ini selain tidur. Mungkin saja, aku akan kembali ke tubuh remajaku setelah bangun nanti. Aku bangkit berdiri dan berjalan kembali menuju ke kamar dengan pelan dan hati-hati. Saat sampai di kamar aku langsung merebahkan diri. Aku benar-benar butuh istirahat agar bisa segera sembuh. Aku meraih ponselku dan melihat tanggal yang tertera di layarnya. Tanggal sembilan Agustus. Kemarin tanggal tujuh, sekarang sembilan? Hanya lewat sehari? Ini aneh. Kupikir tanggalnya akan melompat jauh lagi. Oh ya Tuhan, ini benar-benar membingungkan. Aku melempar kembali ponselku ke samping. Seluruh tubuhku terasa sangat tidak nyaman. Aku cukup kesulitan untuk bernapas karena rasanya panas. Aku memejamkan mata, sambil berharap saat aku terbangun nanti aku sudah sembuh. Atau setidaknya aku berada di tubuh remajaku lagi. . . . Aku terperanjat saat mendengar suara bel berbunyi. Aku mengerjapkan mataku. Aku memandang langit-langit atap kemudian ke jendela. Di luar masih terang. Namun ini bukan di kamarku. Melainkan masih di kamar sebelumnya. Suara bel kembali terdengar. Namun kali ini suaranya lebih cepat. Tidak hanya suara bel, orang ini juga mengetuk pintuku dengan keras. Aku berdecak dan berusaha untuk bangkit. Aku tidak berpikir Jane akan kembali dari kantor secepat itu. Terlebih ini masih siang. Semakin aku mendekati pintu, semakin jelas suara orang yang ada di balik pintu ini. Itu suara seorang wanita. Tapi tidak terdengar seperti Jane. “Laura! Laura!” teriak suara dari balik pintu. Aku membuka pintu tersebut. Betapa terkejutnya aku saat melihat siapa yang ada disana. “Ya Tuhan! Kupikir terjadi sesuatu padamu!” katanya penuh khawatir. “I-Ibu???” kataku tidak percaya.  Aku hampir tidak mempercayai apa yang kulihat. Saat ini, aku melihat Ibu dan ayahku sendiri yang berdiri di hadapanku. Wajahnya sudah menua. Begitu banyak keriput yang tergambar disana. Dia sudah menjadi seorang nenek. “A-Apa yang Ibu lakukan disini?” Dia menautkan alisnya dan melipat kedua lengannya ke pinggang. “Kami sudah menghubungimu berulang kali untuk menanyakan soal keadaanmu. Tapi kau sulit sekali untuk dihubungi! Sampai akhirnya Ibu menghubungi temanmu dan dia memberitahuku soal keadaanmu! Dan kami memutuskan untuk kemari!” jelasnya dengan nada yang sedikit berteriak. Aku tidak tahu harus berkata apa. Pada dasarnya aku bingung apa yang ibuku katakan. Soal keadaanku? Apa aku sudah sakit sebelumnya? “Sayang, kami khawatir dengan keadaanmu. Kau baik-baik saja, kan?” tanya Ayah. Rambut coklat gelap Ayah yang dulu memenuhi kepalanya kini sudah terganti dengan rambut putih. Aku tidak menjawabnya selama beberapa detik karena kedatangan mereka benar-benar membuatku terkejut. Setidaknya disini, hanya mereka orang yang kukenal. “Aku… aku baik-baik saja,” jawabku akhirnya. “Apa kalian kesini naik kereta? Kalian tidak perlu sampai sejauh ini datang kemari,” kataku khawatir. “Sayang, kami begitu terkejut setelah mendengar kabar dari Jonathan dua hari lalu kalau kau tiba-tiba pingsan. Kami sudah bilang padamu berulang kali jangan terlalu memaksakan pekerjaanmu tapi kau sama sekali tidak mendengarkan kami! Dan sekarang kau kembali sakit dan sulit untuk dihubungi! Tentu saja kami begitu khawatir dengan keadaanmu dan memutuskan untuk kemari dan melihat kondisimu!” jelas ibuku. Sekali lagi aku tidak bisa berkata apapun. Aku tidak tahu apa permasalahanku sebenarnya di masa ini. Jika Ibu bilang dua hari lalu aku tiba-tiba pingsan, bukankah itu di hari aku menempati tubuh ini? “Bisa kami masuk?” tanya Ibu padaku. “Ah! Tentu. Masuklah,” kataku dan menyuruh mereka masuk ke dalam rumah lalu menutup pintunya. “Kau sudah makan? Sudah minum obat?” tanya ibuku seraya melepas kardigannya. “Aku sudah minum obat setelah aku bangun tidur tadi. Lalu aku tertidur lagi sampai sekarang,” jelasku.  “Ibu sudah memberitahumu berulang kali, jangan memaksakan diri. Ibu tahu perasaanmu setelah apa yang kau alami karena aku juga seorang ibu. Tapi bukan begini caranya, Sayang. Kau menyiksa dirimu sendiri,” kata ibuku. Aku tidak tahu sebenarnya apa permasalahan yang menimpaku di masa ini. Melihat dari reaksi ibuku, sepertinya itu adalah sesuatu yang sangat serius. Aku juga tidak bisa bilang pada mereka kalau aku putri mereka yang masih tujuh belas tahun di dalam tubuh ini. “Maafkan aku, Bu. Aku sudah merasa agak lebih baik sekarang, sungguh,” hanya itu yang bisa kuucapkan. “Nak, ibumu sudah berulang kali bilang padamu agar jangan terlalu memaksakan diri dengan pekerjaanmu karena ini demi dirimu sendiri. Kau tidak sendirian. Dan jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang telah terjadi,” kali ini giliran ayahku yang berbicara. Sudah bisa dipastikan bahwa terjadi sesuatu padaku di masa ini. Kejadian apa yang ayahku maksud? Aku harus mencari tahu! Kulihat Ibu menatapku dengan tatapan yang tak bisa k****a. Dia berjalan mendekatiku dan mencengkeram kedua bahuku. “Sayang, semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak perlu sampai seperti ini,” katanya menatapku dengan tatapan sedih. Oke, ini benar-benar menggangguku. Kejadian apa yang sebenarnya sudah menimpaku di masa ini? Mereka berdua terlihat tidak sanggup jika aku harus menjalani lebih dari ini. Apa yang sudah terjadi padaku? Apa aku mengidap penyakit parah?  “Terima kasih, Bu, sudah datang jauh-jauh kemari,” kataku. Sungguh, aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa. “Ibu bilang menghubungi temanku? Siapa?” “Jane! Kau lupa kalau Ibu punya nomornya?” Oh! Tentu aku tidak tahu soal itu. Jadi Jane sudah mengenal ibuku. “Kami mencoba menghubungi Jonathan tapi dia bilang dia sedang di luar kota. Karena itu kami memutuskan untuk datang kemari,” kata Ibu. Jadi dia di luar kota? Itu sebabnya rumah ini terasa berbeda. Kulihat Ibu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong tas yang dibawanya. Itu adalah sayur-sayuran dan diletakkannya di meja konter. “Ibu membawakanmu sayur-sayuran karena Ibu khawatir kau tidak memiliki bahan makanan yang cukup untuk dimasak karena kesibukanmu. Sering-seringlah memasak di rumah karena Jonathan juga tidak selalu ingin makan di luar,” katanya. “Bagaimana keadaanmu sekarang, Sayang?” tanya Ayah yang kini berjalan mendekatiku. “Aku baik-baik saja, Ayah. Aku sudah lebih baik sekarang,” jawabku. “Tapi tetap saja, kau harus menjaga kesehatanmu. Mengerti?” “Jika kau tidak sehat, bagaimana kau akan menjaga anakmu kelak?” tanya Ibu. Itu menyadarkanku akan satu hal. Pernikahanku dengan Jonathan sudah berumur empat tahun. Seharusnya aku dan dia sudah memiliki anak. Jadi, kenapa aku belum memilikinya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD